Wednesday, August 20, 2014
Rafting Sungai Elo
Monday, November 26, 2012
It's Magic
![]() |
| 1. Riri di depan fabric store yang belum buka; 2. Aku, Etty, dan mural; 3. Narsis di jalan HOS Cokroaminoto; 4. Menunggu doorprize |
Friday, July 1, 2011
Sepeda Gembira
Bersepeda, bukan hal yang baru bagiku. Sejak SD kelas 6, sepeda menjadi alat transportasi utamaku untuk pergi dan pulang ke sekolah. Tapi semenjak mengenal sepedamotor dan punya SIM, perlahan-lahan sepeda di rumah mulai beristirahat karena tak pernah disentuh.
Panjang sekali intronya, sebenarnya pengen cerita apa?
It’s started with a disposition untuk mengikuti peringatan hari lingkungan hidup yang diselenggarakan BLH Provinsi DIY yang terpusat di sepanjang jalan Mangkubumi. Dan salahsatu acaranya adalah fun bike. Dan aku yang sebenarnya sudah cukup lama ingin bersepeda mengitari kota Jogja, menerima surat tugas itu dengan senang hati *haha*. Tapi bagaimana caranya membawa sepeda dari Sentolo ke Jogja? Alhamdulillah, pak Mukti, my officemate, menawari untuk memakai sepedanya. Dan karena beliau tak hanya punya satu sepeda, Riri pun bisa meminjam dari beliau.
Pagi hari di tepi jalan aku menunggu Riri yang akan menjemput. Dan owh, dia baru datang jam setengah tujuh padahal kemaren rencana mau berangkat jam enam seperempat. Dan sekitar sejam kemudian kami sampai di rumah pak Mukti yang telah menyiapkan kedua sepedanya untuk dipinjam. Riri memilih sepeda yang lebih feminim karena dia memakai rok, sedangkan aku memakai sepeda yang satunya yang ada ’planthangan’ (duh, bahasa indonesianya apa ya?) di depannya. Dan perjalanan bersepeda pun dimulai.
Dari rumah pak Mukti di belakang TMP Kusumanegara, kami menempuh rute dari jalan di sebelah barat TMP ke arah Pasar Sentul, awalnya kami mau belok ke kanan tetapi lalulintas pagi itu sangat ramai dan kami yang tak berhasil menyeberang memutuskan untuk mengayuh terus dan berbelok kanan di eks bioskop permata dan lurus terus ke pasar lempuyangan terus berbelok ke kiri, menyeberang rel KA dan sampai di Kridosono dan belok kiri di Padmanaba melewati House of Raminten terus sampai di jalan Sudirman.
Menurut informasi, teman-teman kantor berkumpul di Bakesbanglinmas, tapi sesampainya di sana ternyata sudah sangat sepi. Dan kelihatannya kami datang terlambat. Dan benar saja ternyata acara sudah dimulai. Kami pun langsung masuk ke jalan Mangkubumi dan tanpa sengaja bertemu koordinator (mas Dhoby) dan mas Wachid, dan melaporkan kehadiran kami *halah*. Kami segera ke depan panggung di dekat PLN. Dan sudah banyak peserta fun bike yang sudah sampai di garis finish setelah menempuh rute Tugu ke barat – Jati Kencana ke kiri – Wirobrajan ke kiri – PKU ke kiri – Sarkem ke kanan dan nyeberang rel KA Stasiun Tugu ke jalan Mangkubumi.
Sambil menunggu teman yang belum kembali, kami duduk-duduk dan bertemu beberapa teman lainnya yang ternyata juga mengikuti acara ini. Akhirnya aku dan Riri ketemu rombongan kami, Dhoni, Ira, Etty dan mas Arfi (yang kemudian segera pergi). Kemudian kami berlima memutuskan untuk membeli soto di utara dekat tugu setelah sempat berfoto di depan spanduk car free day bersama Arum, Evy dan Indah yang sudah menyusul.
Setelah soto habis, kami pun berpisah untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tapi... perjalanan pulang kali ini masih cukup panjang saudara. Dhoni yang sedari tadi nampaknya tergoda melihat sepeda bagus pak mukti yang kupakai, ditambah, ban sepeda miliknya yang tidak proper dengan berat badannya *haha* mengajak bertukar sepeda dan ikut mengembalikannya ke rumah pak mukti.
