Showing posts with label catatan hari. Show all posts
Showing posts with label catatan hari. Show all posts

Thursday, November 5, 2015

Life is...

Beberapa tahun kemarin, komunitas penggemar sepeda semakin banyak ditemui.  Kalau di Jakarta ada komunitas bike to work, teman-teman kerja angkatan saya punya komunitas CintaPITRI (pecinta pit-pitan Republik Indonesia).
 
Sebenarnya, saya tidak akan menulis tentang komunitas pecinta sepeda. Saya hanya ingin bercerita tentang sepeda. Lebih tepatnya, merangkum dua kisah tentang sepeda. Kisah yang beberapa saat lalu mengingatkan saya, menyemangati saya untuk terus bergerak maju mendekati akhir perjalanan-dua-tahun yang dituju.
 
Life is like riding a bicycle
 
Pagi itu, saya membereskan rak dan lemari. Saya menemukan sebuah tas, souvenir pernikahan putrinya Pakdhe di Jakarta. Tas dari kain belacu bertuliskan sebuah kutipan yang sering menjadi status facebook atau BBM-nya teman-teman.
Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving”.
Kehidupan itu seperti mengendarai sepeda roda dua, untuk menjaga keseimbangannya kita harus terus bergerak. Ketika pedal tidak dikayuh maka kita dan sepeda akan terjatuh. (Kecuali kita berada di jalan yang menurun, atau kita pasang standar penyangganya. Hehe..)
 
Saat bersepeda bersama-sama rombongan, semestinya kita menyamakan ritme dan kecepatan agar bisa bersama-sama tiba di tujuan. Jika kita terlalu lambat mengayuh atau terlena saat mengusap peluh, maka kita akan tertinggal dari yang lain, kecuali kita bisa mengejarnya secepat angin. 
 
Kecepatan terkadang dipengaruhi oleh sepeda yang dikendarai. Kecepatan sepeda balap tentu tak sama dengan kecepatan sepeda biasa. Padahal, sepeda punya bermacam-macam jenis, merek, warna, model, harga dan sebagainya. Meskipun begitu, mengendarai sepeda yang sama tidak serta merta menjadikan kecepatan kita sama. Semua kembali pada kemampuan dan kemauan kita yang mengendarainya.
 
Life is a long distance race
 
Waktu itu, Juni 2015 hampir berakhir. The Return of Superman episode 83 tayang di waktu yang tepat. Meskipun saya menonton tayangannya terlambat, tapi saya membaca reviunya sebelum momen terlewat. Menenangkan, menguatkan hati dan pikiran. Segmen ketiga dan ketujuh di episode itu bercerita tentang balita-kembar-tiga-favorit-saya yang diajak ayahnya mengikuti lomba triathlon (renang, bersepeda, dan marathon) di lingkungannya. Si ganteng Daehan menemani ayahnya berenang, si cute Minguk menemani bersepeda, dan si tengil Manse ikut maraton.
 
Pada saat bersepeda, Mr. Song mulai tertinggal jauh dari peserta lainnya, namun dia tetap berbahagia dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pertandingan karena dukungan tiga balita kembarnya. Dia pun berkata kepada si cute yang duduk di kereta belakang sepedanya: 
“Tidak apa-apa kita tertinggal di belakang, karena pengalaman berharga juga akan tertinggal untuk kita kenang.”
Dalam wawancaranya, Mr. Song berkata:
“Ketika bersepeda, saya memang sedikit lambat. Banyak orang yang mendahului kami. Begitu juga dengan kehidupan yang saya jalani. Banyak orang yang melampaui saya. Tapi kita semua tahu, memang begitulah kehidupan. Terkadang kita memimpin di depan dan terkadang harus tertinggal jauh di belakang. Menjadi yang terdepan maupun yang tertinggal, jangan sampai membuat kita pongah ataupun menyerah. Itu yang ingin saya tunjukkan kepada anak-anak saya. Life is a long distance race and it’s not an easy job to complete the race.”
-o0o-
 
Akhirnya, syukur alhamdulillah untuk dua tahun terakhir yang penuh pengalaman berharga, yang akan tertinggal di hati dan kepala. Untuk semua yang terus mendukung dari garis finish, yang selalu memberikan senyuman termanis, yang setia mendengar curah hati dan mengusap tangis, yang memandang dari kejauhan dengan miris, maupun yang diam-diam mendoakan di bawah gerimis:

terimakasih, maturnuwun, kamsahamnida, dan jazakumullahu khairan katsira
 
Garis finish telah berada di depan mata, apakah pertandingan telah sampai pada akhirnya? Tentusaja... belum apa-apa. Masih panjang lintasan di depan yang harus dilalui dan ditaklukkan.
Don’t brag and don’t give up. Ganbatte!! ^_^v
 
~ Hari kelima lebaran 2015, sebuah catatan untuk diri sendiri ~ 
~ Special thanks to my MarS RAIN, Star 35, dan trah PeKaDe ~

Saturday, January 11, 2014

Merenda


Saya, sedang belajar merenda. Semacam merajut benang dengan sebuah hakken. Biasanya, saya menggunakan benang katun, polyester, nylon atau rayon.
 
