Part 3 of 3
STASIUN BUGIS - MERLION PARK
Note
#3.1: Jangan lupa, ambil peta MRT di stasiun ini, akan sangat sangat membantumu
mencapai tempat yang dituju, meski harus muter-muter dulu
Kami
berjalan sebentar dari bus stop menuju ke stasiun, berfoto sesaat dan turun
ke underpass. Karena tidak memiliki EZLink, kami mencari mesin penjual tiket.
How does it works? Pilih stasiun tujuan (kami pilih Rafles Place), untuk tiga
orang. Dan mesin akan menunjukkan berapa dolar yang harus dibayar. Bayar dengan
uang kertas, masukkan ke tempat uang, tunggu tiket dan kembaliannya keluar.
Note #3.2:
Kalau ngga mau rugi karena ngga punya EZLink, sediakan uang kertas pecahan kecil
$2 dan $5 dalam jumlah yang cukup. Karena mesin ini hanya mau memberikan
kembalian maksimal sebesar 4 cent.
Tap
tiketmu di mesin untuk membuka gate. Menurut hasil diskusi kami semalam kami
akan naik jalur hijau dan turun di Rafles Place, dan itupun yang kami pilih
ketika membeli tiket. Tapi karena belum begitu paham cara membaca peta MRT maka
kami bertanya lagi ke petugas di sini, ternyata mereka menyarankan kami naik
jalur biru turun di Promenade ganti jalur kuning ke Esplanade. Ketika sampai di
Esplanade dan akan keluar dan men-tap tiket, gatenya tidak mau terbuka. Ow
ow... ternyata kami kurang bayar, karena berbeda dari tujuan semula, dan harus
membayarnya kepada petugas di loket yang ada. Keluar dari gate kami mencoba
berjalan tetapi tak berhasil menemukan petunjuk arah ke Merlion Park. Akhirnya
ketika kami keluar ke atas, kami menemukan gedung Esplanade di depan kami. Tapi
kami tak yakin harus mengambil arah yang mana. Akhirnya kami bertanya kepada
the only one yang lewat di sana. Dan mengatakan kalau itu jauh dan kami harus
naik bus untuk menuju ke sana. Kami pun berjalan menuju bus stop di dekat sana,
dan di papan di bus stop tak menemukan jalur bus ke arah sana. Akhirnya kami
berjalan saja di trotoar yang seperti milik kami bertiga. Entah, apakah ini
karena masih terlalu pagi ataukah karena memang semua orang berjalan di bawah
tanah. Berjalan mengitari Marina Square, akhirnya kami menyerah dan menuju ke
taxi stand, dan meminta mengantarkan kami ke Merlion Park dengan membayar $6.
Di
Merlion Park ternyata sudah ramai sekali pengunjungnya. Harus mencari sela-sela
hanya sekedar untuk bisa berfoto bersama landmark terkenal di Singapura ini.
Tak berlama-lama kami pun berjalan ke Esplanade, gedung pertunjukan yang
berbentuk durian di seberangnya. Masuk ke dalam mencari stasiun MRT.
STASIUN ESPLANADE – MARINA BAY SANDS DAN
GARDEN BAY THE BAY
![]() |
| keliling negeri singa dalam sehari dengan MRT-nya yang sangat menyenangkan (lagi seneng pakai aplikasi instamag) |
STASIUN BAYFRONT – RESORT WORLD SENTOSA
Dari
Bayfront kami naik jalur biru lalu pindah jalur ungu di Chinatown menuju ke
Harbourfront. Ada beberapa cara menuju
Sentosa jalan kaki, naik bus, cable car, atau Sentosa express. Kami memilih
yang terakhir. Segera saja kami menuju ke Vivocity lantai tiga. Escalator penuh
dengan orang yang akan menuju Sentosa. Hm... pernah mendengar kalau kecepatan
berpikir seseorang bisa dibaca dari cara mereka berjalan? Di sana disediakan
fasilitas eskalator atau travelator tetapi mereka tetap saja berjalan cepat di
atasnya. Saya? Terlalu banyak bersantai dan menunda (last minute fighter).
