Saturday, February 23, 2013

Keliling Indonesia di Malam Tahun Baru

baca posting sebelumnya

Kami mengawali pagi hari terakhir di tahun 2012 dengan sarapan di warung soto betawi pak haji di ujung gang penginapan kami. Soto daging sapi dengan santan, hmm... sarapan yang enak namun berlemak. 

Selesai makan kami menuju ke pasar mainan di seberang jalan. Ada empat badan jalan yang harus diseberangi, atau memutar jauh di depan sana untuk mencari jembatan penyeberangan. Dan... sampailah kami di surganya anak-anak. Isa, Adit dan Lana. Juga Anggra, Nisa, dan Fia. Bahkan mba J dan bu Nur. Haha. Setelah anak-anak puas memborong mainan, segera kami kembali ke mess karena sudah dinanti mobil yang siap mengantarkan kami menuju... 

TAMAN MINI INDONESIA INDAH (TMII)

Kami masuk melalui gerbang yang melewati Museum Purna Bhakti Pertiwi yang bangunannya menyerupai tumpeng-tumpeng sembari mengingat Ibu Tien Soeharto, yang berjasa memberikan ide kreatifnya dalam pembangunan taman wisata ini. Kemudian mobil kami diparkir di sebelah kiri Monumen Tugu Api Pancasila. Segera kami masuk ke bangunan terdekat dari tempat parkir yaitu stasiun ...

Skylift a.k.a Kereta Gantung

Setelah mba J mendapatkan tiketnya, kami pun menuju ke baris antrian. Dan tahukah anda ternyata antriannya panjaaang sekali. Hampir setengah jam lebih kami baru mendapatkan giliran. Satu kereta untuk empat orang. Pak Parmono dan keluarga, mba Jum dan keluarga, aku, Icha dan Fia. Bismillah ... Skylift pun mulai berjalan....

kiri atas: jalur skylift kami; bawah: Adit, Lana, dan Bu Nur melambaikan tangan dari dalam kabin
kanan atas: Icha (yang bisa tersenyum) dan Fia; tengah: Duo J; bawah: Anggra dan Isa
Awalnya saya pikir perjalanannya akan cukup lama dan melintasi seluruh area di TMII. Tapi ternyata hanya memakan waktu sekitar 20 menit untuk kembali ke stasiun semula. Tapi, cukup menyenangkan. 

Anjungan Daerah

Setelah turun dari skylift, awalnya kami menuju ke Museum Indonesia, namun ngga jadi masuk dan langsung berjalan menuju ke Jambi, istirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. 

Saat menuju ke Jawa, kami melewati Theater 4D, dan meski awalnya Anggra ngga mau, kami tetap mampir ke sana untuk menonton film Salamander yang ternyata hanya berdurasi limabelas menit. Hmm, jangan membayangkan studio Universal, tapi okelah buat mencoba nonton 4D.

Setelah itu kami menyusuri tepi 'lautan' yang mengelilingi miniatur pulau-pulau besar di Indonesia, dari arah Sumatra akhirnya kami menuju ke pulau Jawa, dan berhenti sejenak untuk menunaikan shalat Dhuhur di Jawa Barat  yang sedang nampak kesibukan mempersiapkan acara malam tahun baru. Dan berjalan melewati Jawa Tengah dan akhirnya tiba di DI. Yogyakarta. Kami terduduk di depan sembari melihat hiburan di pendapa, sedangkan Bu Nur menuju ke kantor di belakang untuk bertemu dengan rekannya, dan bapak kepala kantor. Bertepatan dengan makan siang, kami bahkan dijamu untuk makan siang di kantor anjungan DI. Yogyakarta. Alhamdulillah...

