Wednesday, January 30, 2008

Buku ... Buku ... Buku


Sembilan Bulan di Kebumen Cuma Bisa Baca 7 Buku:
1. Bukan Pasar Malam - Pramoedya Ananta Toer
2. Komik Detektif Conan 48 dan 49 - Aoyama Gosho
3. Nge-friend Sama Islam #2 - Teguh Iman Perdana
4. Mencari Mutiara di Dasar Hati - Muhammad Nursani
5. Zero To Hero - Sholihin Abu Izuddin
6. Ketika Cinta Bertasbih - Habiburrahman El Shirazy


2008 Januari Penuh Fiksi
1. Ketika Cinta Bertasbih 2 - Habiburrahman El Shirazy
2. Filosofi Kopi - Dee
3. Harry Potter And The Sorcerer Stone (terjemahan) - JK Rowling
4. Hary Potter And The Prisoner of Azkaban (terjemahan) - JK Rowling
5. Kambing Jantan - Raditya Dika

Di Taman Pintar



Sabtu, 19 Januari 2008, aku dan keempat adikku (Ima, Risna, dan Icha) sore-sore maen ke Taman Pintar di Yogya. Lama banget kami ngga keluar bareng-bareng gini. Sore itu Taman Pintar cukup rame, tapi sayang sekali gedung oval sudah tutup. Jadi kami cuma melihat-lihat permainan di luar saja dan menyalurkan hasrat berfoto adik-adikku.

Thank You So Much, I'm Sorry, Good Bye

Sering kita berpikir bahwa kitalah yang tahu apa yang terbaik buat kita. Padahal yang menurut kita baik belum tentu itu yang terbaik, sedangkan yang terlihat buruk bisa jadi malah yang terbaik buat kita. Dan sudah sewajarnya kita melibatkanNya dalam setiap keputusan yang ingin kita ambil. Dan untuk keputusan yang sudah diambil ... bismillah saja... dan jangan pernah sekali-kali menyesalinya

Kata pengantar yang cukup panjang,ya? Sabtu, 5 Januari 2008 aku mengakhiri kontrak kerjaku di Kebumen dan balik lagi ke Sentolo City, di Yogya. Dan aku sangat berharap bisa segera menemukan ganti yang lebih baik lagi. Amin.

9 bulan di Kebumen, aku ngga banyak tempat yang kuketahui (memalukan memang. Paling yang dekat-dekat tempat kost. Teman dan kenalan juga ngga banyak (so pamitannya ngga butuh waktu yang lama. Hehe...). They are ...
Keluarga Masdoeki, yang selalu mau direpoti;
Bu Manto (d'owner of Garuda 17);
Teman-teman kost yang sangat bermacam-macam karakternya:
- Mba Ning, Meta dan Ratna, yang udah cabut duluan;
- Mba Sulis, yang selalu ceria dan bersemangat;
- Mba Iin, yang selalu punya jawaban lucu untuk semua pertanyaan seserius apapun;
- Mba Nana, yang punya banyak kemiripan (selera) denganku;
Teman-teman kantor:
- Pak Limo, yang 'sedikit' pelupa meski sangat bersemangat dan berdedikasi;
- Mba Dewi, the best ojek ... eh... fren di Kebumen;
- Mba Indra, teman 'ngerumpi' sebulan terakhir lalu;
- Mba Diana, yang dapat pe-er banyak banget ya, mba?
Lainnya ...
- Pras, teman esempe yang ternyata dah 7 tahun di Kebumen;
- Toko Melati: Bu Siti, Mba Fiki, Mba Endah, Mba Ijah, Mba Mugi, Mba Pu2t
- Jadi Jaya: Cik Weni, Koh Alex, Mba Ri2n, mba Lastri, mba Sri
- Gaza: Mba Yani, Mas Heri, Mba Tri
- Mbah Sarman, Pak Sukir, Bu Badri, Bu Agus, Mba Onik,
- dll
Kebumen memang ngga jauh2 amat dari Yogya ( dua jam perjalanan). Tapi, aku mau ucapkan thank you so much, i'm sorry dan goodbye ...
Aku yakin akan datang saat dimana aku merindukan saat saya berada di Kebumen, dikelilingi mereka yang begitu baik ... I'll miss u all

January Post: The Prolog

Hampir 2 bulan ngga update posting di blog-ku ini. Padahal banyak banget yang pengen aku ceritakan. Tapi kompie-ku di rumah ngga ce-es. Ngga bisa ngsave di flashdisk-ku (coz ngga ada port-nya.Hehe...). Jadi ngga bisa upload tulisanku yang dah berlembar-lembar. Untuk di ketahui, aku ngga punya sambungan internet pribadi, jadi aku harus ke warnet untuk bertualang di cyberworld ini. Lha kalau nulis postingnya di warnet juga, bisa-bisa aku jatuh miskin (hehe...emang pernah kaya?)