Suatu hari, saya menemukan benang yang berbeda di toko benang langganan. Benang  berwarna krem yang berserabut dan tidak rata teksturnya. Bulky, begitu si mbak menyebut namanya. Saya pun membelinya.
 
Saya, memutuskan untuk merenda sebuah syal. Semacam kain panjang yang digunakan untuk  menghangatkan leher. Padahal, saya tidak tinggal di daerah yang dingin, tak pernah memakai syal, bahkan  tak ada seseorang yang mau saya hadiahi syal.
 

Ternyata, merenda benang ini tak semudah merenda benang-benang yang biasa saya pakai sebelumnya. Saya memerlukan usaha lebih untuk sampai pada seperempat panjang yang saya inginkan. Hasilnya, tak serapi biasanya. Mencong sana sini. Saya pun jadi tak percaya diri.  

Sempat terpikir untuk membongkar syal ini. Tapi, saat saya mencoba melakukannya, ternyata hal itu justru merusak benangnya. Sehingga tak ada pilihan selain harus tetap menyelesaikannya.  

Pada akhirnya, saya terus melanjutkan merenda. Sembari bertanya-tanya, untuk apa syal ini nantinya?  Bersama sebersit kekhawatiran, akankah syal ini selesai direnda? Tepat pada waktunya?  

Seseorang berkata, bisa, kamu hanya perlu lebih fokus, konsentrasi, dan memberikan usaha yang lebih lagi dalam mengerjakannya. Terdengar manis bukan nasehatnya?

Wednesday, November 4, 2009

AKU KEMBALI

Lama sekali ngga meng-update blog ini. Hampir setahun kali ya. Sebenarnya banyak sekali cerita yang telah terlalui, tapi sepertinya aku menjadi aras-arasen untuk menulis. Pfiuh... Ternyata aku rindu... Dan ... here i am ...
Setelah menjadi pengangguran selama 2 bulan pada Maret dan April lalu, akhirnya pas di hari ulangtahunku yang ke... (tiiiiiit), dapat undangan untuk menerima tiket masuk menjadi management trainee di tempat kerja yang baru.
Dan hari berikutnya mulai masuk ke instansi di mana aku dan 4 orang teman baruku ditempatkan. Dan mulailah cerita-cerita baruku di sini... yang tanpa terasa sudah...

Monday, March 2, 2009

Tibalah Hari Ini

Catatan: 1 Maret 2009

Biasanya … jam 6 pagi aku sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Mulai dari mandi, berpakaian, memanaskan motor, dan kadang-kadang sarapan. Dan sejam kemudian … kurang lebih jam 7 atau 7.15 pagi, aku mulai melajukan Supra 125 cc-ku menyusuri jalanan dari Kulon Progo-Bantul-Sleman-Kota sepanjang kurang lebih 27 km hingga sampailah aku di tempat kerjaku di daerah Sleman paling cepat 45 menit kemudian.

Tapi, mulai hari ini … semua sudah tak sama. Setelah sepuluh setengah bulan sudah aku bekerja sebagai staf akuntansi di rumah sakit. Tibalah hari ini. Hari di mana aku telah memilih untuk beranjak dan melangkah pergi.

Mungkin ngga terhitung berapa kali aku berkeluhkesah pada temanku saat aku bekerja di sana. Tapi ternyata … rasanya berat juga saat harus meninggalkan semua. Hmm… memang benar … kita bisa merasakan sesuatu itu sangat berharga saat kita kehilangannya.

Tunggu dulu! Meski terkadang mengeluh, tapi aku berusaha memberikan yang terbaik yang aku punya. Aku belajar banyak pelajaran berharga di sana. Meskipun begitu aku yakin sekali, lebih banyak lagi hal yang samasekali belum kuketahui. Rasanya jadi ingin kembali lagi dan mempelajari semuanya. Hehe..

