Thursday, October 25, 2012

Select Tangkuban Perahu From Bandung

Pada pertengahan Oktober, berpartner Riri dan mba Ira,  kami menuju ke Bandung. Berangkat naik KA Lodaya Malam, Mba Ira naik di Stasiun Tugu, sementara aku dan Riri naik di Stasiun Wates. Here we go...

Aku duduk bersama mba Ira, sementara Riri di belakang kami bersama seorang mas-mas yang sepertinya sudah tertidur pulas. Meski mengantuk, tapi... ladies ngerumpies sampai malam hampir habis. Hingga satu demi satu kami pun terlelap.  Aku terbangun ketika petugas hendak mengambil selimutku. Tidaak... masih dingin paak.

Sampai di Stasiun Bandung, kami pun turun. Riri sempat mengutarakan kecurigaannya tentang mas-mas di sampingnya yang teridentifikasi membawa koper dan tas laptop. Jangan-jangan... menuju ke tempat yang sama, terka Riri. Kami sholat di mushola stasiun lebih dulu. Baru setelahnya naik taksi Gemah Ripah menuju ke Hotel Verona Palace.

Sesampai di hotel, kami disambut Pak Mun yang langsung menebak bahwa kami peserta dari Jogja. Dan meminta maaf sebab kami harus menunggu, karena kamar untuk kami belum ada. Obrolan kami dengan Pak Mun, semakin menguatkan kecurigaan Riri bahwa mas-mas di sampingnya di kereta adalah memang peserta. Dari GK. Hahaha...

Sambil menunggu kamar kosong, kami dipersilakan makan dulu. Hmm... laper sih, tapi kok... ah... makan bubur ayam saja deh, mba Ira juga, Riri ambil roti dan scrambled egg. Setelah selesai makan, kami yang masih belum dapat kamar menunggu di lobby. Akhirnya, Pak Mun meminjamkan kamarnya untuk kami mandi dan bersiap-siap mengikuti pembukaan pada jam 09.00.

Hari pertama... Acara pun resmi di buka. Kami dapat kelas di Milan, berlima bersama dengan GK yang ternyata memang teman sebangku Riri di Lodaya (haha). Instruktur di kelas kami adalah Pak Helmi dan Pak Agus, dan juga ditemani Pak Re. Tentang isi pelatihannya, ada di tulisan yang lain ya? (baca: laporan tugas. ^^v). Hari pertama pelatihan hanya sampai jam 17.30. Pak Helmi mengajar dengan begitu jelas dan menyenangkan sampai waktu tak terasa berlalu, bahkan hampir saja kelupaan shalat Ashar. Malam hari, kami free. Sebenarnya pengen jalan-jalan ke luar, tetapi karena yang lain masih butuh istirahat, jadilah kami cuma mengintip Jalan Surya Sumantri sesaat setelah makan malam, lalu kembali ke kamar.

Hari kedua, pak Mun mendatangi kami yang sedang sarapan pagi. Menanyakan keadaan kami, kesan pesan di hari pertama, mengkhawatirkan kami kalau-kalau kami menemui kesulitan, secara, materi yg diberikan berkaitan dengan IT, sedangkan kami tidak berlatarbelakang IT, dan apa harapan kami agar di pelatihan hari selanjutnya lebih baik lagi.  What a nice person. Hari kedua ini, Pak Agus mengajar dengan lebih enak daripada di kelas hari pertamanya. Lebih nyantel pelajarannya. Sementara Pak Helmi berhalangan hadir karena sakit (padahal udah cocok dengan gaya mengajar pak Helmi. (Get well soon pak). Pak Sopian yang bertugas menggantikan Pak Helmi. Belajar bersama pak Sopian sampai jam 10 malam, lumayan ngantuk juga. Untuk mengusir kantuk, sesaat aku menengok handset ku, yang malah mengacaukan konsentrasiku. Tanpa tahu dengan pasti apa pertanyaannya, dan bahkan bukan ditujukan kepadaku, tiba-tiba saja aku menjawab, dan keliru, padahal dengan volume yang menurut teman-teman sekelas lebih keras dari biasanya (deuh... malunya... haha).