Dari tugu, aku, Riri dan Dhoni menuju ke selatan, melewati panggung hiburan di depan PLN yang sedang mengadakan pembagian doorprize, terus berhenti sesaat di tepian rel di stasiun tugu menantikan kereta Prameks yang lewat ke arah barat. Kemudian sampailah di jalan Malioboro yang mulai macet. Kami melintasi jalur tengah, bukan jalur lambat yang di sebelah barat. Lurus ... dan Riri request muter di alun-alun utara. Yuk... Kemudian ke timur, masuk ke jalan di sebelah selatan (calon) Gondomanan Square, dan melewati jalanan kampung hingga tiba di jembatan kali Code yang sempit, trus nanjak sebentar hingga ketemu jalan Tamansiswa. Ke kiri dan masuk ke timur lagi melewati jalanan kampung yang ternyata sedikit menurun, sehingga kami tidak perlu mengayuh sepeda kami. Terus, sampailah kami di kali Mambu (yang sebenarnya udah ganti nama, tapi saya lupa apa namanya). Apakah kemudian kami sudah sampai? Belum... kami menuju jalan Kusumanegara membeli Special Pudding. Setelahnya baru kami menuju rumah bapak Mukti untuk mengembalikan sepedanya sekitar jam setengah duabelas.
Pfiuh... hari yang menyenangkan bukan? Special thanks untuk pak Mukti atas pinjaman gratis sepedanya. Riri untuk tebengannya Sentolo-Jogja pp, dan Dhoni untuk blusukan-nya. Kapan lagi?
Tuesday, February 15, 2011
It’s So Cool
Sesaat setelah menerima undangan. Kami mengira-ira berapa SHU yang akan kami terima nanti, kemudian saling menanyakan bingkisan kejutan apa yang paling menarik hati kami. Ketika Bu Ony memilih mesin cuci karena mesin cuci di rumahnya yang sudah mulai keropos, maka saya teringat kulkas ibu di rumah yang terlihat cukup tua, dan mengatakan kalau saya mau kulkasnya saja.
Hari-H. Tampak bingkisan yang berjajar rapi di panggung menunggu saat dibagikan kepada anggota. Aku duduk di barisan kiri bersama Pak Roso, Pak Parlan, Bu Nia, dan Mba Jum.
“ Mau yang mana, mba?”, tanya Bu Nia
“ Saya mau kulkasnya aja, Bu!”, jawabku
“ Mana? Ngga ada kulkas kok?”, kata bu Nia lagi
“ Itu yang di bawah helm.”, jawabku
“ Bukan. Itu penyimpan beras yang 25 kg.”, kata bu Nia
“ Oo? Bukan kulkas, ya?”, kataku
Dan waktu berlalu, laporan pengurus, pengawas, dan tanggapan anggota telah selesai dilaksanakan, tibalah acara pembagian bingkisan. Dan ketika giliran si kulkas untuk meninggalkan panggung,,,
“ Mba, kok aku deg-degan ya?”, kataku yang tiba-tiba merasakan debaran di dada.
“ Kok ndadak deg-degan barang ngopo, je?", kata mba Jum
“ MCne nyebut kulkas kok dadi mba Anin sing deg-degan, lho?”, kata Bu Nia sambil menyentuh dadaku.
“ Dan yang berhak membawa pulang kulkas siang hari ini adalah anggota dengan nomor 1..1..4..", kata MC membacakan nomor yang mendekati nomor keanggotaanku, dan ...
" … 2… Anin Dyaningsih…"
“Hah… tenanan? Aku yang dapat? Alhamdulillah…. Yayy!!”, kataku sambil terkejut dan tak percaya
Yes, all… si peti sejuk itu jatuh ke tanganku. Dream comes true. Aku belajar satu hal, apa yang kita ucapkan (harapkan) pasti didengarkan olehNya, namun, mana yang akan dikabulkan terlebih dahulu itu adalah kuasaNya. ^_^
Aku adalah orang biasa yang sangat beruntung dan sedang belajar untuk mensyukurinya. Dan untuk keberuntungan yang diciptakan-Nya untukku hari ini, biarlah mengingatkan aku bahwa aku harus terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillahirabbil’alamin.