Hal yang berkesan … pekerjaan yang banyak dan tiada henti, hehe … ruangan kerja yang bersih dari lobby hingga kamar mandi … bebas beribadah kapan saja dan berapa kali saja kita mau… atasan dan kawan-kawan yang sangat beragam karakter… Bicara soal kawan-kawan … berhubung aku ini termasuk seorang yang ngga banyak ngomong dan ngga good looking (baca juga: Betty La Fea) … meskipun 10,5 bulan adalah waktu yang cukup lama … tapi, aku hanya kenal dengan sedikit nama saja. Jika digambarkan dalam himpunan (hehe sok matematika mania) akan tampak seperti ini.
Dan … special buat semua yang merasa ada di himpunan B, kalau kebetulan mampir ke blog-ku ini, aku mohon maaf untuk semua kesalahan dan kekhilafan pikiranku, lisanku, dan lakuku. … dan … thank you so much… for every single thing… yang kalian berikan untukku selama sepuluh bulan terakhir ini. Aku pasti akan merindukan kalian. Ssst … B is stand for Best. Ya … ‘Coz You are the best. I Love you all.

Monday, December 22, 2008

Doa Dari Hati Kecilku

Ya Allah ...
Setelah usahaku beberapa hari ini
Kuserahkan semuanya padaMu kini
Meski besar harapku untuk bisa lulus kali ini
Kutahu hanya Engkau yang paling mengerti
apa yang terbaik untuk hambaMu ini
Maka dari itu Ya Allah Tuhanku ...
Bimbinglah aku, ajarilah aku, mudahkanlah aku
menerima dan mensyukuri apapun keputusanMu
Jika keputusanMu seindah harapku
jangan pernah biarkan aku sombong dan lupa diri
Namun jika keputusanMu belum seperti harapku
jangan pernah tinggalkan aku dalam putus asa dan sedih hati
Amin. Amin. Amin
Ya Rabbal 'Alamin

Sepanjang awal hingga pertengahan Desember 2008

Monday, June 2, 2008

Zzz...zZz... ZzZ...

Banyak orang (bahkan dari kesan pertama mereka) menggambarkan aku dalam satu kata yang paling istimewa yaitu ... pendiam.
Ibaratnya adalah gamelan yang kalau ngga ditabuh ngga ada bunyinya.
Aku sendiri ngga tahu dengan pasti mengapa aku ngga bisa dengan mudah ngobrol asyik dengan orang lain (apalagi baru kenal).
Yang selalu kuandalkan hanyalah senyuman. Ngga terlalu manis memang, tapi tulus.
Teman-teman terbaikku ngga pernah mempermasalahkan ke-pendiam-anku.
Tapi bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan calon teman-teman terbaikku? Apakah mereka tahu? Apakah mereka mau mengerti? Bahwasanya diam-ku bukan karena aku sombong ataupun gagu?
Semoga saja...

Wednesday, January 30, 2008

Thank You So Much, I'm Sorry, Good Bye

Sering kita berpikir bahwa kitalah yang tahu apa yang terbaik buat kita. Padahal yang menurut kita baik belum tentu itu yang terbaik, sedangkan yang terlihat buruk bisa jadi malah yang terbaik buat kita. Dan sudah sewajarnya kita melibatkanNya dalam setiap keputusan yang ingin kita ambil. Dan untuk keputusan yang sudah diambil ... bismillah saja... dan jangan pernah sekali-kali menyesalinya

Kata pengantar yang cukup panjang,ya? Sabtu, 5 Januari 2008 aku mengakhiri kontrak kerjaku di Kebumen dan balik lagi ke Sentolo City, di Yogya. Dan aku sangat berharap bisa segera menemukan ganti yang lebih baik lagi. Amin.

9 bulan di Kebumen, aku ngga banyak tempat yang kuketahui (memalukan memang. Paling yang dekat-dekat tempat kost. Teman dan kenalan juga ngga banyak (so pamitannya ngga butuh waktu yang lama. Hehe...). They are ...
Keluarga Masdoeki, yang selalu mau direpoti;
Bu Manto (d'owner of Garuda 17);
Teman-teman kost yang sangat bermacam-macam karakternya:
- Mba Ning, Meta dan Ratna, yang udah cabut duluan;
- Mba Sulis, yang selalu ceria dan bersemangat;
- Mba Iin, yang selalu punya jawaban lucu untuk semua pertanyaan seserius apapun;
- Mba Nana, yang punya banyak kemiripan (selera) denganku;
Teman-teman kantor:
- Pak Limo, yang 'sedikit' pelupa meski sangat bersemangat dan berdedikasi;
- Mba Dewi, the best ojek ... eh... fren di Kebumen;
- Mba Indra, teman 'ngerumpi' sebulan terakhir lalu;
- Mba Diana, yang dapat pe-er banyak banget ya, mba?
Lainnya ...
- Pras, teman esempe yang ternyata dah 7 tahun di Kebumen;
- Toko Melati: Bu Siti, Mba Fiki, Mba Endah, Mba Ijah, Mba Mugi, Mba Pu2t
- Jadi Jaya: Cik Weni, Koh Alex, Mba Ri2n, mba Lastri, mba Sri
- Gaza: Mba Yani, Mas Heri, Mba Tri
- Mbah Sarman, Pak Sukir, Bu Badri, Bu Agus, Mba Onik,
- dll
Kebumen memang ngga jauh2 amat dari Yogya ( dua jam perjalanan). Tapi, aku mau ucapkan thank you so much, i'm sorry dan goodbye ...
Aku yakin akan datang saat dimana aku merindukan saat saya berada di Kebumen, dikelilingi mereka yang begitu baik ... I'll miss u all

