Acara tahunan Koperasi Pelita yang selalu ditunggu oleh anggotanya selain pembagian parcel lebaran adalah Rapat Anggota Tahunan (RAT). Acara tersebut biasanya diselenggarakan pada bulan Februari tahun berikutnya.
Sesaat setelah menerima undangan. Kami mengira-ira berapa SHU yang akan kami terima nanti, kemudian saling menanyakan bingkisan kejutan apa yang paling menarik hati kami. Ketika Bu Ony memilih mesin cuci karena mesin cuci di rumahnya yang sudah mulai keropos, maka saya teringat kulkas ibu di rumah yang terlihat cukup tua, dan mengatakan kalau saya mau kulkasnya saja.
Hari-H. Tampak bingkisan yang berjajar rapi di panggung menunggu saat dibagikan kepada anggota. Aku duduk di barisan kiri bersama Pak Roso, Pak Parlan, Bu Nia, dan Mba Jum.
“ Mau yang mana, mba?”, tanya Bu Nia
“ Saya mau kulkasnya aja, Bu!”, jawabku
“ Mana? Ngga ada kulkas kok?”, kata bu Nia lagi
“ Itu yang di bawah helm.”, jawabku
“ Bukan. Itu penyimpan beras yang 25 kg.”, kata bu Nia
“ Oo? Bukan kulkas, ya?”, kataku
Dan waktu berlalu, laporan pengurus, pengawas, dan tanggapan anggota telah selesai dilaksanakan, tibalah acara pembagian bingkisan. Dan ketika giliran si kulkas untuk meninggalkan panggung,,,
“ Mba, kok aku deg-degan ya?”, kataku yang tiba-tiba merasakan debaran di dada.
“ Kok ndadak deg-degan barang ngopo, je?", kata mba Jum
“ MCne nyebut kulkas kok dadi mba Anin sing deg-degan, lho?”, kata Bu Nia sambil menyentuh dadaku.
“ Dan yang berhak membawa pulang kulkas siang hari ini adalah anggota dengan nomor 1..1..4..", kata MC membacakan nomor yang mendekati nomor keanggotaanku, dan ...
" … 2… Anin Dyaningsih…"
“Hah… tenanan? Aku yang dapat? Alhamdulillah…. Yayy!!”, kataku sambil terkejut dan tak percaya
Yes, all… si peti sejuk itu jatuh ke tanganku. Dream comes true. Aku belajar satu hal, apa yang kita ucapkan (harapkan) pasti didengarkan olehNya, namun, mana yang akan dikabulkan terlebih dahulu itu adalah kuasaNya. ^_^
Aku adalah orang biasa yang sangat beruntung dan sedang belajar untuk mensyukurinya. Dan untuk keberuntungan yang diciptakan-Nya untukku hari ini, biarlah mengingatkan aku bahwa aku harus terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillahirabbil’alamin.
PS.:
(Most of all, keberuntungan terbesarku adalah karena aku dikelilingi orang-orang yang peduli dan baik hati. Ketika aku masih merasa belum percaya kalau ini adalah nyata, mereka tanpa ragu membantu mengangkatkan bingkisanku, memberi masukan dan saran agar si lemari es bisa sampai di rumah barunya dengan beres. Special Thanks to: Mba Jum, Pak Roso, Pak Parlan, Mba Kus, dan Bu Kap…. and of course…. Pelita…)
Tuesday, February 15, 2011
Lima Hari Kerja
Awal bulan ini tempat kerjaku menerapkan lima hari kerja. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Banyak diantara rekan kerjaku yang kelihatannya tak terlalu setuju dengan penerapan ini, karena jam pulang menjadi lebih sore dari biasanya. Padahal, kalau diingat-ingat, pas masih enam hari kerja dulu pun biasanya juga pulang sekitar jam empat bahkan terkadang lebih. Dan itu dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan dan tanpa pamrih. Mengapa sekarang jadi merasa berat? Karena dipaksa, mungkin itu jawabannya.
