Monday, March 26, 2007

PERGI KE BANDUNG, EUY!


2006 UNFORGETTABLE MEMORIES (Part 5)

Persiapan: Sabtu-Ahad, 9-10 Desember 2006

Via pos express, aku dan adikku Ima dapat panggilan general aptitude test PT. PLN (persero). Kemarin aku pilih ngirim lamaran ke Bandung. Dengan pertimbangan di dua kota yang lain (Surabaya dan Padang) aku sama sekali ngga punya saudara ataupun kenalan.

Tapi, eits! Ternyata tesnya tinggal 3 hari lagi, padahal aku samasekali belum bilang-bilang ma saudara or kenalan di Bandung. Dan lagi, seperti yang pernah kuceritakan aku samasekali belum pernah keluar-Yogya-dengan-kendaraan-umum-sendiri. Agak-agak horor, nih! (Hiperbola, ya? Hehe…)

Sebenarnya di Bandung ada saudara, tapi ngga begitu deket, so, aku ma Ima prefer nebeng di tempatnya mba Ita dan mas Toto, karena ngerasa lebih deket kayak saudara. Akhirnya aku sms ke Gian (anaknya mba Ita) pake nomor Ima.

My message:
Gik, tahu gedung A. Yani Secapa AD di jl. Panorama 152, ga? Deket ga dari t4mu?Transportnya enak ga?

Message dari Gian:
Tahu, kenapa? Cow-nya anak secapa ya? Deket kok dari rumah. 5 menit kalo dibonceng gian sambil merem.

My message:
Gini lho ... tes PLN besok selasa tgl 12des... boleh ga numpang di tempatmu?

Message dari Gian:
Ga boleh! becanda dink. Boleh ... naik KA turun Kiara Condong ntar Gian jemput

Sekarang tinggal minta ijin ma mba Ita and mas Toto. Rencananya malam ini mo telepon. Tapi, berhubung ada acara sampai malem gitu, aku coba sms aja (ngga sopan ya?). Ngga apa-apa ya? Kan udah jamannya sms. Hehe…

My message:
Mba Ita/mas Toto...tes PLN...boleh ngga qta ngrepotin, numpang di tempat mba Ita?

Message dari Mba Ita:
Boleh banget! ...

Aku senee….ng banget baca sms balasan dari mba Ita. Terasa seperti disiram air es. Jadilah, aku dan Ima dengan izin bapak dan ibu, serta kebaikan hati mba Ita, mas Toto, dan Gian pergi ke Bandung. Rencananya berangkat Senin siang.

Ahadnya mulai siap-siap. Mengingat aku ngga pernah pergi-pergi, kebayang ngga bingungnya packing? Mo bawa apa aja, sebanyak apa dll. Sebenarnya memalukan, ya? Sementara temanku SMA banyak yang kuliah di ITB Bandung, yang tentunya Yogya-Bandung pulang pergi udah jadi hal yang sangat biasa. Sedangkan aku yang udah setua ini baru mau memulai mencoba perjalanan ini. But, it’s OK, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Perjalanan ke Bandung: Senin, 11 Desember 2006

- Stasiun Wates, ± 11. 30 -
Jam 12.30 kereta ekonomi “PASUNDAN” jurusan Surabaya-Kiara Condong, membawa aku dan Ima meninggalkan stasiun Wates. (Ssst… rahasia, ya? Ini adalah kali pertama aku naik KA, dan kali pertama aku meninggalkan Yogya dengan kendaraan umum. Hehe…). Setelah 10 menit berdiri dan mencari, akhirnya kami menemukan tempat duduk di gerbong belakang. Teman duduknya … Seorang ibu muda dan anaknya, turun pertama kali di stasiun ngga tahu. Hehe … Trus bapak-bapak asli Tasikmalaya yang baru dari Surabaya, serta bapak-bapak sopir bus Jakarta-Madiun yang juga turun di stasiun Tasikmalaya.

