Sunday, June 17, 2007

Catatan 12 juni - 14 juni 2007

Kebumen, Selasa, 12 Juni 2007 Jam 13.15 wib

(di tempat kerja, saat telat istirahat)


Hampir dua bulan terjebak dalam suasana yang membuat tak nyaman, tak tenang, di hati, di badan, di pikiran. Tak juga kutemukan siasat untuk menangkalnya.

Mencoba merangkak perlahan-lahan, suara-suara di sekitar tak menginginkankan bayi yang belajar dengan bimbingan. Mencoba berjalan dengan perlahan, cambuk-cambuk berkeliaran memaksaku bersegera lari.Mencoba berlari cepat lurus ke depan, tujuan masih terlihat samar-samar.

Jam 16.22 wib (di tempat kerja, sesaat setelah waktu pulang)

Diantara penat jiwa, kucoba pejam mata. Terlintas seraut wajah yang terbentuk nyata. Wajah penuh harap, wajah penuh doa. Memberiku ragu memutus bimbang. Menguatkan bimbang memenggal tanya.

Kebumen, Kamis, 14 Juni 2007 Jam 10.15 wib

(di tempat kerja, belum waktunya istirahat sih … tapi ngga apa-apa lah ya…)

Kicau burung riuhkan dinginnya pagi. Kepak sayapnya buatku semakin rindukan pulang, ke sarang dedaunan kering yang hangat … dan menentramkan.

Jam 12.25 wib (ditempat kerja, detik-detik akhir menjelang jam istirahat usai)

Panas mentari, hembusan angin, cuaca belakangan ini memaksa perasaanku untuk mengingat suatu masa yang pernah kulalui di rentang waktu kehidupanku. Dan pikirku memutar, mencoba mengingat, kapankah aku pernah merasakan panas mentari, hembusan angin, dan cuaca yang belakangan ini selalu menemani langkah di hari-hariku yang penuh ragu. Namun hingga detik ini tak jua kutemukan jawab atas tanya di hari-hariku yang penuh ragu.

Catatan 30 Mei - 9 Juni 2007

Kebumen, Rabu, 30 Mei 2007 Jam 12.01 WIB

(di tempat kerja saat jam istirahat)

Menyesal selalu terjadi di belakang. Itu yang sering kudengar, dan seringkali terjadi padaku. Seperti yang terjadi saat aku menulis tulisan ini. Yah… aku sedang menyesali sesuatu. Sesuatu yang seharusnya bisa kulakukan dengan lebih baik lagi kalau saja aku mau menambah sedikit kerja kerasku. Namun rasa malas, ngga pede, malu, communication skill yang ngga bagus, (dan ribuan ‘kambing hitam’ lagi), membuatku urung melakukan semuanya. Meski sudah ratusan kata-kata motivasi dari buku, dari lisan orang-orang yang begitu memperhatikanku mampir di telinga, namun tak juga memacuku untuk lebih bersemangat lagi.

Kebumen, Selasa 5 Juni 2007 Jam 11.50 wib

(di tempat kerja 10 menit sebelum jam istirahat)

Very haRd DayZ here … Panas!!

Kebumen, Sabtu, 9 Juni 2007 Jam 13.00 wib

(Warnet Freshco Kebumen, sepulang kerja)

Biasanya pulang ke rumah, bertemu keluarga, bisa menjadi alat yang cukup canggih untuk me-recharge semangatku. Tapi libur 3 hari kemarin tak mampu memberikan sesuatu yang lebih untukku. Mungkin karena selama tiga hari itu pula ada acara keluar terus. Ngga berada di rumah. Jadinya waktunya kurang lama.. (Walah!)

(Masih di Freshco….)

Pernahkah kamu merasa merindukan sesuatu? Sangat ingin kembali ke masa di mana kamu pernah bertautan dengan sesuatu itu? Namun hati dan tekadmu tak cukup kuat untuk menemukannya? Itu yang sedang aku rasakan saat ini.