Dan tak terasa pula setahun sudah berlalu lagi. Dan my new year resolution adalah aku sangat berharap tahun ini aku benar-benar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi bagiku, bagi orang-orang di sekelilingku dan bagi agamaku.(Terlalu abstrak memang, tapi aku sangat ingin mengkonkretkannya) Amin

Saturday, December 8, 2007

DUA JAM MENUJU SENTOLO

Hari itu … diantar teman … ke tempat pemberhentian bis di daerah Kedungbener. Belum lama aku turun dari motor … bus ekonomi Sari Rawit jurusan Jogja – Solo sudah muncul dari belakang. Dan bersegeralah aku naik … Bismillah ….

Ups! Busnya penuh banget. Ngga ada tempat duduk satu pun. Dan ngga ada seorang pun yang menawarkan tempat duduknya untukku. Hiks!

Ngga lama kemudian kondektur menarik bayar karcis. Kuulurkan selembar uang Rp 10.000. Tapi ternyata pak kondektur minta ditambah Rp 3.000 lagi.
“Lho Pak?! Biasanya Kebumen-Sentolo, bayarnya Rp 10.000.”
“Ngga mba! Ya udah Rp 2.000 aja”
Hmm… paling males kalau berdebat ngga jelas gini, daripada berkepanjangan akhirnya kuberikan juga uang dua ribu untuk pak kondektur itu.

Ternyata ada ‘wong landa’ (orang luar negeri) yang ikut naik bis. Yah … di daerah kecil seperti ini, tentusaja mas turis dan mbaknya jadi pusat perhatian (ngga segitunya, ding!). Hehe … Aku jadi kepikiran satu hal. Selama bertahun-tahun sekolah aku ngapain aja, sampai-sampai ngga bisa menguasai bahasa inggris. Di terminal Purworejo, mas turis yang mampir ke toilet hampir ketinggalan bis, untung si mbak-nya teriak ke pak sopir “Tunggu, Pak!” … Dan si mas turis kelihatan berlari-lari dari arah toilet. Hehe …

Selanjutnya … di Bosco, ada pengamen naik bis, menyumbangkan lagunya Ungu yang berjudul “Demi Waktu”. Pede banget si mas ini. Asli! Suaranya cempreng banget, udah gitu nada nyanyinya ngga pas. Out of tone. Aku jadi pengen tersenyum sendiri mendengarnya. Satu lagi pas lirik ini …dan demi waktu… yang bergulir di sampingku …. Si masnya nyanyi begini … dan demi waktu … yang berguling (!) di sampingku. Hehe … ada-ada aja si mas ini.

Sabtu, 21 Juli 2007 jam 12.15 – 14.10 wib

Friday, November 9, 2007

A Y A

26 Oktober 2007

Seorang gadis berkerudung (sebut saja Aya), terdiam seolah menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapannya. Namun sebenarnya, pikirannya melayang, jauh, tak tentu arah dan tak tahu akan berujung di mana. Berkali-kali dia menghela nafas panjang, yang sepertinya tak juga melegakan gundah di hatinya.

Sudah 3 bulan ini dia menunggu kepastian akan suatu hal yang telah dijanjikan.. Namun, ternyata dia masih harus terus menunggu dan menunggu. Hingga hari ini, ia merasakan kejenuhan yang amat sangat.

***
25 Juli 2007

Setelah beberapa hari sebelumnya Aya nekat mengutarakan ‘uneg-uneg’nya via email, hari ini dia dipanggil untuk menghadap atasannya. Meskipun merasa senang karena ternyata email-nya direspon, namun tak urung Aya panik juga memikirkan apa yang harus dikatakannya. Secara, Aya pasti grogi saat harus berbicara pada suasana formal (pada suasana non formal pun penyakit grogi-nya terbilang cukup parah).
Semalaman Aya mencoba merancang susunan kata-kata yang akan disampaikan kepada atasannya besok.

