Saturday, December 8, 2007

DUA JAM MENUJU SENTOLO

Hari itu … diantar teman … ke tempat pemberhentian bis di daerah Kedungbener. Belum lama aku turun dari motor … bus ekonomi Sari Rawit jurusan Jogja – Solo sudah muncul dari belakang. Dan bersegeralah aku naik … Bismillah ….

Ups! Busnya penuh banget. Ngga ada tempat duduk satu pun. Dan ngga ada seorang pun yang menawarkan tempat duduknya untukku. Hiks!

Ngga lama kemudian kondektur menarik bayar karcis. Kuulurkan selembar uang Rp 10.000. Tapi ternyata pak kondektur minta ditambah Rp 3.000 lagi.
“Lho Pak?! Biasanya Kebumen-Sentolo, bayarnya Rp 10.000.”
“Ngga mba! Ya udah Rp 2.000 aja”
Hmm… paling males kalau berdebat ngga jelas gini, daripada berkepanjangan akhirnya kuberikan juga uang dua ribu untuk pak kondektur itu.

Ternyata ada ‘wong landa’ (orang luar negeri) yang ikut naik bis. Yah … di daerah kecil seperti ini, tentusaja mas turis dan mbaknya jadi pusat perhatian (ngga segitunya, ding!). Hehe … Aku jadi kepikiran satu hal. Selama bertahun-tahun sekolah aku ngapain aja, sampai-sampai ngga bisa menguasai bahasa inggris. Di terminal Purworejo, mas turis yang mampir ke toilet hampir ketinggalan bis, untung si mbak-nya teriak ke pak sopir “Tunggu, Pak!” … Dan si mas turis kelihatan berlari-lari dari arah toilet. Hehe …

Selanjutnya … di Bosco, ada pengamen naik bis, menyumbangkan lagunya Ungu yang berjudul “Demi Waktu”. Pede banget si mas ini. Asli! Suaranya cempreng banget, udah gitu nada nyanyinya ngga pas. Out of tone. Aku jadi pengen tersenyum sendiri mendengarnya. Satu lagi pas lirik ini …dan demi waktu… yang bergulir di sampingku …. Si masnya nyanyi begini … dan demi waktu … yang berguling (!) di sampingku. Hehe … ada-ada aja si mas ini.

Sabtu, 21 Juli 2007 jam 12.15 – 14.10 wib

Friday, November 9, 2007

A Y A

26 Oktober 2007

Seorang gadis berkerudung (sebut saja Aya), terdiam seolah menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapannya. Namun sebenarnya, pikirannya melayang, jauh, tak tentu arah dan tak tahu akan berujung di mana. Berkali-kali dia menghela nafas panjang, yang sepertinya tak juga melegakan gundah di hatinya.

Sudah 3 bulan ini dia menunggu kepastian akan suatu hal yang telah dijanjikan.. Namun, ternyata dia masih harus terus menunggu dan menunggu. Hingga hari ini, ia merasakan kejenuhan yang amat sangat.

***
25 Juli 2007

Setelah beberapa hari sebelumnya Aya nekat mengutarakan ‘uneg-uneg’nya via email, hari ini dia dipanggil untuk menghadap atasannya. Meskipun merasa senang karena ternyata email-nya direspon, namun tak urung Aya panik juga memikirkan apa yang harus dikatakannya. Secara, Aya pasti grogi saat harus berbicara pada suasana formal (pada suasana non formal pun penyakit grogi-nya terbilang cukup parah).
Semalaman Aya mencoba merancang susunan kata-kata yang akan disampaikan kepada atasannya besok.

Jam 10 pagi, tibalah Aya di kantor atasannya. Tampak semua orang sedang sibuk, Aya pun menunggu sambil berusaha meredakan gemuruh di dadanya yang berdebar-debar.

Akhirnya Pak Direktur Utama menemuinya …
Pak Dir :
“Ada apa mbak Aya?”
Aya : (yang tak juga berhasil meredakan nervous-nya mulai kehilangan susunan kata-katanya semalam, dan hanya bisa berkata)
“Saya mau mengundurkan diri, Pak?”
Pak Dir :
“Kenapa? Karena masalah itu ya? Saya, kami tahu sekali, pasti ngga enak banget rasanya digantung. Kami menargetkan, bulan Agustus ini semuanya bisa selesai. Terusterang saya berharap mbak Aya masih mau bergabung bersama kami. Mungkin itu saja dari saya, dan saran saya, coba mbak Aya renungkan kembali niat mbak Aya, dan silakan nanti bicarakan dengan Bu HRD”.

Aya pun menemui Bu HRD, dan mengutarakan niatnya untuk resign. Namun, Aya terus saja nervous, dan terus saja kehilangan susunan kata-katanya semalam, hanya ada satu alasan yang diingatnya (padahal, dia merasa itu adalah alasan paling aneh yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang mau resign). Namun Bu HRD dengan sabar dan hangatnya, memaparkan kondisi sebenarnya, dan menawarkan sebuah solusi.
Bu HRD:
Wajar saja kita berpikir bahwa segala sesuatu itu seharusnya berjalan dengan ideal. Dan kalau mau fair-fairan, terusterang kondisi teman-teman di sana memang jauh sekali dari kondisi ideal, namun kami punya parameter tersendiri untuk teman-teman di sana. Salahsatunya, ya loyalitas teman-teman terhadap kami.Kalau boleh,bisa dikatakan,kantor baru ini adalah proyek trial & error. Jujur saja sampai hari ini kami masih mencari bentuk komunikasi yg efektif, untuk teman-teman di sana, mengingat jarak teman-teman di sana adalah yang terjauh. Dan kami janji pasti akan ada pendampingan untuk teman-2 di sana. (Tersenyum) Nah, setelah mendengarkan penjelasan saya yang panjang lebar, apa komentar mbak Aya?
Aya : (Benar-benar speechless, dan hanya berkata)
“ Ya sudah Bu, saya coba lagi … “
Bu HRD: (selalu dengan hangat)
"Oke, kalau begitu. Oya, setelah ini Bu Direktur 1 mau ketemu mbak Aya, jangan pulang dulu ya … ?”

Bu Direktur 1 pun tiba ….
Bu Dir : "Sebenarnya ada apa dengan mba Aya? Kenapa?"
Aya hanya bisa tersenyum karena kata-kata yang sudah disusunnya semalam sudah hilang, tak berbekas.
Bu Dir : Karena ngga paham dengan bahasa daerah sana? Atau ada sesuatu yang belum paham? Tanyakan aja, saya akan coba jelaskan, dan kalaupun saya belum mampu menjelaskan akan saya coba carikan jawabannya.
Aya pun sedikit cerita dan menanyakan beberapa hal yang sama sekali tidak ada dalam susunan kata-kata yang dirancangnya semalam. Dan berlangsunglah ‘diskusi’ yang sangat melenceng dari tujuan awal yang menjadi pilihan akhir Aya…

***
2 November 2007

Lagi-lagi, Aya sedang memandangi monitor di depannya. Dia teringat nasihat seorang kawan di kala ia berada diantara dua pilihan. Pertama, sholat istikharah. Kedua, saat kamu sudah memutuskan salahsatu diantara dua itu, bismillah, yakinilah keputusan yang telah kamu ambil, dan jangan pernah menyesali pilihan yang kamu tinggalkan. Dan Aya tidak menyesali keputusan yang telah diambilnya waktu itu.

***
31 Oktober 2007

Menunggu ternyata memang ngga mudah, dan membuat Aya kembali terjebak diantara dua pilihan . . .

