Wednesday, August 20, 2014

Virus Selfie dan Tour de Candi


Kalau kemaren-kemaren banyak dolan ke pantai-pantai cantik di Gunung Kidul (tapi kayaknya ngga sempat buat tulisan tentangnya di blog ini *sok sibuk*). Maka liburan kali ini temanya adalah candi. Yes, mahakarya bersejarah yang dibangun dari batu. Hm... berhubung ngga punya teman (yang bisa diajak), pada akhirnya teman terbaik saya adalah adik-adik tersayang yang selalu setia setiap saat (uri dongsaeng... saranghaeyo...). Oh iya, jika kamu ingin memperoleh informasi detail mengenai candi yang akan kami kunjungi, bukan di sini tempatnya. Karena tulisan ini hanyalah catatan perjalanan yang kami lakukan. Dan bisa jadi akan membosankan . Silakan googling-googling sendiri di internet untuk detail dan sejarah di baliknya. ^_^v. 


Hari itu 3 Juli 2014, Ramadhan hari kelima, kami berangkat kesiangan karena seperti biasa ada pertempuran kecil sebelumnya (halah), dan sampai di lokasi sekitar jam 11. Sampai parkiran sepi, hanya ada sekitar 5 motor termasuk motor kami di sana. Mobil pun ngga terlalu banyak. Segera saya membeli tiket untuk empat orang @Rp 25.000. Kemudian petugas memberikan kartu berwarna hijau yang akan dimasukkan ke dalam mesin untuk masuk ke lokasi. Tetapi kami juga masih diberikan karcis kertas tipis. Hm... Sampai di gerbang masuk, ternyata mesinnya belum berfungsi, jadi kartunya diberikan kepada petugasnya bersamaan dengan karcis. Hihi.. Segeralah kami berjalan naik melalui tangga.

Sampai di dalam seorang penjual minuman dengan hati-hati menawarkan dagangannya.
“Maaf, mba... kalau tidak sedang berpuasa warung kami di sebelah sana menyediakan minuman dan makanan...”
“Nuwun, pak... kami puasa”, jawab kami sambil tersenyum manis

Menuju perjalanan ke situs keraton, beberapa kali saya berhenti di gazebo yang tersedia di kanan kiri jalan, sekadar menunggu adik-adik yang memotret view kota, dan candi Prambanan di bawah sana, hingga narsis berselfie tanpa henti, yang ternyata menular. 

Semakin dekat menuju gerbang semakin panas terasa. Ya... jam 11 pas panas-panasnya. Memasuki gerbang pertama dan kedua kami dihadapkan pada hamparan rumput hijau dan pohon besar yang cantik. Menciptakan komposisi warna yang menarik. Melangkah ke sebelah kiri ada candi pembakaran, kemudian menuju ke lokasi beikutnya adalah pendopo pagelaran yang bersebelahan dengan keputren yang terdiri dari dua tempat dengan kolam berbentuk kotak dan lingkaran. Suasananya nyaman sekali di sana. Kami duduk sejenak, menikmati semilir angin, langit biru, dan buku. Kami melewatkan memasuki gua lanang dan gua wadon karena para partner sudah mulai kelelahan dan kehausan (woi... puasa... puasa...).

Kami pun keluar komplek situs keraton boko dan sholat dhuhur di mushola yang berdekatan dengan kandang rusa. Selesai shalat kami duduk2 dan tiduran di salahsatu gazebo. Melanjutkan membaca buku dan menyelesaikan jatah juz hari itu. Cukup lama kami di sana, hingga pengunjung yang tadi kami lihat masuk, mulai meninggalkan lokasi. Kami pun bersegera keluar. Di tempat parkir azan ashar pun berkumandang. Dan kami pun meninggalkan keraton boko yang semakin cantik ketika sore menjelang.


Sebulan kemudian, 3 Agustus 2014. Ima mengajak silaturahim ke rumah Ragil (teman kuliahnya) di Magelang. Sebelum puasa, ketika belum melahirkan, Ragil sempat main ke rumah tetapi ngga ketemu Ima. Jadilah kami berdua pergi ke sana naik motor lewat Kalibawang. Sekitar 45 menitan kami sampai di rumah Ragil yang ternyata kue lebarannya masih komplit. Jadi ketika mereka asyik reuni dan mengobrol saya bisa puas mencicipi satu per satu. Haha.