January Post: The Prolog

Hampir 2 bulan ngga update posting di blog-ku ini. Padahal banyak banget yang pengen aku ceritakan. Tapi kompie-ku di rumah ngga ce-es. Ngga bisa ngsave di flashdisk-ku (coz ngga ada port-nya.Hehe...). Jadi ngga bisa upload tulisanku yang dah berlembar-lembar. Untuk di ketahui, aku ngga punya sambungan internet pribadi, jadi aku harus ke warnet untuk bertualang di cyberworld ini. Lha kalau nulis postingnya di warnet juga, bisa-bisa aku jatuh miskin (hehe...emang pernah kaya?)

Dan tak terasa pula setahun sudah berlalu lagi. Dan my new year resolution adalah aku sangat berharap tahun ini aku benar-benar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi bagiku, bagi orang-orang di sekelilingku dan bagi agamaku.(Terlalu abstrak memang, tapi aku sangat ingin mengkonkretkannya) Amin

Friday, November 9, 2007

A Y A

26 Oktober 2007

Seorang gadis berkerudung (sebut saja Aya), terdiam seolah menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapannya. Namun sebenarnya, pikirannya melayang, jauh, tak tentu arah dan tak tahu akan berujung di mana. Berkali-kali dia menghela nafas panjang, yang sepertinya tak juga melegakan gundah di hatinya.

Sudah 3 bulan ini dia menunggu kepastian akan suatu hal yang telah dijanjikan.. Namun, ternyata dia masih harus terus menunggu dan menunggu. Hingga hari ini, ia merasakan kejenuhan yang amat sangat.

***
25 Juli 2007

Setelah beberapa hari sebelumnya Aya nekat mengutarakan ‘uneg-uneg’nya via email, hari ini dia dipanggil untuk menghadap atasannya. Meskipun merasa senang karena ternyata email-nya direspon, namun tak urung Aya panik juga memikirkan apa yang harus dikatakannya. Secara, Aya pasti grogi saat harus berbicara pada suasana formal (pada suasana non formal pun penyakit grogi-nya terbilang cukup parah).
Semalaman Aya mencoba merancang susunan kata-kata yang akan disampaikan kepada atasannya besok.

Jam 10 pagi, tibalah Aya di kantor atasannya. Tampak semua orang sedang sibuk, Aya pun menunggu sambil berusaha meredakan gemuruh di dadanya yang berdebar-debar.

Akhirnya Pak Direktur Utama menemuinya …
Pak Dir :
“Ada apa mbak Aya?”
Aya : (yang tak juga berhasil meredakan nervous-nya mulai kehilangan susunan kata-katanya semalam, dan hanya bisa berkata)
“Saya mau mengundurkan diri, Pak?”
Pak Dir :
“Kenapa? Karena masalah itu ya? Saya, kami tahu sekali, pasti ngga enak banget rasanya digantung. Kami menargetkan, bulan Agustus ini semuanya bisa selesai. Terusterang saya berharap mbak Aya masih mau bergabung bersama kami. Mungkin itu saja dari saya, dan saran saya, coba mbak Aya renungkan kembali niat mbak Aya, dan silakan nanti bicarakan dengan Bu HRD”.

Aya pun menemui Bu HRD, dan mengutarakan niatnya untuk resign. Namun, Aya terus saja nervous, dan terus saja kehilangan susunan kata-katanya semalam, hanya ada satu alasan yang diingatnya (padahal, dia merasa itu adalah alasan paling aneh yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang mau resign). Namun Bu HRD dengan sabar dan hangatnya, memaparkan kondisi sebenarnya, dan menawarkan sebuah solusi.
Bu HRD:
Wajar saja kita berpikir bahwa segala sesuatu itu seharusnya berjalan dengan ideal. Dan kalau mau fair-fairan, terusterang kondisi teman-teman di sana memang jauh sekali dari kondisi ideal, namun kami punya parameter tersendiri untuk teman-teman di sana. Salahsatunya, ya loyalitas teman-teman terhadap kami.Kalau boleh,bisa dikatakan,kantor baru ini adalah proyek trial & error. Jujur saja sampai hari ini kami masih mencari bentuk komunikasi yg efektif, untuk teman-teman di sana, mengingat jarak teman-teman di sana adalah yang terjauh. Dan kami janji pasti akan ada pendampingan untuk teman-2 di sana. (Tersenyum) Nah, setelah mendengarkan penjelasan saya yang panjang lebar, apa komentar mbak Aya?
Aya : (Benar-benar speechless, dan hanya berkata)
“ Ya sudah Bu, saya coba lagi … “
Bu HRD: (selalu dengan hangat)
"Oke, kalau begitu. Oya, setelah ini Bu Direktur 1 mau ketemu mbak Aya, jangan pulang dulu ya … ?”