***
catatan: (Kisah ini bisa jadi hanyalah fiktif belaka, kesamaan tokoh, karakter, peristiwa, dan dialog di dalamnya bisa jadi hanyalah kebetulan semata)

Wednesday, September 5, 2007

Kulit Kacang, Bocor, dan Pendiam

Bagian Pertama
BUKAN KACANG YANG LUPA KULIT

Sebelum aku menemukan tempat kost di Kebumen, aku sempat 5 hari numpang di rumah teman. Dan semenjak aku nge-kost, kalau ngga dibonceng temanku itu, aku hampir tidak pernah silaturahim lagi ke sana. Mungkin, baru sekitar 3 kali aku menginap di sana lagi semenjak aku kost. Bukannya aku melupakan semua kebaikan yang pernah diberikan padaku. Tapi aku punya alasan. Dan yang (selalu) kujadikan alasan itu adalah pulang kerja sudah sore, jarak rumahnya yang lumayan jauh (untuk ditempuh dengan berjalan kaki), ngga dilewati angkutan (hehe..), dan aku ngga punya kendaraan (hehe…).
***
awal September, saat mentari menyengat ubun-ubun pengendara di jalanan
(terimakasih tak terhingga untuk keluarga Bp. H. Masdoeki dan Ibu Hj. Masinem, di Tamanwinangun)

***
Bagian Kedua
EPISODE BOCOR


Saat itu, adalah hari libur yang posisinya benar-benar salah tempat. Tanggal merah 17 Mei 2007 jatuh pada hari Kamis, yang itu berarti menyisakan hari Jumat untuk masuk kerja. Buat mudik nanggung, padahal pengen banget pulang. Enaknya ngapain,ya?

“Mba, besok kita ke Pantai Bocor aja, yuk?”, ajak mba Dewi.

Hmm… kedengarannya menarik. Soalnya aku belum pernah mengunjungi satu obyek wisata pun di Kebumen ini. Akupun langsung mengiyakan ajakan mba Dewi. Jadilah sore itu sepulang kerja aku langsung ikut mba Dewi ke rumahnya, menginap di sana dan baru pagi harinya kita pergi ke Bocor. Sekitar setengah jam naik motor dari rumah mba Dewi..

De Javu … sepertinya aku pernah melewati jalanan ke pantai ini.

Sesampainya di gerbang masuk yang ada lapangan latihan polisi. Masya Allah, ini kan pantai yang waktu itu aku kunjungi sepulang dari rumah (alm) Arya di Cilacap, sama Nova, Nana, Jalu dan Wawan. Ya Allah, ternyata begitu sempit dunia (hehe …). Bedanya pagi itu, pantai Bocor ramai pengunjung, ngga sesepi waktu itu.

Sebagian besar pengunjung tampak asyik bermain air. Namun kami memilih duduk di pasir, menikmati udara dan pemandangan pantai Bocor pagi itu, sambil sesekali mendekati air dan berlarian saat dikejar ombak. Dan setelah merasa cukup kami pun beranjak pulang, namun singgah sebentar menikmati nasi pecel dan snack di salahsatu deretan warung di tepi pantai itu.

***
Bagian Ketiga
APA ENAK SIH MBA, JADI PENDIAM?

Saturday night ini daripada jenuh dengan rutinitas di kost, aku mabit di rumah teman lagi. Ngga ada rencana apa-apa atau mau ke mana. Ya, bisa dibilang pindah tidur aja. Wong berangkatnya aja udah azan maghrib.Hehe … Payah, ya?

“Nah, kalau ngga pulang ke Yogya, mbok ya pulang ke sini aja …”, kata Ibu temenku.

Sehabis Isya’, diajak maen ke tetangga temenku. Yang pertama ke tempat akhwat mungil nan ceria, nganterin titipan jilbab. Dia bercerita banyak tentang suka duka penelitian di Dinkes yang sedang dijalaninya. Dan aku (yang pendiam, hehe…) ikut asyik mendengarkan. Ya, meskipun aku ngga terlalu terlibat aktif, paling ngga aku mendengarkan sesuatu yang baru bagiku.

Selanjutnya, ke rumah akhwat yang ngajar di esde (alias jadi bu guru). Seorang akhwat yang rame, begitu hangat, keibuan dan menyenangkan. Dia bercerita tentang anak-anak didiknya, pengaruh media terhadap perilaku anak didiknya, dan hal lainnya.
Aku yang (lagi-lagi) kurang terlibat aktif dalam perbincangan ini ditanya akhwat ini.
Akhwat : “Mba ini orangnya pendiam, ya?”
Saya : “Kelihatan, ya?”
Akhwat : “Apa enak sih mba, jadi orang pendiam?”
Saya : (hanya tersenyum)

Saturday, July 7, 2007

SESAAT SEDIH, SESAAT BAHAGIA

Kebumen Senin, 18 Juni 2007
10.45 wib (di tempat kerja, lagi-lagi … belum jam-nya istirahat, tapi gapapa lah ya?)
Cengeng… saat ku mengeluh, untuk urusan yang harusnya bisa kuatasi dengan sedikit saja tambahan usaha kerasku.
Manja … saat ku merajuk, memaksa orang membenarkan kemalasan di atas usaha kerasku mengatasi urusan itu.
Haru… saat kulihat sepasang mata yang hanya menatapku dengan gulana, tanya dan doa.
12.15 wib (di tempat kerja, saat istirahat tiba)
Being single di usia yang sudah seperempat abad. Bagiku yang tinggal di kampung terasa sekali menjadi warga masyarakat nomor dua (hehe… hiperbola, dhing!). Bayangkan saja… mau masuk ke karang taruna, banyakan anggotanya anak-anak SMA, mau masuk PKK, eh lha belum jadi ibu yang ngurus keluarga. Tapi, santai saja lah, ya … Bergaul kan bisa di mana saja. Ngga melulu harus di karang taruna atau PKK, kan masih bisa ikut ronda. (Eh?!Lho?!) #(^_^)#
(masih saat istirahat di tempat kerja)
Langit di utara mendung … Meski cahaya matahari masih menyilaukan pandangan … Tetapi malah membuat mataku yang ngantuk, jadi semakin terasa berat …

Kebumen, Jumat, 22 Juni 2007
12.15 wib (di tempat kerja, pas jam istirahat)
Saat kubuka file-nya m’Vita yang masih tertinggal di kompie kantor, kutemukan tulisan sangat bagus –yang seharusnya mampu memberiku semangat baru-, sepertinya dari Dwi Ijo... (Wik, kutulis di sini ngga papa,ya?)

Ketika kumohon kepada Allah kekuatan
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon kepada Allah kebijakan
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan
Allah memberiku akal untuk berfikir
Ketika kumohon kepada Allah ketentraman
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Aku tidak pernah menerima apa yang kupinta
Tapi aku menerima segala apa yang kubutuhkan
Doaku terjawab sudah...

Membaca tulisan itu, aku jadi melihat diriku sendiri… semua pintaku tlah dijawabNya dengan memberikan kebutuhanku, dan apa yang kulakukan? Tak kumanfaatkan semua yang diberi-Nya …Allah ya Rabbi …

Kebumen, Jumat, 29 Juni 2007
13.10 wib (di tempat kerja, pas kelewatan jam istirahat)
Kemarin di Kebumen hujan turun lagi. Deres banget. Padahal sudah lama ngga hujan, dan menurut jadwal musim (yang diperkirakan manusia), sudah bukan jadwalnya musim hujan. Dan … aku santai saja berangkat ke kantor dengan meninggalkan jemuran cukup banyak yang kucuci pagi harinya. Saat di kantor pun aku ngga ingat kalau aku punya cucian sebanyak itu. Malahan aku asyik menikmati hujan dari balik kaca tempatku bekerja. Hmm …
Sore sepulang kerja … hiks! Ternyata … jemuranku kehujanan.

Sunday, June 17, 2007

Catatan 12 juni - 14 juni 2007

Kebumen, Selasa, 12 Juni 2007 Jam 13.15 wib

(di tempat kerja, saat telat istirahat)


Hampir dua bulan terjebak dalam suasana yang membuat tak nyaman, tak tenang, di hati, di badan, di pikiran. Tak juga kutemukan siasat untuk menangkalnya.

Mencoba merangkak perlahan-lahan, suara-suara di sekitar tak menginginkankan bayi yang belajar dengan bimbingan. Mencoba berjalan dengan perlahan, cambuk-cambuk berkeliaran memaksaku bersegera lari.Mencoba berlari cepat lurus ke depan, tujuan masih terlihat samar-samar.

Jam 16.22 wib (di tempat kerja, sesaat setelah waktu pulang)

Diantara penat jiwa, kucoba pejam mata. Terlintas seraut wajah yang terbentuk nyata. Wajah penuh harap, wajah penuh doa. Memberiku ragu memutus bimbang. Menguatkan bimbang memenggal tanya.

Kebumen, Kamis, 14 Juni 2007 Jam 10.15 wib

(di tempat kerja, belum waktunya istirahat sih … tapi ngga apa-apa lah ya…)

Kicau burung riuhkan dinginnya pagi. Kepak sayapnya buatku semakin rindukan pulang, ke sarang dedaunan kering yang hangat … dan menentramkan.