(Masih di Freshco …)

Sebulan terakhir ini aku banyak curhat (kalau ngga boleh dibilang mengeluh) via sms ke beberapa teman dekatku. Kupikir ngga apa-apa kutulis di sini, sms balasan terfavorit-ku:

From V_t_:

“Stiap klian akn mmski pg&ptg dlm takaran usia yg t’sembunyi dr pngthuan kln. Bila kau bs utk tdk mlwtkn s’tiap jjk usia itu dg amal kbajikn mk lakuknlh, ttpi klian tdk akn bs mlakukn tnp prtolongn Allah, mk brgegaslah mnyusuri rintang2 ksempatn yg dberikan jatah usia sblm ia dtg mmupus sgl pkerjaan (Abu Bakar) “

From R_n_:

“Nulis kan bs pake kertas n bolpen, yg pnting isa lega,nin. Beli buku dan novel nin. Dah baca BUMI MANUSIA-nya Pramoedya belum?”

“…Kalau kamu punya tekad, seluruh alam semesta akan membantumu mewujudkannya!...”


Saturday, May 26, 2007

Kebumen ... Here I Come


Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di sana. Jarak tempuh 2 jam dari rumah, memaksaku untuk kost di salah satu kost-kostan di bilangan kota Kebumen, 5 menit jalan kaki ke kantor.

Berhubung ngga bawa motor, ngga begitu suka naik angkot, dan jam kerjaku yang cukup lama. Meski sudah sebulan di sana, belum banyak daerah yang kuhapal selain jalanan dari kost ke kantor. Paling engga aku sudah tahu tugu lawet (karena dekat tempat kerjaku), dan alun-alun kota.

Kesan pertamaku… Warga Kebumen cukup welcome, meskipun terkadang aku harus mengerutkan kening untuk memahami bahasa mereka yang ‘ngapak’. Kedua … Harga makanan mahal,ya? Ketiga … ngga ada toko buku sebesar Gramedia, atau Social Agency. Keempat … untungnya masih ada warnet.

Selanjutnya …. To be continued

NONTON SEKATEN

Sebenarnya ini cerita yang sudah ‘basi’. Tapi untuk meng-update blog yang lama ngga tersentuh ini, ngga apa-apa lah. Kisah ini terjadi saat saya mengantar ibu dan Nisa ke Yogya pada hari Rabu, 28 Maret 2007. Judulnya …. Nonton Sekaten.

Sekaten adalah salahsatu tradisi di kraton Yogyakarta untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Rangkaian acaranya adalah penabuhan seperangkat gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga di halaman Masjid Gede Kauman, pasar malam di alun-alun utara, dan puncaknya adalah grebeg maulid. Pada saat itu Sri Sultan memakai pakaian adat jawa dan menyebarkan udhik-udhik (uang) dan dikeluarkannya gunungan yang melambangkan sedekah keraton kepada warganya.

Kata Ibu saya, dulu pada masa kecilnya, Sekaten adalah salahsatu acara tahunan yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Bahkan terasa kurang afdhol kalau belum melihatnya. Biasanya di sekitar tetabuhan gamelan di halaman masjid gede, penuh sesak oleh orang-orang yang hanya ingin mendengarkan (sambil menyaksikan), atau sambil membeli sego gurih dan endhog abang untuk anaknya.

Siang itu ibu juga langsung mengajak saya dan adik saya ke tempat gamelan. Dan … disana sangat sepi. Hanya orang-orang tua yang duduk mengitari pagelaran. Lengang…

Tak lama kemudian datang ibu-ibu dan ketiga anaknya (yang masih kecil). Saya coba rangkum dialognya di sini.
Anak : “ Ibu! Ayo cepetan kita ke Sekaten….”
Ibu : “Lho! Yang namanya sekaten itu ya di sini, yang ada gamelannya!”
Anak : “ Yah! Ngga seru, ngga seru!!”
Aku tersenyum mendengarnya, soalnya belum lama berselang adik kecilku mengatakan hal yang serupa. Meskipun akhirnya adikku mau mengalah, dan membiarkan ibu bernostalgia dengan masa kecilnya. Dan sepertinya ketiga anak ibu itu juga melakukan hal yang sama.

