Friday, February 1, 2008

Sehat Sebelum Sakit, Hidup Sebelum Mati

Demi Masa ... ; Sesungguhnya manusia kerugian; Melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh.
Gunakan kesempatan yang masih diberi. Semoga kita takkan menyesal.
Ingat Lima perkara sebelum lima perkara:
sehat sebelum sakit; muda sebelum tua; kaya sebelum miskin; lapang sebelum sempit; hidup sebelum mati
(Demi Masa - Raihan)


- SATU -
Pagi itu (ahad, 6 Januari 2008), aku, ibu, mbah kung, bulik, paklik, om dan sepupu2 berdesak-desakan di APV merah menuju Cilacap, silaturahim ke rumah Mbah Budi (adiknya mbah kung). Aku terakhir kali ke sana, pas masih SD (lama banget ya?), dan mbah Budi pun dah lama ngga ke Sentolo City. Komunikasi hanya via telepon.

Ingatanku tentang beliau ... seorang yang perfeksionis (kalau mbah ke rumahmu dan menemukan sedikit debu,apalagi sarang laba-laba, siap-siap saja menerima kemarahannya) namun ... sangat perhatian/care (kalau ada keluarga yang datang ke rumahnya, orangtua atau anak-anak, pasti akan diperlakukan bak raja, diajak keliling kota, berwisata, menikmati kuliner. hehe).

Sekitar 4 jam kemudian, kami sampai di rumahnya yang sepi (beliau hanya tinggal dengan istri dan seorang pembantunya). Ketiga anaknya sudahmenikah dan punya rumah masing-masing di Bantul, Semarang dan Liverpool(Inggris).

Kondisi beliau saat ini sangat jauh dari ingatanku tentangnya. Mbah Budi tak merespon apapun yang kami ucapkan dan lakukan. Tak ada perhatian yang hangat apalagi teguran keras. Hanya ada seorang bertubuh sehat dengan tatapan mata yang kosong.

Kata mbah putri sambil berkaca-kaca, sudah 2 tahun ini mbah Budi divonis dokter menderita alzheimer

Kami hanya bisa berharap mbah budi diberikan yang terbaik, dan mbah putri diberikan kesabaran yang luar biasa.

-DUA-
Lima tahun yang lalu Tio mengalami kecelakaan yang membuat limpanya harus dioperasi. dan hasil operasi baru bisa dicek setelah lima tahun kemudian (itu berarti tahun ini). Dan selama lima tahun itu, Tio bukannya hanya harus hidup sehat, tetapi bahkan steril/higienis.

Petaka bermula saat pergantian tahun kemarin ini. (Tidak jelas apakah keinginannya sendiri, atau dipaksa teman-temannya,) Tio yang dulu memang dekat dengan alkohol namun sekarang harus hidup steril itu, kembali kemasukan alkohol. Sehingga Tio muntah-muntah tanpa bisa dihentikan. Dan teman-temannya yang tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, membawa Tio ke puskesmas yang tidak memberikan penanganan segera. Sehingga saat akhirnya Tio dibawa ke RS. swasta, harus dibawa ke ruang isolasi. Awalnya Tio yang kuliah dan tinggal jauh dari ortunya, ngga mau keluarganya tahu dia di rumah sakit. Namun akhirnya buliknya yang tinggal sekota tahu juga, dan langsung ke rumah sakit dan mengabari ortu Tio. Saat buliknya datang, Tio masih bisa mengucapkan kata 'maaf' kepada buliknya. Namun, matanya yang terbuka lebar sudah tidak bisa melihat apa-apa.

Ibu Tio berkata kepada teman-teman Tio yang menjenguknya,
"Ibu tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini, tapi ibu berharap kejadian yang menimpa Tio ini menjadi pelajaran berharga buat kalian untuk menjauhi minuman atau zat apapun yang berbahaya dan menrugikan diri dan masa depan kalian. Ibu yakin kalian ngga mau kejadian yang sama menimpa kalian."

Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir ke dunia dan berduyun-duyun kembali pilang ... seperti dunia pasar malam. Seorang seorang mereka datang ... dan pergi. Dan yang belum pergi menunggu saat nyawanya terbang entah kemana. (Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer)


Ditulis berdasar penuturan Ibu Tio saat aku dan Ibu menjenguk Tio yang sedang koma di IGD, sehari sebelum Tio ... meninggal (9 Januari 2008). Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...

No comments:

Post a Comment

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...