Pertama kali masuk KA, parno, bawaannya suuzhon melulu. Soalnya terlalu banyak komentar negatif yang masuk di kepala. KA ekonomi banyak copet lah, jambret lah dllnya. Tapi semua berjalan baik-baik saja.

Ima yang kemaren ke Irian Jaya naik Batavia Air yang dingin, dan melihat pramugari mondar-mandir. Sekarang naik KA ekonomi yang panas, dan melihat pedagang asongan yang mondar-mandir sambil kipas-kipas. Hehe…

Semakin lama, gerbong semakin sepi. Tinggal beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Dua orang bapak dari tadi dengan serius diskusi tentang poligami-nya Aa Gym, yang satu pro, yang satu kontra, tapi tenang saja, ngga ada adu senjata. Hehe…

- Stasiun Kiara Condong, ± 21.15 -
Akhirnya, KA Pasundan nyampe juga di stasiun terakhir. Hehe … kata lik Wal stasiunnya di kiri, belakangan kami tahu ternyata salah, stasiunnya di sebelah kanan. Mana ya si Gian? Telepon dulu ah …

“ Nha! Pasti mo telpon Gian, ya?”, tebak Gian dari belakang. Hhh… leganya…

Gian ma sepupunya, Dian. Ima bonceng Gian, aku bonceng Dian. Padahal aku paling ngga ahli kalo disuruh memulai percakapan dengan orang baru. Tapi ngga sopan banget kali ya? kalau diam saja.Padahal udah baik hati, malam-malam mau nolongin jemput di stasiun, padahal belum kenal, kok ngga diajak bicara. Kira-kira mo omong apa ya? Coba deh baca dialog ini, kamu pasti akan yakin kalo aku memang orang yang ngga pandai berkata-kata.

Aku : “Sorry ya jadi ngerepotin?!”
Dian : “Ngga papa, sudah biasa.”
Aku : “Masih kuliah?”
Dian : “Hehe… masih SMA”
Aku : “Kelas berapa?”
Dian : “Tiga..”
Aku : “Oh, sama sama Ajik, ya?
Dian : (ngomong sama Gian dulu) “Iya, sama-sama Ajik”

Trus, aku asyik melihat pemandangan malam di perjalanan ke Ujungberung, rumah Gian.

Dian : “Mau tes apaan gitu?”
Aku : “PLN untuk penempatan di luar Jawa, cuman tesnya di Bandung”
Dian : “Oh, gitu!”

Sampai di pasar Ujungberung, jalannya terus menanjak, dan subhanallah… aku seneng banget lihat ada bintang di langit, dan kelip lampu di rumah penduduk, nun di bawah sana. Akhirnya sampai juga di rumah mungil mba Ita. Brr.. Dingiin …
Lama banget ngga jumpa mba Ita, kangen… masih kelihatan seperti dulu. Ngga banyak berubah. Tetep ramah. Mas Toto belum pulang. Baru esok harinya ketemu …

Bandung: Selasa - Jumat, 12 – 15 Desember 2006

Satu - Saatnya Test
Aku berangkat ke Secapa AD Selasa tgl 12 dianter pake motor ma Gian. Jam 10.30 berangkat dari rumah mba Ita. Ternyata lumayan jauh. Tapi lumayan, bisa sambil lihat-lihat pemandangan dan bangunan-bangunan di kanan kiri jalan. Meskipun jalanan macet, si Gian oke naik motornya. Ngebut dan tlusap-tlusup di antara kendaraan-kendaraan roda empat. Di Bandung ini, kanan kiri jalan banyak sekali pohon-pohon besar dan rindang. Jadi nyaman banget. Mungkin itu sebabnya, pengendara motor di Bandung yang dingin ngga perlu pake ‘masker’ seperti di Yogya yang panas.

Nyampe Secapa jam 11 lebih. Dah banyak orang tapi tesnya baru mulai jam 13.00. Fiuh! Banyak jawaban yang ngga terisi. Ngga papa yang penting dah berusaha. Ya kan? Pengumumannya besok jam 14.00. Di sini ketemu Novi-nya Nana (teman KKN), Adit Kopma, Intan-nya Alkanz.