Note
#3.3: Ketika menaiki eskalator, jangan berjajar, tetapi merapatlah ke sisi
kiri. Karena sisi kanan disediakan untuk
mereka yang terburu-buru dan ingin mendahului.
Sampai
di lantai tiga ternyata antrian sudah sangat panjang sekali. Kami langsung saja
ikut mengantri, hingga sampai di tengah-tengah kami menyadari bahwa yang
mengantri adalah mereka yang telah memiliki tiketnya. Oh no... masak iya kami
harus mengantri dari awal lagi. Setelah bertanya ke petugasnya, ternyata tiket
dibeli di loket depan, dan si bapak membukakan pagar antrian agar kami bisa
keluar membeli tiket. Tak perlu mengantri lagi, kami langsung ikut berlari
ketika gate dibuka. Windi nyaris berlari dan meninggalkan tiket dan uang
kembaliannya. Haha...
UNIVERSAL STUDIO
SINGAPORE
Setelah menyeberang selat, akhirnya sampailah kami di
Sentosa, tak mau mengulang kesalahan yang sama, kami mengambil peta RWS dan
USS, dan bersegera mencari USS yang pastinya sudah sangat ramai karena hari
sudah siang. Setelah men-tap tiket ke mesin segera saja kami menjelajahi USS
yang sangat luas ini.
Ada beberapa wahana di sini. Kami mengunjungi berikut ini:
Transformer The Ride,
setelah mengantri hampir sejam akhirnya kami mengalami petualangan seru menaiki
autobot dengan kacamata 4D.
Sci-Fi, roller coaster ini
sedang tidak beroperasi kami melewati di bawahnya menuju ke prayer room
Ancient Egypt, sampai di
sini Windi tampaknya mulai merasa lapar dan bersegera mencari tempat makan di
Mel’s Drive, makan menu
halal burger dan french fries menggunakan meal voucher kami, sambil menonton street
performance di Hollywood
Melewati Madagascar yang nampaknya juga antri
cukup panjang dan langsung menuju ke
Far Far Away, tapi hanya
berfoto-foto dan melewatkan pertunjukan 4D dan Donkey Show (yang katanya bagus)
karena antrian yang panjang
Jurassic Park, kali ini
tak peduli antrian kami tetap masuk ke sana. Dan benar saja antriannya sangat
panjang. Beruntung kami sudah di dalam ketika hujan tiba-tiba turun dengan
deras. Ternyata kami akan naik perahu untuk mengunjungi para dino. Ada
persewaan loker untuk menyimpan barang yang dikhawatirkan akan basah atau beli
jas hujan seharga $4 padahal cuma plastik macam mantel Rp 3000an yang dibeli
ibu di pasar (haha... peliit). Akhirnya
tiba giliran kami naik perahu dengan tetap membawa tas kami dan tanpa memakai
jas hujan (ngeyel...). Satu boat berisi 9 orang. Kami bertiga, seorang single
rider, sepasang kekasih orang Jepang, dan tiga Korean chingu. Awalnya
perjalanan aman, tidak terlalu basah pula, hujan pun sudah reda. Hingga tiba di
ujung tiba-tiba boat kami diangkat ke atas dan jeng-jeng .... boat kami dipaksa
menuruni turunan untuk menuju finish yang dengan sukses membuat kami bertiga
yang tidak memakai jas hujan menjadi basah kuyup.
Keluar dari sana kami kembali tiba di Ancient Egypt.
Sebenarnya mba Madya mengajak masuk, tetapi saya masih ragu antara ya dan tidak. Secara
antrian panjang dan baca deskripsinya kok kayaknya horor gitu. Dan berakhir
dengan keputusan tidak.
Kembali ke Transformer The Ride melihat-lihat merchandise yang ada.
