Kalau
kemaren-kemaren banyak dolan ke pantai-pantai cantik di Gunung Kidul (tapi
kayaknya ngga sempat buat tulisan tentangnya di blog ini *sok sibuk*). Maka
liburan kali ini temanya adalah candi. Yes, mahakarya bersejarah yang dibangun
dari batu. Hm... berhubung ngga punya teman (yang bisa diajak), pada akhirnya
teman terbaik saya adalah adik-adik tersayang yang selalu setia setiap saat (uri
dongsaeng... saranghaeyo...). Oh iya, jika kamu ingin memperoleh informasi
detail mengenai candi yang akan kami kunjungi, bukan di sini tempatnya. Karena
tulisan ini hanyalah catatan perjalanan yang kami lakukan. Dan bisa jadi akan membosankan
. Silakan googling-googling sendiri di internet untuk detail dan sejarah di baliknya. ^_^v.
Hari
itu 3 Juli 2014, Ramadhan hari kelima, kami berangkat kesiangan karena seperti
biasa ada pertempuran kecil sebelumnya (halah), dan sampai di lokasi sekitar
jam 11. Sampai parkiran sepi, hanya ada sekitar 5 motor termasuk motor kami di
sana. Mobil pun ngga terlalu banyak. Segera saya membeli tiket untuk empat
orang @Rp 25.000. Kemudian petugas memberikan kartu berwarna hijau yang akan
dimasukkan ke dalam mesin untuk masuk ke lokasi. Tetapi kami juga masih
diberikan karcis kertas tipis. Hm... Sampai di gerbang masuk, ternyata mesinnya
belum berfungsi, jadi kartunya diberikan kepada petugasnya bersamaan dengan
karcis. Hihi.. Segeralah kami berjalan naik melalui tangga.
Sampai
di dalam seorang penjual minuman dengan hati-hati menawarkan dagangannya.
“Maaf,
mba... kalau tidak sedang berpuasa warung kami di sebelah sana menyediakan
minuman dan makanan...”
Menuju
perjalanan ke situs keraton, beberapa kali saya berhenti di gazebo yang
tersedia di kanan kiri jalan, sekadar menunggu adik-adik yang memotret view
kota, dan candi Prambanan di bawah sana, hingga narsis berselfie tanpa henti,
yang ternyata menular.
Semakin
dekat menuju gerbang semakin panas terasa. Ya... jam 11 pas panas-panasnya.
Memasuki gerbang pertama dan kedua kami dihadapkan pada hamparan rumput hijau
dan pohon besar yang cantik. Menciptakan komposisi warna yang menarik.
Melangkah ke sebelah kiri ada candi pembakaran, kemudian menuju ke lokasi
beikutnya adalah pendopo pagelaran yang bersebelahan dengan keputren yang
terdiri dari dua tempat dengan kolam berbentuk kotak dan lingkaran. Suasananya
nyaman sekali di sana. Kami duduk sejenak, menikmati semilir angin, langit
biru, dan buku. Kami melewatkan memasuki gua lanang dan gua wadon karena para
partner sudah mulai kelelahan dan kehausan (woi... puasa... puasa...).
Kami
pun keluar komplek situs keraton boko dan sholat dhuhur di mushola yang
berdekatan dengan kandang rusa. Selesai shalat kami duduk2 dan tiduran di
salahsatu gazebo. Melanjutkan membaca buku dan menyelesaikan jatah juz hari itu.
Cukup lama kami di sana, hingga pengunjung yang tadi kami lihat masuk, mulai
meninggalkan lokasi. Kami pun bersegera keluar. Di tempat parkir azan ashar pun
berkumandang. Dan kami pun meninggalkan keraton boko yang semakin cantik ketika
sore menjelang.
Sebulan
kemudian, 3 Agustus 2014. Ima mengajak silaturahim ke rumah Ragil (teman
kuliahnya) di Magelang. Sebelum puasa, ketika belum melahirkan, Ragil sempat
main ke rumah tetapi ngga ketemu Ima. Jadilah kami berdua pergi ke sana naik
motor lewat Kalibawang. Sekitar 45 menitan kami sampai di rumah Ragil yang
ternyata kue lebarannya masih komplit. Jadi ketika mereka asyik reuni dan
mengobrol saya bisa puas mencicipi satu per satu. Haha.