Jam 10 pagi, tibalah Aya di kantor atasannya. Tampak semua orang sedang sibuk, Aya pun menunggu sambil berusaha meredakan gemuruh di dadanya yang berdebar-debar.

Akhirnya Pak Direktur Utama menemuinya …
Pak Dir :
“Ada apa mbak Aya?”
Aya : (yang tak juga berhasil meredakan nervous-nya mulai kehilangan susunan kata-katanya semalam, dan hanya bisa berkata)
“Saya mau mengundurkan diri, Pak?”
Pak Dir :
“Kenapa? Karena masalah itu ya? Saya, kami tahu sekali, pasti ngga enak banget rasanya digantung. Kami menargetkan, bulan Agustus ini semuanya bisa selesai. Terusterang saya berharap mbak Aya masih mau bergabung bersama kami. Mungkin itu saja dari saya, dan saran saya, coba mbak Aya renungkan kembali niat mbak Aya, dan silakan nanti bicarakan dengan Bu HRD”.

Aya pun menemui Bu HRD, dan mengutarakan niatnya untuk resign. Namun, Aya terus saja nervous, dan terus saja kehilangan susunan kata-katanya semalam, hanya ada satu alasan yang diingatnya (padahal, dia merasa itu adalah alasan paling aneh yang pernah dilontarkan oleh seseorang yang mau resign). Namun Bu HRD dengan sabar dan hangatnya, memaparkan kondisi sebenarnya, dan menawarkan sebuah solusi.
Bu HRD:
Wajar saja kita berpikir bahwa segala sesuatu itu seharusnya berjalan dengan ideal. Dan kalau mau fair-fairan, terusterang kondisi teman-teman di sana memang jauh sekali dari kondisi ideal, namun kami punya parameter tersendiri untuk teman-teman di sana. Salahsatunya, ya loyalitas teman-teman terhadap kami.Kalau boleh,bisa dikatakan,kantor baru ini adalah proyek trial & error. Jujur saja sampai hari ini kami masih mencari bentuk komunikasi yg efektif, untuk teman-teman di sana, mengingat jarak teman-teman di sana adalah yang terjauh. Dan kami janji pasti akan ada pendampingan untuk teman-2 di sana. (Tersenyum) Nah, setelah mendengarkan penjelasan saya yang panjang lebar, apa komentar mbak Aya?
Aya : (Benar-benar speechless, dan hanya berkata)
“ Ya sudah Bu, saya coba lagi … “
Bu HRD: (selalu dengan hangat)
"Oke, kalau begitu. Oya, setelah ini Bu Direktur 1 mau ketemu mbak Aya, jangan pulang dulu ya … ?”

Bu Direktur 1 pun tiba ….
Bu Dir : "Sebenarnya ada apa dengan mba Aya? Kenapa?"
Aya hanya bisa tersenyum karena kata-kata yang sudah disusunnya semalam sudah hilang, tak berbekas.
Bu Dir : Karena ngga paham dengan bahasa daerah sana? Atau ada sesuatu yang belum paham? Tanyakan aja, saya akan coba jelaskan, dan kalaupun saya belum mampu menjelaskan akan saya coba carikan jawabannya.
Aya pun sedikit cerita dan menanyakan beberapa hal yang sama sekali tidak ada dalam susunan kata-kata yang dirancangnya semalam. Dan berlangsunglah ‘diskusi’ yang sangat melenceng dari tujuan awal yang menjadi pilihan akhir Aya…

***
2 November 2007

Lagi-lagi, Aya sedang memandangi monitor di depannya. Dia teringat nasihat seorang kawan di kala ia berada diantara dua pilihan. Pertama, sholat istikharah. Kedua, saat kamu sudah memutuskan salahsatu diantara dua itu, bismillah, yakinilah keputusan yang telah kamu ambil, dan jangan pernah menyesali pilihan yang kamu tinggalkan. Dan Aya tidak menyesali keputusan yang telah diambilnya waktu itu.

***
31 Oktober 2007

Menunggu ternyata memang ngga mudah, dan membuat Aya kembali terjebak diantara dua pilihan . . .