Sebenarnya kenapa ya, sekaten menjadi sepi? Saya mencoba menebaknya dengan dua jawaban:
Pertama ... Meningkatnya pemahaman masyarakat (muslim) tentang Islam yang menjadikan mereka memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan cara yang lebih baik. Yaitu dengan menjadikannya idola yang sesungguhnya, panutan dalam menjalankan kehidupan.
Kedua ... Ketidakpedulian generasi sekarang. Atau jangan-jangan malah banyak pemuda (muslim) yang ngga tahu kapan nabi Muhammad dilahirkan? HikS!
Semoga tebakan pertama saya benar. Kalau yang benar ternyata yang kedua … pe-er kita masih banyak ya?

Kulon Progo, 12 Rabiulawal 1428H

Thursday, April 5, 2007

Coretan dari Tahun2 Yang Telah Berlalu

Ternyata aku

Kusangka aku adalah mawar
yang ketika mekar membuatmu berseri
Nyatanya aku hanyalah duri
yang menghalangi
tanganmu
memetik mimpi


Kukira aku adalah lebah ratu
yang memberi madu
menyembuhkan lukamu
Nyatanya aku hanyalah sengatan
yang membengkakkan
wajahmu
dan seluruh tubuhmu

Anin Dyan
(Coretan tertanggal 24 Juli 2002)
Keluhmu Amarahmu
 
Keluhmu
Membuka telingaku
Memutar pikirku
Menyentuh hatiku
Hasratku
Membuka mulutku
Keluarkan hiburan kalbu
Amarahmu
Menyalakan apiku
Memanaskan hatiku
Inginku
Menyiramkan air kalbu
Padamkan bara emosimu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 31 Juli 2002)
Debar


Kala kini
debar jantungku
bak laju
kereta api


Bukan !
bukan milikmu
lagi


Debar untukmu
sudah terhenti
di stasiun
sebelum ini

Anin Dyan
(Coretan tertanggal 20 Maret 2003)
 
Izinkanlahku

 
Hanya Kau pengukir senyumku
Hanya Kau pengabul harapku
Ampuni aku yang hanya mampu
mengagumi makhluk-Mu
Hingga waktuku untukMu
hanyalah sepenggal rindu
Namun izinkanlah aku tuk slalu
bersama cintaMu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 1 Februari 2004)



Rindu

 
Kasihku…
Culiklah mimpi indah
yang melelapkan tidurku
Bunuhlah lelah
yang menghinggapi ragaku
Usirlah payah
yang menggelantungi mataku


Kutak mau
mereka usik niatku
menjumpai-Mu
di sunyinya pertiga malam-Mu


Betapa slalu kurindukan
air menggenangi bola mataku
Betapa slalu kunantikan
debar memenuhi jantungku
karena … mengingatMu


Anin Dyan
(Coretan tertanggal 15 April 2005)