Hari ketiga,  masih bersama pak Agus dan pak Pian dari jam 9 pagi sampai 10 malam. Dan tiga hari di Bandung ngga keluar kemana-mana. Hanya sebatas room 110, tempat makan, Milan, dan lobby. Hmm... Sempat nonton beberapa film di HBO dan Starworld sambil nunggu giliran mandi sih. Salahsatu favoritnya Astronaut’s Wife, bersama Johny Depp (^^).  

Hari keempat alias terakhir. Ah, ternyata empat hari cepat sekali berlalu. Padahal, barusaja dapet feel nya (*halah). Sambil menunggu waktu, setelah sarapan, aku, Riri dan mba Ira main ke lantai 4, yang ternyata cantik. Bisa melihat kota dari atas. Hingga akhirnya tibalah acara penutupan yang dilakukan jam 10, berupa penyerahan kenang-kenangan dan ...foto-foto....

TANGKUBAN PARAHU

Ah iya, saya lupa cerita kalau view dari room 110 kami, adalah gunung Tangkuban Perahu, yang seperti memanggil-manggil kami untuk mengunjunginya. Itulah kenapa seusai penutupan, kami memutuskan untuk melihat Tangkuban Perahu dengan menyewa mobil. Riri dan Mba Ira berhasil mengajak Pak Priyo Gunung Kidul untuk ikut bersama kami, sementara Pak Reza sudah mendahului pulang ke Jakarta. Ndilalah, kepulangan kami kali ini, tidak ada satupun yang berbarengan. Aku pulang Jumat jam 8 malam, mba Ira mau ke Jakarta dulu, dan Riri mampir ke rumah mba Indra (kakaknya).

Menuju Tangkuban Perahu, jalanan relatif lancar. Belum terlalu macet. Sepanjang jalan menuju ke sana tampak teduh dan asri. Tapi saya kok agak mual dan pusing, ya? Sepertinya  memang ngga berbakat naik mobil ber-AC deh.  Bagaimanapun... sepertinya saya menyukai Bandung. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di tempat muasal kisah Legenda Sangkuriang itu. Subhanallah... Cantiknya, meski bau belerangnya menusuk, tapi tak mengurangi kecantikan ciptaanNya ini. Setelah sempat ditutup pada bulan Agustus lalu, nampaknya wisatawan mulai kembali berdatangan. 

Setelah puas berkeliling, makan, dan shalat, kami pun beranjak pulang. Ah, tunggu dulu, ada kebun teh di pinggir jalan, sayang kalau dilewatkan. Foto dulu yuuk...

Perjalanan dilanjutkan menuju ke Pasar Baru. Banyak yang bagus nih... Tapi, malah bingung mau beli apa. Jadilah ngga beli apa-apa, hanya camilan oleh-oleh saja. Kemudian menuju ke stasiun, dan mampir ke Roti Bolen Mayasari. Sementara mba Ira melanjutkan perjalanan ke agen travel Cipaganti yang akan mengantarnya menuju Jakarta,  aku, Riri dan pak Priyo, shalat Maghrib, lalu menunggu jam keberangkatan kami.

Ketika kami mau makan, ternyata kereta pak Priyo sudah tiba, jadilah aku makan berdua dengan Riri di kantin stasiun, sambil menunggu mba Indra yang akan menjemput Riri, dan Amorita -temenku SMA- yang mau menitipkan sesuatu untuk yang di Jogja.

Dan jam setengah 8 aku pun masuk ke stasiun menuju Lodaya Malam yang sedang bersiap-bersiap. Bye bye Bandung... I'll be back soon...

Tuesday, October 23, 2012

Dari Waktu ke Waktu


Berikut ini adalah rekap perjalananku ke Solo, yang ternyata sudah beberapa kali.