Bu Direktur 1 pun tiba ….
Bu Dir : "Sebenarnya ada apa dengan mba Aya? Kenapa?"
Aya hanya bisa tersenyum karena kata-kata yang sudah disusunnya semalam sudah hilang, tak berbekas.
Bu Dir : Karena ngga paham dengan bahasa daerah sana? Atau ada sesuatu yang belum paham? Tanyakan aja, saya akan coba jelaskan, dan kalaupun saya belum mampu menjelaskan akan saya coba carikan jawabannya.
Aya pun sedikit cerita dan menanyakan beberapa hal yang sama sekali tidak ada dalam susunan kata-kata yang dirancangnya semalam. Dan berlangsunglah ‘diskusi’ yang sangat melenceng dari tujuan awal yang menjadi pilihan akhir Aya…

***
2 November 2007

Lagi-lagi, Aya sedang memandangi monitor di depannya. Dia teringat nasihat seorang kawan di kala ia berada diantara dua pilihan. Pertama, sholat istikharah. Kedua, saat kamu sudah memutuskan salahsatu diantara dua itu, bismillah, yakinilah keputusan yang telah kamu ambil, dan jangan pernah menyesali pilihan yang kamu tinggalkan. Dan Aya tidak menyesali keputusan yang telah diambilnya waktu itu.

***
31 Oktober 2007

Menunggu ternyata memang ngga mudah, dan membuat Aya kembali terjebak diantara dua pilihan . . .

***
catatan: (Kisah ini bisa jadi hanyalah fiktif belaka, kesamaan tokoh, karakter, peristiwa, dan dialog di dalamnya bisa jadi hanyalah kebetulan semata)

Wednesday, September 5, 2007

Kulit Kacang, Bocor, dan Pendiam

Bagian Pertama
BUKAN KACANG YANG LUPA KULIT

Sebelum aku menemukan tempat kost di Kebumen, aku sempat 5 hari numpang di rumah teman. Dan semenjak aku nge-kost, kalau ngga dibonceng temanku itu, aku hampir tidak pernah silaturahim lagi ke sana. Mungkin, baru sekitar 3 kali aku menginap di sana lagi semenjak aku kost. Bukannya aku melupakan semua kebaikan yang pernah diberikan padaku. Tapi aku punya alasan. Dan yang (selalu) kujadikan alasan itu adalah pulang kerja sudah sore, jarak rumahnya yang lumayan jauh (untuk ditempuh dengan berjalan kaki), ngga dilewati angkutan (hehe..), dan aku ngga punya kendaraan (hehe…).
***
awal September, saat mentari menyengat ubun-ubun pengendara di jalanan
(terimakasih tak terhingga untuk keluarga Bp. H. Masdoeki dan Ibu Hj. Masinem, di Tamanwinangun)

***
Bagian Kedua
EPISODE BOCOR


Saat itu, adalah hari libur yang posisinya benar-benar salah tempat. Tanggal merah 17 Mei 2007 jatuh pada hari Kamis, yang itu berarti menyisakan hari Jumat untuk masuk kerja. Buat mudik nanggung, padahal pengen banget pulang. Enaknya ngapain,ya?

“Mba, besok kita ke Pantai Bocor aja, yuk?”, ajak mba Dewi.

Hmm… kedengarannya menarik. Soalnya aku belum pernah mengunjungi satu obyek wisata pun di Kebumen ini. Akupun langsung mengiyakan ajakan mba Dewi. Jadilah sore itu sepulang kerja aku langsung ikut mba Dewi ke rumahnya, menginap di sana dan baru pagi harinya kita pergi ke Bocor. Sekitar setengah jam naik motor dari rumah mba Dewi..

De Javu … sepertinya aku pernah melewati jalanan ke pantai ini.

Sesampainya di gerbang masuk yang ada lapangan latihan polisi. Masya Allah, ini kan pantai yang waktu itu aku kunjungi sepulang dari rumah (alm) Arya di Cilacap, sama Nova, Nana, Jalu dan Wawan. Ya Allah, ternyata begitu sempit dunia (hehe …). Bedanya pagi itu, pantai Bocor ramai pengunjung, ngga sesepi waktu itu.

