Misi utama perjalanan ke
Semarang kali ini adalah mengantar Ima tes CPNS Kemenkes. Ini
merupakan kali yang kedua aku ke Semarang, dan keempat bagi Ima.
Dulu kami ke sana dengan sepeda motor. Namun kali ini kami memilih
menggunakan bis, mengingat beberapa hari terakhir ini hujan mulai
sering turun.
Kami menitipkan sepeda
motor di terminal Jombor. Kami tiba persis ketika bis Nusantara yang
akan kami naiki siap berangkat, dan menyisakan dua seat di
bangku paling belakang dengan membayar tiket @40 ribu. Kami berangkat
jam setengah sebelas. Di dalam bis yang cukup nyaman ini
perjalanannya terasa begitu lama dan jadi terpikir kalau naik sepeda
motor akan lebih cepat dengan resiko badan terasa lebih capek.
Gara-gara nonton acara
‘pejalan nekat’ di Transtv, Ima mengiyakan kebaikan hati teman
kami yang sudah lama tinggal di Semarang untuk menjemput, memberi
tumpangan menginap, serta meminjamkan kendaraan dan waktunya untuk
mengantarkan ke tempat tes (dan lainnya). Sesuai janjian kami turun
di Sukun (ADA Banyumanik). Sambil menunggu dijemput, kami yang
kelaparan karena tidak sarapan segera mencari tempat makan siang yang
memiliki mushola.
Sekitar jam setengah
tiga, Rin dan temannya (Pandu) datang. Kami pun segera menuju ke
rumah tempat kami akan menginap di seputaran Jl. Wahidin. Setelah
diantar ke kamar kami pun meluruskan kaki sebentar sampai Putri
(adiknya Rin) datang, dan ngobrol dengannya yang sudah lama ngga
bertemu hingga tak terasa sudah jam setengah empat. Setelah shalat
Ashar dan bertemu dengan bapak pemilik rumah yang sangat ramah, kami
pun berencana pergi melihat tempat tes di GOR Jatidiri yang katanya
hanya 5 menit saja dari sana.
Sebelum ke GOR Jatidiri,
kami sepakat akan mengunjungi ke beberapa tempat di kota ini.
(Haha... sebenarnya misi utamanya yang mana ya?). Pemberhentian
pertama kami adalah Kuil Sam Poo Kong. Menurut cerita tempat ini
adalah tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Di tempat
ini terdapat beberapa bangunan kuil yang mengelilingi tanah lapang
dan beberapa patung, yang terbesar adalah patung Laksamana Zheng He
(begitu tertulis di plakat di bawah patung).
Setelah dirasa cukup,
kami pun beranjak menuju ke Lawang Sewu. Tiba di sana hari mulai
gelap, lampu-lampu pun sudah mulai dinyalakan. Tarif masuknya per @10
ribu, jika kami berempat menginginkan pemandu untuk memandu menyusuri
lorong, maka kami harus menambah 30 ribu lagi. Tapi karena sudah
menjelang Maghrib kami memutuskan untuk tidak menggunakan pemandu dan
hanya berjalan di sekeling luar saja.
Kemudian kami berencana
ke Gereja Blendhuk di kawasan kota lama. Tapi, kami menuju ke Masjid
Agung Baiturrahman di Simpang Lima terlebih dahulu untuk shalat
Maghrib, dan sekalian Isya’. Dan janjian bertemu mr. Fallah, seorang
teman sekolah yang tinggal di Semarang, sembari ditraktir makan tahu
gimbal di kawasan pemda semarang. Tak terasa waktu beranjak malam dan
kami membatalkan rencana ke kota lama karena tentu saja Ima harus
mempersiapkan untuk tes besok pagi.
Sampai di rumah, kami
bertemu dan ngobrol sebentar dengan bapak pemilik rumah. Bapak
bercerita kalau dulu masing-masing puteranya memiliki kamar
sendiri-sendiri. Dan sekarang mereka sudah berkeluarga dan memiliki
tempat tinggal sendiri di kota lain. Dan kamar yang kami tempati
adalah kamar putera bungsunya yang seorang pesepakbola. Pantas saja
seluruh dinding kamar dilukis yang membuat kami seolah-olah berada di
tengah stadion sepakbola.
*Special thanks to: Rin, Putri, Pandu, dan Bapak.
*Special thanks to: Rin, Putri, Pandu, dan Bapak.


No comments:
Post a Comment