Saturday, May 26, 2007

Kebumen ... Here I Come


Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di sana. Jarak tempuh 2 jam dari rumah, memaksaku untuk kost di salah satu kost-kostan di bilangan kota Kebumen, 5 menit jalan kaki ke kantor.

Berhubung ngga bawa motor, ngga begitu suka naik angkot, dan jam kerjaku yang cukup lama. Meski sudah sebulan di sana, belum banyak daerah yang kuhapal selain jalanan dari kost ke kantor. Paling engga aku sudah tahu tugu lawet (karena dekat tempat kerjaku), dan alun-alun kota.

Kesan pertamaku… Warga Kebumen cukup welcome, meskipun terkadang aku harus mengerutkan kening untuk memahami bahasa mereka yang ‘ngapak’. Kedua … Harga makanan mahal,ya? Ketiga … ngga ada toko buku sebesar Gramedia, atau Social Agency. Keempat … untungnya masih ada warnet.

Selanjutnya …. To be continued

NONTON SEKATEN

Sebenarnya ini cerita yang sudah ‘basi’. Tapi untuk meng-update blog yang lama ngga tersentuh ini, ngga apa-apa lah. Kisah ini terjadi saat saya mengantar ibu dan Nisa ke Yogya pada hari Rabu, 28 Maret 2007. Judulnya …. Nonton Sekaten.

Sekaten adalah salahsatu tradisi di kraton Yogyakarta untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Rangkaian acaranya adalah penabuhan seperangkat gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga di halaman Masjid Gede Kauman, pasar malam di alun-alun utara, dan puncaknya adalah grebeg maulid. Pada saat itu Sri Sultan memakai pakaian adat jawa dan menyebarkan udhik-udhik (uang) dan dikeluarkannya gunungan yang melambangkan sedekah keraton kepada warganya.

Kata Ibu saya, dulu pada masa kecilnya, Sekaten adalah salahsatu acara tahunan yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Bahkan terasa kurang afdhol kalau belum melihatnya. Biasanya di sekitar tetabuhan gamelan di halaman masjid gede, penuh sesak oleh orang-orang yang hanya ingin mendengarkan (sambil menyaksikan), atau sambil membeli sego gurih dan endhog abang untuk anaknya.

Siang itu ibu juga langsung mengajak saya dan adik saya ke tempat gamelan. Dan … disana sangat sepi. Hanya orang-orang tua yang duduk mengitari pagelaran. Lengang…

Tak lama kemudian datang ibu-ibu dan ketiga anaknya (yang masih kecil). Saya coba rangkum dialognya di sini.
Anak : “ Ibu! Ayo cepetan kita ke Sekaten….”
Ibu : “Lho! Yang namanya sekaten itu ya di sini, yang ada gamelannya!”
Anak : “ Yah! Ngga seru, ngga seru!!”
Aku tersenyum mendengarnya, soalnya belum lama berselang adik kecilku mengatakan hal yang serupa. Meskipun akhirnya adikku mau mengalah, dan membiarkan ibu bernostalgia dengan masa kecilnya. Dan sepertinya ketiga anak ibu itu juga melakukan hal yang sama.

Sebenarnya kenapa ya, sekaten menjadi sepi? Saya mencoba menebaknya dengan dua jawaban:
Pertama ... Meningkatnya pemahaman masyarakat (muslim) tentang Islam yang menjadikan mereka memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan cara yang lebih baik. Yaitu dengan menjadikannya idola yang sesungguhnya, panutan dalam menjalankan kehidupan.
Kedua ... Ketidakpedulian generasi sekarang. Atau jangan-jangan malah banyak pemuda (muslim) yang ngga tahu kapan nabi Muhammad dilahirkan? HikS!
Semoga tebakan pertama saya benar. Kalau yang benar ternyata yang kedua … pe-er kita masih banyak ya?

Kulon Progo, 12 Rabiulawal 1428H

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...