Suatu hari, di English Class with Miss Vivin, diskusi kami mengambil tema five workdays. Diantara lima partisipan, aku dan seorang teman saat itu disagree. Alasannya adalah pulang jam empat akan menjadi hari yang sangat panjang saat berada pada low season. Dan, sepertinya hal itu cenderung akan memberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan cara-cara yang kurang tepat. Kalau bagi saya pribadi, saat pulang jam dua siang atau maksimal jam tiga, itu berarti saya masih punya waktu yang cukup untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah dan tidak kemalaman di jalan. Namun ketika jam pulang menjadi lebih sore, maka waktu mampir-mampir pun menjadi berkurang (hehe… alasan yang aneh).
Sementara di pihak yang setuju mengungkapkan segi positif yang diantaranya adalah menghemat listrik (terutama penggunaan AC) dan internet, memacu pegawai untuk lebih efektif dan efisien dalam bekerja karena yang biasanya bisa dikerjakan dalam 6 hari harus bisa diselesaikan dalam 5 hari saja (meskipun sebenarnya jumlah jamnya tetap yaitu 37,5 jam per minggu). Seorang teman yang lain menyatakan bahwa ketika berada pada high season, dia selalu pulang paling cepat jam lima, bahkan pada hari Sabtu sekalipun. Jadi dia berharap, dengan lima hari kerja, meskipun dia pulang jam lima atau lebih, masih akan ada satu ekstra hari libur untuknya. Bisa ditambahkan lagi, segi positifnya bagi pekerja yang menjalani long distance relationship, dengan dua libur weekend bisa dimanfaatkan untuk menambah quality time bersama keluarganya.
Dan sekarang, setelah lima hari kerja betul-betul diterapkan, jujur saja, saya berpindah ke tim affirmative. Memang benar, terkadang jam empat terasa begitu lama. Namun hal itu semoga memotivasi saya untuk tak membiarkan waktu lewat begitu saja. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah …. dua hari libur yang menunggu di akhir minggu.
Suatu hari, di English Class with Miss Vivin, diskusi kami mengambil tema five workdays. Diantara lima partisipan, aku dan seorang teman saat itu disagree. Alasannya adalah pulang jam empat akan menjadi hari yang sangat panjang saat berada pada low season. Dan, sepertinya hal itu cenderung akan memberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan cara-cara yang kurang tepat. Kalau bagi saya pribadi, saat pulang jam dua siang atau maksimal jam tiga, itu berarti saya masih punya waktu yang cukup untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah dan tidak kemalaman di jalan. Namun ketika jam pulang menjadi lebih sore, maka waktu mampir-mampir pun menjadi berkurang (hehe… alasan yang aneh).
Sementara di pihak yang setuju mengungkapkan segi positif yang diantaranya adalah menghemat listrik (terutama penggunaan AC) dan internet, memacu pegawai untuk lebih efektif dan efisien dalam bekerja karena yang biasanya bisa dikerjakan dalam 6 hari harus bisa diselesaikan dalam 5 hari saja (meskipun sebenarnya jumlah jamnya tetap yaitu 37,5 jam per minggu). Seorang teman yang lain menyatakan bahwa ketika berada pada high season, dia selalu pulang paling cepat jam lima, bahkan pada hari Sabtu sekalipun. Jadi dia berharap, dengan lima hari kerja, meskipun dia pulang jam lima atau lebih, masih akan ada satu ekstra hari libur untuknya. Bisa ditambahkan lagi, segi positifnya bagi pekerja yang menjalani long distance relationship, dengan dua libur weekend bisa dimanfaatkan untuk menambah quality time bersama keluarganya.
Dan sekarang, setelah lima hari kerja betul-betul diterapkan, jujur saja, saya berpindah ke tim affirmative. Memang benar, terkadang jam empat terasa begitu lama. Namun hal itu semoga memotivasi saya untuk tak membiarkan waktu lewat begitu saja. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah …. dua hari libur yang menunggu di akhir minggu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Nine Years Later ...
Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...
-
Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yan...
-
Part 3 of 3 Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami ...
-
Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di ...