Kami yang telah bersepakat akan menunggu tahun 2013 di TMII akhirnya kembali ke depan, di dekat pendopo. Dan mulai beranjak ketika anak-anak ingin berenang. Rombongan pun terbagi dua, bapak-bapak dan anak-anak langsung menuju ke tempat renang, dan ibu-ibu berjalan perlahan menyusul ke tempat renang sembari mampir ke Jawa Timur, Bali, Lombok, hingga Tana Toraja. Such a great day. Keliling Indonesia dalam satu hari. Hihi...
atas kanan: kids di Jambi; kiri: boys dan karapan sapi di Madura
bawah kiri: mba Jum dan Fia di Bali, tengah: ibu-ibu di Tana Toraja, kanan: Isa dan Adit di Jatim

Istana Anak Indonesia

penampakan istana dari bawah depan (by: me, VG140)
Waktu sudah sore dan langit tampak mendung ketika kami tiba di Istana Anak Indonesia. Ketika kami menemukan ternyata anak-anak masih asyik berenang, kami pun naik kastil Istana Anak Indonesia. Meskipun kami tak bisa bisa masuk ke dalamnya, tapi dari atas sini, sudah berasa bagai Cinderella di negeri dongeng (halah). 

Azan Maghrib pun berkumandang, di sepanjang perjalanan kembali ke anjungan Jogja, mobil-mobil dan kendaraan yang diparkir oleh penumpang yang akan melewatkan malam tahun barunya di TMII, mulai memenuhi jalan.

New Year's Eve

Kami masih di anjungan Jogja. Ketika diajak mba Jum makan malam, Icha ngga mau dan memilih mau tiduran di mobil saja. Tapi pada akhirnya, karena bosan Icha pun mengajak berjalan-jalan. Pendopo anjungan Jogja sudah dipenuhi pengunjung yang akan menyaksikan pertunjukan kethoprak. Kami melangkah ke arah barat menuju Jawa Tengah yang juga ramai oleh pengunjung yang menyaksikan pertunjukan semacam Pangkur Jenggleng di TVRI Jogja. Lalu kami pun bergerak ke arah selatan yang jalanannya juga tak kalah macetnya. Di sana, tampak ada sebuah danau yang memantulkan lampu-lampu dari bangunan Museum Air Tawar. Cantik. Seperti berada di salah satu scene drama korea (ahaha). Aku merogoh tas untuk mengambil kamera, dan ah... ternyata tertinggal di mobil. Lalu aku ambil kantong hape ku, dan yah yah... low bat. Perfecto... 

Di persimpangan kami menemukan tempat makan ayam goreng tepung cepat saji, Icha pun mengajak berhenti. Dan ternyata lokasinya persis di belakang anjungan jogja. Di sanalah kami duduk. Sambil menunggu Icha menghabiskan makanannya, melihat banyaknya orang yang bersliweran menunggu detik pergantian tahun, aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Saya hampir ngga pernah menyengajakan diri keluar untuk menunggu datangnya tahun baru, tapi mengapa kali ini saya ada di sini? Ah, tentusaja karena ini adalah sebuah kebetulan, kesempatan untuk jalan-jalan datangnya bertepatan dengan tahun baru. Itu saja.

Selesai makan kami berjalan menuju ke Museum Air Tawar yang memantulkan lampu cantik di danau tadi. Sampai di sana tentusaja sudah tutup. Lalu kami menuju ke tepian danau di depan Museum Keprajuritan Indonesia. Dan setelah beberapa saat kami pun kembali dan berjalan mengikuti kehendak kaki kami. Kami melewati komplek tempat ibadah di TMII, mulai dari Wihara Budha Arya Dwipa Arama, Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi, Gereja Protestan Haleluya, Gereja Katholik Santa Catharina, Masjid Pangeran Diponegoro, Kelenteng Kong Miao (bagus banget, berasa di China), Teater Imax Keong Emas, dan tahu-tahu kami sampai di Monumen Tugu Api Pancasila yang penuh sesak pengunjung. (Ah... Sayangnya kamera tertinggal di mobil).

Kami sempat bingung arah jalan kembali ke mobil. Untung ada denah lokasi yang akhirnya membawa kami melewati jalan yang tadi siang kami lalui. Sebenarnya ingin mengambil jalan lain yang belum pernah kami lalui, tapi ... susah sekali menyeberangnya. Jalannya dipenuhi kendaraan. Akhirnya kami melewati anjungan Jawa Barat yang ramai oleh pertunjukan Jaipong. Dan segera kembali ke 'Jogja' dan menikmati pertunjukan Kethoprak di bawah rinai gerimis yang romantis.