Jam 12.25 wib (ditempat kerja, detik-detik akhir menjelang jam istirahat usai)

Panas mentari, hembusan angin, cuaca belakangan ini memaksa perasaanku untuk mengingat suatu masa yang pernah kulalui di rentang waktu kehidupanku. Dan pikirku memutar, mencoba mengingat, kapankah aku pernah merasakan panas mentari, hembusan angin, dan cuaca yang belakangan ini selalu menemani langkah di hari-hariku yang penuh ragu. Namun hingga detik ini tak jua kutemukan jawab atas tanya di hari-hariku yang penuh ragu.

Catatan 30 Mei - 9 Juni 2007

Kebumen, Rabu, 30 Mei 2007 Jam 12.01 WIB

(di tempat kerja saat jam istirahat)

Menyesal selalu terjadi di belakang. Itu yang sering kudengar, dan seringkali terjadi padaku. Seperti yang terjadi saat aku menulis tulisan ini. Yah… aku sedang menyesali sesuatu. Sesuatu yang seharusnya bisa kulakukan dengan lebih baik lagi kalau saja aku mau menambah sedikit kerja kerasku. Namun rasa malas, ngga pede, malu, communication skill yang ngga bagus, (dan ribuan ‘kambing hitam’ lagi), membuatku urung melakukan semuanya. Meski sudah ratusan kata-kata motivasi dari buku, dari lisan orang-orang yang begitu memperhatikanku mampir di telinga, namun tak juga memacuku untuk lebih bersemangat lagi.

Kebumen, Selasa 5 Juni 2007 Jam 11.50 wib

(di tempat kerja 10 menit sebelum jam istirahat)

Very haRd DayZ here … Panas!!

Kebumen, Sabtu, 9 Juni 2007 Jam 13.00 wib

(Warnet Freshco Kebumen, sepulang kerja)

Biasanya pulang ke rumah, bertemu keluarga, bisa menjadi alat yang cukup canggih untuk me-recharge semangatku. Tapi libur 3 hari kemarin tak mampu memberikan sesuatu yang lebih untukku. Mungkin karena selama tiga hari itu pula ada acara keluar terus. Ngga berada di rumah. Jadinya waktunya kurang lama.. (Walah!)

(Masih di Freshco….)

Pernahkah kamu merasa merindukan sesuatu? Sangat ingin kembali ke masa di mana kamu pernah bertautan dengan sesuatu itu? Namun hati dan tekadmu tak cukup kuat untuk menemukannya? Itu yang sedang aku rasakan saat ini.

(Masih di Freshco …)

Sebulan terakhir ini aku banyak curhat (kalau ngga boleh dibilang mengeluh) via sms ke beberapa teman dekatku. Kupikir ngga apa-apa kutulis di sini, sms balasan terfavorit-ku:

From V_t_:

“Stiap klian akn mmski pg&ptg dlm takaran usia yg t’sembunyi dr pngthuan kln. Bila kau bs utk tdk mlwtkn s’tiap jjk usia itu dg amal kbajikn mk lakuknlh, ttpi klian tdk akn bs mlakukn tnp prtolongn Allah, mk brgegaslah mnyusuri rintang2 ksempatn yg dberikan jatah usia sblm ia dtg mmupus sgl pkerjaan (Abu Bakar) “

From R_n_:

“Nulis kan bs pake kertas n bolpen, yg pnting isa lega,nin. Beli buku dan novel nin. Dah baca BUMI MANUSIA-nya Pramoedya belum?”

“…Kalau kamu punya tekad, seluruh alam semesta akan membantumu mewujudkannya!...”


Saturday, May 26, 2007

Kebumen ... Here I Come


Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di sana. Jarak tempuh 2 jam dari rumah, memaksaku untuk kost di salah satu kost-kostan di bilangan kota Kebumen, 5 menit jalan kaki ke kantor.

Berhubung ngga bawa motor, ngga begitu suka naik angkot, dan jam kerjaku yang cukup lama. Meski sudah sebulan di sana, belum banyak daerah yang kuhapal selain jalanan dari kost ke kantor. Paling engga aku sudah tahu tugu lawet (karena dekat tempat kerjaku), dan alun-alun kota.

Kesan pertamaku… Warga Kebumen cukup welcome, meskipun terkadang aku harus mengerutkan kening untuk memahami bahasa mereka yang ‘ngapak’. Kedua … Harga makanan mahal,ya? Ketiga … ngga ada toko buku sebesar Gramedia, atau Social Agency. Keempat … untungnya masih ada warnet.

Selanjutnya …. To be continued

NONTON SEKATEN

Sebenarnya ini cerita yang sudah ‘basi’. Tapi untuk meng-update blog yang lama ngga tersentuh ini, ngga apa-apa lah. Kisah ini terjadi saat saya mengantar ibu dan Nisa ke Yogya pada hari Rabu, 28 Maret 2007. Judulnya …. Nonton Sekaten.

Sekaten adalah salahsatu tradisi di kraton Yogyakarta untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Rangkaian acaranya adalah penabuhan seperangkat gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga di halaman Masjid Gede Kauman, pasar malam di alun-alun utara, dan puncaknya adalah grebeg maulid. Pada saat itu Sri Sultan memakai pakaian adat jawa dan menyebarkan udhik-udhik (uang) dan dikeluarkannya gunungan yang melambangkan sedekah keraton kepada warganya.

Kata Ibu saya, dulu pada masa kecilnya, Sekaten adalah salahsatu acara tahunan yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Bahkan terasa kurang afdhol kalau belum melihatnya. Biasanya di sekitar tetabuhan gamelan di halaman masjid gede, penuh sesak oleh orang-orang yang hanya ingin mendengarkan (sambil menyaksikan), atau sambil membeli sego gurih dan endhog abang untuk anaknya.

Siang itu ibu juga langsung mengajak saya dan adik saya ke tempat gamelan. Dan … disana sangat sepi. Hanya orang-orang tua yang duduk mengitari pagelaran. Lengang…

Tak lama kemudian datang ibu-ibu dan ketiga anaknya (yang masih kecil). Saya coba rangkum dialognya di sini.
Anak : “ Ibu! Ayo cepetan kita ke Sekaten….”
Ibu : “Lho! Yang namanya sekaten itu ya di sini, yang ada gamelannya!”
Anak : “ Yah! Ngga seru, ngga seru!!”
Aku tersenyum mendengarnya, soalnya belum lama berselang adik kecilku mengatakan hal yang serupa. Meskipun akhirnya adikku mau mengalah, dan membiarkan ibu bernostalgia dengan masa kecilnya. Dan sepertinya ketiga anak ibu itu juga melakukan hal yang sama.

Sebenarnya kenapa ya, sekaten menjadi sepi? Saya mencoba menebaknya dengan dua jawaban:
Pertama ... Meningkatnya pemahaman masyarakat (muslim) tentang Islam yang menjadikan mereka memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan cara yang lebih baik. Yaitu dengan menjadikannya idola yang sesungguhnya, panutan dalam menjalankan kehidupan.
Kedua ... Ketidakpedulian generasi sekarang. Atau jangan-jangan malah banyak pemuda (muslim) yang ngga tahu kapan nabi Muhammad dilahirkan? HikS!
Semoga tebakan pertama saya benar. Kalau yang benar ternyata yang kedua … pe-er kita masih banyak ya?

