Awal bulan ini tempat kerjaku menerapkan lima hari kerja. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Banyak diantara rekan kerjaku yang kelihatannya tak terlalu setuju dengan penerapan ini, karena jam pulang menjadi lebih sore dari biasanya. Padahal, kalau diingat-ingat, pas masih enam hari kerja dulu pun biasanya juga pulang sekitar jam empat bahkan terkadang lebih. Dan itu dilakukan dengan sukarela tanpa paksaan dan tanpa pamrih. Mengapa sekarang jadi merasa berat? Karena dipaksa, mungkin itu jawabannya.
Suatu hari, di English Class with Miss Vivin, diskusi kami mengambil tema five workdays. Diantara lima partisipan, aku dan seorang teman saat itu disagree. Alasannya adalah pulang jam empat akan menjadi hari yang sangat panjang saat berada pada low season. Dan, sepertinya hal itu cenderung akan memberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan cara-cara yang kurang tepat. Kalau bagi saya pribadi, saat pulang jam dua siang atau maksimal jam tiga, itu berarti saya masih punya waktu yang cukup untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah dan tidak kemalaman di jalan. Namun ketika jam pulang menjadi lebih sore, maka waktu mampir-mampir pun menjadi berkurang (hehe… alasan yang aneh).
Sementara di pihak yang setuju mengungkapkan segi positif yang diantaranya adalah menghemat listrik (terutama penggunaan AC) dan internet, memacu pegawai untuk lebih efektif dan efisien dalam bekerja karena yang biasanya bisa dikerjakan dalam 6 hari harus bisa diselesaikan dalam 5 hari saja (meskipun sebenarnya jumlah jamnya tetap yaitu 37,5 jam per minggu). Seorang teman yang lain menyatakan bahwa ketika berada pada high season, dia selalu pulang paling cepat jam lima, bahkan pada hari Sabtu sekalipun. Jadi dia berharap, dengan lima hari kerja, meskipun dia pulang jam lima atau lebih, masih akan ada satu ekstra hari libur untuknya. Bisa ditambahkan lagi, segi positifnya bagi pekerja yang menjalani long distance relationship, dengan dua libur weekend bisa dimanfaatkan untuk menambah quality time bersama keluarganya.
Dan sekarang, setelah lima hari kerja betul-betul diterapkan, jujur saja, saya berpindah ke tim affirmative. Memang benar, terkadang jam empat terasa begitu lama. Namun hal itu semoga memotivasi saya untuk tak membiarkan waktu lewat begitu saja. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah …. dua hari libur yang menunggu di akhir minggu.
Tuesday, February 15, 2011
Monday, January 31, 2011
First Flight

Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yang paling awal, paling pertama, paling pagi.
Eits, postingan kali ini tidak akan menceritakan perjalananku dengan penerbangan pertama yang paling pagi. Ide cerita ini persis dengan kisah perjalananku dengan KA Pasundan empat tahun lalu. Hehe, yang belum baca bisa dilihat disini. Ya, ya, ya… Kamu benar, ini tentang pengalaman pertamaku naik pesawat terbang *blushing*.
Beberapa hari yang lalu saya menemani perjalanan dinas ibu Kasi ke Jakarta, kami berangkat bertiga, saya, ibu Pur dan pak Parlan. Sehari sebelum berangkat, saya diberi wejangan dari orang-orang yang begitu perhatian kepadaku *terharu*. “Jangan lupa sarapan, dan jangan malu-malu kalau dirasa perlu minum antimo, dan kalau dah di dalam pesawat langsung tidur aja”. Jadi berasa mau pergi jauh aja. *Hehe*. Saya sarapan bubur garut dan segelas teh manis, tapi ngga minum antimo (ngga sempat beli).
Kami berkumpul di rumah ayahanda ibu Pur di Demangan. Kemudian bersama-sama diantar Rush-nya ke Adisucipto. Setelah menunggu kurang lebih sejam di ruang tunggu akhirnya sekitar jam 8 kami naik ke pesawat Singa Udara. Sudah di dalam pesawat… eh… delay saudara… sekitar sejam. Kata om pilot, karena lalu lintas belum sepi, nunggu perintah terbang dari bandara, kelihatannya banyak pesawatnya TNI AU lagi latihan.
