Saturday, November 23, 2013

Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran

Alhamdulillah ada tanggal merah lagi. Empat Juni duaribu tigabelas, grup Ahihihi plus Kethik berencana pergi ke Nglanggeran. Menurut cerita, di sana ada Gunung Api Purba dan Embung buatan yang bagus. Berenam (karena Nafi membatalkan keikutsertaannya), kami berangkat sekitar jam setengah sepuluh dari rumah menuju ke Patuk, Gunung Kidul. Jalanan menuju ke lokasi mudah diakses kendaraan, bahkan sudah terdapat papan petunjuk arah untuk menuju ke Nglanggeran ini. Sempat bingung dan bertanya untuk memastikan bahwa kami berada di jalur yang tepat, akhirnya kami tiba di lokasi.

GUNUNG API PURBA 
 
Sampai di parkiran, langsung menuju ke loket penjualan tiket masuk dengan membayar sejumlah (Rp 5.000 x 6 orang) + (Rp 2.000 x 3 motor) = Rp 36.000. Yuk... Jalan thimik-thimik menuju puncak gunung. Hari itu lumayan ramai meski cuaca mendung. Mari berdoa semoga hujan tak turun sebelum kami kembali dari puncak. Perjalanannya mengasyikkan. Ada banyak jenis jalan yang akan kita lalui. Mulai dari jalan tanah setapak yang sepertinya akan licin jika basah oleh hujan, jalan dengan krikil kecil, jalan naik berupa tangga buatan dari semen, maupun tangga bantuan dari kayu dan bambu, akar pepohonan yang terjulur untuk berpegangan mendaki batu terjal untuk naik ke atas, hingga bantuan tali tampar yang terikat kuat di pohon, atau kalau mau kita bisa mencoba rock climbing tanpa bantuan tali apapun.
 Tiba di Pos I dengan selamat, kami dihadapkan pada pemandangan yang sangat cantik. Ketika sedang menikmatinya,tiba-tiba kabut mulai datang dan tak lama kemudian gerimis turun.

Awalnya kami mempertimbangkan untuk turun ke bawah dan tidak menuju puncak. Namun ketika gerimis berhenti merintik, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dan di perjalanan ini Kethik memisahkan diri dengan memilih jalur kanan, sementara kami berlima memilih jalur kiri menuju ke Pos 2 – Pos 3 – Pos 4 dan tiba di persimpangan tempat pertemuan jalur kiri dan kanan. Namun sebelum menuju puncak kami berbelok dulu ke tempat yang ditunjukkan papan petunjuk sebagai sumber mata air Comberan.


Di sana kami bertemu dengan sekelompok Mapala yang barusaja keluar dari mata air tersebut dan mengatakan bahwa di sana sangat bagus. Tapi... ketika kami mencoba mengintip naik, ternyata jalannya cukup mengerikan. Tidak cocok untuk kami lewati yang ketika itu memakai sandal dan tas seperti ini.
 
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kabut semakin tebal dan ketika kami tiba selangkah menuju puncak, kami menemukan Kethik telah berada di puncak. Dan saat dia turun, aku, Icha, Risna, dan Uli segera menaiki tangga menuju ke puncak gunung gede, sementara Ima memilih untuk menunggu di bawah dan tak naik (haloo... selangkah lagi dan tidak mencobanya? Hadew..).

Sayang sekali sampai di atas kabut tebal masih menyelimuti, jadi kami tak bisa melihat pemandangan di sekeliling, yang saya sangat yakin kalau hari cerah maka akan terlihat sangat bagus. Tak apalah, yang penting tiba di puncak dengan selamat. We did it!! Horay, horay, horay!

Turun dari puncak gunung gede kami menuju ke pos 5 untuk beristirahat dan (ehem) foto-foto. Kemudian turun melalui jalur yang dilalui Kethik. Bagian paling serunya adalah berjalan di celah dua bebatuan yang hanya muat untuk satu orang bahkan ada satu space di mana kamu harus memiringkan badan untuk bisa berjalan.
Ternyata jalur ini dari pos satu memang lebih dekat menuju puncak, pantas saja Kethik tiba di puncak duluan. Tapi keputusannya untuk meninggalkan kami berlima tetap harus mendapatkan balasan setimpal.
Akhirnya kami sampai di bawah, hujan pun turun dengan derasnya. Alhamdulillah...

EMBUNG NGLANGGERAN
 
Setelah hujan sedikit mereda kami pun bergegas menuju tujuan kedua, yaitu embung buatan yang hanya terpaut beberapa km dari gunung api purba. Kabarnya kalau kami beruntung bisa tiba di puncak pada hari cerah tak berkabut, maka dari atas sana bisa melihat dengan cukup jelas betapa cantiknya embung ini.
Menurut cerita petugas parkir, awalnya embung ini adalah bukit yang di pangkas pucuknya, kemudian digali sedalam 3 meter kemudian didesain sedemikian rupa sehingga bisa diisi dengan air. Untuk menuju ke puncak, cukup mudah karena sudah dibangun beberapa anak tangga yang bisa kita lewati untuk sampai di embung ini.

No comments:

Post a Comment

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...