Tahukah anda? Saat teman-teman yang lain sudah mulai break dari petualangannya karena sudah hampir semua kota (bahkan mungkin pelosok desa) di Indonesia (bahkan luar negeri) sudah disinggahi atau karena mulai disibukkan mengurus buah hati, saya malah baru menemukan alasan dan kesempatan untuk mengunjungi dua kota di luar Yogya pada bulan November ini.
Bermula dari undangan pernikahan dua orang teman yang tidak ingin saya lewatkan momen terindahnya, saya menginjakkan kaki saya di Bandung pada minggu kedua dan Semarang pada minggu ketiga November yang mulai sering dikawal mendung.
Menara Satu... Bandung
Jumat malam diantara rinai gerimis yang ragu turun ke bumi, saya dan Risna naik motor dari rumah sekitar jam 8 malam menuju stasiun Tugu. Kereta Mutiara Selatan yang datang jam 10 malam mengantarkan perjalanan kami menuju stasiun Kiara Condong pada jam setengah enam pagi, dijemput Aji dan mas Toto (ngrepoti yang punya acara).
Sabtu pagi hingga sore kami di rumah mba Ita di Pasirkunci, sesekali membantu pekerjaan kecil yang bisa dibantu, meskipun acara H-1 nya ngga sesibuk acara nikahan di desa saya. Malam harinya diajak Aji dan Gian cari dasi, kemudian mampir makan surabi di d’Cosmo dan muter-muter kota Bandung yang-malam-itu-macet-sekali dan terakhir, melihat kerlip lampu kota Bandung dari atas bukit di sebelah atas rumah mba Ita.
Tak lama kemudian keluarga Gian dari Yogya tiba. Dan kami ikut keluarga menginap di Wisma Ponyo. Paginya setelah mandi dan sarapan, kami menghadiri acara akad nikah di masjid. Roaming saudara-saudara... Pengantarnya pake bahasa Sunda. Hehe… Setelah akad, resepsi diadakan di gedung depan masjid. Foto-foto dan makan-makan, hmm yummy. Tempatnya enak banget. Disamping gedung ada banyak saung cantik yang digunakan para tamu undangan untuk duduk setelah mengambil makanan dari prasmanan.
Setelah shalat Dhuhur, akhirnya tiba saat kami pamit pulang. Mendahului keluarga Yogya yang sebenarnya mengajak pulang bareng naek mobil mampir ke rumah mba Ita dulu, baru nanti malamnya diantar bareng-bareng ke stasiun. Ah, kami sudah terlalu banyak merepotkan, makanya kami memutuskan untuk naik angkot dari depan tempat resepsi, dengan alasan mau jalan-jalan dulu sambil menunggu jam keberangkatan kereta ke Yogya.
Kami naik angkot jurusan Cicaheum, kata si mamang, angkotnya sampe ke alun-alun. Kayaknya yang dimaksud si mamang adalah alun-alun Ujungberung, soalnya di tengah rintik hujan yang menderas (untung bawa payung) kami harus turun dari angkot dan pindah bus Damri jurusan alun-alun Bandung yang akhirnya membawa kami menuju Masjid Raya Bandung untuk beristirahat sebentar sembari menunggu azan ‘Ashar.
Selepas shalat Ashar kami bermaksud mampir ke Pasar Baru, namun sampai di bawah menara utara Masjid Raya, ternyata loketnya masih buka. Akhirnya tiket @Rp 2.000 mengantarkan kami naik lift menuju puncak menara utara Masjid Raya Bandung yang dikelilingi kaca yang membuat kami merasa mengelilingi kota Bandung dalam waktu yang singkat (hehe). Yah, karena waktu sehari ngga akan cukup untuk keliling kota Bandung.
Setelah puas, akhirnya kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Pasar Baru. Hm, kalau menurutku seperti PGS di Solo atau Mangga Dua di Jakarta sana. Kami melihat-lihat hanya sebentar karena ternyata sudah waktunya tutup kios. Saat azan Maghrib terdengar kami pun memutuskan untuk segera ke stasiun. Bersih-bersih muka, shalat Maghrib, makan dan menunggu keberangkatan Lodaya sekitar setengah jam pada pukul delapan malam. Dan... See you again Bandung ...