Akhirnya jam 9 take off. Dan berhubung saya ditengah… saya ngga bisa melaporkan seperti apa suasana di luar sana, tapi saya sempat melihat gunung Merapi yang meski lahar dinginnya masih mengancam warga di sekitar, namun terlihat sangat cantik dari atas sini. Subhanallah… tak henti-henti aku mengagumi-Nya ketika pesawat mulai terbang di antara awan putih yang menggumpal, cantiknyaaaa… Tidak, saya tidak boleh tidur dan melewatkan pemandangan gula-gula kapas berwarna putih yang cantik ini. Saya jadi teringat dua hal, pertama… sampai hari ini belum berhasil mendapat ijin dari bapak untuk naik gunung demi melihat awan yang cantik seperti di fotonya teman-teman pecinta alam, kedua… belum mengantar Icha ke pasar malam dan membeli arum manis kesukaannya. *hoho*

Alhamdulillah, sampai di Soetta sekitar jam 10 an, dalam keadaan yang sehat, tidak mabuk, tak kurang suatu apa. Perjalanan di kota Jakarta kami tempuh naik bus dan taxi. Ya, ya, ya baiklah saya mengaku, ini kali ketiga mengitari Jakarta. Yang pertama, waktu piknik pas SMP, yang kedua numpang lewat waktu ke Tangerang. Jadi jangan salahkan kalau saya masih saja terpesona melihat patung-patung dan gedung-gedung.
Setelah menyelesaikan tugas kami di Kemenkeu dan Kemdiknas, tibalah saatnya untuk kembali ke Yogyakarta yang tetap istimewa di hati saya. Segera kami ke terminal 1A Gate A7 Bandara Soetta untuk menunggu penerbangan Singa Udara jam 6 sore. Alhamdulillah. Kali ini tanpa delay pesawat berangkat tepat waktu. Eh… yang di seat 30an tadi kayaknya kibordisnya Jikustik deh! *mulai melenceng dari topik*.
Kali ini saya duduk di dekat jendela. Dan ketika pesawat mulai lepas landas, subhanallah… maket kota Jakarta dengan lampu yang mulai kerlap-kerlip… cantikkk. Ketika sudah berada di antara awan, sepertinya perjalanan pulang ini ngga semulus berangkatnya, dan benar saja, kata om pilot, cuaca petang itu kurang begitu bagus. Sesaat sebelum tiba di Yogya, cuaca sudah membaik. Dan di bawah sana mulai tampak cahaya lampu dari rumah, jalanan dan kendaraan. Sukaaa… cantiiik… Subhanallah. Berusaha menerka-nerka yang ini jalan mana yang itu jalan apa. Tapi sepertinya meleset semua. *Hehe* Alhamdulillah, kami mendarat di Adisucipto dengan selamat. Thanks to ibu Pur dan pak Parlan for the nice trip. But, there is just no no no place like home.
Friday, August 6, 2010
Wednesday, July 21, 2010
Nokia Recycle Program
Nokia, produsen ponsel terkemuka di dunia, mengajak masyarakat Indonesia untuk ikutserta dalam gerakan peduli lingkungan global. Nokia mengajak masyarakat untuk memiliki tanggung jawab pribadi untuk mendaur-ulang ponsel. Daur ulang sebuah ponsel bekas dapat mengurangi emisi gas karbondioksida sebesar 12.585 kg. Bayangkan jika pemakai ponsel (sekitar 3 milyar) di dunia mendaur ulang ponselnya, maka akan mengurangi kebutuhan bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor.
Program daur ulang ini telah dimulai sejak tahun 1997 di Swedia dan Inggris. Sejak itu, Nokia telah memiliki lebih dari 5000 titik penempatan box daur ulang ponsel dan aksesoris di 85 negara seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, Nokia bekerjasama dengan TES-AMM (sebuah perusahaan daur ulang e-Waste) mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam program daur ulang e-Waste dengan memberikan ponsel dan aksesoris bekas mereka untuk didaur ulang.
“Sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik di case atau cover, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang,” kata Bambang N Gyat, Technical Advisor TES-AMM. Lebih lanjut, Bambang menjelaskan mengenai elemen logam di sebuah ponsel dan aksesorisnya dapat didaur ulang menjadi bahan baku seperti logam besi, sementara elemen plastik dapat didaur ulang menjadi plastik palet. Sekitar 80% dari produk Nokia bisa didaur ulang. Di Indonesia, Nokia telah menyediakan box daur ulang di 91 Nokia Care Centre untuk memberikan kemudahan kepada konsumen untuk memberikan ponsel dan aksesoris yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang. Jika semua ponsel telah terkumpul, maka TES-AMM akan mengirimkannya ke pabrik di Singapura untuk didaur ulang. jika Anda peduli terhadap lingkungan ikuti program Nokia recycling campaign yang akan datang. Caranya mudah, bawa ponsel atau aksesoris bekas dan berikan box daur ulang di setiap Nokia care service point. Informasi lengkap di Nokia Care Centre terdekat.