Ngga
tahu kenapa, tapi saya sempat merasa pusing, tetapi setelah diminyaki, sholat
dan makan siang akhirnya membaik (haha... pusing apa lapar mba?). So... setelah
pamit, jadilah kami menuju ke Candi Borobudur yang ternyata masih ramai
pengunjung. Dari rumah Ragil di Citran kami melajukan motor kami ke arah
Borobudur. Setelah menunaikan shalat Asar di mushola penitipan sepeda motor,
kami pun menuju ticket box dan membeli dua tiket @Rp 30.000 dan segera memasuki
lokasi candi.
Menuju
ke candi, di salahsatu panggung, sedang berlangsung sebuah pertunjukan kesenian
rakyat. Kami melihatnya sambil berjalan. Dan sore itu ramai pengunjung yang
memadati Borobubudur, mungkin karena ini hari terakhir libur lebaran sebelum
masuk kantor atau sekolah. Terakhir kali ke candi ini kalau ngga salah tahun
90an ketika ikut rombongan piknik muda-mudi dusun Gedangan.
Kami
menyusuri masing-masing lantai Borobudur dan mencoba membaca relief yang ada.
Tetapi gagal. Beruntung banyak turis asing yang membawa tour guide yang
menjelaskan kisah relief candi. Sesekali ketika kami berada di dekat mereka
ikut mendengar penuturan tour guide mereka, yang berbahasa Inggris. Terus
menuju ke puncak candi yang banyak sekali pengunjung disana sekedar duduk
melepas lelah, maupun mengabadikan kenangan.
Pada
perjalanan turun untuk keluar, ada panggilan informasi adanya anak yang
terjatuh dari tangga saat tak didampingi orangtuanya. Hmm.. padahal tangga dari
batu ini lumayan tinggi, menyesuaikan tinggi orang zaman dahulu kali ya? Dan
sampai di pelataran candi, ada ambulans yang kemungkinan membawa pertolongan
untuk anak yang terjatuh tadi. Tapi suasananya tenang, tidak ada tangisan
ataupun jeritan histeris. Semoga adiknya baik-baik saja. Amin
Beranjak
senja, pengunjung pun diharapkan segera meninggalkan area candi. Setelah
berjalan lumayan jauh, akhirnya kami menemukan tempat parkir kami. Bapak pemilik
rumah parkir bercerita kalau hari sebelumnya jalan di depan ini penuh dengan
kendaraan pengunjung, untuk menyeberang pun sangat susah. Beruntung kami datang
hari ini yang meskipun masih ramai tetapi cenderung lancar. Mari pulang ...
Tidak direncanakan. Satu siang setelah mendengar kisah yang
melelahkan pikiran, aku dan Risna pun bermaksud jalan-jalan. Nisa dan Ima yang
sudah duluan mengajak ke Candi Ijo, tapi setelah dipikir-pikir kami pun
memutuskan ke Prambanan saja. Siang itu, 16 Agustus 2014, jam 2
siang kami pun menuju ke Prambanan melewati jalan Solo.
Kami tiba di sana lebih dulu dari Nisa. Akhirnya kami ke
toilet dan mencari mushola. Setelah selesai sholat, mereka berdua datang dan
segera saja kami membeli tiket seharga @ Rp 30.000, dan segera masuk menuju ke
candi. Matahari masih bersinar terik di arah barat, membuat silau pengunjung
yang berjalan dari timur. Ramai sekali di sana. Banyak turis asing berombongan
didampingi para tour guide, sayangnya kali ini banyak yang bukan bahasa Inggris
jadi tidak bisa ikut nimbrung mendengar kisahnya dari sebelah. Bahasa yang terdeteksi telinga diantaranya
Perancis, Jepang, China, dan Korea. Ah, jadi pengen menguasai banyak bahasa
(telat banget ya pengennya?).
Di
komplek candi pertama adalah candi Hindu yang dipersembahkan bagi tiga dewa
utama agama Hindu yaitu Siwa, Brahma dan Wisnu.Selesai di kompleks ini kami pun
melanjutkan ke arah utara menuju candi lumbung dan candi bubrah. Menuju ke
tempat ini hari sudah sangat sore. Tapi merasa sayang, akhirnya kami pun
melanjutkan hingga ke ujung yaitu di Candi Sewu yang merupakan candi Budha.
Sampai di sana sepi saudara, ada serombongan turis yang duduk di taman di
samping komplek candi Sewu. Dari gerbang timur ada beberapa turis asing dan
serombongan wisatawan nusantara yang memasuki komplek candi ini. Kami berempat
hanya melihat dari luar saja karena
semburat merah mulai tampak di langit senja seiring azan maghrib yang
membahana.
Kami
pun mempercepat langkah agar segera bertemu penjaga parkir yang setia menunggu
pengunjung terakhir.



No comments:
Post a Comment