Sebagian besar pengunjung tampak asyik bermain air. Namun kami memilih duduk di pasir, menikmati udara dan pemandangan pantai Bocor pagi itu, sambil sesekali mendekati air dan berlarian saat dikejar ombak. Dan setelah merasa cukup kami pun beranjak pulang, namun singgah sebentar menikmati nasi pecel dan snack di salahsatu deretan warung di tepi pantai itu.

***
Bagian Ketiga
APA ENAK SIH MBA, JADI PENDIAM?

Saturday night ini daripada jenuh dengan rutinitas di kost, aku mabit di rumah teman lagi. Ngga ada rencana apa-apa atau mau ke mana. Ya, bisa dibilang pindah tidur aja. Wong berangkatnya aja udah azan maghrib.Hehe … Payah, ya?

“Nah, kalau ngga pulang ke Yogya, mbok ya pulang ke sini aja …”, kata Ibu temenku.

Sehabis Isya’, diajak maen ke tetangga temenku. Yang pertama ke tempat akhwat mungil nan ceria, nganterin titipan jilbab. Dia bercerita banyak tentang suka duka penelitian di Dinkes yang sedang dijalaninya. Dan aku (yang pendiam, hehe…) ikut asyik mendengarkan. Ya, meskipun aku ngga terlalu terlibat aktif, paling ngga aku mendengarkan sesuatu yang baru bagiku.

Selanjutnya, ke rumah akhwat yang ngajar di esde (alias jadi bu guru). Seorang akhwat yang rame, begitu hangat, keibuan dan menyenangkan. Dia bercerita tentang anak-anak didiknya, pengaruh media terhadap perilaku anak didiknya, dan hal lainnya.
Aku yang (lagi-lagi) kurang terlibat aktif dalam perbincangan ini ditanya akhwat ini.
Akhwat : “Mba ini orangnya pendiam, ya?”
Saya : “Kelihatan, ya?”
Akhwat : “Apa enak sih mba, jadi orang pendiam?”
Saya : (hanya tersenyum)

Saturday, July 7, 2007

SESAAT SEDIH, SESAAT BAHAGIA

Kebumen Senin, 18 Juni 2007
10.45 wib (di tempat kerja, lagi-lagi … belum jam-nya istirahat, tapi gapapa lah ya?)
Cengeng… saat ku mengeluh, untuk urusan yang harusnya bisa kuatasi dengan sedikit saja tambahan usaha kerasku.
Manja … saat ku merajuk, memaksa orang membenarkan kemalasan di atas usaha kerasku mengatasi urusan itu.
Haru… saat kulihat sepasang mata yang hanya menatapku dengan gulana, tanya dan doa.
12.15 wib (di tempat kerja, saat istirahat tiba)
Being single di usia yang sudah seperempat abad. Bagiku yang tinggal di kampung terasa sekali menjadi warga masyarakat nomor dua (hehe… hiperbola, dhing!). Bayangkan saja… mau masuk ke karang taruna, banyakan anggotanya anak-anak SMA, mau masuk PKK, eh lha belum jadi ibu yang ngurus keluarga. Tapi, santai saja lah, ya … Bergaul kan bisa di mana saja. Ngga melulu harus di karang taruna atau PKK, kan masih bisa ikut ronda. (Eh?!Lho?!) #(^_^)#
(masih saat istirahat di tempat kerja)
Langit di utara mendung … Meski cahaya matahari masih menyilaukan pandangan … Tetapi malah membuat mataku yang ngantuk, jadi semakin terasa berat …

Kebumen, Jumat, 22 Juni 2007
12.15 wib (di tempat kerja, pas jam istirahat)
Saat kubuka file-nya m’Vita yang masih tertinggal di kompie kantor, kutemukan tulisan sangat bagus –yang seharusnya mampu memberiku semangat baru-, sepertinya dari Dwi Ijo... (Wik, kutulis di sini ngga papa,ya?)

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon kepada Allah kebijakan
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan
Allah memberiku akal untuk berfikir
Ketika kumohon kepada Allah ketentraman
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta
Tapi aku menerima segala apa yang kubutuhkan
Doaku terjawab sudah...

