H-1, pulang kerja kami bertiga ngetem di Loket Reservasi Stasiun Tugu. Keberuntungan nampaknya sedang bersama kami, karena ada seorang Bapak dari instansi mitra mba J yang kebetulan antri lebih dahulu dan tanpa sengaja memperoleh dua nomor antrian, sehingga diberikannya satu kepada mba Jum. Lumayan, kami lompat sekitar 10 nomor antrian. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiket pun didapat.
Hari-H. Ketika sepedamotorku masuk di parkir inap stasiun tugu, broadcaster di stasiun menyampaikan bahwa KA Taksaka sudah berada di jalurnya. Tepat waktu. Dan bersegeralah aku masuk, dan bertemu dua partnerku di dalam gerbong kereta.
Ini adalah kali pertama aku naik kereta eksekutif (haha...sebelumnya ekonomi dan bisnis). Dan dua partner yang lain pun tak jauh berbeda. Dengan penuh percaya diri mengekspresikan kekaguman kami (hihi...).
“Waduh, kok dingin ya?” (Ya iyalah kan pake AC)
“ Kursinya empuk, bisa
ditarik ke belakang kalo tidur, piye carane? “ (Oo.. tekan tombol dan dorong)
“Ini, buat dipake ya mas?” (Saat selimut dibagikan)
Bagian paling seru adalah ketika mbak pramugari menawarkan menu makan malam
“ Makan malamnya ibu? Nasi goreng? Rawon? Bakso?
Mie goreng?”, tanya mba pramugari
“ Mau dong...”,
jawabku
“Bapak
mau? Nasi goreng?”, tanya mba J pada pak P pura-pura tidak mengenal Pak P
“Ngga usah
mba, makasih”, jawab pak P menangkap maksud mba J
“Monggo
pak pesen aja ngga papa”, kata mba Jum
“Tuh pak,
ditawarin mbaknya”, kata mba pramugari mendukung tawaran mba J
“Saya kan
ngga kenal mbaknya mba”, kata pak P lagi
“Nanti kan
jadi punya kenalan di kereta pak”, rayu mba Pramugari
“Ya sudah,
nasi goreng saja mba”, kata pak P pada akhirnya
Setelah makanan tiba dan kami selesai menyantapnya, mba pramugari pun datang untuk menagih pembayarannya
“Lho, jadi
makanan ini tadi harus bayar ya mba?”, kata mba J (berpura-pura) kaget
“Iya mba”,
kata mba Pramugari sambil menghitung jumlah yang harus dibayarkan
“Saya tadi
kan cuma ditawari mbaknya ini mba?”, kata pak P (berpura-pura) mengelak
“Lho tapi
saya kan ngga kenal Bapak”, sanggah mba J
“Aduh,
saya ngga tahu kalau kejadiannya kayak gini, kalau gitu biar Kapten saja yang
datang ke sini”, kata mba pramugari dengan muka bingung
“Hahahahaha....
“, pecahlah tawa kami
“Tenang mba... Kami kan satu rombongan ... “,
hibur mba J
“Kennaa deh ...”, kata pak P menirukan Pandji
“Ah, bapak
ibu ini ... saya jadi takuuut...”, ujar mba pramugari dengan sedikit lega
Panceeen .... Mba Jum dan Pak Parlan ahlinya ngerjain
orang ...
Kenyang, kedinginan, dapet selimut, mataku pun perlahan memberat dan zzzz...zzzz....
H+1, Shubuh, Kami sampai di stasiun Gambir. Kemudian dengan semangat ‘45 berjalan kaki mengabaikan tawaran semua sopir taksi, menuju ke Istiqlal untuk menunaikan sholat Shubuh dan membersihkan diri. Selesai sholat dan beristirahat sejenak, kami pun kembali berjalan untuk mencari sarapan. Awalnya kami ingin sarapan di RM. Padang Siang Malam, tempat favoritnya pak P, namun ternyata lauknya belum ada yang matang. Akhirnya kami lihat pedagang nasi rames di depan RM tersebut. Meski di pinggir jalan, tempat si ibu ini rame pembelinya. Dan rasanya juga lumayan enak (enak apa laper?)
Selesai makan kami pun bersegera menuju ke tempat tujuan kami. IMHO, bagian paling menyenangkan setiap kali bepergian adalah perjalanannya. Bukan dimana tujuannya, tapi bagaimana cara menuju tempatnya (halah). Nice trip mba Jum, pak Parlan ... Thank you... !!!

No comments:
Post a Comment