PS.:
(Most of all, keberuntungan terbesarku adalah karena aku dikelilingi orang-orang yang peduli dan baik hati. Ketika aku masih merasa belum percaya kalau ini adalah nyata, mereka tanpa ragu membantu mengangkatkan bingkisanku, memberi masukan dan saran agar si lemari es bisa sampai di rumah barunya dengan beres. Special Thanks to: Mba Jum, Pak Roso, Pak Parlan, Mba Kus, dan Bu Kap…. and of course…. Pelita…)
Sunday, June 27, 2010
KERIPUT
I: Mba Anin, mba tu umurnya berapa to?
A: Ada deh...
I: Halah... Berapa to mba?
A: Coba ditebak, berapa?
I: Mmm, duapuluh berapa mba?
A: Delapan belas... ;)
BO: Mba Anin tu umurnya baru tujuhbelas...
I: Nggak mungkin!!!! Wong wajahnya udah keriput...
A: Hahaha... Gubrakk!!
Wednesday, April 22, 2009
Kerjaan Seru Jelang Pemilu
Senin, 16 Maret 2009 pada 20.00 WIB
Kring…! Kring …! Telepon rumah berdering …
Rieznut : Mba An telepon!! Oeli…
Batinku : Tumben Oeli mencariku ada apa ya?
Aku : Hallo, Assalamu’alaikum…
Oeli : Mba An, sido melu kerja ora?
Aku : Kerja? Ngapa?
Oeli : Neng KPU Bantul,melipat surat suara, nek arep melu sesuk ngumpul jam 07.00 neng omahku, nggowo KTP…
Pikirku : Ikut ngga ikut ngga Ikut ngga
Aku : Yo wis, insyaallah nek melu aku neng nggonmu jam 7.00,ya?
Oeli itu best friendnya Rieznut (adikku), udah kayak adik ketiga (kembarane Rieznut). Bapaknya Oeli kerja di KPUD Bantul, trus mencari ‘tenaga’ untuk melipat surat suara. Berhubung lagi nganggur tenaga (dan dompetnya... haha) akhirnya aku terima ajakan Oeli.
Selasa, 17 Maret 2009
Aku datang pagi-pagi jam 7.00, ke rumah pak Dadik (Oeli’s Dad) dianter Rieznut. Ketemu ma Ibu dan Bapak. Berhubung yang laen ada yang belum datang jadi nunggu dulu ... Setelah semua ngumpul… Eits! Ternyata rombongannya banyak juga, yang putri hanya berdua, aku dan mba Budi. Yang lainnya cowok semua. Karena motorku dipake Ima (adikku) hari ini aku nebeng Ardi (kakaknya Oeli), soalnya diantara banyak orang yang ikut, yang aku kenal cukup baik ya Cuma Ardi. LAinnya aku ngga kenal, sebagian tahu namanya, sebagian lain hapal wajahnya, dan sebagian lain baru ketemu hari ini. Hehe… ketahuan banget nih kupernya…. Barang bawaannya ternyata banyak sekali. Ada tikar, botol bekas minuman suplemen (untuk menggilas lipatan surat suara agar rapi), trus meja kecil atau papan kayu.
Lokasi pelipatan surat suara di kantor DPU Bantul. Sampai di sana ternyata udah banyak orang dari kelompok lain. Kelompok Sentolo ada 21 orang, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Aku ikut kelompok (lupa A atau B) pokoknya kelompoknya mas Agung. Anggotanya (coba kuingat, ya?) aku, Pras, Tyo (temennya Rieznut), p'Buyung, Andhika, m'Rinto, m'Een, m'Parno, dan Kinthut (ga tahu nama aslinya, tapi dipanggilnya gitu). Di hari kedua kelompokku bertambah Niken (kakaknya Oeli adiknya Ardi). Sebagian besar sudah pernah ikut di pelipatan tahap pertama. Jadi kelihatannya udah pengalaman (walah!!).
Berhubung aku masih baru (hehe…) makanya pas pengarahan aku sangat memperhatikan petunjuknya. Tugas kami adalah melipat surat suara untuk DPRD Provinsi, dimana ada caleg salahsatu partai yang belum tercetak, sehingga pekerjaan kami tak hanya sekedar melipat tetapi juga menempel stiker nama caleg tersebut. Dan tarifnya…. Jika dulu hanya melipat saja Rp75,00 per lembarnya, maka sekarang menjadi Rp 125,00/lembar. Jadi pertama2 buka surat suara, kemudian periksa apakah ada kerusakan pada surat suara seperti sobek, lecek, bercak2 atau coretan yang mengganggu keabsahan atau menyebabkan pecahnya suara. Jika sudah lolos pengecekan, kemudian tempelkan stiker caleg tersebut, baru kemudian dilipat serapi mungkin agar bisa mudah masuk ke kotak suara.
