Showing posts with label film musik buku. Show all posts
Showing posts with label film musik buku. Show all posts

Wednesday, December 12, 2012

Into Thin Air

Akhir Januari 2007, aku membaca buku terjemahan Into Thin Air-nya Jon Krakauer. Sebuah true story tentang pendakian ke Everest dari arah Nepal pada Mei 1996 yang menewaskan 12 orang korban. Termasuk dua pemimpin ekpedisi yang dikenal sebagai pemandu-dan-pendaki-berpengalaman di kalangan para pendaki.

Sebagai orang-yang-tidak-pernah-naik-gunung, awalnya hampir menyerah karena banyak istilah-istilah yang asing. Tapi Jon Krakauer memberikan catatan kaki yang memudahkan pembaca untuk memahami kata-kata, tokoh-tokoh, atau kejadian-kejadian yang populer di kalangan pendaki, namun tidak bagi orang awam. Jadi, semakin ke belakang semakin mudah memahami dan semakin seru kisahnya.

Sesekali aku membaca sambil membayangkan seperti apa kira-kira kondisi atau bentuk benda yang dimaksud. Misalnya, para pendaki yang berjalan di atas gunung es setinggi 29.028 kaki dengan memakai sepatu es (crampon), membawa kapak es, dan pada saat-saat tertentu harus mengikatkan tali (belay) ke sesama pendaki yang lain, mengenakan masker tabung oksigen, dan harus berulangkali menghindari longsoran salju dan bongkahan es (serac). Kabarnya kisah ini pun dibuat film tv-nya berjudul Into Thin Air: Death on Everest (1997) tapi hanya tayang di Amrik ma Czech. Tiga kata untuk buku ini: seru, mendebarkan dan tragis.

Awal Februari 2007 aku melihat teaser film bioskop Trans TV berjudul Vertical Limit. Kelihatannya bercerita tentang pendakian ke Everest juga. Tetapi, saat jam penayangannya, aku malah ketinggalan nontonnya. Dan ceritanya sudah hampir mendekati bagian akhir. Dan scene yang kulihat saat itu, seperti visualisasi dari bayanganku saat membaca Into Thin Air. Beberapa istilah yang di film ini sebagian besar sudah kukenal dari Into Thin Air. Adegan yang di Vertical Limit yang masih kuingat adalah waktu salah satu tim penyelamat dari Pakistan yang membawa nitrogliserin (bernama Kareem), sholat di atas es pada ketinggian 26.000 kaki. Adegan yang jarang-jarang ada kan ada film Amerika?

Note:
Tulisan ini adalah repost dari tulisanku pada 11-02-2007 di multiply (yang akan menutup layanan blognya sebelum 1 Desember 2012). Sepertinya belum lama aku membaca buku dan melihat teaser film di atas. Tapi ternyata sudah lima tahun yang lalu. (Jadi ingin membacanya kembali. Mmm... tapi dulu pinjam bukunya siapa ya? Jadi ingin menonton Vertical Limit juga, dari awal sampai akhir)

Friday, November 7, 2008

Nonton Film di Bioskop

Sampai hari ini... hanya tiga film yang kutonton di bioskop (hehe). Biasanya kalau ngga nonton VCD ya nunggu tayang di tivi (hehe ... melas banget). Dan tiga film itu adalah ... jreng jreng jreng ...
















1. Petualangan Sherina
(nonton di Mataram Theatre ma Agnez zaman kelas 3 SMA)
2. Ada Apa Dengan Cinta
(nonton di Mataram Theatre juga tapi ma Nonik dan Ririn pas jaman kuliah)
3. Laskar Pelangi
(nonton di 21 AmPlaz Sabtu,11 oktober 2008 setelah adik2ku Ima-Risna-Nisa antri tiket sehari sebelumnya)

Kok ... ketiganya produksi Miles Production, ya? Hehe ... Ngga disengaja lho. Tapi emang bagus kan?

Tuesday, July 1, 2008

Anak-Anak yang Menyanyikan Lagu Orang Dewasa

Setelah Sherina dan Tasya beranjak dewasa, rasa-rasanya tidak ada penyanyi cilik yang meneruskan generasi mereka. Akibatnya anak-anak yang tidak memperoleh referensi lagu anak-anak, jadi lebih hafal lagu orang dewasa yang sangat sering didengarnya. Termasuk adikku Icha yang masih kelas 2 SD. Salahsatu penyebab kekhawatiran saat anak-anak bernyanyi lagu yang syairnya kebanyakan bertemakan tentang cinta itu adalah kalau-kalau mereka menjadi lebih cepat dewasa daripada umurnya.