Ima tes hari berikutnya, dianter Gian (lagi!). Katanya ketemu Antok ma dik Pur (anak Sentolo City). Terus ngelihatin hasil tesku. Dan ternyata … belum beruntung saudara-saudara! Alhamdulillah… mungkin Allah punya rencana lain yang lebih manis untukku. Amin. Hasil tes Ima juga sama. Belum berhasil. Ngga papa, paling ngga kita udah nyampe kota Bandung kan, Im? Hehehe…

Dua - Muter2 Kota Bandung
Saat baca bagian ini, jangan ketawa ya? Kalau aku jadi kelihatan –kalo menurut Thukul Arwana – ndeso, culun, dan katro. Hehe … Maklum, ngga pernah ke kota. Hehe …
Pulang tes tanggal 12, diajakin Gian muter-muter kota Bandung. Cuman lihat-lihat bangunan-bangunan dan tempat-tempat terkenal yang-biasanya-cuma-aku-lihat-di-tivi- saja. Hehe … memang ndeso ya aku ini? Si Gian jadi kayak tour guide gitu. (Thanks ya, Gik!). Ternyata Bandung asyik, ya? Jadi pengen tinggal di sana. (Mau ngapain?!?)

Tiga - Di Rumah Mba Ita Saja
Tiga hari lainnya kuhabiskan di rumah saja. Meskipun ngga jalan-jalan ke mana pun, tetep asyik dan seru, lho!
Ngapain aja:
1. Kedinginan (jadi males mandi)
2. Ngobrol ma mba Ita and mas Toto
3. Memetik strawberry
4. Duduk-duduk di pinggiran balong (btw, pemancingan, lho!)
5. Marut ketela dibuat katimus ma Ima, mba Ita dan bu Tatik (kakaknya mba Ita)
6. Lihat pemandangan atas bawah kanan kiri depan belakang yang oke punya. (subhanallah …)
7. Jalan-jalan di sawah seberang jalan depan rumah ma Gian dan Ima, ada cekungan, keren banget! (sayang ga bawa kamera)
8. Baca Cintapuccino-nya Icha Rahmanti
9. Jalan ke bawah beli sayuran dan surabi oncom ma mba Ita dan Ima
10. M a k a n ( surabi imut, batagor, bandrek, ikan-bakar-sendiri, ikan-goreng, dll). Kelamaan di sini bisa-bisa aku jadi gendut.

Empat – Ucapan Terimakasih
Buat Mas Toto dan Mba Ita yang saya-tahu-dengan-pasti sangat tulus menerima kedatangan kami, yang selalu memperhatikan kami, yang memperlakukan kami seperti anak sendiri. Haturnuhun …
Buat Gian yang-dengan-senang-hati mengantar kemanapun kami mau pergi seperti sopir pribadi hehe … (termasuk bolos-kuliah-dengan-senang-hati. Hehe …), dan jadi tour guide buat kami. Thanks a lot ya? (Kapan-kapan lagi, ya? Pasti jawab: ngga mau!)
Buat Dede’ Dian, yang malam-malam rela jemput kami di stasiun yang mulai sepi, padahal belum kenal kami.Semoga suatu saat berjumpa lagi. Haturnuhun ….

Perjalanan Pulang Ke Yogya: Sabtu, 16 Desember 2006
06.00 Berangkat dari Kiara Condong. Naik KA Pasundan lagi. Tadi ke stasiun diantar Gian ma mas Toto. Ima bonceng Gian, aku bonceng mas Toto naik Vespa yang sempat macet (Ssst… ini rahasia lagi, ya? Aku dah lama pengen banget naik Vespa. Akhirnya kesampaian hari ini. Hehhe…)
16.15 There is just no, no, no place like home …

***

1 comment:

  1. mba oenink .... aku kok ngga diajak ... ngga dikasih oleh2 barang... huhu...

    ...nisa...

    ReplyDelete

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...