Friday, November 9, 2007

A Y A

26 Oktober 2007

Seorang gadis berkerudung (sebut saja Aya), terdiam seolah menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapannya. Namun sebenarnya, pikirannya melayang, jauh, tak tentu arah dan tak tahu akan berujung di mana. Berkali-kali dia menghela nafas panjang, yang sepertinya tak juga melegakan gundah di hatinya.

Sudah 3 bulan ini dia menunggu kepastian akan suatu hal yang telah dijanjikan.. Namun, ternyata dia masih harus terus menunggu dan menunggu. Hingga hari ini, ia merasakan kejenuhan yang amat sangat.

***
25 Juli 2007

Setelah beberapa hari sebelumnya Aya nekat mengutarakan ‘uneg-uneg’nya via email, hari ini dia dipanggil untuk menghadap atasannya. Meskipun merasa senang karena ternyata email-nya direspon, namun tak urung Aya panik juga memikirkan apa yang harus dikatakannya. Secara, Aya pasti grogi saat harus berbicara pada suasana formal (pada suasana non formal pun penyakit grogi-nya terbilang cukup parah).
Semalaman Aya mencoba merancang susunan kata-kata yang akan disampaikan kepada atasannya besok.

Jam 10 pagi, tibalah Aya di kantor atasannya. Tampak semua orang sedang sibuk, Aya pun menunggu sambil berusaha meredakan gemuruh di dadanya yang berdebar-debar.

Akhirnya Pak Direktur Utama menemuinya …
Pak Dir :
“Ada apa mbak Aya?”
Aya : (yang tak juga berhasil meredakan nervous-nya mulai kehilangan susunan kata-katanya semalam, dan hanya bisa berkata)
“Saya mau mengundurkan diri, Pak?”
Pak Dir :
“Kenapa? Karena masalah itu ya? Saya, kami tahu sekali, pasti ngga enak banget rasanya digantung. Kami menargetkan, bulan Agustus ini semuanya bisa selesai. Terusterang saya berharap mbak Aya masih mau bergabung bersama kami. Mungkin itu saja dari saya, dan saran saya, coba mbak Aya renungkan kembali niat mbak Aya, dan silakan nanti bicarakan dengan Bu HRD”.

Aya pun menemui Bu HRD, dan mengutarakan niatnya untuk resign. Namun, Aya terus saja nervous, dan terus saja kehilangan susunan kata-katanya semalam, hanya ada satu alasan yang diingatnya (padahal, dia merasa itu adalah alasan paling aneh yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang mau resign). Namun Bu HRD dengan sabar dan hangatnya, memaparkan kondisi sebenarnya, dan menawarkan sebuah solusi.
Bu HRD:
Wajar saja kita berpikir bahwa segala sesuatu itu seharusnya berjalan dengan ideal. Dan kalau mau fair-fairan, terusterang kondisi teman-teman di sana memang jauh sekali dari kondisi ideal, namun kami punya parameter tersendiri untuk teman-teman di sana. Salahsatunya, ya loyalitas teman-teman terhadap kami.Kalau boleh,bisa dikatakan,kantor baru ini adalah proyek trial & error. Jujur saja sampai hari ini kami masih mencari bentuk komunikasi yg efektif, untuk teman-teman di sana, mengingat jarak teman-teman di sana adalah yang terjauh. Dan kami janji pasti akan ada pendampingan untuk teman-2 di sana. (Tersenyum) Nah, setelah mendengarkan penjelasan saya yang panjang lebar, apa komentar mbak Aya?
Aya : (Benar-benar speechless, dan hanya berkata)
“ Ya sudah Bu, saya coba lagi … “
Bu HRD: (selalu dengan hangat)
"Oke, kalau begitu. Oya, setelah ini Bu Direktur 1 mau ketemu mbak Aya, jangan pulang dulu ya … ?”

Bu Direktur 1 pun tiba ….
Bu Dir : "Sebenarnya ada apa dengan mba Aya? Kenapa?"
Aya hanya bisa tersenyum karena kata-kata yang sudah disusunnya semalam sudah hilang, tak berbekas.
Bu Dir : Karena ngga paham dengan bahasa daerah sana? Atau ada sesuatu yang belum paham? Tanyakan aja, saya akan coba jelaskan, dan kalaupun saya belum mampu menjelaskan akan saya coba carikan jawabannya.
Aya pun sedikit cerita dan menanyakan beberapa hal yang sama sekali tidak ada dalam susunan kata-kata yang dirancangnya semalam. Dan berlangsunglah ‘diskusi’ yang sangat melenceng dari tujuan awal yang menjadi pilihan akhir Aya…

***
2 November 2007

Lagi-lagi, Aya sedang memandangi monitor di depannya. Dia teringat nasihat seorang kawan di kala ia berada diantara dua pilihan. Pertama, sholat istikharah. Kedua, saat kamu sudah memutuskan salahsatu diantara dua itu, bismillah, yakinilah keputusan yang telah kamu ambil, dan jangan pernah menyesali pilihan yang kamu tinggalkan. Dan Aya tidak menyesali keputusan yang telah diambilnya waktu itu.

***
31 Oktober 2007

Menunggu ternyata memang ngga mudah, dan membuat Aya kembali terjebak diantara dua pilihan . . .

***
catatan: (Kisah ini bisa jadi hanyalah fiktif belaka, kesamaan tokoh, karakter, peristiwa, dan dialog di dalamnya bisa jadi hanyalah kebetulan semata)

No comments:

Post a Comment

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...