Kulon Progo, 12 Rabiulawal 1428H

Thursday, April 5, 2007

Coretan dari Tahun2 Yang Telah Berlalu

Ternyata aku

Kusangka aku adalah mawar
yang ketika mekar membuatmu berseri
Nyatanya aku hanyalah duri
yang menghalangi
tanganmu
memetik mimpi


Kukira aku adalah lebah ratu
yang memberi madu
menyembuhkan lukamu
Nyatanya aku hanyalah sengatan
yang membengkakkan
wajahmu
dan seluruh tubuhmu

Anin Dyan
(Coretan tertanggal 24 Juli 2002)
Keluhmu Amarahmu
 
Keluhmu
Membuka telingaku
Memutar pikirku
Menyentuh hatiku
Hasratku
Membuka mulutku
Keluarkan hiburan kalbu
Amarahmu
Menyalakan apiku
Memanaskan hatiku
Inginku
Menyiramkan air kalbu
Padamkan bara emosimu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 31 Juli 2002)
Debar


Kala kini
debar jantungku
bak laju
kereta api


Bukan !
bukan milikmu
lagi


Debar untukmu
sudah terhenti
di stasiun
sebelum ini

Anin Dyan
(Coretan tertanggal 20 Maret 2003)
 
Izinkanlahku

 
Hanya Kau pengukir senyumku
Hanya Kau pengabul harapku
Ampuni aku yang hanya mampu
mengagumi makhluk-Mu
Hingga waktuku untukMu
hanyalah sepenggal rindu
Namun izinkanlah aku tuk slalu
bersama cintaMu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 1 Februari 2004)



Rindu

 
Kasihku…
Culiklah mimpi indah
yang melelapkan tidurku
Bunuhlah lelah
yang menghinggapi ragaku
Usirlah payah
yang menggelantungi mataku


Kutak mau
mereka usik niatku
menjumpai-Mu
di sunyinya pertiga malam-Mu


Betapa slalu kurindukan
air menggenangi bola mataku
Betapa slalu kunantikan
debar memenuhi jantungku
karena … mengingatMu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 15 April 2005)

***

SAYA, BUKU DAN SNOBISME


Ngomong soal membaca buku, jujur saja hingga saat ini saya masih saja selalu merasa lebih mudah membaca buku-buku cerita (dan atau non cerita yang penulisannya memakai bahasa sehari-hari atau bahasa yang populer). Padahal mayoritas buku-buku bagus selalu menggunakan bahasa ilmiah. Meskipun begitu, kalau saya merasa tertarik atau menurutku (atau rekomendasi seseorang) bagus, maka saya akan baca juga (kalau ada bukunya) meskipun akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan waktu saya untuk membaca buku model pertama. Selain itu, saya juga lebih mudah membaca buku terjemahan daripada buku dengan bahasa asli. Bukannya apa-apa, saya memang ngga jago bahasa Inggris (apalagi Arab, Jepang, Mandarin, dll). Padahal pasti jauh lebih asyik lagi kalau baca buku aslinya. Tapi kalau dipaksakan baca aslinya, pasti banyakan baca kamusnya daripada baca bukunya (hehe…).
Cara saya memperoleh buku untuk dibaca ada dua. Yang pertama pinjam, yang kedua beli. Sebagian besar buku yang saya baca, saya peroleh dengan meminjam (hehe…). Baik pinjam di perpustakaan, pinjam di taman bacaan, pinjam milik teman, atau pinjam toko buku alias baca di toko buku (hehe..). Di Gramedia, biasanya kan ada tuh satu buku yang udah dibuka segelnya, nah kadang saya baca yang itu. Ada sih buku yang saya beli, tapi jumlahnya sedikit sekali, itupun buku-buku ‘tipis’ yang harganya terjangkau.
Saya suka baca buku (terutama cerita) sejak sekolah dasar (sampai sekolah menengah dan sekarang). Dulu sering banget pinjam di perpustakaan sekolah. Tentusaja saya lebih banyak pinjam buku cerita daripada buku pelajaran (hehe..). Terus pas kuliah, banyakan ke perpus karena nyari bahan buat tugas dan skripsi. Kalau di-remind, saat sekolah (dan kuliah) sepertinya saya baca buku (terutama pelajaran) karena tuntutan tugas, ulangan, atau ujian. Padahal kalau saya pikir-pikir lagi, harusnya saya membaca karena ingin tahu, ya? Jadinya kan lebih asyik bacanya dan lebih mudah memahaminya. Eh, iya lho! Tiba-tiba saya jadi pengen baca buku pelajaran -yang dulu selalu membuat saya grogi- terutama Biologi, Sejarah, dan Geografi.
Karena buku pinjaman dibatasi tenggat waktu, biasanya saya jadi lebih bersemangat untuk segera menyelesaikannya. Kelemahannya adalah saat saya lupa isi bukunya (dan itu selalu saja terjadi), saya ngga bisa baca lagi sesuka saya (kecuali kalau saya meminjamnya lagi). Hehe…
Inilah 13 buku (pinjaman) terakhir yang saya baca pada akhir tahun 2006 - awal tahun 2007:
Tersentuh Ilalang -- Afifah Afra
Ayat-Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy
Gara-Gara Jilbabku? – Asma Nadia
Cintapuccino – Icha Rahmanti
Jangan Jadi Muslimah Nyebelin – Asma Nadia
Jatuh Bangun Cintaku – Asma Nadia dkk
Langit-Langit Cinta – Najib Kailany
Mencari Belahan Jiwa – Ifa Avianty
My Valentine – Hanna Al Ithriyah
Corsage – Janita
Into Thin Air – Jon Krakauer
7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
Birunya Langit Cinta –Azzura Dayana
Tentang buku yang saya miliki (selain buku kuliah dan buku pelajaran, lho!) dan masih ada sampai sekarang, sejak tahun 1993 hingga awal 2007 cuma sedikit banget. Selama 13 tahun, cuma ada 57 buku. Jika dirinci dari asalnya, 29 buku berasal dari hadiah (dari keluarga, teman, atau acara tertentu) dan 28 buku dari pembelian. Jika dirinci jenisnya, komik (11 eks), novel islami (8 eks), novel umum (1 eks), pengetahuan islam (22 eks), dan pengetahuan umum (15 eks). Jika dirinci dari cara membacanya, ada 42 buku pernah saya baca tuntas (22 buku masih ingat sebagian besar isinya, 4 buku hanya ingat sebagian kecil isinya, dan 16 buku saya lupa isinya), kemudian 8 buku pernah saya baca sekilas (pilih-pilih bagian yang menarik saja), dan 7 buku sama sekali belum saya baca. Kasihan ya ketujuh buku yang terakhir ini. Hehe …
Saya sering berharap kalau suatu saat nanti saya bisa mengoleksi buku-buku favorit saya (yang selama ini cuma saya pinjam) dan buku-buku -yang menurutku bagus- yang baru saya baca judulnya atau review-nya saja. Tapi sampai saat ini sepertinya saya masih harus terus berharap, karena isi kantong yang belum sebanding dengan harga buku-buku yang selangit. Hehe … Sambil berharap juga agar buku-buku itu akan terbaca, dan tentunya diterapkan nilai-nilainya.
Terus apa hubungannya dengan snobisme? Snobisme yaitu bergaya intelektual dengan membanggakan koleksi bukunya yang barangkali belum satupun pernah dibaca (dari Annida No.14/XIII/16-30 April 2004). Hehe … saya termasuk snobis bukan, ya?

Angin Puting Beliung Mampir di Yogya

Sore itu (Ahad, 18 Februari 2007, jam 17.00 wib) aku dan dua adikku pulang dari rumah bulik di Jl. Gejayan. Sampai di Jl. Solo, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kami pun berhenti untuk memakai jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan. Sampai di depan sebuah toko aku melihat 2 orang (mbak dan mas) menunjuk langit di arah belakang (tenggara), kupikir ada pelangi atau apa, tapi sesampai di perempatan Galeria -yang tidak terhalang bangunan- di kejauhan arah selatan aku melihat ‘benda-benda beterbangan’ menuju ke arah barat. (Wah! Anginnya kenceng banget, pikirku)

Di perempatan Gramedia, kami memilih belok kiri (selatan) ke arah stadion Kridosono. Sampai depan kantor Telkom… Masya Allah! ‘Benda-benda beterbangan’ itu dekat sekali, berada di bagian timur Kridosono. Adikku yang masih SD jadi takut dan sangat khawatir, kami pun berbalik ke arah Gramedia lagi (ke utara), lalu belok kiri (ke barat/arah tugu) di tengah hujan yang semakin deras dan langit barat yang hitam.

Sampai di perempatan tugu, kami lihat langit di arah selatan (arah Malioboro) terlihat terang, kami pun memilih belok ke selatan. Sampai di dekat stasiun tugu, jalanan macet. Dan di arah timur (agak jauh), ‘benda-benda beterbangan’ itu seperti menuju ke arah barat (arah kami). Melihat itu banyak pengendara motor yang berbalik arah, kami pun memutuskan hal yang sama. Tapi sebelum pergi, kami –sekali lagi- melihat ke kejauhan arah timur, di antara ‘benda-benda beterbangan’ yang bergerak itu, terlihat seperti awan hitam yang berbentuk segitiga (atau mungkin kerucut dengan puncak di bawah).

