Akhir-akhir ini sering mendengar dan membaca komentar di atas. Dan kalau ngga salah aku malah sempat juga mengeluarkan kata-kata yang sama. Hehe... Kenapa ya novelnya lebih bagus? Baru-baru ini aku baca tulisannya dua orang temanku yang pertama tentang film Ayat-Ayat Cinta dan yang kedua tentang film D.O yang ngga lebih bagus daripada novelnya. Dari kedua tulisan tersebut ada satu benang merah alasan kenapa novelnya lebih bagus (daripada filmnya) yaitu karena pembaca novel punya bagian favorit (yang sangat penting) di dalam novel yang ternyata dianggap bukan apa-apa oleh si pembuat film.
Sebenarnya sih sah-sah saja mengemukakan preferensi kita atas dua hal yang dihadapkan di depan kita. Tapi belakangan aku mikir juga, gimana kalau aku yang menjadi satu diantara dua yang dibandingkan itu, ya? Oke, kalau aku menjadi yang-dianggap-lebih-bagus tentunya aku bisa berbangga hati, tapi kalau menjadi yang-dianggap-lebih-jelek? Bisa saja aku bilang ngga apa-apa, tapi pasti saja ada rasa kecewa, gondok, dan sakit hati. Hiks... Tapi, jika kita memandangnya secara positif, hal tersebut tentunya bisa menjadi pemacu kita untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Nine Years Later ...
Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...
-
Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yan...
-
Part 3 of 3 Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami ...
-
Acara tahunan Koperasi Pelita yang selalu ditunggu oleh anggotanya selain pembagian parcel lebaran adalah Rapat Anggota Tahunan (RAT). Acara...
No comments:
Post a Comment