***

SAYA, BUKU DAN SNOBISME


Ngomong soal membaca buku, jujur saja hingga saat ini saya masih saja selalu merasa lebih mudah membaca buku-buku cerita (dan atau non cerita yang penulisannya memakai bahasa sehari-hari atau bahasa yang populer). Padahal mayoritas buku-buku bagus selalu menggunakan bahasa ilmiah. Meskipun begitu, kalau saya merasa tertarik atau menurutku (atau rekomendasi seseorang) bagus, maka saya akan baca juga (kalau ada bukunya) meskipun akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan waktu saya untuk membaca buku model pertama. Selain itu, saya juga lebih mudah membaca buku terjemahan daripada buku dengan bahasa asli. Bukannya apa-apa, saya memang ngga jago bahasa Inggris (apalagi Arab, Jepang, Mandarin, dll). Padahal pasti jauh lebih asyik lagi kalau baca buku aslinya. Tapi kalau dipaksakan baca aslinya, pasti banyakan baca kamusnya daripada baca bukunya (hehe…).
Cara saya memperoleh buku untuk dibaca ada dua. Yang pertama pinjam, yang kedua beli. Sebagian besar buku yang saya baca, saya peroleh dengan meminjam (hehe…). Baik pinjam di perpustakaan, pinjam di taman bacaan, pinjam milik teman, atau pinjam toko buku alias baca di toko buku (hehe..). Di Gramedia, biasanya kan ada tuh satu buku yang udah dibuka segelnya, nah kadang saya baca yang itu. Ada sih buku yang saya beli, tapi jumlahnya sedikit sekali, itupun buku-buku ‘tipis’ yang harganya terjangkau.
Saya suka baca buku (terutama cerita) sejak sekolah dasar (sampai sekolah menengah dan sekarang). Dulu sering banget pinjam di perpustakaan sekolah. Tentusaja saya lebih banyak pinjam buku cerita daripada buku pelajaran (hehe..). Terus pas kuliah, banyakan ke perpus karena nyari bahan buat tugas dan skripsi. Kalau di-remind, saat sekolah (dan kuliah) sepertinya saya baca buku (terutama pelajaran) karena tuntutan tugas, ulangan, atau ujian. Padahal kalau saya pikir-pikir lagi, harusnya saya membaca karena ingin tahu, ya? Jadinya kan lebih asyik bacanya dan lebih mudah memahaminya. Eh, iya lho! Tiba-tiba saya jadi pengen baca buku pelajaran -yang dulu selalu membuat saya grogi- terutama Biologi, Sejarah, dan Geografi.
Karena buku pinjaman dibatasi tenggat waktu, biasanya saya jadi lebih bersemangat untuk segera menyelesaikannya. Kelemahannya adalah saat saya lupa isi bukunya (dan itu selalu saja terjadi), saya ngga bisa baca lagi sesuka saya (kecuali kalau saya meminjamnya lagi). Hehe…
Inilah 13 buku (pinjaman) terakhir yang saya baca pada akhir tahun 2006 - awal tahun 2007:
Tersentuh Ilalang -- Afifah Afra
Ayat-Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy
Gara-Gara Jilbabku? – Asma Nadia
Cintapuccino – Icha Rahmanti
Jangan Jadi Muslimah Nyebelin – Asma Nadia
Jatuh Bangun Cintaku – Asma Nadia dkk
Langit-Langit Cinta – Najib Kailany
Mencari Belahan Jiwa – Ifa Avianty
My Valentine – Hanna Al Ithriyah
Corsage – Janita
Into Thin Air – Jon Krakauer
7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
Birunya Langit Cinta –Azzura Dayana
Tentang buku yang saya miliki (selain buku kuliah dan buku pelajaran, lho!) dan masih ada sampai sekarang, sejak tahun 1993 hingga awal 2007 cuma sedikit banget. Selama 13 tahun, cuma ada 57 buku. Jika dirinci dari asalnya, 29 buku berasal dari hadiah (dari keluarga, teman, atau acara tertentu) dan 28 buku dari pembelian. Jika dirinci jenisnya, komik (11 eks), novel islami (8 eks), novel umum (1 eks), pengetahuan islam (22 eks), dan pengetahuan umum (15 eks). Jika dirinci dari cara membacanya, ada 42 buku pernah saya baca tuntas (22 buku masih ingat sebagian besar isinya, 4 buku hanya ingat sebagian kecil isinya, dan 16 buku saya lupa isinya), kemudian 8 buku pernah saya baca sekilas (pilih-pilih bagian yang menarik saja), dan 7 buku sama sekali belum saya baca. Kasihan ya ketujuh buku yang terakhir ini. Hehe …
Saya sering berharap kalau suatu saat nanti saya bisa mengoleksi buku-buku favorit saya (yang selama ini cuma saya pinjam) dan buku-buku -yang menurutku bagus- yang baru saya baca judulnya atau review-nya saja. Tapi sampai saat ini sepertinya saya masih harus terus berharap, karena isi kantong yang belum sebanding dengan harga buku-buku yang selangit. Hehe … Sambil berharap juga agar buku-buku itu akan terbaca, dan tentunya diterapkan nilai-nilainya.
Terus apa hubungannya dengan snobisme? Snobisme yaitu bergaya intelektual dengan membanggakan koleksi bukunya yang barangkali belum satupun pernah dibaca (dari Annida No.14/XIII/16-30 April 2004). Hehe … saya termasuk snobis bukan, ya?