Dimarahi Pak Sopir

Saat itu kalau tidak salah, aku masih esempe. Jadi mohon maklum kalau kisah ini menjadi tak begitu lengkap.
Bulikku yang sudah wisuda dari UNS bermaksud menghadiri wisuda bestfriend-nya, dengan mengajakku dan kedua adikku. Lupa-lupa ingat berangkatnya naik bis apa, tapi  yang kuingat kami tiba di kampus di UNS dalam keadaan kucel, kusut, dan ... terlambat. Ya, acara wisudanya sudah usai. Kampus sudah mulai sepi.

Akhirnya kami langsung meluncur ke rumah mba Kotin, dan bertemu dengan  keluarga dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Setelah berbincang cukup lama, segera kami diajak makan siang, kemudian shalat dhuhur. Setelah beberapa saat kemudian, kami segera meninggalkan rumah mba Kotin, ingin jalan-jalan dulu sebelum pulang.

Saat masih kuliah dulu, bulikku paling sering menceritakan tentang bus tingkat yang ngga ada di Jogja, maka hal yang sangat ingin kami coba adalah naik bus tingkat. Dan di sanalah kami selama beberapa saat, mengikut trayek bus tingkat. Tanpa sadar, waktu pun beranjak sore, padahal kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk tiba di rumah.

Aku tak ingat dimana kami naik bis menuju Jogja. Yang kuingat hari sudah gelap, bis sangat penuh penumpang, tidak ada lagi tempat duduk, kami dimarahi pak sopir dan disuruh duduk di atas mesin di sebelahnya. Hehe...  Alhamdulillah  kami sampai rumah dengan selamat.

Lost in Solo

Saat itu hari libur tanggal merah. Dari kost-an di Lempuyangan, aku dan Ima bersemangat melajukan sepedamotor ke Solo. Tanpa tahu arah dan tempat tujuan, hanya mengikuti petunjuk jalan, yang pada akhirnya mengantarkan kami sampai di Solo. Kami berputar-putar mengelilingi kota Solo dalam arti kata yang sebenarnya. Tidak tahu jalan,  tidak membawa peta, dan tak hendak bertanya.

Kami menyusuri jalanan melewati Stadion Manahan, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, SGM, Alun-Alun, Kasunanan Solo, Pasar Klewer dan tempat lainnya dengan sepedamotor kami sebelum akhirnya kelelahan dan memilih beristirahat di Masjid Agung Surakarta.

Nyaris Pingsan

Bu Niken, tentor kursus jahitku, mengajak kami ke tempat beliau sering kulakan kain dan batik di Solo. Dan dengan semangat 45 kami langsung mengiyakan ajakannya.

Sabtu jam sembilan pagi biasanya adalah jadwal kursus kami, tapi hari itu kami berkumpul di stasiun Lempuyangan untuk menunggu kereta Prameks yang akan membawa kami ke Solo. Akhirnya kereta tiba dan mengantarkan  aku, bu Niken, bu Ony dan mba Kartini ke stasiun Purwosari.

Sesampai di Purwosari, perjalanan dilanjutkan dengan naik Solo Batik Trans ke PGS. Dan turun di jalan Slamet Riyadi disambung jalan kaki ke PGS dan Beteng. Melihat dan memilih mana yang disuka, hingga waktu berlalu tak dirasa. Ah iya, saya sempat nyaris pingsan di PGS, gara-gara ngga sarapan nih kayaknya. Begitu habis arem-arem satu biji dari Bu Niken dan segelas teh hangat manis, semua terlihat menjadi lebih terang. Haha... Laper ternyata.

Selesai dari sana kami langsung menuju ke pasar Klewer dengan naik becak. Pasar Klewer... seperti Beringharjo, tapi lorong antar los nya sempit banget. Ngga nyaman banget berdiri di sana. Pasti langsung ditegur pedagang atau pengunjung lainnya.

Diantar Angkot

Pada suatu liburan sekolah, adik-adik dan sepupu-sepupuku merengek-rengek  pengen nyoba naik kereta Prameks. Dan akhirnya, kami pun berangkat bertujuh. Aku, ketiga adikku, Bulikku (yang mengajakku ke Solo di cerita pertama) dan kedua anaknya. Rute dan tujuannya sama seperti perjalananku ke Solo sebelumnya.