Belakangan ini, ada acara kontes nyanyi anak-anak (Idola Cilik di RCTI). Dan banyak orangtua yang berharap acara ini mampu memuaskan dahaga akan lagu anak-anak. Saat Icha menjadi penonton setia acara ini, Aku pun mulai mendampinginya menonton layaknya kakak yang baik (hehe...). Tapi... lho kok? Lagunya ya sama saja lagu-lagu orang dewasa? Gimana ini? Itu kalimat-kalimat yang kemudian terlontar. Tapi berhubung Icha setia menonton, akhirnya aku pun jadi ikut rajin menontonnya. Dan setelah sekian lama mengikuti, aku jadi berpikir dan merasa kalau trnyata lagu bertemakan cinta ternyata bukan masalah yang harus terlalu dikhawatirkan. Karena lagu cinta yang oleh orang dewasa melulu ditafsirkan sebagai cinta kepada kekasihnya (dilihat dari video klipnya), saat dinyanyikan oleh anak-anak yang menginterpretasikan cinta yang dilihat dari sudut pandang anak kepada orang tuanya, adik kepada kakaknya (atau sebaliknya), dan teman kepada sahabatnya, ternyata lagu itu sah-sah saja dinyanyikan mereka. Bahkan terdengar lebih indah didengar dan dirasa. Jadi, salahsatu solusinya, sebagai orang dewasa membantu mengarahkan mereka untuk memaknai cinta dengan kacamata mereka, dan pilihkan lagu yang benar-benar cocok dengan usia mereka ...

Tuesday, April 8, 2008

Yah ... Bagusan Novelnya!

Akhir-akhir ini sering mendengar dan membaca komentar di atas. Dan kalau ngga salah aku malah sempat juga mengeluarkan kata-kata yang sama. Hehe... Kenapa ya novelnya lebih bagus? Baru-baru ini aku baca tulisannya dua orang temanku yang pertama tentang film Ayat-Ayat Cinta dan yang kedua tentang film D.O yang ngga lebih bagus daripada novelnya. Dari kedua tulisan tersebut ada satu benang merah alasan kenapa novelnya lebih bagus (daripada filmnya) yaitu karena pembaca novel punya bagian favorit (yang sangat penting) di dalam novel yang ternyata dianggap bukan apa-apa oleh si pembuat film.

Sebenarnya sih sah-sah saja mengemukakan preferensi kita atas dua hal yang dihadapkan di depan kita. Tapi belakangan aku mikir juga, gimana kalau aku yang menjadi satu diantara dua yang dibandingkan itu, ya? Oke, kalau aku menjadi yang-dianggap-lebih-bagus tentunya aku bisa berbangga hati, tapi kalau menjadi yang-dianggap-lebih-jelek? Bisa saja aku bilang ngga apa-apa, tapi pasti saja ada rasa kecewa, gondok, dan sakit hati. Hiks... Tapi, jika kita memandangnya secara positif, hal tersebut tentunya bisa menjadi pemacu kita untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Monday, March 17, 2008

Buku di Bulan Februari

Buku yang sempat kubaca pada bulan Februari adalah
1.Menyemai Cinta di Negeri Sakura
by: Lizsa Anggraeny dan Seriyawati (Samudera)
2. Laskar Pelangi
by: Andrea Hirata (Bentang)
3. Harry Potter: Chamber of Secret
by: JK. Rowling
4. Bali (kumpulan cerpen)
by: Putu Wijaya ( Penerbit Buku Kompas)
5. Sang Pemimpi
by: ANdrea Hirta (Bentang)
6. Edensor
by: Andrea Hirata (Bentang)

Wednesday, January 30, 2008

Buku ... Buku ... Buku


Sembilan Bulan di Kebumen Cuma Bisa Baca 7 Buku:
1. Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer
2. Komik Detektif Conan 48 dan 49 - Aoyama Gosho
3. Nge-friend Sama Islam #2 - Teguh Iman Perdana
4. Mencari Mutiara di Dasar Hati - Muhammad Nursani
5. Zero To Hero - Sholihin Abu Izuddin
6. Ketika Cinta Bertasbih - Habiburrahman El Shirazy


2008 Januari Penuh Fiksi
1. Ketika Cinta Bertasbih 2 - Habiburrahman El Shirazy
2. Filosofi Kopi - Dee
3. Harry Potter And The Sorcerer Stone (terjemahan) - JK Rowling
4. Hary Potter And The Prisoner of Azkaban (terjemahan) - JK Rowling
5. Kambing Jantan - Raditya Dika