Pagi hari … Masing2 kelompok mengambil 5 dus surat suara (500 lembar/dus), dan setelah selesai kemudian surat suara yang telah terlipat dikumpulkan kepada pengawas, baru kemudian boleh mengambil kembali dengan mempertimbangkan jumlah dus dan waktu yang tersisa. Pekerjaan ini dimulai dari jam 08.00-16.00. Kelompok kami sehari rata-rata ,menyelesaikan 11 dos (5500 lembar).
Rabu – Sabtu & Senin, 17 – 20 & 22 Maret 2009
Ya pekerjaannya begitu seterusnya berangkat jam 7.30 , menyortir, menempel, melipat sampai jam 16.00 (kadang lewat kalau belum selesai). Pegel banget. Hari pertama, sepulang dari sana tangan rasanya pegel, dan setelah ditempeli koyo rasanya baru mendingan.
Aku sempat sms bulikku
“Mba Lin, sudah 2 hari ini aku glidhig (kerja buruh-pen) melipat surat suara di KPU Bantul … Ternyata, lebih enak bekerja dengan otak daripada dengan otot. Hehe …”
Trus dibalas gini ma bulikku
“Ha ha ha ha … aku jg ngguyu, mba oenink glidhig nglempit2 kertas ha ha ha selamat, dinikmati aja, itung2 merasakan susahnya orang lain cari uang.”
Dan berapakali aku telah diberi kesempatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang beruntung, namun rasa syukurku ternyata masih saja sangat kurang.
Wednesday, December 24, 2008
Old & New Telepon Genggam-ku

Siemens C45, teman saat aku hampir mengerjakan skripsi. Dan berakhir di counter hape karena error ... "please insert SIM Card"

Nokia 1108, teman saat aku merantau di Kebumen. Telah berpindah ke tangan Icha

Motorola W270, temanku saat hari-hari dipenuhi dengan lembur, lembur, dan lembur. Hilang (hiks) karena teledor naruh pas ngurus surat keterangan sehat di RSUD Wates

Nokia 2300, teman saat menunggu pengumuman untuk pindah di tempat yang baru. Berpindah ke tangan Rieznut

Nokia 3230. Telah dijual karena joystick-nya 'kumat' dan untuk mencari pengganti Corby-nya Riez yang disukai sosok yang sampai sekarang masih misterius ...

Nokia 2700 classic. Saat menanti ...
Samsung GT-S5670,setiap manusia tugasnya berencana, berusaha, dan berdoa... tapi ada yang lebih tahu kapan saat yang paling tepat untuk mengabulkannya ...
Tuesday, July 29, 2008
Betty La Fea
Adalah judul sebuah telenovela Columbia yang tayang di teve beberapa tahun yang lalu.Berkisah tentang seorang perempuan buruk rupa (setidaknya itu yang coba digambarkan dengan kacamata besar dan gigi berkawat), kuno-ngga fashionable (yang tertangkap dari gaya rambut dan pakaiannya). Tapi ... seingatku Betty adalah seorang yang cerdas dan profesional.
Kenapa tiba-tiba cerita telenovela? Beberapa hari yang lalu, aku dan adik-adikku ngobrol seru, lupa gimana kronologinya, perbincangan kami sampai pada sebuah pernyataan bahwa aku lah Betty La Fea. Alasan utama penobatanku menjadi Betty (menurut mereka) adalah karena gaya berpakaianku (yang terlalu amat sangat jarang sekali matching, dan out of date). Bedanya mungkin aku ngga secerdas Betty. Hwahaha ... aku ikut tertawa (getir) bersama mereka. Karena ... pernyataan mereka yang banyak benarnya ... hehe.
Thursday, February 14, 2008
... GEDUBRAKK!?! ...
Saat itu aku masih SMP. Baru belajar naik motor mengelilingi rumah simbahku. Saking semangatnya nge-gas, sampai di sisi barat ... gedubrak!!! ... aku menabrak gerobak rumput pakan sapi di depan kandang.
