Menunggu Itu Menyenangkan – Bagian 2
Senin, 16 Maret 2009 pada 20.00 WIBKring…! Kring …! Telepon rumah berdering …
Rieznut : Mba An telepon!! Oeli…
Batinku : Tumben Oeli mencariku ada apa ya?
Aku : Hallo, Assalamu’alaikum…
Oeli : Mba An, sido melu kerja ora?
Aku : Kerja? Ngapa?
Oeli : Neng KPU Bantul,melipat surat suara, nek arep melu sesuk ngumpul jam 07.00 neng omahku, nggowo KTP…
Pikirku : Ikut ngga ikut ngga Ikut ngga
Aku : Yo wis, insyaallah nek melu aku neng nggonmu jam 7.00,ya?
Oeli itu best friendnya Rieznut (adikku), udah kayak adik ketiga (kembarane Rieznut). Bapaknya Oeli kerja di KPUD Bantul, trus mencari ‘tenaga’ untuk melipat surat suara. Berhubung lagi nganggur tenaga (dan dompetnya... haha) akhirnya aku terima ajakan Oeli.
Selasa, 17 Maret 2009Aku datang pagi-pagi jam 7.00, ke rumah pak Dadik (Oeli’s Dad) dianter Rieznut. Ketemu ma Ibu dan Bapak. Berhubung yang laen ada yang belum datang jadi nunggu dulu ... Setelah semua ngumpul… Eits! Ternyata rombongannya banyak juga, yang putri hanya berdua, aku dan mba Budi. Yang lainnya cowok semua. Karena motorku dipake Ima (adikku) hari ini aku nebeng Ardi (kakaknya Oeli), soalnya diantara banyak orang yang ikut, yang aku kenal cukup baik ya Cuma Ardi. LAinnya aku ngga kenal, sebagian tahu namanya, sebagian lain hapal wajahnya, dan sebagian lain baru ketemu hari ini. Hehe… ketahuan banget nih kupernya…. Barang bawaannya ternyata banyak sekali. Ada tikar, botol bekas minuman suplemen (untuk menggilas lipatan surat suara agar rapi), trus meja kecil atau papan kayu.
Lokasi pelipatan surat suara di kantor DPU Bantul. Sampai di sana ternyata udah banyak orang dari kelompok lain. Kelompok Sentolo ada 21 orang, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Aku ikut kelompok (lupa A atau B) pokoknya kelompoknya mas Agung. Anggotanya (coba kuingat, ya?) aku, Pras, Tyo (temennya Rieznut), p'Buyung, Andhika, m'Rinto, m'Een, m'Parno, dan Kinthut (ga tahu nama aslinya, tapi dipanggilnya gitu). Di hari kedua kelompokku bertambah Niken (kakaknya Oeli adiknya Ardi). Sebagian besar sudah pernah ikut di pelipatan tahap pertama. Jadi kelihatannya udah pengalaman (walah!!).
Berhubung aku masih baru (hehe…) makanya pas pengarahan aku sangat memperhatikan petunjuknya. Tugas kami adalah melipat surat suara untuk DPRD Provinsi, dimana ada caleg salahsatu partai yang belum tercetak, sehingga pekerjaan kami tak hanya sekedar melipat tetapi juga menempel stiker nama caleg tersebut. Dan tarifnya…. Jika dulu hanya melipat saja Rp75,00 per lembarnya, maka sekarang menjadi Rp 125,00/lembar. Jadi pertama2 buka surat suara, kemudian periksa apakah ada kerusakan pada surat suara seperti sobek, lecek, bercak2 atau coretan yang mengganggu keabsahan atau menyebabkan pecahnya suara. Jika sudah lolos pengecekan, kemudian tempelkan stiker caleg tersebut, baru kemudian dilipat serapi mungkin agar bisa mudah masuk ke kotak suara.
Pagi hari … Masing2 kelompok mengambil 5 dus surat suara (500 lembar/dus), dan setelah selesai kemudian surat suara yang telah terlipat dikumpulkan kepada pengawas, baru kemudian boleh mengambil kembali dengan mempertimbangkan jumlah dus dan waktu yang tersisa. Pekerjaan ini dimulai dari jam 08.00-16.00. Kelompok kami sehari rata-rata ,menyelesaikan 11 dos (5500 lembar).
Rabu – Sabtu & Senin, 17 – 20 & 22 Maret 2009Ya pekerjaannya begitu seterusnya berangkat jam 7.30 , menyortir, menempel, melipat sampai jam 16.00 (kadang lewat kalau belum selesai). Pegel banget. Hari pertama, sepulang dari sana tangan rasanya pegel, dan setelah ditempeli koyo rasanya baru mendingan.
Aku sempat sms bulikku
“Mba Lin, sudah 2 hari ini aku glidhig (kerja buruh-pen) melipat surat suara di KPU Bantul … Ternyata, lebih enak bekerja dengan otak daripada dengan otot. Hehe …”Trus dibalas gini ma bulikku
“Ha ha ha ha … aku jg ngguyu, mba oenink glidhig nglempit2 kertas ha ha ha selamat, dinikmati aja, itung2 merasakan susahnya orang lain cari uang.”Dan berapakali aku telah diberi kesempatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang beruntung, namun rasa syukurku ternyata masih saja sangat kurang.