Membaca tulisan itu, aku jadi melihat diriku sendiri… semua pintaku tlah dijawabNya dengan memberikan kebutuhanku, dan apa yang kulakukan? Tak kumanfaatkan semua yang diberi-Nya …Allah ya Rabbi …

Kebumen, Jumat, 29 Juni 2007
13.10 wib (di tempat kerja, pas kelewatan jam istirahat)
Kemarin di Kebumen hujan turun lagi. Deres banget. Padahal sudah lama ngga hujan, dan menurut jadwal musim (yang diperkirakan manusia), sudah bukan jadwalnya musim hujan. Dan … aku santai saja berangkat ke kantor dengan meninggalkan jemuran cukup banyak yang kucuci pagi harinya. Saat di kantor pun aku ngga ingat kalau aku punya cucian sebanyak itu. Malahan aku asyik menikmati hujan dari balik kaca tempatku bekerja. Hmm …
Sore sepulang kerja … hiks! Ternyata … jemuranku kehujanan.

Sunday, June 17, 2007

Catatan 12 juni - 14 juni 2007

Kebumen, Selasa, 12 Juni 2007 Jam 13.15 wib

(di tempat kerja, saat telat istirahat)


Hampir dua bulan terjebak dalam suasana yang membuat tak nyaman, tak tenang, di hati, di badan, di pikiran. Tak juga kutemukan siasat untuk menangkalnya.

Mencoba merangkak perlahan-lahan, suara-suara di sekitar tak menginginkankan bayi yang belajar dengan bimbingan. Mencoba berjalan dengan perlahan, cambuk-cambuk berkeliaran memaksaku bersegera lari.Mencoba berlari cepat lurus ke depan, tujuan masih terlihat samar-samar.

Jam 16.22 wib (di tempat kerja, sesaat setelah waktu pulang)

Diantara penat jiwa, kucoba pejam mata. Terlintas seraut wajah yang terbentuk nyata. Wajah penuh harap, wajah penuh doa. Memberiku ragu memutus bimbang. Menguatkan bimbang memenggal tanya.

Kebumen, Kamis, 14 Juni 2007 Jam 10.15 wib

(di tempat kerja, belum waktunya istirahat sih … tapi ngga apa-apa lah ya…)

Kicau burung riuhkan dinginnya pagi. Kepak sayapnya buatku semakin rindukan pulang, ke sarang dedaunan kering yang hangat … dan menentramkan.

Jam 12.25 wib (ditempat kerja, detik-detik akhir menjelang jam istirahat usai)

Panas mentari, hembusan angin, cuaca belakangan ini memaksa perasaanku untuk mengingat suatu masa yang pernah kulalui di rentang waktu kehidupanku. Dan pikirku memutar, mencoba mengingat, kapankah aku pernah merasakan panas mentari, hembusan angin, dan cuaca yang belakangan ini selalu menemani langkah di hari-hariku yang penuh ragu. Namun hingga detik ini tak jua kutemukan jawab atas tanya di hari-hariku yang penuh ragu.

Catatan 30 Mei - 9 Juni 2007

Kebumen, Rabu, 30 Mei 2007 Jam 12.01 WIB

(di tempat kerja saat jam istirahat)

Menyesal selalu terjadi di belakang. Itu yang sering kudengar, dan seringkali terjadi padaku. Seperti yang terjadi saat aku menulis tulisan ini. Yah… aku sedang menyesali sesuatu. Sesuatu yang seharusnya bisa kulakukan dengan lebih baik lagi kalau saja aku mau menambah sedikit kerja kerasku. Namun rasa malas, ngga pede, malu, communication skill yang ngga bagus, (dan ribuan ‘kambing hitam’ lagi), membuatku urung melakukan semuanya. Meski sudah ratusan kata-kata motivasi dari buku, dari lisan orang-orang yang begitu memperhatikanku mampir di telinga, namun tak juga memacuku untuk lebih bersemangat lagi.

Kebumen, Selasa 5 Juni 2007 Jam 11.50 wib

(di tempat kerja 10 menit sebelum jam istirahat)

Very haRd DayZ here … Panas!!

Kebumen, Sabtu, 9 Juni 2007 Jam 13.00 wib

(Warnet Freshco Kebumen, sepulang kerja)

Biasanya pulang ke rumah, bertemu keluarga, bisa menjadi alat yang cukup canggih untuk me-recharge semangatku. Tapi libur 3 hari kemarin tak mampu memberikan sesuatu yang lebih untukku. Mungkin karena selama tiga hari itu pula ada acara keluar terus. Ngga berada di rumah. Jadinya waktunya kurang lama.. (Walah!)

(Masih di Freshco….)

Pernahkah kamu merasa merindukan sesuatu? Sangat ingin kembali ke masa di mana kamu pernah bertautan dengan sesuatu itu? Namun hati dan tekadmu tak cukup kuat untuk menemukannya? Itu yang sedang aku rasakan saat ini.

