Bagian Pertama
BUKAN KACANG YANG LUPA KULIT
Sebelum aku menemukan tempat kost di Kebumen, aku sempat 5 hari numpang di rumah teman. Dan semenjak aku nge-kost, kalau ngga dibonceng temanku itu, aku hampir tidak pernah silaturahim lagi ke sana. Mungkin, baru sekitar 3 kali aku menginap di sana lagi semenjak aku kost. Bukannya aku melupakan semua kebaikan yang pernah diberikan padaku. Tapi aku punya alasan. Dan yang (selalu) kujadikan alasan itu adalah pulang kerja sudah sore, jarak rumahnya yang lumayan jauh (untuk ditempuh dengan berjalan kaki), ngga dilewati angkutan (hehe..), dan aku ngga punya kendaraan (hehe…).
***
awal September, saat mentari menyengat ubun-ubun pengendara di jalanan
(terimakasih tak terhingga untuk keluarga Bp. H. Masdoeki dan Ibu Hj. Masinem, di Tamanwinangun)
***
Bagian Kedua
EPISODE BOCOR
Saat itu, adalah hari libur yang posisinya benar-benar salah tempat. Tanggal merah 17 Mei 2007 jatuh pada hari Kamis, yang itu berarti menyisakan hari Jumat untuk masuk kerja. Buat mudik nanggung, padahal pengen banget pulang. Enaknya ngapain,ya?
“Mba, besok kita ke Pantai Bocor aja, yuk?”, ajak mba Dewi.
Hmm… kedengarannya menarik. Soalnya aku belum pernah mengunjungi satu obyek wisata pun di Kebumen ini. Akupun langsung mengiyakan ajakan mba Dewi. Jadilah sore itu sepulang kerja aku langsung ikut mba Dewi ke rumahnya, menginap di sana dan baru pagi harinya kita pergi ke Bocor. Sekitar setengah jam naik motor dari rumah mba Dewi..
De Javu … sepertinya aku pernah melewati jalanan ke pantai ini.
Sesampainya di gerbang masuk yang ada lapangan latihan polisi. Masya Allah, ini kan pantai yang waktu itu aku kunjungi sepulang dari rumah (alm) Arya di Cilacap, sama Nova, Nana, Jalu dan Wawan. Ya Allah, ternyata begitu sempit dunia (hehe …). Bedanya pagi itu, pantai Bocor ramai pengunjung, ngga sesepi waktu itu.
Sebagian besar pengunjung tampak asyik bermain air. Namun kami memilih duduk di pasir, menikmati udara dan pemandangan pantai Bocor pagi itu, sambil sesekali mendekati air dan berlarian saat dikejar ombak. Dan setelah merasa cukup kami pun beranjak pulang, namun singgah sebentar menikmati nasi pecel dan snack di salahsatu deretan warung di tepi pantai itu.
***
Bagian Ketiga
APA ENAK SIH MBA, JADI PENDIAM?
Saturday night ini daripada jenuh dengan rutinitas di kost, aku mabit di rumah teman lagi. Ngga ada rencana apa-apa atau mau ke mana. Ya, bisa dibilang pindah tidur aja. Wong berangkatnya aja udah azan maghrib.Hehe … Payah, ya?
“Nah, kalau ngga pulang ke Yogya, mbok ya pulang ke sini aja …”, kata Ibu temenku.
Sehabis Isya’, diajak maen ke tetangga temenku. Yang pertama ke tempat akhwat mungil nan ceria, nganterin titipan jilbab. Dia bercerita banyak tentang suka duka penelitian di Dinkes yang sedang dijalaninya. Dan aku (yang pendiam, hehe…) ikut asyik mendengarkan. Ya, meskipun aku ngga terlalu terlibat aktif, paling ngga aku mendengarkan sesuatu yang baru bagiku.
Selanjutnya, ke rumah akhwat yang ngajar di esde (alias jadi bu guru). Seorang akhwat yang rame, begitu hangat, keibuan dan menyenangkan. Dia bercerita tentang anak-anak didiknya, pengaruh media terhadap perilaku anak didiknya, dan hal lainnya.
Aku yang (lagi-lagi) kurang terlibat aktif dalam perbincangan ini ditanya akhwat ini.
Akhwat : “Mba ini orangnya pendiam, ya?”
Saya : “Kelihatan, ya?”
Akhwat : “Apa enak sih mba, jadi orang pendiam?”
Saya : (hanya tersenyum)
No comments:
Post a Comment