Apakah sebenarnya yang terjadi? Kami menyimpan tanya itu hingga kami tiba di rumah.

HEADLINE NEWS METROTV JAM 19.00 WIB
“Angin puting beliung menerjang 3 kecamatan di kota Yogyakarta dan (sementara) menelan 20 orang korban, serta 260 rumah rusak …”

***
Belum genap setahun gempa tektonik melanda propinsi DI. Yogyakarta (bahkan masih ada warga di Bantul yang belum mulai membangun rumahnya kembali) Ahad, 18 Februari 2007, angin puting beliung pun mampir di kota Yogya, memporakporandakan rumah dan bangunan warga di beberapa kecamatan di kota Yogya. Korban jiwa pada musibah ini tidak sebanyak korban gempa, namun banyak warga mengalami kehilangan materi. Diantaranya, rumah yang rusak diterjang angin, maupun tertimpa pepohonan yang roboh.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta
(Al Ankabut (29): 2-3)

Bersumber dari Liputan 6 Siang SCTV dan Buletin Siang RCTI, ciri-ciri dari angin puting beliung antara lain adalah sebagai berikut:
1. Biasa terjadi pada musim pancaroba (peralihan musim)
2. Terjadi pada sore hari sekitar pukul 13.00 – 17.00
3. Pada hari-hari sebelumnya jarang terjadi hujan
4. Sehari sebelumnya udara terasa panas dan pengap
5. Pada pagi harinya cerah
6. Terlihat awan bergumpal yang menyerupai bunga kol
7. Terlihat awan hitam bergulung yang bergerak dengan cepat
8. Berkecepatan 175 km/jam dengan lebar 75 km

Akhirnya, semoga mereka yang mengalami musibah angin puting beliung ini (termasuk juga musibah-musibah yang lain) senantiasa sabar, tawakal, dan bertambahlah keimanannya kepada Allah SWT. Amin. Dan kita yang tak mengalaminya, harus senantiasa berdoa dan waspada, dan… tak ada alasan untuk tidak bersyukur, kan?

***

Monday, March 26, 2007

PERGI KE BANDUNG, EUY!


2006 UNFORGETTABLE MEMORIES (Part 5)

Persiapan: Sabtu-Ahad, 9-10 Desember 2006

Via pos express, aku dan adikku Ima dapat panggilan general aptitude test PT. PLN (persero). Kemarin aku pilih ngirim lamaran ke Bandung. Dengan pertimbangan di dua kota yang lain (Surabaya dan Padang) aku sama sekali ngga punya saudara ataupun kenalan.

Tapi, eits! Ternyata tesnya tinggal 3 hari lagi, padahal aku samasekali belum bilang-bilang ma saudara or kenalan di Bandung. Dan lagi, seperti yang pernah kuceritakan aku samasekali belum pernah keluar-Yogya-dengan-kendaraan-umum-sendiri. Agak-agak horor, nih! (Hiperbola, ya? Hehe…)

Sebenarnya di Bandung ada saudara, tapi ngga begitu deket, so, aku ma Ima prefer nebeng di tempatnya mba Ita dan mas Toto, karena ngerasa lebih deket kayak saudara. Akhirnya aku sms ke Gian (anaknya mba Ita) pake nomor Ima.

My message:
Gik, tahu gedung A. Yani Secapa AD di jl. Panorama 152, ga? Deket ga dari t4mu?Transportnya enak ga?

Message dari Gian:
Tahu, kenapa? Cow-nya anak secapa ya? Deket kok dari rumah. 5 menit kalo dibonceng gian sambil merem.

My message:
Gini lho ... tes PLN besok selasa tgl 12des... boleh ga numpang di tempatmu?

Message dari Gian:
Ga boleh! becanda dink. Boleh ... naik KA turun Kiara Condong ntar Gian jemput

Sekarang tinggal minta ijin ma mba Ita and mas Toto. Rencananya malam ini mo telepon. Tapi, berhubung ada acara sampai malem gitu, aku coba sms aja (ngga sopan ya?). Ngga apa-apa ya? Kan udah jamannya sms. Hehe…

My message:
Mba Ita/mas Toto...tes PLN...boleh ngga qta ngrepotin, numpang di tempat mba Ita?

Message dari Mba Ita:
Boleh banget! ...

Aku senee….ng banget baca sms balasan dari mba Ita. Terasa seperti disiram air es. Jadilah, aku dan Ima dengan izin bapak dan ibu, serta kebaikan hati mba Ita, mas Toto, dan Gian pergi ke Bandung. Rencananya berangkat Senin siang.

Ahadnya mulai siap-siap. Mengingat aku ngga pernah pergi-pergi, kebayang ngga bingungnya packing? Mo bawa apa aja, sebanyak apa dll. Sebenarnya memalukan, ya? Sementara temanku SMA banyak yang kuliah di ITB Bandung, yang tentunya Yogya-Bandung pulang pergi udah jadi hal yang sangat biasa. Sedangkan aku yang udah setua ini baru mau memulai mencoba perjalanan ini. But, it’s OK, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Perjalanan ke Bandung: Senin, 11 Desember 2006

- Stasiun Wates, ± 11. 30 -
Jam 12.30 kereta ekonomi “PASUNDAN” jurusan Surabaya-Kiara Condong, membawa aku dan Ima meninggalkan stasiun Wates. (Ssst… rahasia, ya? Ini adalah kali pertama aku naik KA, dan kali pertama aku meninggalkan Yogya dengan kendaraan umum. Hehe…). Setelah 10 menit berdiri dan mencari, akhirnya kami menemukan tempat duduk di gerbong belakang. Teman duduknya … Seorang ibu muda dan anaknya, turun pertama kali di stasiun ngga tahu. Hehe … Trus bapak-bapak asli Tasikmalaya yang baru dari Surabaya, serta bapak-bapak sopir bus Jakarta-Madiun yang juga turun di stasiun Tasikmalaya.

Pertama kali masuk KA, parno, bawaannya suuzhon melulu. Soalnya terlalu banyak komentar negatif yang masuk di kepala. KA ekonomi banyak copet lah, jambret lah dllnya. Tapi semua berjalan baik-baik saja.

Ima yang kemaren ke Irian Jaya naik Batavia Air yang dingin, dan melihat pramugari mondar-mandir. Sekarang naik KA ekonomi yang panas, dan melihat pedagang asongan yang mondar-mandir sambil kipas-kipas. Hehe…

Semakin lama, gerbong semakin sepi. Tinggal beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Dua orang bapak dari tadi dengan serius diskusi tentang poligami-nya Aa Gym, yang satu pro, yang satu kontra, tapi tenang saja, ngga ada adu senjata. Hehe…

- Stasiun Kiara Condong, ± 21.15 -
Akhirnya, KA Pasundan nyampe juga di stasiun terakhir. Hehe … kata lik Wal stasiunnya di kiri, belakangan kami tahu ternyata salah, stasiunnya di sebelah kanan. Mana ya si Gian? Telepon dulu ah …

“ Nha! Pasti mo telpon Gian, ya?”, tebak Gian dari belakang. Hhh… leganya…

Gian ma sepupunya, Dian. Ima bonceng Gian, aku bonceng Dian. Padahal aku paling ngga ahli kalo disuruh memulai percakapan dengan orang baru. Tapi ngga sopan banget kali ya? kalau diam saja.Padahal udah baik hati, malam-malam mau nolongin jemput di stasiun, padahal belum kenal, kok ngga diajak bicara. Kira-kira mo omong apa ya? Coba deh baca dialog ini, kamu pasti akan yakin kalo aku memang orang yang ngga pandai berkata-kata.

Aku : “Sorry ya jadi ngerepotin?!”
Dian : “Ngga papa, sudah biasa.”
Aku : “Masih kuliah?”
Dian : “Hehe… masih SMA”
Aku : “Kelas berapa?”
Dian : “Tiga..”
Aku : “Oh, sama sama Ajik, ya?
Dian : (ngomong sama Gian dulu) “Iya, sama-sama Ajik”

Trus, aku asyik melihat pemandangan malam di perjalanan ke Ujungberung, rumah Gian.

Dian : “Mau tes apaan gitu?”
Aku : “PLN untuk penempatan di luar Jawa, cuman tesnya di Bandung”
Dian : “Oh, gitu!”