Kami turun dari Prameks di Stasiun Purwosari, naik Solo Batik Trans ke PGS. Lihat –lihat di PGS (ngga ke Beteng).  Di sana adik-adik minta beli kaos Solo. Kemudian kami berjalan kaki ke pasar Klewer, lewat alun-alun, membeli gulali, kemudian makan di depan Pasar Klewer. Setelah itu, shalat Dhuhur dan Ashar di Masjid Agung Surakarta, kemudian mampir ke Pasar Klewer sebentar, dan berjalan kaki lagi ke jalan Slamet Riyadi.

Hanya begitu saja, tapi hari sudah sore ketika kami keluar dari Pasar Klewer. Dan kami bingung mau naik apa pulangnya. Bulikku yang dulu sempat jadi warga Solo ketika kos jaman kuliahnya pun sudah lupa, akhirnya bertanya ke bapak sopir angkot. Dan dengan baik hati si bapak mau mengantar kami (setelah meminta izin penumpang lainnya) ke Stasiun Jebres (yang ternyata bukan trayeknya) dengan tarif seperti penumpang lainnya. Haha... Terimakasih .... Dan kami menunggu kereta Prameks terakhir membawa kami pulang ke Jogja...

Nasi Liwet Yu Sani

Jumat pagi, 13 Juli 2012, percakapan di sebelahku ...
“Gimana, Bu Nia? Jadi apa tidak rencana nanti sore?”, tanya pak Kabid ke Bu Nia
“Lha nderek bapak saja”, jawab bu Nia
“Mau tindak ke mana, Pak?”, tanyaku penasaran
“Wah, ini rahasia antara saya dan bu Nia, mba Anin jangan sampai tahu”, jawab pak Kabid bercanda, membuat tambah penasaran.

Siang hari, pas istirahat Jumatan, aku duduk di kubikelnya mba Jum bersama bu Rully dan bu Ririn di seberang, tiba-tiba Pak Dodi datang.
 “ Nanti sore , jadi ya ke Solo nya? Siapa saja yang ikut? Mba Jum, Mba Nia, Mba Rully, Mba Ririn jadi to? Mba Anin mau ikut apa tidak?”, kata Pak Dodi k pada akhirnya.
“ Lho, sudah ngga jadi rahasia lagi, to pak? Hehe..”, jawabku
Sore hari, sesaat setelah bel pulang berbunyi pada jam 14.30 kami langsung cabut ke Solo, bertujuh dengan pak Jaka di belakang kemudi.

Sebenarnya masih belum tahu dengan pasti, ke Solo mau kemana, mau ngapain. Hehe... Dasar... Tiap diajak jalan-jalan pokoknya ikut. Setelah beberapa jam perjalanan yang menyenangkan. Canda bersama teman-teman yang melepas penat dan cerita Pak Dodi yang penuh nasehat, untuk tak pernah lupa pada orang-orang yang berbuat kebaikan kepada kita, bahkan berlaku lebih baik kepada orang yang tak menyukai kita adalah lebih utama.

Setelah sebelumnya mampir ke toko roti Orion, akhirnya kami tiba ke tujuan utama, warung lesehan Nasi Liwet Yu Sani yang sore itu ramai sekali. Mobil berjajar memenuhi parkiran di pinggir jalan di Solo Baru. Dan sayang sekali ngga bisa ambil foto, hape lowbat di jalan. Biar kudeskripsikan saja ya? Kami masuk ke tenda dan penjual mengambil pincuk daun pisang untuk meracik nasi liwet, sayur oseng pepaya yang pedas manis, santan kental mirip jenang putih dan lauk pilihanmu, ada tahu tempe telur putih kukus hingga ayam. So nyummy dan gratis (hihi..). Dan Pak Dodi meminta dibungkuskan untuk kami bawa pulang pula. Di perjalanan pulang, aku bahkan kesulitan duduk di mobil, full, kenyang.  

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...