Ngomong soal membaca buku, jujur saja hingga saat ini saya masih saja selalu merasa lebih mudah membaca buku-buku cerita (dan atau non cerita yang penulisannya memakai bahasa sehari-hari atau bahasa yang populer). Padahal mayoritas buku-buku bagus selalu menggunakan bahasa ilmiah. Meskipun begitu, kalau saya merasa tertarik atau menurutku (atau rekomendasi seseorang) bagus, maka saya akan baca juga (kalau ada bukunya) meskipun akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan waktu saya untuk membaca buku model pertama. Selain itu, saya juga lebih mudah membaca buku terjemahan daripada buku dengan bahasa asli. Bukannya apa-apa, saya memang ngga jago bahasa Inggris (apalagi Arab, Jepang, Mandarin, dll). Padahal pasti jauh lebih asyik lagi kalau baca buku aslinya. Tapi kalau dipaksakan baca aslinya, pasti banyakan baca kamusnya daripada baca bukunya (hehe…).
Cara saya memperoleh buku untuk dibaca ada dua. Yang pertama pinjam, yang kedua beli. Sebagian besar buku yang saya baca, saya peroleh dengan meminjam (hehe…). Baik pinjam di perpustakaan, pinjam di taman bacaan, pinjam milik teman, atau pinjam toko buku alias baca di toko buku (hehe..). Di Gramedia, biasanya kan ada tuh satu buku yang udah dibuka segelnya, nah kadang saya baca yang itu. Ada sih buku yang saya beli, tapi jumlahnya sedikit sekali, itupun buku-buku ‘tipis’ yang harganya terjangkau.
Saya suka baca buku (terutama cerita) sejak sekolah dasar (sampai sekolah menengah dan sekarang). Dulu sering banget pinjam di perpustakaan sekolah. Tentusaja saya lebih banyak pinjam buku cerita daripada buku pelajaran (hehe..). Terus pas kuliah, banyakan ke perpus karena nyari bahan buat tugas dan skripsi. Kalau di-remind, saat sekolah (dan kuliah) sepertinya saya baca buku (terutama pelajaran) karena tuntutan tugas, ulangan, atau ujian. Padahal kalau saya pikir-pikir lagi, harusnya saya membaca karena ingin tahu, ya? Jadinya kan lebih asyik bacanya dan lebih mudah memahaminya. Eh, iya lho! Tiba-tiba saya jadi pengen baca buku pelajaran -yang dulu selalu membuat saya grogi- terutama Biologi, Sejarah, dan Geografi.
Karena buku pinjaman dibatasi tenggat waktu, biasanya saya jadi lebih bersemangat untuk segera menyelesaikannya. Kelemahannya adalah saat saya lupa isi bukunya (dan itu selalu saja terjadi), saya ngga bisa baca lagi sesuka saya (kecuali kalau saya meminjamnya lagi). Hehe…
Inilah 13 buku (pinjaman) terakhir yang saya baca pada akhir tahun 2006 - awal tahun 2007:
Tersentuh Ilalang -- Afifah Afra
Ayat-Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy
Gara-Gara Jilbabku? – Asma Nadia
Cintapuccino – Icha Rahmanti
Jangan Jadi Muslimah Nyebelin – Asma Nadia
Jatuh Bangun Cintaku – Asma Nadia dkk
Langit-Langit Cinta – Najib Kailany
Mencari Belahan Jiwa – Ifa Avianty
My Valentine – Hanna Al Ithriyah
Corsage – Janita
Into Thin Air – Jon Krakauer
7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
Birunya Langit Cinta –Azzura Dayana
Tersentuh Ilalang -- Afifah Afra
Ayat-Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy
Gara-Gara Jilbabku? – Asma Nadia
Cintapuccino – Icha Rahmanti
Jangan Jadi Muslimah Nyebelin – Asma Nadia
Jatuh Bangun Cintaku – Asma Nadia dkk
Langit-Langit Cinta – Najib Kailany
Mencari Belahan Jiwa – Ifa Avianty
My Valentine – Hanna Al Ithriyah
Corsage – Janita
Into Thin Air – Jon Krakauer
7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
Birunya Langit Cinta –Azzura Dayana
Tentang buku yang saya miliki (selain buku kuliah dan buku pelajaran, lho!) dan masih ada sampai sekarang, sejak tahun 1993 hingga awal 2007 cuma sedikit banget. Selama 13 tahun, cuma ada 57 buku. Jika dirinci dari asalnya, 29 buku berasal dari hadiah (dari keluarga, teman, atau acara tertentu) dan 28 buku dari pembelian. Jika dirinci jenisnya, komik (11 eks), novel islami (8 eks), novel umum (1 eks), pengetahuan islam (22 eks), dan pengetahuan umum (15 eks). Jika dirinci dari cara membacanya, ada 42 buku pernah saya baca tuntas (22 buku masih ingat sebagian besar isinya, 4 buku hanya ingat sebagian kecil isinya, dan 16 buku saya lupa isinya), kemudian 8 buku pernah saya baca sekilas (pilih-pilih bagian yang menarik saja), dan 7 buku sama sekali belum saya baca. Kasihan ya ketujuh buku yang terakhir ini. Hehe …
Saya sering berharap kalau suatu saat nanti saya bisa mengoleksi buku-buku favorit saya (yang selama ini cuma saya pinjam) dan buku-buku -yang menurutku bagus- yang baru saya baca judulnya atau review-nya saja. Tapi sampai saat ini sepertinya saya masih harus terus berharap, karena isi kantong yang belum sebanding dengan harga buku-buku yang selangit. Hehe … Sambil berharap juga agar buku-buku itu akan terbaca, dan tentunya diterapkan nilai-nilainya.
Terus apa hubungannya dengan snobisme? Snobisme yaitu bergaya intelektual dengan membanggakan koleksi bukunya yang barangkali belum satupun pernah dibaca (dari Annida No.14/XIII/16-30 April 2004). Hehe … saya termasuk snobis bukan, ya?
No comments:
Post a Comment