Sumber: Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009 - Kementrian Lingkungan Hidup
Program daur ulang ini telah dimulai sejak tahun 1997 di Swedia dan Inggris. Sejak itu, Nokia telah memiliki lebih dari 5000 titik penempatan box daur ulang ponsel dan aksesoris di 85 negara seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, Nokia bekerjasama dengan TES-AMM (sebuah perusahaan daur ulang e-Waste) mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam program daur ulang e-Waste dengan memberikan ponsel dan aksesoris bekas mereka untuk didaur ulang.
“Sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik di case atau cover, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang,” kata Bambang N Gyat, Technical Advisor TES-AMM. Lebih lanjut, Bambang menjelaskan mengenai elemen logam di sebuah ponsel dan aksesorisnya dapat didaur ulang menjadi bahan baku seperti logam besi, sementara elemen plastik dapat didaur ulang menjadi plastik palet. Sekitar 80% dari produk Nokia bisa didaur ulang. Di Indonesia, Nokia telah menyediakan box daur ulang di 91 Nokia Care Centre untuk memberikan kemudahan kepada konsumen untuk memberikan ponsel dan aksesoris yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang. Jika semua ponsel telah terkumpul, maka TES-AMM akan mengirimkannya ke pabrik di Singapura untuk didaur ulang. jika Anda peduli terhadap lingkungan ikuti program Nokia recycling campaign yang akan datang. Caranya mudah, bawa ponsel atau aksesoris bekas dan berikan box daur ulang di setiap Nokia care service point. Informasi lengkap di Nokia Care Centre terdekat.
Sumber: Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009 - Kementrian Lingkungan Hidup
Friday, July 2, 2010
LATE AT NIGHT
Setiap langkah dalam perjalanan hidup manusia adalah sebuah pencarian. Mulai dari lahir hingga tutup usia, manusia akan selalu terus mencari dan mencari. Seseorang bisa saja mencari banyak hal secara bersamaan meskipun terkadang tak seberuntung yang lain yang mendapatkan beberapa hal secara bersamaan.
Teringat masa-masa lulus kuliah dulu. Termasuk yang terlambat padahal ipeka selalu bagus di setiap semester. Setelah itu masih sempat nganggur selama enam bulan. Bukan pasrah begitu saja tetapi terus menerus mencari informasi dan melamar kesana kemari, dari perusahaan kecil hingga besar, baik yang negeri maupun yang swasta. Ketika akhirnya ada yang menerima lamaranku, dengan pertimbangan mencari pengalaman maka tanpa ragu kuterimalah tawaran itu dan mulailah aku bekerja di situ. Namun, sifat dasar manusia yang tak pernah puas rupanya juga ada pada diriku. Hingga hampir setahun berlalu, aku pikir aku ingin menjadi pegawai negeri sehingga akhirnya aku memutuskan berhenti. Namun, ternyata tahun itu keberuntungan belum berpihak kepadaku. Dan rasanya kalau kembali menjadi pengangguran bisa-bisa otakku menjadi karatan, maka kembalilah aku mencari pekerjaan sembari menunggu rekrutmen pegawai negeri di tahun depan. Dan,alhamdulillah, tak perlu menunggu lama akhirnya aku kembali diterima bekerja di swasta. Kadang berat terasa namun sebenarnya menyenangkan berada di sana. Maka saat akhirnya tiba yang kutunggu, dan keberuntungan berpihak padaku, maka aku harus berkata selamat tinggal untuk semua. Dan di sinilah aku, di tempat yang baru yang kucari selama beberapa tahun terakhir ini.
