Aku duduk bersama mba Ira, sementara Riri di
belakang kami bersama seorang mas-mas yang sepertinya sudah tertidur pulas.
Meski mengantuk, tapi... ladies ngerumpies sampai malam hampir habis. Hingga
satu demi satu kami pun terlelap. Aku terbangun
ketika petugas hendak mengambil selimutku. Tidaak... masih dingin paak.
Sampai di Stasiun
Bandung, kami pun turun. Riri sempat mengutarakan kecurigaannya tentang mas-mas di
sampingnya yang teridentifikasi membawa koper dan tas laptop.
Jangan-jangan... menuju ke tempat yang sama, terka Riri. Kami sholat di mushola stasiun
lebih dulu. Baru setelahnya naik taksi Gemah Ripah menuju ke Hotel Verona
Palace.
Sesampai di hotel, kami disambut Pak Mun yang langsung
menebak bahwa kami peserta dari Jogja. Dan meminta maaf sebab kami harus menunggu,
karena kamar untuk kami belum ada. Obrolan kami dengan Pak Mun, semakin menguatkan kecurigaan
Riri bahwa mas-mas di sampingnya di kereta adalah memang peserta. Dari GK. Hahaha...
Sambil menunggu kamar kosong, kami dipersilakan makan dulu.
Hmm... laper sih, tapi kok... ah... makan bubur ayam saja deh, mba Ira juga,
Riri ambil roti dan scrambled egg. Setelah selesai makan, kami yang masih belum
dapat kamar menunggu di lobby. Akhirnya, Pak Mun meminjamkan kamarnya untuk
kami mandi dan bersiap-siap mengikuti pembukaan pada jam 09.00.
Hari pertama... Acara pun resmi di buka. Kami dapat kelas di
Milan, berlima bersama dengan GK yang ternyata memang teman sebangku
Riri di Lodaya (haha). Instruktur di kelas kami adalah Pak Helmi dan Pak Agus,
dan juga ditemani Pak Re. Tentang isi pelatihannya, ada di tulisan yang lain
ya? (baca: laporan tugas. ^^v). Hari pertama pelatihan hanya sampai jam 17.30. Pak
Helmi mengajar dengan begitu jelas dan menyenangkan sampai waktu tak terasa
berlalu, bahkan hampir saja kelupaan shalat Ashar. Malam hari, kami free.
Sebenarnya pengen jalan-jalan ke luar, tetapi karena yang lain masih butuh istirahat,
jadilah kami cuma mengintip Jalan Surya Sumantri sesaat setelah makan malam, lalu kembali ke kamar.
Hari kedua, pak Mun mendatangi kami yang sedang sarapan pagi.
Menanyakan keadaan kami, kesan pesan di hari pertama, mengkhawatirkan kami kalau-kalau kami menemui kesulitan, secara, materi yg diberikan berkaitan
dengan IT, sedangkan kami tidak berlatarbelakang IT, dan apa harapan kami agar
di pelatihan hari selanjutnya lebih baik lagi. What a nice person. Hari kedua ini, Pak Agus mengajar dengan lebih enak daripada di kelas hari pertamanya. Lebih nyantel pelajarannya. Sementara Pak Helmi
berhalangan hadir karena sakit (padahal udah cocok dengan gaya mengajar pak
Helmi. (Get well soon pak). Pak Sopian yang bertugas menggantikan Pak Helmi. Belajar bersama
pak Sopian sampai jam 10 malam, lumayan ngantuk juga. Untuk mengusir kantuk,
sesaat aku menengok handset ku, yang malah mengacaukan konsentrasiku. Tanpa tahu
dengan pasti apa pertanyaannya, dan bahkan bukan ditujukan kepadaku, tiba-tiba
saja aku menjawab, dan keliru, padahal dengan volume yang menurut teman-teman
sekelas lebih keras dari biasanya (deuh... malunya... haha).
Hari ketiga, masih
bersama pak Agus dan pak Pian dari jam 9 pagi sampai 10 malam. Dan tiga hari di
Bandung ngga keluar kemana-mana. Hanya sebatas room 110, tempat makan, Milan, dan
lobby. Hmm... Sempat nonton beberapa film di HBO dan Starworld sambil nunggu
giliran mandi sih. Salahsatu favoritnya Astronaut’s Wife, bersama Johny Depp (^^).
Hari keempat alias terakhir. Ah, ternyata empat hari cepat
sekali berlalu. Padahal, barusaja dapet feel nya (*halah). Sambil menunggu
waktu, setelah sarapan, aku, Riri dan mba Ira main ke lantai 4, yang ternyata
cantik. Bisa melihat kota dari atas. Hingga akhirnya tibalah acara penutupan yang
dilakukan jam 10, berupa penyerahan kenang-kenangan dan ...foto-foto....
TANGKUBAN PARAHU
Ah iya, saya lupa cerita kalau view dari room 110 kami,
adalah gunung Tangkuban Perahu, yang seperti memanggil-manggil kami untuk
mengunjunginya. Itulah kenapa seusai penutupan, kami memutuskan untuk melihat
Tangkuban Perahu dengan menyewa mobil. Riri dan Mba Ira berhasil mengajak Pak
Priyo Gunung Kidul untuk ikut bersama kami, sementara Pak Reza sudah mendahului
pulang ke Jakarta. Ndilalah, kepulangan kami kali ini, tidak ada satupun yang
berbarengan. Aku pulang Jumat jam 8 malam, mba Ira mau ke Jakarta dulu, dan
Riri mampir ke rumah mba Indra (kakaknya).
Menuju Tangkuban Perahu, jalanan relatif lancar. Belum
terlalu macet. Sepanjang jalan menuju ke sana tampak teduh dan asri. Tapi saya kok agak mual dan pusing, ya? Sepertinya memang ngga
berbakat naik mobil ber-AC deh. Bagaimanapun... sepertinya saya menyukai Bandung. Setelah kurang lebih satu jam
perjalanan, akhirnya sampailah kami di tempat muasal kisah Legenda Sangkuriang
itu. Subhanallah... Cantiknya, meski bau belerangnya menusuk, tapi tak mengurangi
kecantikan ciptaanNya ini. Setelah sempat ditutup pada bulan Agustus lalu,
nampaknya wisatawan mulai kembali berdatangan.
Setelah puas berkeliling, makan, dan shalat, kami pun
beranjak pulang. Ah, tunggu dulu, ada kebun teh di pinggir jalan, sayang kalau
dilewatkan. Foto dulu yuuk...
Perjalanan dilanjutkan menuju ke Pasar Baru. Banyak yang
bagus nih... Tapi, malah bingung mau beli apa. Jadilah ngga beli apa-apa, hanya
camilan oleh-oleh saja. Kemudian menuju ke stasiun, dan mampir ke Roti Bolen
Mayasari. Sementara mba Ira melanjutkan perjalanan ke agen travel Cipaganti yang
akan mengantarnya menuju Jakarta, aku, Riri
dan pak Priyo, shalat Maghrib, lalu menunggu jam keberangkatan kami.
Ketika kami mau makan, ternyata kereta pak Priyo sudah tiba,
jadilah aku makan berdua dengan Riri di kantin stasiun, sambil menunggu mba
Indra yang akan menjemput Riri, dan Amorita -temenku SMA- yang mau
menitipkan sesuatu untuk yang di Jogja.
Dan jam setengah 8 aku pun masuk ke stasiun menuju Lodaya
Malam yang sedang bersiap-bersiap. Bye bye Bandung... I'll be
back soon...