TKP II: DEPAN GEREJA KOTABARU
Sepulang sekolah (SMA) aku dan temanku, berencana langsung bezuk adik kelas yang opname di RS. Bethesda karena kecelakaan.Sebelumnya kami mo mampir ke Mirota Bakery Kotabaru dulu. Tepat di depan gereja Kotabaru, aku membelokkan motorku ke kiri (tanpa menyalakan lampu sign/riting). Ternyata eh ternyata dari belakang ada motor yang mau menyalipku dari kiri, dan otomatis... gedubrak!!!... kami terjatuh dari motor kami masing-masing. Alhamdulillah ngga parah. Mbaknya dan motornya ngga papa, temanku lecet dan memar dan shock (sampai sekarang ngga cerita ke ibu), aku lecet2, baju dan rokku sedikit sobek, dan kacamata-ku miring.
TKP III: BUNDERAN UGM
Sore itu sepulang kuliah aku lewat bunderan dari arah timur. Seingatku saat itu lalulintas sepi. Hanya ada aku, dan satu motor yang nylonong begitu saja dari arah selatan dan mengagetkanku. Dan sama sekali ngga nyenggol ataupun disenggol, tapi mungkin karena gugup melihat motor yang tadi, tiba-tiba saja ... gedubrak!!... aku terjatuh begitu saja di atas aspal. Alhamdulillah aku ngga ada yang luka, tapi ... hiks! Kenshin (motorku) ngga bisa dioper giginya. Berhubung saat itu dompetku hanya berisi uang senilai dua liter bensin saat itu. Jadi ngga berani mampir bengkel. So, Yogya Sentolo kulalui bersama Kenshin dgn posisi gear yang tidak berubah (posisi 2). Setelah sampai rumah dan ambil uang, aku pun membawanya ke bengkel AHASS dan ... kembali seperti semula.
TKP IV: JALAN DEPAN RUMAH
Ceritanya mo jemput adikku yang saat itu masih SMP. Depan rumahku adalah jalan kabupaten yang berupa tanjakan yang tidak terlalu tinggi memang, tapi cukup sering terjadi kecelakaan.Sebelum nyebrang, aku berhenti dulu. Tengok kiri... sudah kosong, tengok kanan... ups!! tertutup mobil katana yang parkir di depan rumah. Kucoba mengintip diantara kaca mobil, sepertinya jalan sudah sepi, pelan ku gas motorku mencoba menyeberang. Tapi ... gedubrakk!!!... ada sepeda dari arah kanan yang melaju kencang menuruni tanjakan. Ngga ada luka parah, aku ngga papa malah, hanya spion motorku pecah, si ibu lecet dan roda depan sepedanya bengkok tertabrak ban motorku. Untung bisa diselesaikan kekeluargaan, si ibu minta sepeda diperbaiki dan minta biaya untuk pijat. Dan ... deal.
TKP V: PERTIGAAN SENTOLO
Pertigaan sudah di depan mata. Tapi... huwa....!! Antrian mobil puanjang sekali. Kapan bisa nyebrangnya kalo kayak gini? Akhirnya kuputuskan untuk menyusup di depan sebuah mobil yang berhenti menutupi jalan ke arah barat. Namun... gedubrak!!.. aku dan motorku terjatuh (lagi). Rupanya dari arah selatan ada motor yang dilajukan dengan santai oleh seorang bapak berseragam tentara. Alhamdulillah ... (lagi-lagi)ngga ada luka...
Bapak Tentara:
"Hati-hati dong dik! Sembarangan nyebrang. Sudah tahu lalulintas lagi rame, masih nekat juga. Sudah Sana!! Hati-hati!! Jangan diulangi lagi!!"
Aku (speccless):
"Maaf, pak! Terimakasih... "
TKP VI: KADIPIRO
Aku, adik, dan adikku mau ke Taman Pintar, mumpung libur. Sebelum berangkat ngga thu kenapa aku sempat ngomel2 ngga jelas sama adikku. Tapi semua udah oke setelah kita berangkat.Seingatku aku bawa motor pelan saja, ngga sampai 60 km/jam malah.
Sampai di daerah Kadipiro, tiba2 pick up di depanku ngerem mendadak dan aku pun segera ikut ngerem tapi ternyata remku ngga pakem, dan... gedubrakk!!... aku menabrak pantat pick-up di depanku itu. Kedua adikku ngga papa. Kaki kiriku sempat ngilu karena tertindih badan motor.
Sopir pick-up :
"... Salahe mbak'e! ... naek motornya kenceng ..."