Sampai di pasar Ujungberung, jalannya terus menanjak, dan subhanallah… aku seneng banget lihat ada bintang di langit, dan kelip lampu di rumah penduduk, nun di bawah sana. Akhirnya sampai juga di rumah mungil mba Ita. Brr.. Dingiin …
Lama banget ngga jumpa mba Ita, kangen… masih kelihatan seperti dulu. Ngga banyak berubah. Tetep ramah. Mas Toto belum pulang. Baru esok harinya ketemu …

Bandung: Selasa - Jumat, 12 – 15 Desember 2006

Satu - Saatnya Test
Aku berangkat ke Secapa AD Selasa tgl 12 dianter pake motor ma Gian. Jam 10.30 berangkat dari rumah mba Ita. Ternyata lumayan jauh. Tapi lumayan, bisa sambil lihat-lihat pemandangan dan bangunan-bangunan di kanan kiri jalan. Meskipun jalanan macet, si Gian oke naik motornya. Ngebut dan tlusap-tlusup di antara kendaraan-kendaraan roda empat. Di Bandung ini, kanan kiri jalan banyak sekali pohon-pohon besar dan rindang. Jadi nyaman banget. Mungkin itu sebabnya, pengendara motor di Bandung yang dingin ngga perlu pake ‘masker’ seperti di Yogya yang panas.

Nyampe Secapa jam 11 lebih. Dah banyak orang tapi tesnya baru mulai jam 13.00. Fiuh! Banyak jawaban yang ngga terisi. Ngga papa yang penting dah berusaha. Ya kan? Pengumumannya besok jam 14.00. Di sini ketemu Novi-nya Nana (teman KKN), Adit Kopma, Intan-nya Alkanz.

Ima tes hari berikutnya, dianter Gian (lagi!). Katanya ketemu Antok ma dik Pur (anak Sentolo City). Terus ngelihatin hasil tesku. Dan ternyata … belum beruntung saudara-saudara! Alhamdulillah… mungkin Allah punya rencana lain yang lebih manis untukku. Amin. Hasil tes Ima juga sama. Belum berhasil. Ngga papa, paling ngga kita udah nyampe kota Bandung kan, Im? Hehehe…

Dua - Muter2 Kota Bandung
Saat baca bagian ini, jangan ketawa ya? Kalau aku jadi kelihatan –kalo menurut Thukul Arwana – ndeso, culun, dan katro. Hehe … Maklum, ngga pernah ke kota. Hehe …
Pulang tes tanggal 12, diajakin Gian muter-muter kota Bandung. Cuman lihat-lihat bangunan-bangunan dan tempat-tempat terkenal yang-biasanya-cuma-aku-lihat-di-tivi- saja. Hehe … memang ndeso ya aku ini? Si Gian jadi kayak tour guide gitu. (Thanks ya, Gik!). Ternyata Bandung asyik, ya? Jadi pengen tinggal di sana. (Mau ngapain?!?)

Tiga - Di Rumah Mba Ita Saja
Tiga hari lainnya kuhabiskan di rumah saja. Meskipun ngga jalan-jalan ke mana pun, tetep asyik dan seru, lho!
Ngapain aja:
1. Kedinginan (jadi males mandi)
2. Ngobrol ma mba Ita and mas Toto
3. Memetik strawberry
4. Duduk-duduk di pinggiran balong (btw, pemancingan, lho!)
5. Marut ketela dibuat katimus ma Ima, mba Ita dan bu Tatik (kakaknya mba Ita)
6. Lihat pemandangan atas bawah kanan kiri depan belakang yang oke punya. (subhanallah …)
7. Jalan-jalan di sawah seberang jalan depan rumah ma Gian dan Ima, ada cekungan, keren banget! (sayang ga bawa kamera)
8. Baca Cintapuccino-nya Icha Rahmanti
9. Jalan ke bawah beli sayuran dan surabi oncom ma mba Ita dan Ima
10. M a k a n ( surabi imut, batagor, bandrek, ikan-bakar-sendiri, ikan-goreng, dll). Kelamaan di sini bisa-bisa aku jadi gendut.

Empat – Ucapan Terimakasih
Buat Mas Toto dan Mba Ita yang saya-tahu-dengan-pasti sangat tulus menerima kedatangan kami, yang selalu memperhatikan kami, yang memperlakukan kami seperti anak sendiri. Haturnuhun …
Buat Gian yang-dengan-senang-hati mengantar kemanapun kami mau pergi seperti sopir pribadi hehe … (termasuk bolos-kuliah-dengan-senang-hati. Hehe …), dan jadi tour guide buat kami. Thanks a lot ya? (Kapan-kapan lagi, ya? Pasti jawab: ngga mau!)
Buat Dede’ Dian, yang malam-malam rela jemput kami di stasiun yang mulai sepi, padahal belum kenal kami.Semoga suatu saat berjumpa lagi. Haturnuhun ….

Perjalanan Pulang Ke Yogya: Sabtu, 16 Desember 2006
06.00 Berangkat dari Kiara Condong. Naik KA Pasundan lagi. Tadi ke stasiun diantar Gian ma mas Toto. Ima bonceng Gian, aku bonceng mas Toto naik Vespa yang sempat macet (Ssst… ini rahasia lagi, ya? Aku dah lama pengen banget naik Vespa. Akhirnya kesampaian hari ini. Hehhe…)
16.15 There is just no, no, no place like home …

***

WANITA-WANITA PERKASA

2006 Unforgettable Memories (Part 4)


Prolog
Message dari Ana :
Ikut acara Telkomsel bagi2 hadiah, yuk! GRATIS, dapat kaos, dapat makan, Minggu tgl10, kumpul di counter Nano j 05.30

Membaca tulisan GRATIS, akhirnya ku iyakan ajakan Anna.

***

Bagian 1
Rumahku, jam 05.00

Semalaman badanku gatal-gatal alergi (biduren), jadi untuk mengurangi rasa gatal, aku mandi air panas. Enak banget. Eits! Tahu-tahu udah jam 05.30, padahal harusnya dah ke tempat Nano.

Bagian 2
Halaman Rumahku, 06.00

Karena kelamaan nunggu di counter Nano, akhirnya Ana, Badawi, Sudiran, Maryono, dan Jalidu jemput aku di rumah. Lihat kostumku! Pasti kelihatan sangat aneh. Kaos muslimah Begaya lengan panjang warna biru muda, celana training Reebok warna hitam, jilbab hitam, dan sepatu kets Eagle-nya Risna yang dah ngga pernah dipake karena (nyaris) jebol . Kami pun berangkat, dan aku bonceng Ana.

Bagian 3
Halaman Parkir Mandala Krida, 07.00 – 13.00

- senam -

Ternyata udah mulai senam massal-nya. Ada dua instruktur di atas panggung. Mas dan mbak, yang memandu gerakan senam mengikuti irama pop, rock, r&b, jazz, dan dangdut Kami nunggu temennya Ana datang dulu, Ria dan Uut. Setelah mereka datang, dan kaos merah dibagi, kami pun ikut bergabung di belakang barisan orang-orang yang asyik senam. Meskipun cuma ikut berdiri aja. Hehe… Malahan banyak mas-mas yang bukannya ikut senam malah asyik motret dan nge-rekam mba instruktur-yang-kostumnya-tahu-sendiri-lah (dasar!).

- about the event -

Acara ini berjudul Olimpiade Outlet Grapari Telkomsel Yogyakarta. Acara apaan tuh? Jadi ini adalah pertandingan ‘fun games’ antar outlet resmi Telkomsel Yogyakarta. Dari lomba ini, akan dicari juara 1-3 untuk setiap perlombaan dan akan dicari satu tim yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak dan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 2.500.000,-. Nah, kami ber-13 dari RISKA Cell (aku, Nano, Anna, Ria, Uut, Badawi, Sudiran, Maryono, Gito, Nyoto, Jalidu, pak Ngatiman, dan Yuli) menjadi anggota tim-nya outlet Trackomindo (Jl. Gejayan, Yk) dengan nomor dada 10. Dari Trackomindo ada banyak juga sih, tapi aku cuma tahu tiga nama, mba Yanti, mba Dwi, dan mas Adi.