Baju yang masih basah diterpa dinginnya AC membuatku ngga kuat berlama-lama di
dalam. Aku pun keluar dan menunggu mba Madya dan Windi di Broadway Avenue.
Kemudian kembali ke bagian depan dan saat mba Madya masuk toko merchandise di sana, saya dan Windi duduk menunggu di depannya melihat karakter Frankenstein yang laris diajak berfoto pengunjung. Setelah itu
kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan di USS meskipun tak semua wahana belum kami jelajahi.
Kami pun segera keluar. Padahal matahari masih bersinar.
Hihi... Tak apalah... semoga masih ada lain hari ...
Note #3.4 : Bener cerita semua orang, luangkan waktu seharian
penuh di USS dan datanglah pagi-pagi. Karena banyak wahana yang akan panjang
antriannya kalau kita terlambat ke sana. Alih-alih bergembira, malah galau di
sepanjang antrian.
Note #3.5: Kalau ga mau antri bisa nambah $30 untuk VIP pass (kalau saya tetep milih antri saja. ^^v), atau bisa mencoba menjadi single rider pada wahana yang menyediakan pilihan tersebut.
Note #3.5: Kalau ga mau antri bisa nambah $30 untuk VIP pass (kalau saya tetep milih antri saja. ^^v), atau bisa mencoba menjadi single rider pada wahana yang menyediakan pilihan tersebut.
SENTOSA - LITLLE INDIA
Sebenarnya
mau ke Mustafa, dan informasi yang terekam di kepala hanyalah letaknya di seputar
Little India. Jadi dari Sentosa, ke Harbourfront kemudian naik jalur ---- ke
Litle India. Mba Madya yang kakinya terluka akibat sandal oranyenya, kuajak
bertukar dengan sepatuku yang nyaman banget ini (peace, Wind!), siapa tahu bisa
mengurangi penderitaan kaki mba Madya (haha..). Tanpa tahu arah setelah kami
keluar dari stasiun langsung mengikuti langkah kaki yang membawa kami ke Tekka.
Ya, sesuai namanya, Little India, tempat ini penuh dengan orang-orang India.
Mba Madya nampak terpesona dengan toko emas yang bertebaran di sana. Berjalan
lumayan lama tak juga menemukan Mustafa dan tak juga ingin bertanya kepada siapa-siapa dan membiarkan kaki yang menentukan jalannya.
Kami
menuju ke bus stop yang ternyata tak ada jalur yang bisa membawa kami ke Bugis.
Mba Madya duduk-duduk sejenak di bus stop mengistirahatkan kakinya. Tiba-tiba
Windi melihat logo stasiun MRT di depan sana. Akhirnya kami putuskan
menyeberang. Belum sampai di lokasi, kami menemukan Litle India Arcade, dan
membelok ke sana. Windi kembali hunting oleh-oleh untuk kakaknya. Dan saya
sudah cukup bahagia dengan melihat sepatu-sepatu cantik di sana. Meski yang
saya yakin yang ternyaman tetap sepatu saya (haha...).Setelah puas dan
memperoleh yang dicarinya, kami pun beranjak. Sebenarnya saya pengen ke Orchard
Rd, bukan berbelanja hanya melihat suasana di sana saja, tapi tampaknya Windi
keberatan. It’s oke, kalau tak bisa ke sana, at least saya ingin mencoba es
potong yang katanya enak itu, kalau tak di Orchard di mana? Hmm... Mba Madya ngajak
ke Bugis saja. Dan... baiklah, bukankah di sana ada penjual es potong itu kan?
Tapi... Windi yang sudah lelah tampak tidak antusias dengan ide ini. Dan
akhirnya dia berkata, ”Oke kita ke Bugis, tapi aku nunggu di bus stop nya saja”.
Deal.