Tak lama kemudian terdengar kembang api mulai dinyalakan. Semua orang bergegas menuju ke tepian danau miniatur pulau, tempat dinyalakannya kembang api. Semoga tahun 2013 menjadi tahun yang lebih bermakna. Amin. Kami pun kembali ke mobil dan bergabung dengan kemacetan untuk kembali ke penginapan.

Note:
Sampai di penginapan, ngecharge dan buka hape, dan baru tahu ternyata di Jogja hujan deras. Dan sekilas di tivi, Pasha Ungu dan Charlie Setia Band bernyanyi dengan baju yang basah kuyup. Ternyata di Ancol dan bundaran HI hujan turun deras. Sementara di TMII tadi hanya rintik-rintik. Seperti... pilihan yang tepat bukan?

bersambung ke posting berikutnya

Saturday, February 9, 2013

Liburan Kok Ke Jakarta?

Haha... Itu kalimat yang terlontar ketika saya menjawab pertanyaan tentang rencana liburan pada long wiken akhir tahun kemarin. Tapi apapun komentarnya, perjalanan ke barat itu akhirnya terlaksana pada 29-31 Desember 2012, seperti yang direncanakan. 

Sehabis ashar aku dan Icha sudah siap, tinggal menanti sms kapan kami harus ke jalan besar menunggu mobil sewaan menjemput kami di sana. Beberapa jam berlalu belum ada kabar juga. Hingga akhirnya ada kabar dari mba Jum bahwa ternyata, drivernya yang orang Jakarta salah mengira rumah pak Parmono di Jalan Wonosari adalah Wonosari. Sehabis Isya, mobil-yang-tadi-sampai-di-Wonosari, akhirnya tiba. Dan siap membawa kami bersebelas (aku - Icha, mba Jum dan Pak Parmono beserta keluarga masing-masing) menuju Jakarta. Dan here we go... Bismillahirrahmanirrahim.

Pak Jun dan Adit di samping driver; Pak Parmono, Bu Nur dan Lana di belakangnya; Icha di tengah bersama Fia dan Anggra; di paling belakang ada aku, Isa dan mba Jum. Mobil yang nyaman. Aku pun tertidur dengan pulas di dalamnya. (Haha, padahal di dalam angkot menuju Depok pun aku bisa tidur). Perjalanan yang mengambil rute melalui Subang kami lalui dengan sangat lancar. Dan sekitar jam 10an kami sampai di mess tempat kami menginap.
full team di depan penginapan (by: pak asep; nikon d3000)
Seusai mandi dan bersiap-siap, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi pertama yaitu Taman Impian Jaya Ancol. Tujuan pertama kami adalah Sea world. Rame banget di sana. Selain long wiken di akhir tahun, anak-anak sekolah kan juga sedang libur semester.

SEA WORLD
Kami masuk Sea World tepat beberapa menit ketika acara shark feeding dimulai. Area di depan kolam ikan hiu sudah penuh dengan pengunjung yang ingin menyaksikannya. Kami pun berpencar. Dan aku ada di barisan belakang. 
Shark Feeding Show di SharkQuarium (by: me; GT-S5670)
Setelah bermain di Touch Pool, aku dan Icha segera antri di depan akuarium utama/main tank. Dan tibalah giliran kami untuk  masuk. Subhanallah ... Kehidupan bawah laut yang sebenarnya pasti lebih cantik dari ini.  Jadi pengen diving atau snorkeling, tapi ah... bahkan latihan renang pun belum menunjukkan hasilnya. Hehe. 