Aku :
"..." (masih syok)
Warga :
" Tenang mas, selesaikan saja baik-baik. Mas'e benar, mba'e juga"
Sopir pick up :
" Yo wis, kan sama-sama rusak nih, mba? Diperbaiki sendiri-sendiri saja,ya?"
Aku :
"..." (masih syok)
Adikku :
"?!? Yo wis mas, ngga papa"
***
Pak Becak :
" Wo.. tadi harusnya minta KTPnya mbak, jadi kalo ada apa-apa, mereka bisa dihubungi lagi."
Aku & Adikku :
"?!?!" (bukannya kami yang nabrak, pak?)
^^ Berbagai kemungkinan penyebab: ^^
1.Kecepatanku terlalu tinggi (padahal ngga nyampe 60)
2.Jarak motorkuke pick-up terlalu dekat
3.Rem ngga pakem !! (besok lagi sebelum berangkat cek dulu)
4.Kurang hati-hati dan konsentrasi
5. Lupa berdoa (nah,lho!)
Wednesday, January 30, 2008
Di Taman Pintar
Sabtu, 19 Januari 2008, aku dan keempat adikku (Ima, Risna, dan Icha) sore-sore maen ke Taman Pintar di Yogya. Lama banget kami ngga keluar bareng-bareng gini. Sore itu Taman Pintar cukup rame, tapi sayang sekali gedung oval sudah tutup. Jadi kami cuma melihat-lihat permainan di luar saja dan menyalurkan hasrat berfoto adik-adikku.
Monday, March 26, 2007
WANITA-WANITA PERKASA
Prolog
Message dari Ana :
Ikut acara Telkomsel bagi2 hadiah, yuk! GRATIS, dapat kaos, dapat makan, Minggu tgl10, kumpul di counter Nano j 05.30
Membaca tulisan GRATIS, akhirnya ku iyakan ajakan Anna.
***
Bagian 1
Rumahku, jam 05.00
Semalaman badanku gatal-gatal alergi (biduren), jadi untuk mengurangi rasa gatal, aku mandi air panas. Enak banget. Eits! Tahu-tahu udah jam 05.30, padahal harusnya dah ke tempat Nano.
Bagian 2
Halaman Rumahku, 06.00
Karena kelamaan nunggu di counter Nano, akhirnya Ana, Badawi, Sudiran, Maryono, dan Jalidu jemput aku di rumah. Lihat kostumku! Pasti kelihatan sangat aneh. Kaos muslimah Begaya lengan panjang warna biru muda, celana training Reebok warna hitam, jilbab hitam, dan sepatu kets Eagle-nya Risna yang dah ngga pernah dipake karena (nyaris) jebol . Kami pun berangkat, dan aku bonceng Ana.
Bagian 3
Halaman Parkir Mandala Krida, 07.00 – 13.00
- senam -
Ternyata udah mulai senam massal-nya. Ada dua instruktur di atas panggung. Mas dan mbak, yang memandu gerakan senam mengikuti irama pop, rock, r&b, jazz, dan dangdut Kami nunggu temennya Ana datang dulu, Ria dan Uut. Setelah mereka datang, dan kaos merah dibagi, kami pun ikut bergabung di belakang barisan orang-orang yang asyik senam. Meskipun cuma ikut berdiri aja. Hehe… Malahan banyak mas-mas yang bukannya ikut senam malah asyik motret dan nge-rekam mba instruktur-yang-kostumnya-tahu-sendiri-lah (dasar!).
- about the event -
Acara ini berjudul Olimpiade Outlet Grapari Telkomsel Yogyakarta. Acara apaan tuh? Jadi ini adalah pertandingan ‘fun games’ antar outlet resmi Telkomsel Yogyakarta. Dari lomba ini, akan dicari juara 1-3 untuk setiap perlombaan dan akan dicari satu tim yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak dan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 2.500.000,-. Nah, kami ber-13 dari RISKA Cell (aku, Nano, Anna, Ria, Uut, Badawi, Sudiran, Maryono, Gito, Nyoto, Jalidu, pak Ngatiman, dan Yuli) menjadi anggota tim-nya outlet Trackomindo (Jl. Gejayan, Yk) dengan nomor dada 10. Dari Trackomindo ada banyak juga sih, tapi aku cuma tahu tiga nama, mba Yanti, mba Dwi, dan mas Adi.