Menara Dua ... Semarang
Sebenarnya undangan pernikahan Imam-Dinar ini pada hari Ahadnya, tetapi karena Ibu ngunduh arisan dan pengajian jamaahnya persis pada hari yang sama -dan saya tetap mengatakan pada diri saya bahwa apapun yang terjadi saya harus berangkat- maka akhirnya saya memutuskan untuk berangkat pada hari Sabtu naik motor ditemani Ima.
Rencana awalnya, kami akan berangkat sehabis subuh agar sampai sana tidak terlalu siang dan bisa santai di perjalanan. Tapi... boro-boro berangkat sehabis shubuh, Adzan Subuh pun tidak sempat terdengar, hiks... !! Kami baru bangun jam 04.15. Dan uppss... HP yang lowbat belum sempat di-charge penuh. But the show must go on. Dan kami berangkat pada jam 06.00.
Setelah isi bensin di SPBU Sentolo, kami menempuh perjalanan melewati Kalibawang – Magelang melewati jembatan darurat yang mendebarkan. Sampai di Magelang yang banyak warung makan, perut kami masih tenang dan bersahabat. Namun sesampai di daerah Rejosari yang mulai sepi warung makan, perut kami malah kompakan minta diisi. Akhirnya kami menemukan sebuah warung soto, nasi goreng dan tahu kupat. Sebuah warung sederhana tetapi bersih dan rapi sekali. Warung langganan para sopir truk kayaknya. Hihihi... Sembari makan, aku numpang ngecharge hape, sampai makanan habis... lumayan hape terisi sampai 82%. Lanjuut... terus sampai daerah Temanggung, dekat daerah rumahnya syeh Puji, kami berhenti di SPBU untuk mampir ke kamcil.
Setelah itu kami tak berhenti hingga tiba di Semarang dan kami pun mulai mencari rumah Dinar di Jalan Singosari. Setelah sempat nyasar, alhamdulillah akhirnya kami menemukan Singsong yang memasang tenda ungu (tren warna tahun ini sepertinya). Disambut (Ge-eR: on) ibunya Dinar yang kemudian memanggilkan kedua calon mempelai. Setelah ngobrol beberapa saat lamanya, makan, dan menyampaikan maksud kedatangan (halah), akhirnya kami pun pamit pulang.
Pulang?? Oh tentu tidak... kami berdua berniat untuk shalat Dhuhur di Masjid Agung Jawa Tengah. Dan ... tak lama sampailah kami di sana. Subhanallah... Masjid yang megah, pasti akan sangat indah ketika jamaahnya memenuhi serambi yang keenam payungnya dibuka.
Setelah Ima menyalurkan hasrat narsisnya, serta shalat Dhuhur dan Asar, kami berencana pulang karena di langit tampak mendung hitam menggantung. Namun, ketika melewati lantai serambi yang panas sehabis diterpa terik matahari, di depan sana menara yang berdiri megah seolah melambai-lambai, mengajak kami untuk singgah. Sehingga kami pun melangkahkan kaki kami ke sana. Apakah loketnya masih buka? Ternyata masih buka saudara-saudara. Kali ini tarifnya Rp 5.000, 00. Dan segera kami diantarkan dengan lift menuju puncak menara. Kata si mbak, kalau pagi sampai siang bisa masuk ke museumnya, tapi berhubung sudah sore, cuma bisa ke puncak atau kalau berminat bisa ke kafetaria di lantai bawahnya.
Di puncak menara pengunjungnya cukup ramai. Kalau menara Masjid Raya Bandung dikelilingi kaca dengan beberapa jendela yang tidak dibuka, maka puncak menara Masjid Agung Jawa Tengah ini dikelilingi terali besi. Beberapa kali terasa hembusan angin yang cukup kencang melewati celah-celah teralis, seolah hendak menerbangkan siapa saja yang diterpanya. Yah, sekali lagi saya (kali ini bersama Ima) mengelilingi kota Semarang dalam waktu yang singkat. Hehe ...
Setelah puas melihat kota Semarang dari langit, kami mampir ke Pandanaran sesaat sebelum akhirnya pada jam 22.00 wib kami sampai di Yogya yang penuh dengan cinta. There is just no, no place like home...



0 comments:
Post a Comment