***
catatan: (Kisah ini bisa jadi hanyalah fiktif belaka, kesamaan tokoh, karakter, peristiwa, dan dialog di dalamnya bisa jadi hanyalah kebetulan semata)

Wednesday, September 5, 2007

Kulit Kacang, Bocor, dan Pendiam

Bagian Pertama
BUKAN KACANG YANG LUPA KULIT

Sebelum aku menemukan tempat kost di Kebumen, aku sempat 5 hari numpang di rumah teman. Dan semenjak aku nge-kost, kalau ngga dibonceng temanku itu, aku hampir tidak pernah silaturahim lagi ke sana. Mungkin, baru sekitar 3 kali aku menginap di sana lagi semenjak aku kost. Bukannya aku melupakan semua kebaikan yang pernah diberikan padaku. Tapi aku punya alasan. Dan yang (selalu) kujadikan alasan itu adalah pulang kerja sudah sore, jarak rumahnya yang lumayan jauh (untuk ditempuh dengan berjalan kaki), ngga dilewati angkutan (hehe..), dan aku ngga punya kendaraan (hehe…).
***
awal September, saat mentari menyengat ubun-ubun pengendara di jalanan
(terimakasih tak terhingga untuk keluarga Bp. H. Masdoeki dan Ibu Hj. Masinem, di Tamanwinangun)

***
Bagian Kedua
EPISODE BOCOR


Saat itu, adalah hari libur yang posisinya benar-benar salah tempat. Tanggal merah 17 Mei 2007 jatuh pada hari Kamis, yang itu berarti menyisakan hari Jumat untuk masuk kerja. Buat mudik nanggung, padahal pengen banget pulang. Enaknya ngapain,ya?

“Mba, besok kita ke Pantai Bocor aja, yuk?”, ajak mba Dewi.

Hmm… kedengarannya menarik. Soalnya aku belum pernah mengunjungi satu obyek wisata pun di Kebumen ini. Akupun langsung mengiyakan ajakan mba Dewi. Jadilah sore itu sepulang kerja aku langsung ikut mba Dewi ke rumahnya, menginap di sana dan baru pagi harinya kita pergi ke Bocor. Sekitar setengah jam naik motor dari rumah mba Dewi..

De Javu … sepertinya aku pernah melewati jalanan ke pantai ini.

Sesampainya di gerbang masuk yang ada lapangan latihan polisi. Masya Allah, ini kan pantai yang waktu itu aku kunjungi sepulang dari rumah (alm) Arya di Cilacap, sama Nova, Nana, Jalu dan Wawan. Ya Allah, ternyata begitu sempit dunia (hehe …). Bedanya pagi itu, pantai Bocor ramai pengunjung, ngga sesepi waktu itu.

Sebagian besar pengunjung tampak asyik bermain air. Namun kami memilih duduk di pasir, menikmati udara dan pemandangan pantai Bocor pagi itu, sambil sesekali mendekati air dan berlarian saat dikejar ombak. Dan setelah merasa cukup kami pun beranjak pulang, namun singgah sebentar menikmati nasi pecel dan snack di salahsatu deretan warung di tepi pantai itu.

***
Bagian Ketiga
APA ENAK SIH MBA, JADI PENDIAM?

Saturday night ini daripada jenuh dengan rutinitas di kost, aku mabit di rumah teman lagi. Ngga ada rencana apa-apa atau mau ke mana. Ya, bisa dibilang pindah tidur aja. Wong berangkatnya aja udah azan maghrib.Hehe … Payah, ya?

“Nah, kalau ngga pulang ke Yogya, mbok ya pulang ke sini aja …”, kata Ibu temenku.

Sehabis Isya’, diajak maen ke tetangga temenku. Yang pertama ke tempat akhwat mungil nan ceria, nganterin titipan jilbab. Dia bercerita banyak tentang suka duka penelitian di Dinkes yang sedang dijalaninya. Dan aku (yang pendiam, hehe…) ikut asyik mendengarkan. Ya, meskipun aku ngga terlalu terlibat aktif, paling ngga aku mendengarkan sesuatu yang baru bagiku.

Selanjutnya, ke rumah akhwat yang ngajar di esde (alias jadi bu guru). Seorang akhwat yang rame, begitu hangat, keibuan dan menyenangkan. Dia bercerita tentang anak-anak didiknya, pengaruh media terhadap perilaku anak didiknya, dan hal lainnya.
Aku yang (lagi-lagi) kurang terlibat aktif dalam perbincangan ini ditanya akhwat ini.
Akhwat : “Mba ini orangnya pendiam, ya?”
Saya : “Kelihatan, ya?”
Akhwat : “Apa enak sih mba, jadi orang pendiam?”
Saya : (hanya tersenyum)

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...