- the games -

1. Lari balon 5. Memasukkan pulpen ke botol 9. Lari karung bersama
2. Tarik tambang putri 6. Ularnagapanjangnya 10. Estafet gelang
3. Tarik tambang putra 7. Flying fox berhadiah 11. Target operasi
4. Bakiak tandem 8. Susun kaleng di kandang angsa 12. Spiderweb
Aku ikut di dua nomor pertandingan pertama, lari balon dan tarik tambang. Dan dua-duanya jadi juara pertama, lho! Pas lari balon, rasanya kayak orang kurang kerjaan banget, membawa lari balon berlima (aku, Ana, Ria, Uut, mba Dwi) di bawah terik sang surya. Sementara waktu tarik tambang, hmm… kami berlima dijuluki wanita perkasa. Menyingkirkan semua lawan yang tangguh. Padahal, paginya aku ngga sarapan lho! Tapi teman-teman (Ana, Uut, mba Yanti, dan mba Dwi) memang perkasa. Haha… Teman-teman ngga nyangka aku bisa dan mau ikut tarik tambang, coz selama ini mereka mungkin mengira selain aku pendiam juga lemah (lembut).
- the food and beverages -
Ini adalah bagian favoritku (hehe…). Minumannya, es dawet dan selalu-ada-aqua. Makanannya banyak banget macamnya, bakso, siomay, sate, soto, nasi dan kawan-kawannya. Tapi ternyata pas kami bermain tariktambang, sebagian besar peserta sudah diperbolehkan makan. Alhasil, saat aku, Uut, dan Ria mo makan, yang ada tinggal titik-titik penghabisan. Hiks. Bersyukurlah, yang penting … masih kebagian, ya kan?
- live performance -
Selain bertanding, kita juga ‘dihibur’ dengan berbagai penampilan. Meskipun aku lebih memilih ‘menghibur diri’ dengan berteduh di ‘gardu’ pojok barat daya lapangan. Coz pertama, puanas banget, kedua, ngga tega melihat mba-mba ‘cantik seksi’ sexy dancer Black Forest nge-dance di panggung. Terus ada capoeira, beladiri asal latin yang menarik. Selanjutnya, T&T Band mulai manggung dan menyanyikan lagu-lagu yang lagi hits saat itu. Dan aku masih tetap memilih berteduh dan melihat dari jauh. Yang terakhir, ada band gelo’ Sri Redjeki. Kalo cuma buat lucu-lucuan, lucu-lucu aja sih. Tapi, aku paling males dan ngga suka ada pria berdandan wanita, dan bertingkah aneh-aneh. Kesannya -menurut bahasa mba yang duduk di sampingku- melecehkan wanita.
***
Epilog

Setelah semua cabang lomba selesai dipertandingkan, tibalah saat yang paling dinantikan. Pembagian hadiah untuk masing-masing lomba, dan pengumuman juara umumnya. Hampir semua anggota tim Trackomindo mendapatkan hadiah karena menang di beberapa pertandingan. Hadiahnya adalah sebuah piala kecil, dan souvenir untuk masing-masing peserta lomba-yang-dimenangkan. Selanjutnya, saat diumumkan, ternyata juara umumnya, adalah tim kami. Wow! Rasanya senang sekali (hehe…). Sebagai juara umum berhak mendapatkan tropi dan uang tunai Rp 2.500.000,-
Akhirnya aku pulang dengan membawa 1 kaos merah, 1 tas selempang kecil warna merah, 1 tas punggung, 2 pulpen, dan uang tunai yang telah dibagi rata (haha…). Lumayan kan?… Overall, acaranya cukup seru …
- the end -
HUT KEMERDEKAAN RI KE-61
Sebenarnya aku ngga begitu mengerti apa hubungan antara perayaan 17-an dengan nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air (ada yang tahu?). Mungkin… dengan berpartisipasi di acara agustusan, setidaknya kita bisa (sedikiii..t) teringat perjuangan para pahlawan di puluhan tahun yang lalu. Atau paling tidak, ngga dirasani teman karena ngga mau ikutan. Hehe …
WARNA-WARNI BANGSAKU
Balai Desa Kaliagung (Jumat, 11 Agustus 2006, jam 14.00)
Tahun ini, ibu-ibu PKK desa mengadakan lomba untuk remaja putri, diantaranya adalah MERANGKAI DAUN, dan Bu Dukuh selaku koordinator dusun, menunjukku untuk mewakili dusun Banyunganti Kidul di lomba ini. Padahal, aku sama sekali belum pernah yang namanya merangkai daun. Tapi, the show must go on.