- the games -


1. Lari balon 5. Memasukkan pulpen ke botol 9. Lari karung bersama
2. Tarik tambang putri 6. Ularnagapanjangnya 10. Estafet gelang
3. Tarik tambang putra 7. Flying fox berhadiah 11. Target operasi
4. Bakiak tandem 8. Susun kaleng di kandang angsa 12. Spiderweb

Aku ikut di dua nomor pertandingan pertama, lari balon dan tarik tambang. Dan dua-duanya jadi juara pertama, lho! Pas lari balon, rasanya kayak orang kurang kerjaan banget, membawa lari balon berlima (aku, Ana, Ria, Uut, mba Dwi) di bawah terik sang surya. Sementara waktu tarik tambang, hmm… kami berlima dijuluki wanita perkasa. Menyingkirkan semua lawan yang tangguh. Padahal, paginya aku ngga sarapan lho! Tapi teman-teman (Ana, Uut, mba Yanti, dan mba Dwi) memang perkasa. Haha… Teman-teman ngga nyangka aku bisa dan mau ikut tarik tambang, coz selama ini mereka mungkin mengira selain aku pendiam juga lemah (lembut).

- the food and beverages -

Ini adalah bagian favoritku (hehe…). Minumannya, es dawet dan selalu-ada-aqua. Makanannya banyak banget macamnya, bakso, siomay, sate, soto, nasi dan kawan-kawannya. Tapi ternyata pas kami bermain tariktambang, sebagian besar peserta sudah diperbolehkan makan. Alhasil, saat aku, Uut, dan Ria mo makan, yang ada tinggal titik-titik penghabisan. Hiks. Bersyukurlah, yang penting … masih kebagian, ya kan?

- live performance -

Selain bertanding, kita juga ‘dihibur’ dengan berbagai penampilan. Meskipun aku lebih memilih ‘menghibur diri’ dengan berteduh di ‘gardu’ pojok barat daya lapangan. Coz pertama, puanas banget, kedua, ngga tega melihat mba-mba ‘cantik seksi’ sexy dancer Black Forest nge-dance di panggung. Terus ada capoeira, beladiri asal latin yang menarik. Selanjutnya, T&T Band mulai manggung dan menyanyikan lagu-lagu yang lagi hits saat itu. Dan aku masih tetap memilih berteduh dan melihat dari jauh. Yang terakhir, ada band gelo’ Sri Redjeki. Kalo cuma buat lucu-lucuan, lucu-lucu aja sih. Tapi, aku paling males dan ngga suka ada pria berdandan wanita, dan bertingkah aneh-aneh. Kesannya -menurut bahasa mba yang duduk di sampingku- melecehkan wanita.

***

Epilog


Setelah semua cabang lomba selesai dipertandingkan, tibalah saat yang paling dinantikan. Pembagian hadiah untuk masing-masing lomba, dan pengumuman juara umumnya. Hampir semua anggota tim Trackomindo mendapatkan hadiah karena menang di beberapa pertandingan. Hadiahnya adalah sebuah piala kecil, dan souvenir untuk masing-masing peserta lomba-yang-dimenangkan. Selanjutnya, saat diumumkan, ternyata juara umumnya, adalah tim kami. Wow! Rasanya senang sekali (hehe…). Sebagai juara umum berhak mendapatkan tropi dan uang tunai Rp 2.500.000,-
Akhirnya aku pulang dengan membawa 1 kaos merah, 1 tas selempang kecil warna merah, 1 tas punggung, 2 pulpen, dan uang tunai yang telah dibagi rata (haha…). Lumayan kan?… Overall, acaranya cukup seru …

- the end -

AWAL DARI SEBUAH AKHIR

2006 Unforgettable Memories (Part 3)

UJIAN SKRIPSI
Ruang 313 FE UII, Sabtu, 28 Agustus 2006

Sebenarnya aku bukannya mahasiswa yang bodoh-bodoh amat , tapi karena manajemen waktuku yang ngga cukup baik, skripsiku baru selesai Juni 2006 ini, yang berarti baru bisa diujikan Agustus 2006. Rasanya ngga enak banget sama bapak dan ibu, namun mereka tetap mensupportku dengan cara mereka. Jadi, saat akhirnya selesai, rasanya plonk! Lega banget (meskipun ternyata untuk sementara saja)

Huwa…! Saat dosen pembimbing skripsiku (Dra. Abriyani Puspaningsih M.Si, Ak) dan dosen pengujiku (Drs. Dekar Urumsah S.Si, M.Comm) datang, rasanya dag dig dug. Pas nunggu giliran maju, rasanya jadi tambah ngga karuan. Aku ditemeni teman-teman KKN -Nana, Nova, dan Jalu- (thanks ya guys).

Alhamdulillah… pas dipanggil dan maju di depan dosen, nervousnya ilang. Dan untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bisa kuberikan jawabannya (ada yang ngga bisa jawab juga, ding).
Dan akhirnya… subhanallah wal hamdulillah… dinyatakan lulus.

Oya, gara-gara ujian ini, aku jadi punya dua kawan akrab baru, Dwi Ananing dan Wahyu (apa kabar, friend?). Kami ngurus semua sama-sama sampai wisuda. Makasih ya.. untuk ‘saat-saat terakhir’ yang menyenangkan.
***
Teruntuk bu Abri terimakasih sebesar-besarnya untuk bimbingan dan keramahannya. Saya ngga akan pernah lupa. Dan semoga ibu selalu dapatkan yang terbaik. Amin.


AKHIRNYA …
Auditorium Kahar Muzakir, UII, Sabtu, 23 September 2006


Setelah banyak tahun terlewati,
Setelah rasa malas tak lagi menguasai,
Setelah ribuan doa bapak dan ibu diijabahi,
Akhirnya … tibalah hari ini
Saat sedikit beban tak lagi menggelantungi
Saat kumerasa memberikan sedikit bakti
Saat ini aku bukan mahasiswa lagi

Bapak, ibu, adik-adik dan saudara,
Terimakasih untuk support dan pengorbanannya selama ini
Kawan dan sahabat jiwa,
Terimakasih untuk tak pernah lelah menyemangati
Dosen, yang juga ‘pahlawan tanpa tanda jasa’
Terimakasih untuk bimbingan ilmu dan kebaikan hati

***

GOES TO BOYOLALI

2006 Unforgettable Memories (Part 2)

Yogya – Boyolali (pp), Sabtu, 19 Agustus 2006

Sejak lahir, dari TK sampai kuliah, semua kulakukan di Yogya. Aku sama sekali ngga pernah keluar dari Yogya (payah, ya?). Kecuali acara piknik or study tour, itupun naik bis bersama rombongan. Seingatku kota tujuannya Jakarta (TMII, dll), Jawa Barat (Pangandaran dll), Jawa Tengah (Baturaden, Jatijajar, Tawangmangu, Cilacap dll). Semua bersama rombongan, belum pernah naik kendaraan umum, atau bawa kendaraan sendiri. (Eh, pernah dink. Ke Muntilan ke rumah Neni (temen SMA), naik motor ma Agnes, naik bis ma Rani, ke Klaten nganter adikku Ima ke PT. Intan Pariwara naik motor).
Dan hari ini aku punya kesempatan ke Boyolali ke pernikahan teman baikku pas kursus komputer, Setyaningsih.
Berhubung adikku-partner sejatiku Ima waktu itu baru di Manokwari, Irian Jaya Barat, aku mencoba mengajak Nunung, tapi ternyata bu apoteker ini ngga libur kerja. Lalu kucoba mengajak bu guru Ana, yang tentusaja juga ngga libur. Waktu itu aku jadi tersadar, ternyata temanku ngga banyak, ya? Hiks!
Akhirnya, aku ngajak mba Ugik, yang meskipun dia-ngga-bisa-naik-motor paling ngga nanti ada teman ngobrol di perjalanan. Undangannya jam 09.00. Tapi sejak malam, tidur ngga nyenyak, beberapa kali terbangun dan lihat jam. Takut bangunnya kesiangan.

Dan inilah kronologisnya…

03.00 akhirnya aku bangun dari tidur-tak-tenangku, lalu melakukan aktivitas rutin, membereskan kerjaan rumah, mandi, sholat subuh.

05.30 nyamperin mba ugik ke rumahnya. Ternyata belum siap, yo wis tak tunggu sambil duduk-duduk di kamarnya.

