Musim penghujan akhirnya tiba. Beberapa kali, hujan telah sudi mampir membasahi tanah dan bebatuan kering yang menantikan kehadirannya. Suka sekali baunya. Aku menyebutnya bau hujan. Mencium baunya, membuat perasaan tiba-tiba saja menghangat. Seperti teringat kenangan lama, yang tak tergambar itu apa, namun membuat kita merindukannya. Mungkin seperti itu pula perasaan tanah kering ketika akhirnya bertemu hujan. Ah, hujan memang membuat melow dan galau, tapi relaxing, inspiratif dan romantis. Ya, aku suka hujan, just the way it is.
Tentang Bau Hujan
Setelah mencari-cari di internet tentang bau hujan (scent of rain atau smell of rain), baru tahu kalau ia disebut petrichor.
Petrichor adalah bau hujan
yang membasahi tanah kering. Kata tersebut berasal dari Bahasa Yunani petra
(batu) dan ichor (cairan yang mengalir pada pembuluh darah para dewa dalam
mitologi Yunani). Istilah tersebut diperkenalkan pada tahun 1964 oleh dua orang
peneliti Australia (I.J. Bear dan R.G. Thomas) di sebuah artikel pada jurnal Nature.
Darimanakah
asalnya bau hujan ini? Berawal dari minyak
yang diteteskan oleh tanaman selama musim
kering, kemudian diserap oleh lumpur pada tanah dan bebatuan. Pada saat hujan
turun, minyak tersebut menguap ke udara bersama dengan senyawa lain yaitu
geosmin. Geosmin adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh bakteri pada tanah basah. Geosmin dilepaskan ketika mikroba
mati. Pada saat turun hujan, geosmin
terangkat ke udara menjadi aerosol partikel geosmin dalam udara.
Keduanya bersama-sama mencipta bau yang khas... bau hujan... petrichor.
Tak
setiap hujan tiba, serta merta petrichor selalu ada. Ia muncul ketika hujan menyentuh tanah atau bebatuan kering. Dan ketika ia menyeruak di
rongga hidung kita, ia seperti ingin menyampaikan pesan, bahwa semua sudah digariskan
olehNya, tepat dan indah pada waktunya. Seperti tanah kering yang bertemu hujan,
harapan selalu ada, bagi orang-orang yang bersabar.

No comments:
Post a Comment