Dan saat satu hal telah ditemukan, maka itulah saatnya melanjutkan pencarian hal berikutnya. Namun buat yang berpikiran sama seperti Riri yang –malu mengakui kalo sebenarnya udah pengen N, untung kemaren gak jadi P, pengennya sih T aja....biar bisa langsung N-, tampaknya pemikiran “kita terima saja yang di depan mata sambil mencari pengalaman, sembari menunggu kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik” tak bisa diterapkan. Karena di pencarian berikutnya, saat telah kamu putuskan untuk menerima, maka harus itulah yang terbaik. So? Kata Rachma… open your heart, open your mind, and open your EYES…
Teringat masa-masa lulus kuliah dulu. Termasuk yang terlambat padahal ipeka selalu bagus di setiap semester. Setelah itu masih sempat nganggur selama enam bulan. Bukan pasrah begitu saja tetapi terus menerus mencari informasi dan melamar kesana kemari, dari perusahaan kecil hingga besar, baik yang negeri maupun yang swasta. Ketika akhirnya ada yang menerima lamaranku, dengan pertimbangan mencari pengalaman maka tanpa ragu kuterimalah tawaran itu dan mulailah aku bekerja di situ. Namun, sifat dasar manusia yang tak pernah puas rupanya juga ada pada diriku. Hingga hampir setahun berlalu, aku pikir aku ingin menjadi pegawai negeri sehingga akhirnya aku memutuskan berhenti. Namun, ternyata tahun itu keberuntungan belum berpihak kepadaku. Dan rasanya kalau kembali menjadi pengangguran bisa-bisa otakku menjadi karatan, maka kembalilah aku mencari pekerjaan sembari menunggu rekrutmen pegawai negeri di tahun depan. Dan,alhamdulillah, tak perlu menunggu lama akhirnya aku kembali diterima bekerja di swasta. Kadang berat terasa namun sebenarnya menyenangkan berada di sana. Maka saat akhirnya tiba yang kutunggu, dan keberuntungan berpihak padaku, maka aku harus berkata selamat tinggal untuk semua. Dan di sinilah aku, di tempat yang baru yang kucari selama beberapa tahun terakhir ini.
Dan saat satu hal telah ditemukan, maka itulah saatnya melanjutkan pencarian hal berikutnya. Namun buat yang berpikiran sama seperti Riri yang –malu mengakui kalo sebenarnya udah pengen N, untung kemaren gak jadi P, pengennya sih T aja....biar bisa langsung N-, tampaknya pemikiran “kita terima saja yang di depan mata sambil mencari pengalaman, sembari menunggu kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik” tak bisa diterapkan. Karena di pencarian berikutnya, saat telah kamu putuskan untuk menerima, maka harus itulah yang terbaik. So? Kata Rachma… open your heart, open your mind, and open your EYES…
Sunday, June 27, 2010
KERIPUT
Suatu siang, anak seorang teman kerjaku (I) yang masih kelas 5 esde bertanya padaku (A) yang sedang bersama temanku yang lain (BO):
I: Mba Anin, mba tu umurnya berapa to?
A: Ada deh...
I: Halah... Berapa to mba?
A: Coba ditebak, berapa?
I: Mmm, duapuluh berapa mba?
A: Delapan belas... ;)
BO: Mba Anin tu umurnya baru tujuhbelas...
I: Nggak mungkin!!!! Wong wajahnya udah keriput...
A: Hahaha... Gubrakk!!
I: Mba Anin, mba tu umurnya berapa to?
A: Ada deh...
I: Halah... Berapa to mba?
A: Coba ditebak, berapa?
I: Mmm, duapuluh berapa mba?
A: Delapan belas... ;)
BO: Mba Anin tu umurnya baru tujuhbelas...
I: Nggak mungkin!!!! Wong wajahnya udah keriput...
A: Hahaha... Gubrakk!!
Wednesday, November 4, 2009
AKU KEMBALI
Lama sekali ngga meng-update blog ini. Hampir setahun kali ya. Sebenarnya banyak sekali cerita yang telah terlalui, tapi sepertinya aku menjadi aras-arasen untuk menulis. Pfiuh... Ternyata aku rindu... Dan ... here i am ...
Setelah menjadi pengangguran selama 2 bulan pada Maret dan April lalu, akhirnya pas di hari ulangtahunku yang ke... (tiiiiiit), dapat undangan untuk menerima tiket masuk menjadi management trainee di tempat kerja yang baru.
Dan hari berikutnya mulai masuk ke instansi di mana aku dan 4 orang teman baruku ditempatkan. Dan mulailah cerita-cerita baruku di sini... yang tanpa terasa sudah...
Setelah menjadi pengangguran selama 2 bulan pada Maret dan April lalu, akhirnya pas di hari ulangtahunku yang ke... (tiiiiiit), dapat undangan untuk menerima tiket masuk menjadi management trainee di tempat kerja yang baru.
Dan hari berikutnya mulai masuk ke instansi di mana aku dan 4 orang teman baruku ditempatkan. Dan mulailah cerita-cerita baruku di sini... yang tanpa terasa sudah...
Subscribe to:
Posts (Atom)
Nine Years Later ...
Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...
-
Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yan...
-
Part 3 of 3 Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami ...
-
Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di ...
