Sebuah Catatan Perjalanan 22-23 Januari 2012
Setelah sekian lama membicarakan dan merencanakan, akhirnya long weekend kemaren, saya bersama teman-teman satu bidang di kantor bersama keluarga jadi juga outing ke Jawa Barat. Tujuannya adalah Pangandaran. Here we go ...
Setelah tidur (kurang lebih tujuh jam) di dalam bis sambil bergoyang dangdut sepanjang malam, akibat jalan yang tidak rata, sekitar jam lima pagi kami sampai di hotel Sandaan untuk transit, sholat shubuh, mandi, dan makan pagi. Selesai makan pagi, kami duduk sejenak di tepian pantai pangandaran di depan hotel, dan mulai beranjak saat bis dan tour leader kami sudah siap mengantarkan kami menuju tujuan wisata pertama kami yaitu Green Canyon.
GREEN CANYON
Sekitar satu jam perjalanan sampailah kami di Green Canyon. Sesampai disana, kami masih harus menunggu giliran naik perahu atau ketinting yang akan membawa kami menyusuri Green Canyon. Satu perahu berisi enam orang dengan tarif Rp 75.000 per perahu. Akhirnya tiba giliran nomor 244, giliran kami (saya, pak Mono dan keluarga pak Parlan) untuk naik ke perahu.
Green Canyon adalah aliran sungai Cijulang yang airnya berwarna hijau dan berujung pada terowongan menyerupai sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmit dengan air yang mengalir di sela-selanya yang menjadikannya seperti hujan alami sepanjang hari. Subhanallah... sejuk dan damai ... Sampai di tempat berhentinya perahu, kami harus menaiki bebatuan untuk melihat pemandangan di dalamnya. Cantiknyaa... Sebenarnya kami masih bisa menyeberang masuk ke dalam dengan menggunakan pelampung didampingi pemandu dengan tambahan biaya 120 ribu per rombongan. Sayang disayang, waktu itu kami tak membawa baju ganti sehingga tak menerima tawaran untuk melihat ke dalam yang katanya lebih cantik daripada pemandangan di luar.
Setelah puas berfoto dan menyisakan penasaran dengan pemandangan di dalam, kami pun kembali ke dermaga. Dilanjutkan dengan makan siang di rumah makan dekat dermaga, sebelum melanjutkan perjalanan ke obyek berikutnya. Selesai makan kami pun bersiap menuju ke Pantai Batu Karas. Perjalanan kali ini cukup lama, bukan karena jaraknya yang jauh, tetapi karena macet yang luar biasa karena banyaknya kendaraan pengunjung.
PANTAI BATU KARAS
Tiba di Pantai Batu Karas, kami menunaikan sholat Dhuhur terlebih dahulu, baru kemudian menuju ke tepian pantai. Pantai Batu Karas adalah sebuah pantai yang landai yang berada pada sebuah teluk. Pantai ini menyediakan beberapa permainan air yang dikelola oleh pemuda setempat. Menurut salah satu pengelola ada sekitar sembilan permainan diantaranya banana boat, aquaglider, ufo, flying fish, buggy, jetski, dan lainnya. Tidak semua permainan dikeluarkan setiap harinya, melainkan disesuaikan dengan musim dan permintaan dari pengunjung.
Sore itu kami berenam (aku, keluarga bu asti, dan keluarga bu danish) memilih untuk naik UFO dengan tarif 50 ribu per orang. Setelah memakai pelampung, tibalah saatnya UFO diikat pada kapal motor yang menariknya mengitari pantai menuju ke tengah beberapa kali putaran (ah... saya tidak sempat menghitungnya). Seruu... kami berteriak-teriak kegirangan (atau ketakutan hayo?). Setelah kami turun, Ibu Itje dkk (yang dari Green Canyon tadinya ingin langsung pulang ke hotel) akhirnya malah ikut mencoba permainan UFO ini. Selesai bermain, tiba-tiba rintik hujan pun turun. Dan kami sudah di dalam bis kembali menuju hotel ketika rintik itu menjadi lebih deras.