Icha di main tank Seaworld (by: me, GT-S5670)
 Keluar dari main tank aku dan Icha ke museum, lalu ke library di lantai dua. Menuju tangga turun, ada lampu ultraviolet yang membuat bajumu yang berwarna putih atau debu-debu putih kecil yang menempel di bajumu jadi terlihat bersinar. Hihi.
Icha dan efek lampu ultraviolet (by: me, GT-S5670)
Ngga banyak foto di dalam, karena kameraku ngga begitu bagus untuk indoor. Lalu aku dan Icha memutuskan untuk keluar. Ada sisa-sisa gerimis di sana. Aku dan Icha menuju tenda untuk beli minuman sambil menunggu yang lain datang. Mba Jum dan keluarganya datang keluar persis ketika aku dan Icha  kembali dari mushola. Sambil menunggu keluarga pak Parmono, foto dulu yuk.
Icha, me, mba J, dan Isa (taken by: pak Jun, VG-140, edit by: me)

PANTAI KARNAVAL
Dari Sea World menuju ke pantai jalannya ramai sekali, antri... Kalau pantai di Jogja sekelilingnya adalah alam, yang ini... gedung apartemen. Beda ya? Hihi...
Jelang Sunset (by: me; GT-S5670)
Kami kembali berpencar. Aku dan Icha langsung menuju ke jembatan kayu. Cantiknya... ini kayaknya tempat yang sering dipakai syuting di FTV-FTV itu yah? Dan lagi-lagi disorientasi, masa matahari terbenam di timur, hehe.


Sunset, Le Bridge, dan Icha (by: me, VG-140)
Aku dan Icha mengelilingi jembatan itu, melewati restoran Le Bridge dan menuju ke daratan beli minuman dan snack dan kembali ke tempat semula. Tapi yang lain kok ngga nampak? Ya sudah, aku dan nisa duduk di tepian pantai sembari menunggu. Ternyata mereka sudah berada di dekat parkir mobil. Aku dan Icha pun menuju ke sana, dan menuju mushola untuk sholat Maghrib karena azan sudah berhenti membahana. Awalnya kami berencana untuk pulang ke mess saja. Tapi pak Asep, driver kami mengajak kami ke Monas. 

Monas
Purple Monas (by: me; GT-S5670)
Azan Isya sudah berkumandang ketika kami meninggalkan Ancol. “Ah, mestinya tadi mampir ke Istiqlal untuk shalat Isya”, ucap mba Jum beberapa saat setelah melewati Istiqlal menuju Monas (iya, ya?). Hari sudah malam dan tentusaja Monas sudah tutup, jadi kami ngga bisa naik dan hanya menikmati puncak emasnya dan lampu di badannya dari bawah, di sekeliling pagar yang mengelilinginya. Dan lagi-lagi kamera ku ngga maksimal mengambil gambar untuk scene malam hari, malah mending hasil jepretan HP.

Banyak sekali pedagang kaki lima di pelatarannya. Dan sayang sekali kanan kirinya kotor. Setelah puas melihat monas yang berwarna silih berganti, aku dan Icha hendak kembali, namun ternyata pak Parmono dan keluarga duduk di taman di pinggir pagar Monas. Aku dan Icha pun ikut duduk di sana. Dan kembali berpisah ketika Bu Nur akan membeli kerak telor, sementara Icha ngga suka kerak telor.

Ketika aku dan Icha kembali, mba Jum dan keluarga sudah ada di sana menunggui Isa yang sedang asyik bermain dengan mainan yang baru dibelinya. Dan ketika Adit dan Lana datang dengan layang-layang di tangannya, Isa pun beralih ingin bermain layang-layang bersama Anggra.

Keluar dari Monas, Pak Asep melajukan mobil mengelilingi Jakarta, sembari menunjukkan tempat-tempat dan bangunan-bangunan terkenal di kanan kiri jalan yang kami lalui. Hoahm... selalu begitu setiap aku bertemu dengan kursiku, tiba-tiba saja mata memberat dan tahu-tahu sudah tiba di depan penginapan.

Note:
Menurut cerita mba J, saat aku terlelap, pak Asep membawa mobil kami mengitari jalanan di Jakarta, dan menunjukkan tempat-tempat penting dan terkenal di sana. Hehe.. sayangnya tinggal mba J yang terjaga.

bersambung di posting selanjutnya

Friday, February 8, 2013

Suatu Hari di Imogiri

16 November 2012

Long wiken, tapi aku dan Ima tidak punya rencana liburan kemana-mana Akhirnya kami melajukan supraku menuju ke Imogiri. Tujuannya adalah ke hutan pinus di Dlingo (yang katanya bagus) dan Kebun Buah Mangunan (yang katanya mengecewakan).