LITTLE INDIA - BUGIS
Dengan
pelan-pelan, kami kembali menuju stasiun MRT Little India. Dari sana kami
menuju ke Stasiun Bugis. Dan menuju ke Bugis Junction dan menyeberang ke Bugis
Street. Windi langsung menuju bus stop untuk menunggu kami di sana. Hmm...
kutawarkan french fries-ku tadi siang, yang masih kusimpan di dalam tas untuk
menemani penantiannya. Mba Madya kembali asyik mencari Hershey, aku melihat-lihat
di kios sebelahnya. Setelahnya kami langsung mencari es krim potong yang
ditunjukkan Mr. Lim di depan sana. Dan ternyata masih buka. Dengan harga $1, aku
minta rasa raspberry dan Mba Madya ... aku lupa. Lalu kami duduk di sana,
menghabiskan es, sambil mengistirahatkan kaki.
Setelah
es habis, kami segera ke bus stop tempat Windi menanti, bertepatan dengan jalur
63 yang datang menjemput kami. Kami turun di Yiu Xiu Building, dan kembali
menyusuri jalan yang sama, hanya saja kami tak langsung ke lorong 14 tetapi
mampir ke Bilal Indian Muslim Restaurant membeli makan malam. Aku dan Windi
memesan takeaway Nasi Biryani yang ternyata porsinya besar sekali. Mba Madya
pesan apa aku lupa, dan masih tambah martabak. Hmm... Segeralah pulang ke hotel lalu mandi, sholat,
berhitung, ber-wifi ria mengontak keluarga dan packing saudara-saudara! Ya,
besok sudah saatnya kembali lagi. Wawawa... time flies too fast.
PULANG
Pagi-pagi hari ketiga, kami check out dari hotel dan berjalan menuju ke ujung lorong 14. Langit masih gelap ketika akhirnya ada taxi yang berhenti dan bersedia mengantar kami ke bandara. Dan tak berapa lama sampailah kami di bandara untuk check in. Ngga ada masalah apapun. Hanya sedikit terganggu dengan kejudesan petugas check in nya (yang berbahasa Melayu). Setelah urusannya selesai kami pun segera menuju ke imigrasi, yang tidak terlalu ramai, dan berjalan dengan sangat lancar tanpa masalah apapun. Sebelum menuju ke ruang tunggu, kami menunggu mba Madya membeli pesanan temannya. Karena belum waktunya boarding kami pun duduk terlebih dahulu. Setelah beberapa saat akhirnya kami masuk melalui security check terlebih dahulu. Dan lagi-lagi, setelah aku dan mba Madya lolos dengan amannya, Windi terpaksa merelakan body butter Bodyshop nya (sabar ya Win... ^^v). Tak terlalu lama menunggu kami pun akhirnya bergegas menuju pesawat yang akan membawa kami pulang. Bye Singapore!
PULANG
Pagi-pagi hari ketiga, kami check out dari hotel dan berjalan menuju ke ujung lorong 14. Langit masih gelap ketika akhirnya ada taxi yang berhenti dan bersedia mengantar kami ke bandara. Dan tak berapa lama sampailah kami di bandara untuk check in. Ngga ada masalah apapun. Hanya sedikit terganggu dengan kejudesan petugas check in nya (yang berbahasa Melayu). Setelah urusannya selesai kami pun segera menuju ke imigrasi, yang tidak terlalu ramai, dan berjalan dengan sangat lancar tanpa masalah apapun. Sebelum menuju ke ruang tunggu, kami menunggu mba Madya membeli pesanan temannya. Karena belum waktunya boarding kami pun duduk terlebih dahulu. Setelah beberapa saat akhirnya kami masuk melalui security check terlebih dahulu. Dan lagi-lagi, setelah aku dan mba Madya lolos dengan amannya, Windi terpaksa merelakan body butter Bodyshop nya (sabar ya Win... ^^v). Tak terlalu lama menunggu kami pun akhirnya bergegas menuju pesawat yang akan membawa kami pulang. Bye Singapore!