(Masih di Freshco …)

Sebulan terakhir ini aku banyak curhat (kalau ngga boleh dibilang mengeluh) via sms ke beberapa teman dekatku. Kupikir ngga apa-apa kutulis di sini, sms balasan terfavorit-ku:

From V_t_:

“Stiap klian akn mmski pg&ptg dlm takaran usia yg t’sembunyi dr pngthuan kln. Bila kau bs utk tdk mlwtkn s’tiap jjk usia itu dg amal kbajikn mk lakuknlh, ttpi klian tdk akn bs mlakukn tnp prtolongn Allah, mk brgegaslah mnyusuri rintang2 ksempatn yg dberikan jatah usia sblm ia dtg mmupus sgl pkerjaan (Abu Bakar) “

From R_n_:

“Nulis kan bs pake kertas n bolpen, yg pnting isa lega,nin. Beli buku dan novel nin. Dah baca BUMI MANUSIA-nya Pramoedya belum?”

“…Kalau kamu punya tekad, seluruh alam semesta akan membantumu mewujudkannya!...”


Saturday, May 26, 2007

Kebumen ... Here I Come


Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di sana. Jarak tempuh 2 jam dari rumah, memaksaku untuk kost di salah satu kost-kostan di bilangan kota Kebumen, 5 menit jalan kaki ke kantor.

Berhubung ngga bawa motor, ngga begitu suka naik angkot, dan jam kerjaku yang cukup lama. Meski sudah sebulan di sana, belum banyak daerah yang kuhapal selain jalanan dari kost ke kantor. Paling engga aku sudah tahu tugu lawet (karena dekat tempat kerjaku), dan alun-alun kota.

Kesan pertamaku… Warga Kebumen cukup welcome, meskipun terkadang aku harus mengerutkan kening untuk memahami bahasa mereka yang ‘ngapak’. Kedua … Harga makanan mahal,ya? Ketiga … ngga ada toko buku sebesar Gramedia, atau Social Agency. Keempat … untungnya masih ada warnet.

Selanjutnya …. To be continued

Monday, March 26, 2007

AWAL DARI SEBUAH AKHIR

2006 Unforgettable Memories (Part 3)

UJIAN SKRIPSI
Ruang 313 FE UII, Sabtu, 28 Agustus 2006

Sebenarnya aku bukannya mahasiswa yang bodoh-bodoh amat , tapi karena manajemen waktuku yang ngga cukup baik, skripsiku baru selesai Juni 2006 ini, yang berarti baru bisa diujikan Agustus 2006. Rasanya ngga enak banget sama bapak dan ibu, namun mereka tetap mensupportku dengan cara mereka. Jadi, saat akhirnya selesai, rasanya plonk! Lega banget (meskipun ternyata untuk sementara saja)

Huwa…! Saat dosen pembimbing skripsiku (Dra. Abriyani Puspaningsih M.Si, Ak) dan dosen pengujiku (Drs. Dekar Urumsah S.Si, M.Comm) datang, rasanya dag dig dug. Pas nunggu giliran maju, rasanya jadi tambah ngga karuan. Aku ditemeni teman-teman KKN -Nana, Nova, dan Jalu- (thanks ya guys).

Alhamdulillah… pas dipanggil dan maju di depan dosen, nervousnya ilang. Dan untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bisa kuberikan jawabannya (ada yang ngga bisa jawab juga, ding).
Dan akhirnya… subhanallah wal hamdulillah… dinyatakan lulus.

Oya, gara-gara ujian ini, aku jadi punya dua kawan akrab baru, Dwi Ananing dan Wahyu (apa kabar, friend?). Kami ngurus semua sama-sama sampai wisuda. Makasih ya.. untuk ‘saat-saat terakhir’ yang menyenangkan.
***
Teruntuk bu Abri terimakasih sebesar-besarnya untuk bimbingan dan keramahannya. Saya ngga akan pernah lupa. Dan semoga ibu selalu dapatkan yang terbaik. Amin.


AKHIRNYA …
Auditorium Kahar Muzakir, UII, Sabtu, 23 September 2006


Setelah banyak tahun terlewati,
Setelah rasa malas tak lagi menguasai,
Setelah ribuan doa bapak dan ibu diijabahi,
Akhirnya … tibalah hari ini
Saat sedikit beban tak lagi menggelantungi
Saat kumerasa memberikan sedikit bakti
Saat ini aku bukan mahasiswa lagi

Bapak, ibu, adik-adik dan saudara,
Terimakasih untuk support dan pengorbanannya selama ini
Kawan dan sahabat jiwa,
Terimakasih untuk tak pernah lelah menyemangati
Dosen, yang juga ‘pahlawan tanpa tanda jasa’
Terimakasih untuk bimbingan ilmu dan kebaikan hati

***

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...