Angin Puting Beliung Mampir di Yogya

Sore itu (Ahad, 18 Februari 2007, jam 17.00 wib) aku dan dua adikku pulang dari rumah bulik di Jl. Gejayan. Sampai di Jl. Solo, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kami pun berhenti untuk memakai jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan. Sampai di depan sebuah toko aku melihat 2 orang (mbak dan mas) menunjuk langit di arah belakang (tenggara), kupikir ada pelangi atau apa, tapi sesampai di perempatan Galeria -yang tidak terhalang bangunan- di kejauhan arah selatan aku melihat ‘benda-benda beterbangan’ menuju ke arah barat. (Wah! Anginnya kenceng banget, pikirku)

Di perempatan Gramedia, kami memilih belok kiri (selatan) ke arah stadion Kridosono. Sampai depan kantor Telkom… Masya Allah! ‘Benda-benda beterbangan’ itu dekat sekali, berada di bagian timur Kridosono. Adikku yang masih SD jadi takut dan sangat khawatir, kami pun berbalik ke arah Gramedia lagi (ke utara), lalu belok kiri (ke barat/arah tugu) di tengah hujan yang semakin deras dan langit barat yang hitam.

Sampai di perempatan tugu, kami lihat langit di arah selatan (arah Malioboro) terlihat terang, kami pun memilih belok ke selatan. Sampai di dekat stasiun tugu, jalanan macet. Dan di arah timur (agak jauh), ‘benda-benda beterbangan’ itu seperti menuju ke arah barat (arah kami). Melihat itu banyak pengendara motor yang berbalik arah, kami pun memutuskan hal yang sama. Tapi sebelum pergi, kami –sekali lagi- melihat ke kejauhan arah timur, di antara ‘benda-benda beterbangan’ yang bergerak itu, terlihat seperti awan hitam yang berbentuk segitiga (atau mungkin kerucut dengan puncak di bawah).

Apakah sebenarnya yang terjadi? Kami menyimpan tanya itu hingga kami tiba di rumah.

HEADLINE NEWS METROTV JAM 19.00 WIB
“Angin puting beliung menerjang 3 kecamatan di kota Yogyakarta dan (sementara) menelan 20 orang korban, serta 260 rumah rusak …”

***
Belum genap setahun gempa tektonik melanda propinsi DI. Yogyakarta (bahkan masih ada warga di Bantul yang belum mulai membangun rumahnya kembali) Ahad, 18 Februari 2007, angin puting beliung pun mampir di kota Yogya, memporakporandakan rumah dan bangunan warga di beberapa kecamatan di kota Yogya. Korban jiwa pada musibah ini tidak sebanyak korban gempa, namun banyak warga mengalami kehilangan materi. Diantaranya, rumah yang rusak diterjang angin, maupun tertimpa pepohonan yang roboh.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta
(Al Ankabut (29): 2-3)

Bersumber dari Liputan 6 Siang SCTV dan Buletin Siang RCTI, ciri-ciri dari angin puting beliung antara lain adalah sebagai berikut:
1. Biasa terjadi pada musim pancaroba (peralihan musim)
2. Terjadi pada sore hari sekitar pukul 13.00 – 17.00
3. Pada hari-hari sebelumnya jarang terjadi hujan
4. Sehari sebelumnya udara terasa panas dan pengap
5. Pada pagi harinya cerah
6. Terlihat awan bergumpal yang menyerupai bunga kol
7. Terlihat awan hitam bergulung yang bergerak dengan cepat
8. Berkecepatan 175 km/jam dengan lebar 75 km

Akhirnya, semoga mereka yang mengalami musibah angin puting beliung ini (termasuk juga musibah-musibah yang lain) senantiasa sabar, tawakal, dan bertambahlah keimanannya kepada Allah SWT. Amin. Dan kita yang tak mengalaminya, harus senantiasa berdoa dan waspada, dan… tak ada alasan untuk tidak bersyukur, kan?

***

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...