Ngga tahu kenapa, tapi saya sempat merasa pusing, tetapi setelah diminyaki, sholat dan makan siang akhirnya membaik (haha... pusing apa lapar mba?). So... setelah pamit, jadilah kami menuju ke Candi Borobudur yang ternyata masih ramai pengunjung. Dari rumah Ragil di Citran kami melajukan motor kami ke arah Borobudur. Setelah menunaikan shalat Asar di mushola penitipan sepeda motor, kami pun menuju ticket box dan membeli dua tiket @Rp 30.000 dan segera memasuki lokasi candi.

Menuju ke candi, di salahsatu panggung, sedang berlangsung sebuah pertunjukan kesenian rakyat. Kami melihatnya sambil berjalan. Dan sore itu ramai pengunjung yang memadati Borobubudur, mungkin karena ini hari terakhir libur lebaran sebelum masuk kantor atau sekolah. Terakhir kali ke candi ini kalau ngga salah tahun 90an ketika ikut rombongan piknik muda-mudi dusun Gedangan.

Kami menyusuri masing-masing lantai Borobudur dan mencoba membaca relief yang ada. Tetapi gagal. Beruntung banyak turis asing yang membawa tour guide yang menjelaskan kisah relief candi. Sesekali ketika kami berada di dekat mereka ikut mendengar penuturan tour guide mereka, yang berbahasa Inggris. Terus menuju ke puncak candi yang banyak sekali pengunjung disana sekedar duduk melepas lelah, maupun mengabadikan kenangan.

Pada perjalanan turun untuk keluar, ada panggilan informasi adanya anak yang terjatuh dari tangga saat tak didampingi orangtuanya. Hmm.. padahal tangga dari batu ini lumayan tinggi, menyesuaikan tinggi orang zaman dahulu kali ya? Dan sampai di pelataran candi, ada ambulans yang kemungkinan membawa pertolongan untuk anak yang terjatuh tadi. Tapi suasananya tenang, tidak ada tangisan ataupun jeritan histeris. Semoga adiknya baik-baik saja. Amin

Beranjak senja, pengunjung pun diharapkan segera meninggalkan area candi. Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya kami menemukan tempat parkir kami. Bapak pemilik rumah parkir bercerita kalau hari sebelumnya jalan di depan ini penuh dengan kendaraan pengunjung, untuk menyeberang pun sangat susah. Beruntung kami datang hari ini yang meskipun masih ramai tetapi cenderung lancar. Mari pulang ...


Tidak direncanakan. Satu siang setelah mendengar kisah yang melelahkan pikiran, aku dan Risna pun bermaksud jalan-jalan. Nisa dan Ima yang sudah duluan mengajak ke Candi Ijo, tapi setelah dipikir-pikir kami pun memutuskan ke Prambanan saja. Siang itu, 16 Agustus 2014,  jam 2  siang kami pun menuju ke Prambanan melewati jalan Solo.

Kami tiba di sana lebih dulu dari Nisa. Akhirnya kami ke toilet dan mencari mushola. Setelah selesai sholat, mereka berdua datang dan segera saja kami membeli tiket seharga @ Rp 30.000, dan segera masuk menuju ke candi. Matahari masih bersinar terik di arah barat, membuat silau pengunjung yang berjalan dari timur. Ramai sekali di sana. Banyak turis asing berombongan didampingi para tour guide, sayangnya kali ini banyak yang bukan bahasa Inggris jadi tidak bisa ikut nimbrung mendengar kisahnya dari sebelah.  Bahasa yang terdeteksi telinga diantaranya Perancis, Jepang, China, dan Korea. Ah, jadi pengen menguasai banyak bahasa (telat banget ya pengennya?).

Di komplek candi pertama adalah candi Hindu yang dipersembahkan bagi tiga dewa utama agama Hindu yaitu Siwa, Brahma dan Wisnu.Selesai di kompleks ini kami pun melanjutkan ke arah utara menuju candi lumbung dan candi bubrah. Menuju ke tempat ini hari sudah sangat sore. Tapi merasa sayang, akhirnya kami pun melanjutkan hingga ke ujung yaitu di Candi Sewu yang merupakan candi Budha. Sampai di sana sepi saudara, ada serombongan turis yang duduk di taman di samping komplek candi Sewu. Dari gerbang timur ada beberapa turis asing dan serombongan wisatawan nusantara yang memasuki komplek candi ini. Kami berempat hanya melihat dari luar saja karena  semburat merah mulai tampak di langit senja seiring azan maghrib yang membahana.

Kami pun mempercepat langkah agar segera bertemu penjaga parkir yang setia menunggu pengunjung terakhir.

No comments:

Post a Comment

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...