Pagi hari, dengan segala kebaikan hati, Bu Narni keliling ke rumah warga untuk mencari tambahan koleksi daun untuk dirangkai nanti siang (Makasih ya, Bu?).
Jadilah siang itu aku ke Balai Desa dengan membawa perlengkapan:
1. Cobek (berfungsi sebagai vas)
2. Debog pisang dan lidi (untuk menancapkan daun untuk dibentuk rangkaian)
3. Pisau dan gunting, dan
4. Daun dengan berbagai jenis dan warna
Setelah selesai daftar ulang di Bu Pur (koordinator lomba ini), akhirnya pertandingan pun dimulai. Waktunya 30 menit. Satu, dua, tiga, … mulai….
Dengan sense of art yang sangat mini, dengan penuh percaya diri, potong sana potong sini, tancap sana tancap sini, akhirnya dedaunan yang kubawa telah terangkai dengan manis dan karena waktu yang diberikan sudah habis, aku pun meringis Rangkaian daunku kuberi judul “Warna-Warni Bangsaku” (ngga nyambung banget pokoknya).
Dan tahukah saudara-saudara, setelah hasil penjurian diumumkan, tak disangka tak diduga rangkaian daunku memperoleh #1 (masa sih? … alhamdulillah). Hadiahnya apa? Ada deh.
Sebagai penutup, Bu Pur menjelaskan beberapa tips merangkai daun. Dua diantaranya yang kuingat adalah:
1. Pilih daun yang kaku
Tujuannya adalah agar rangkaian tahan lama, karena daun dengan jenis ini tidak mudah layu.
2. Tentukan center of interest dari rangkaian
Yaitu bagian yang paling ditonjolkan untuk ditampilkan dalam rangkaian ini. Caranya adalah dengan penyusunan permainan warna maupun jenis daun, serta ukuran besar kecil daun dan sebagainya.
MERDEKA!!
Lapangan Sanun, Sentolo City (Kamis, 17 Agustus 2006)
Zaman sekolah dulu, hal yang paling membuat males dan ngga bersemangat adalah upacara bendera. Bayangkan aja, berdiri puluhan menit di bawah terik mentari yang menggigit kulit. Hhh…
Tapi, setelah lama banget ngga upacara, kok jadi ada keinginan merasakannya lagi, ya? Hehe …
Kebetulan banget, tahun 2006 ini Karang Taruna dusunku “TUNAS REMAJA” dapat undangan untuk mengirimkan 5 orang wakil untuk mengikuti upacara detik-detik proklamasi kecamatan. Jadilah hari itu kami (aku, Kurni, Agus, Wanto, dan Egon) berangkat ke lapangan upacara dengan semangat empat lima .
Nyampe di sana, perasaan kami campur aduk… antara nyesel, seneng, malu, dan lucu. Hehe. Bayangin aja … di lapangan isinya anak-anak berseragam sekolah,bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam PNS, petugas kesehatan, perangkat desa, polisi, dan tentara. Kami berlima juga pake seragam batik, sih! Tapi rasanya gimanaa… gitu.
Kami berbaris pada grup organisasi pemuda dan mahasiswa KKN. Kalo diingat-ingat, rasanya malu dan lucu, tapi ngga nyesel, kok!
Oya, adikku Risna jadi komandan pasukan pengibar bendera kecamatan. Suaranya lumayan juga. Jadi ikut bangga nih! Biarpun cuma tingkat kecamatan. Barisnya cukup bagus menurut saya-yang-awam-soal-baris-berbaris. Sayangnya, pas pengibaran bendera ada angin yang cukup kenceng, so, bendera yang dikibarkan melilit talinya. Hasilnya, bendera ngga berkibar dengan gagah.. Kata Risna, kemaren pas latihan juga mengalami kejadian yang sama, dan panitia dah coba membuat antisipasi, meskipun sepertinya samasekelai ngga berhasil. But, it’s OK … akhirnya aku jadi ikut upacara dan yang paling penting ngga pingsan. MERDEKA!!
***
Nine Years Later ...
Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...
-
Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yan...
-
Part 3 of 3 Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami ...
-
Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di ...