Kami yang belum pernah menuju ke sana, seperti biasa hanya mengandalkan papan nama di pinggir jalan saja. Hujan tiba-tiba turun, kami pun berhenti untuk berteduh. Ketika akhirnya kami menemukan penunjuk arah ke kanan menuju ke Kebun Buah Mangunan (selanjutnya saya tulis KBM), kami malah penasaran dengan apa yang ada lurus di depan sana. Ternyata sebuah jalan yang menyenangkan. Naik turun berkelok-kelok dan kanan kirinya berjajar-jajar tanaman yang rindang. Favorit.

Setelah puas menyusuri jalanan bersama supraku, kami pun menuju ke KBM. Sampai di sana ternyata sepi saudara-saudara. Ada beberapa jenis tanaman buah di sana, rambutan, mangga, jeruk, durian, salak, pepaya, jambu, dan lainnya. Sayangnya, tidak ada satupun pohon yang sedang berbuah. Yaaaah, penonton kecewa. Dan, sebelum shalat Dhuhur di mushola, kami mampir di kandang penangkaran rusa Timor.

Ima dan Rusa Timor KBM (by: me; aceplus cam)
Selanjutnya kami menuju ke puncak KBM yang jalannya menanjak, dan banyak bagian yang berlubang. Harus hati-hati dan konsentrasi.  Hosh hosh... akhirnya sampai di atas, lalu kuparkir supraku dan menuruni tangga menuju ke tempat yang oleh pengelola KBM disebut wisata melamun. Subhanallah... Kamu bisa melihat kelokan sungai Oyo di bawah sana dengan jembatan gantung di atasnya, yang setiap kali ada kendaraan melintas, akan terdengar jelas bunyi “gratak... gratak... “ dari atas. Sangat cukup untuk mengobati kekecewaan karena kebun buah yang tidak berbuah ini.

View dari puncak KBM (by: me, VG-140)
Tempat yang tadinya sepi ini, tiba-tiba saja menjadi ramai oleh pengunjung yang berdatangan. Dan itu menjadi tanda bahwa sudah saatnya kami pergi (halah). Sampai di bawah puncak, kami melihat sebuah rumah kaca tempat pembibitan tanaman organik. Ada bibit tanaman terong, sirsak, tomat, cabe, kelapa, dan lainnya.
Ima di depan rumah kaca KBM (by: me, VG-140)
23 Desember 2012

Sebulan lebih berlalu sejak kami ke KBM. Akhirnya, hari ini bersama Rain Gals, Uli dan Kethik kami menuju ke jembatan gantung di atas sungai Oyo yang kami lihat dari atas puncak KBM.  Kalau ke KBM kamu ambil jalan yang lurus, nah untuk menuju ke jembatan ini beloklah kanan mengikuti arah plang BNI Bukit Hijau. Tapi masih harus masuk lumayan jauh untuk sampai ke jembatan yang dimaksud.

Meski hujan merintik, akhirnya kami sampai juga di daerah Sompok yang pemandangannya cantik. Dan di sebuah jembatan gantung berwarna kuning yang kami tuju, ternyata suasananya sedang ramai. Di dekat jembatan akan ada pertunjukan jathilan, dan di jembatan pun ternyata sedang dipakai untuk pemotretan pre wedding. Jadi, kami menikmati jembatan dan berfoto-foto di sisi jembatan yang kosong dan sesekali harus berbagi ruang dengan sepeda motor yang mau menyeberang. Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh satu sepeda motor, dan ketika mereka menyeberang akan terasa jembatan memantul dan berderak-derak.  Namun, suaranya terdengar lebih keras ketika berada di atas, di puncak KB Mangunan sana. 

Exzt Dwi dan penampakan jembatan dari dekat (by: risna, nikon d3100) 

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...