NIGHT AT THE BEACH
Tiba di hotel, saya sekamar dengan bu Ony yang sama-sama tidak mengajak keluarga. Saat makan malam Ibu Itje membagikan doorprize yang sudah disiapkan dari rumah. Setelah itu saya dan Bu Oni melihat kain pantai dan kaos-kaos di kios yang ada di sepanjang jalan depan hotel untuk buah tangan keluarga di rumah. Survey harga dari satu kios ke kios lain, melakukan negosiasi mencari harga yang paling murah. Dan setelah berputar-putar dan menemukan yang kami cari, akhirnya kami duduk dan memesan kelapa muda di tepi pantai, ditemani angin malam, rinai gerimis, dan deburan ombak. So sweet... I wish you were here...
SEPEDA TANDEM
Pagi hari kedua, saya dan bu Ony ingin mencoba bersepeda tandem. Sampai di tempat sewa sepeda kami bertemu Ibu Itje, dan Ibu Antik yang sudah terlebih dahulu menyewa masing-masing satu sepeda mini, dan juga bu Titik. Akhirnya saya dan Bu Ony tandem bertiga dengan Bu Titik. Bagian tersulitnya adalah pada saat mengayuh pertamakali dan kami tidak kompak. Rasanya seperti akan terjatuh. Tetapi semua berubah mengasyikkan ketika sudah terbiasa dan stabil.
Sampai di tengah perjalanan tiba-tiba saya dan bu Ony merasa kayuhan sepedanya semakin ringan. Saya pikir hal itu terjadi karena jalanan yang menurun. Tapi, ketika Bu Titik yang berada di paling belakang merasa semakin berat, maka ini pasti terjadi sesuatu hal dan kami menepi dan berhenti. Dan benar saja. Rantai sepeda kami loss atau lepas. Tentusaja Bu Titik merasa semakin berat karena samasaja memboncengkan dua orang (duh ibu... maafkan kami tak tahu ^^v). Setelah masalah teratasi, kami melanjutkan perjalanan mengejar ketertinggalan kami dari bu Itje dan bu Antik. Tapi pada akhirnya kami hanya bertemu bu Antik, dan kehilangan jejak bu Itje. Kami bersepeda menuju gerbang masuk pangandaran, kemudian ke pasar seni yang belum buka dan berhenti untuk membeli bubur ayam di tepi jalan sebelum kembali ke hotel untuk makan pagi. Hoho ...
BERPERAHU KE PANTAI PANANJUNG
Selesai makan pagi, kami memutuskan untuk menyeberang ke Pantai Pananjung yang berpasirputih dengan perahu. Sebagian dari kami yang awalnya bersemangat untuk menyeberang, mengurungkan niatnya karena melihat ombak yang begitu tinggi. Setelah kloter pertama (keluarga pak Pram, pak Parmono, dan pak Bandina). Akhirnya kloter kedua ini ada sebelas orang (saya, keluarga bu Asti, keluarga bu Danish, keluarga bu Nia, dan keluarga mba Jum) yang berangkat dengan dua perahu. Bagian paling mendebarkan adalah ketika pertamakali melewati ombak putih yang tinggi lalu terhempas di jeda ombak berikutnya. See? Betapa para nelayan mempertaruhkan nyawanya di lautan demi mencari nafkah untuk keluarganya dan demi seafood lezat nyummy yang terhidang di restoran favorit anda.
Di tengah, meski terasa bergelombang namun tidak semenakutkan ombak berbuih putih di tepian tadi. Kami dibawa perahu berhenti di atas taman laut yang biasanya terihat terumbu karang yang cantik. Namun karena saat itu air sedang pasang, maka air menjadi lebih keruh dan tidak jernih sehingga tidak terlihat dasarnya. Selanjutnya kami dibawa ke tengah menuju perbatasan antara laut jawa dengan samudera hindia yaitu laut lepas yang tidak terlihat pulau sama sekali kemanapun kita memandangnya.
Setelah itu kami pun berlabuh di pantai Pananjung yang berpasir putih dengan pepohonan rendah di dekatnya. Kami tidak masuk ke cagar alam. Hanya duduk di tepian pantai melihat laut biru, merasakan keceriaan anak-anak bermain di pasir putih, memandang iri anak-anak muda melakukan snorkeling, menikmati semilir angin, sambil sesekali menggoda monyet yang mendekat dan bergelayut manja di pepohonan di dekat kami. Hingga perahu akhirnya menjemput kami untuk kembali ke pantai barat. Menuju hotel dan check out pada jam sebelas untuk memulai perjalanan pulang ke Jogja the lovely city.
0 comments:
Post a Comment