05.55 cabut dari rumah mba ugik. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula wa laa quwwata ila billah…
Menurut Vina (sepupu Aning) lebih enak lewat Klaten-Jatinom. Aku (dan mba Ugik)-yang-belum-pernah-ke-Boyolali, kira-kira aja pilih jalannya. Dan sempat nyasar. Mba Ugik yang jadi juru tanya (hehe..). Berangkatnya kami nanya belasan kali. Akhirnya kami lewat jalur bis. Yogya-Klaten-Terminal Boyolali-Sruwen-Pasar Karanggede.

Subhanallah…. Perjalanan yang menyenangkan. Kami bisa melihat gunung Merapi yang saat itu masih berstatus awas dan mengeluarkan awan panasnya, cuaca cerah menjadikannya terlihat begitu cantik, namun gagah. Tidak berbeda jauh dengan gunung Merbabu yang akhirnya menutupi Merapi dari pandangan kami

09.10 sampai di Sranten ternyata ada dua hajatan penganten. Tapi akhirnya ketemu juga rumah Aning. Kami titip motor di rumah tetangga (yang belakangan kami tahu bernama bu Fathonah), sekalian numpang merapikan diri sebelum sampai tempat resepsi.

10.00 akhirnya penganten wanita (Aning my friend) keluar, dengan jilbab dan kebaya warna biru cerahnya. Lama… banget ngga ketemu kelihatan tambah tinggi dan tambah manis seperti biasanya. Ngga lama kemudian prosesi temu dengan pengantin pria (Iwan).
Ketemu ma Vina, dan suami serta anaknya, ngobrol sebentar. Mau lama-lama, lagi sibuk kali ya?
Akhirnya acara yang paling ditunggu tiba. Makan. (Hehe…). Ngga prasmanan. Kalau di desaku disebut ‘piring terbang’.
M e n u nya adalah …
1. snack dan teh anget manis
2. sup rumput laut
3. nasi dkk
4. es buah (hm… seger!)
Sebelum pulang foto dulu sama mantennya. Kata Aning hasilnya bagus. Tapi belum lihat. Sekarang udah ke Jawa Timur sana. Lalu kami pun pamit pulang.

Kami ngambil motor ke tempatnya bu Fathonah, numpang sholat dan ganti kostum J. Rumah ibu ini sederhana tapi rapi banget. Banyak tanaman hias di depan rumahnya. Trus ada pohon rambutan di sekitar rumahnya (sayang lagi ngga berbuah). Selesai sholat, kami ngobrol sebentar, baru kemudian pamit pulang. Makaasih ya, Bu?

13.30 Cabut dari Karanggede. Kami coba lewat Simo-Kartasuro. Tetep nanya-nanya, tapi ngga sebanyak pas berangkat. Dan akhirnya …

15.30 Sampe di Yogya, udah laper lagi So, mampir ke warung soto dulu, baru ke masjid kampus UGM untuk sholat Ashar. Lalu duduk-duduk sambil melepas lelah, jalan-jalan keliling masjid sampe lupa waktu dah semakin sore.

17.45 Akhirnya sampai di Sentolo City. Alhamdulillah… meskipun pergi pulang aku yang bawa motor (ngga gantian), rasa capek hampir-hampir ngga terasa samasekali. Mungkin karena suasana hati hepi…
***
Buat mba Aning – mas Iwan, Sekali lagi selamat, Ya! Barakallahu …Jangan lupa kalau aku udah jadi tante dikabari, ya?

HUT KEMERDEKAAN RI KE-61

2006 Unforgettable Memories (Part 1)

Sebenarnya aku ngga begitu mengerti apa hubungan antara perayaan 17-an dengan nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air (ada yang tahu?). Mungkin… dengan berpartisipasi di acara agustusan, setidaknya kita bisa (sedikiii..t) teringat perjuangan para pahlawan di puluhan tahun yang lalu. Atau paling tidak, ngga dirasani teman karena ngga mau ikutan. Hehe …

WARNA-WARNI BANGSAKU
Balai Desa Kaliagung (Jumat, 11 Agustus 2006, jam 14.00)

Tahun ini, ibu-ibu PKK desa mengadakan lomba untuk remaja putri, diantaranya adalah MERANGKAI DAUN, dan Bu Dukuh selaku koordinator dusun, menunjukku untuk mewakili dusun Banyunganti Kidul di lomba ini. Padahal, aku sama sekali belum pernah yang namanya merangkai daun. Tapi, the show must go on.

Pagi hari, dengan segala kebaikan hati, Bu Narni keliling ke rumah warga untuk mencari tambahan koleksi daun untuk dirangkai nanti siang (Makasih ya, Bu?).

Jadilah siang itu aku ke Balai Desa dengan membawa perlengkapan:
1. Cobek (berfungsi sebagai vas)
2. Debog pisang dan lidi (untuk menancapkan daun untuk dibentuk rangkaian)
3. Pisau dan gunting, dan
4. Daun dengan berbagai jenis dan warna

Setelah selesai daftar ulang di Bu Pur (koordinator lomba ini), akhirnya pertandingan pun dimulai. Waktunya 30 menit. Satu, dua, tiga, … mulai….

Dengan sense of art yang sangat mini, dengan penuh percaya diri, potong sana potong sini, tancap sana tancap sini, akhirnya dedaunan yang kubawa telah terangkai dengan manis dan karena waktu yang diberikan sudah habis, aku pun meringis Rangkaian daunku kuberi judul “Warna-Warni Bangsaku” (ngga nyambung banget pokoknya).

Dan tahukah saudara-saudara, setelah hasil penjurian diumumkan, tak disangka tak diduga rangkaian daunku memperoleh #1 (masa sih? … alhamdulillah). Hadiahnya apa? Ada deh.

Sebagai penutup, Bu Pur menjelaskan beberapa tips merangkai daun. Dua diantaranya yang kuingat adalah:
1. Pilih daun yang kaku
Tujuannya adalah agar rangkaian tahan lama, karena daun dengan jenis ini tidak mudah layu.
2. Tentukan center of interest dari rangkaian
Yaitu bagian yang paling ditonjolkan untuk ditampilkan dalam rangkaian ini. Caranya adalah dengan penyusunan permainan warna maupun jenis daun, serta ukuran besar kecil daun dan sebagainya.


MERDEKA!!
Lapangan Sanun, Sentolo City (Kamis, 17 Agustus 2006)

Zaman sekolah dulu, hal yang paling membuat males dan ngga bersemangat adalah upacara bendera. Bayangkan aja, berdiri puluhan menit di bawah terik mentari yang menggigit kulit. Hhh…

Tapi, setelah lama banget ngga upacara, kok jadi ada keinginan merasakannya lagi, ya? Hehe …

Kebetulan banget, tahun 2006 ini Karang Taruna dusunku “TUNAS REMAJA” dapat undangan untuk mengirimkan 5 orang wakil untuk mengikuti upacara detik-detik proklamasi kecamatan. Jadilah hari itu kami (aku, Kurni, Agus, Wanto, dan Egon) berangkat ke lapangan upacara dengan semangat empat lima .

Nyampe di sana, perasaan kami campur aduk… antara nyesel, seneng, malu, dan lucu. Hehe. Bayangin aja … di lapangan isinya anak-anak berseragam sekolah,bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam PNS, petugas kesehatan, perangkat desa, polisi, dan tentara. Kami berlima juga pake seragam batik, sih! Tapi rasanya gimanaa… gitu.
Kami berbaris pada grup organisasi pemuda dan mahasiswa KKN. Kalo diingat-ingat, rasanya malu dan lucu, tapi ngga nyesel, kok!

Oya, adikku Risna jadi komandan pasukan pengibar bendera kecamatan. Suaranya lumayan juga. Jadi ikut bangga nih! Biarpun cuma tingkat kecamatan. Barisnya cukup bagus menurut saya-yang-awam-soal-baris-berbaris. Sayangnya, pas pengibaran bendera ada angin yang cukup kenceng, so, bendera yang dikibarkan melilit talinya. Hasilnya, bendera ngga berkibar dengan gagah.. Kata Risna, kemaren pas latihan juga mengalami kejadian yang sama, dan panitia dah coba membuat antisipasi, meskipun sepertinya samasekelai ngga berhasil. But, it’s OK … akhirnya aku jadi ikut upacara dan yang paling penting ngga pingsan. MERDEKA!!
***

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...