Thursday, April 5, 2007

SAYA, BUKU DAN SNOBISME


Ngomong soal membaca buku, jujur saja hingga saat ini saya masih saja selalu merasa lebih mudah membaca buku-buku cerita (dan atau non cerita yang penulisannya memakai bahasa sehari-hari atau bahasa yang populer). Padahal mayoritas buku-buku bagus selalu menggunakan bahasa ilmiah. Meskipun begitu, kalau saya merasa tertarik atau menurutku (atau rekomendasi seseorang) bagus, maka saya akan baca juga (kalau ada bukunya) meskipun akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan waktu saya untuk membaca buku model pertama. Selain itu, saya juga lebih mudah membaca buku terjemahan daripada buku dengan bahasa asli. Bukannya apa-apa, saya memang ngga jago bahasa Inggris (apalagi Arab, Jepang, Mandarin, dll). Padahal pasti jauh lebih asyik lagi kalau baca buku aslinya. Tapi kalau dipaksakan baca aslinya, pasti banyakan baca kamusnya daripada baca bukunya (hehe…).
Cara saya memperoleh buku untuk dibaca ada dua. Yang pertama pinjam, yang kedua beli. Sebagian besar buku yang saya baca, saya peroleh dengan meminjam (hehe…). Baik pinjam di perpustakaan, pinjam di taman bacaan, pinjam milik teman, atau pinjam toko buku alias baca di toko buku (hehe..). Di Gramedia, biasanya kan ada tuh satu buku yang udah dibuka segelnya, nah kadang saya baca yang itu. Ada sih buku yang saya beli, tapi jumlahnya sedikit sekali, itupun buku-buku ‘tipis’ yang harganya terjangkau.
Saya suka baca buku (terutama cerita) sejak sekolah dasar (sampai sekolah menengah dan sekarang). Dulu sering banget pinjam di perpustakaan sekolah. Tentusaja saya lebih banyak pinjam buku cerita daripada buku pelajaran (hehe..). Terus pas kuliah, banyakan ke perpus karena nyari bahan buat tugas dan skripsi. Kalau di-remind, saat sekolah (dan kuliah) sepertinya saya baca buku (terutama pelajaran) karena tuntutan tugas, ulangan, atau ujian. Padahal kalau saya pikir-pikir lagi, harusnya saya membaca karena ingin tahu, ya? Jadinya kan lebih asyik bacanya dan lebih mudah memahaminya. Eh, iya lho! Tiba-tiba saya jadi pengen baca buku pelajaran -yang dulu selalu membuat saya grogi- terutama Biologi, Sejarah, dan Geografi.
Karena buku pinjaman dibatasi tenggat waktu, biasanya saya jadi lebih bersemangat untuk segera menyelesaikannya. Kelemahannya adalah saat saya lupa isi bukunya (dan itu selalu saja terjadi), saya ngga bisa baca lagi sesuka saya (kecuali kalau saya meminjamnya lagi). Hehe…
Inilah 13 buku (pinjaman) terakhir yang saya baca pada akhir tahun 2006 - awal tahun 2007:
Tersentuh Ilalang -- Afifah Afra
Ayat-Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy
Gara-Gara Jilbabku? – Asma Nadia
Cintapuccino – Icha Rahmanti
Jangan Jadi Muslimah Nyebelin – Asma Nadia
Jatuh Bangun Cintaku – Asma Nadia dkk
Langit-Langit Cinta – Najib Kailany
Mencari Belahan Jiwa – Ifa Avianty
My Valentine – Hanna Al Ithriyah
Corsage – Janita
Into Thin Air – Jon Krakauer
7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
Birunya Langit Cinta –Azzura Dayana
Tentang buku yang saya miliki (selain buku kuliah dan buku pelajaran, lho!) dan masih ada sampai sekarang, sejak tahun 1993 hingga awal 2007 cuma sedikit banget. Selama 13 tahun, cuma ada 57 buku. Jika dirinci dari asalnya, 29 buku berasal dari hadiah (dari keluarga, teman, atau acara tertentu) dan 28 buku dari pembelian. Jika dirinci jenisnya, komik (11 eks), novel islami (8 eks), novel umum (1 eks), pengetahuan islam (22 eks), dan pengetahuan umum (15 eks). Jika dirinci dari cara membacanya, ada 42 buku pernah saya baca tuntas (22 buku masih ingat sebagian besar isinya, 4 buku hanya ingat sebagian kecil isinya, dan 16 buku saya lupa isinya), kemudian 8 buku pernah saya baca sekilas (pilih-pilih bagian yang menarik saja), dan 7 buku sama sekali belum saya baca. Kasihan ya ketujuh buku yang terakhir ini. Hehe …
Saya sering berharap kalau suatu saat nanti saya bisa mengoleksi buku-buku favorit saya (yang selama ini cuma saya pinjam) dan buku-buku -yang menurutku bagus- yang baru saya baca judulnya atau review-nya saja. Tapi sampai saat ini sepertinya saya masih harus terus berharap, karena isi kantong yang belum sebanding dengan harga buku-buku yang selangit. Hehe … Sambil berharap juga agar buku-buku itu akan terbaca, dan tentunya diterapkan nilai-nilainya.
Terus apa hubungannya dengan snobisme? Snobisme yaitu bergaya intelektual dengan membanggakan koleksi bukunya yang barangkali belum satupun pernah dibaca (dari Annida No.14/XIII/16-30 April 2004). Hehe … saya termasuk snobis bukan, ya?

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...