Berikut ini adalah rekap
perjalananku ke Solo, yang ternyata sudah beberapa kali.
Dimarahi Pak Sopir
Saat itu kalau
tidak salah, aku masih esempe. Jadi mohon maklum kalau kisah ini menjadi tak
begitu lengkap.
Bulikku yang
sudah wisuda dari UNS bermaksud menghadiri wisuda bestfriend-nya, dengan
mengajakku dan kedua adikku. Lupa-lupa ingat berangkatnya naik bis apa,
tapi yang kuingat kami tiba di kampus di
UNS dalam keadaan kucel, kusut, dan ... terlambat. Ya, acara wisudanya sudah usai. Kampus sudah mulai sepi.
Akhirnya kami langsung meluncur ke rumah
mba Kotin, dan bertemu dengan keluarga
dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Setelah berbincang cukup lama, segera kami diajak makan siang, kemudian shalat dhuhur. Setelah beberapa saat kemudian, kami segera meninggalkan rumah mba Kotin, ingin jalan-jalan dulu sebelum
pulang.
Saat masih kuliah dulu, bulikku paling sering
menceritakan tentang bus tingkat yang ngga ada di Jogja, maka hal yang sangat
ingin kami coba adalah naik bus tingkat. Dan di sanalah kami selama beberapa
saat, mengikut trayek bus tingkat. Tanpa sadar, waktu pun beranjak sore, padahal
kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk tiba di rumah.
Aku tak ingat
dimana kami naik bis menuju Jogja. Yang kuingat hari sudah gelap, bis sangat
penuh penumpang, tidak ada lagi tempat duduk, kami dimarahi pak sopir dan
disuruh duduk di atas mesin di sebelahnya. Hehe... Alhamdulillah
kami sampai rumah dengan selamat.
Lost in Solo
Saat itu hari
libur tanggal merah. Dari kost-an di Lempuyangan, aku dan Ima bersemangat
melajukan sepedamotor ke Solo. Tanpa tahu arah dan tempat tujuan, hanya
mengikuti petunjuk jalan, yang pada akhirnya mengantarkan kami sampai di Solo.
Kami berputar-putar mengelilingi kota Solo dalam arti kata yang sebenarnya. Tidak
tahu jalan, tidak membawa peta, dan tak
hendak bertanya.
Kami menyusuri
jalanan melewati Stadion Manahan, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, SGM, Alun-Alun,
Kasunanan Solo, Pasar Klewer dan tempat lainnya dengan sepedamotor kami sebelum
akhirnya kelelahan dan memilih beristirahat di Masjid Agung Surakarta.
Nyaris Pingsan
Bu Niken, tentor
kursus jahitku, mengajak kami ke tempat beliau sering kulakan kain dan batik di
Solo. Dan dengan semangat 45 kami langsung mengiyakan ajakannya.
Sabtu jam
sembilan pagi biasanya adalah jadwal kursus kami, tapi hari itu kami berkumpul
di stasiun Lempuyangan untuk menunggu kereta Prameks yang akan membawa kami ke
Solo. Akhirnya kereta tiba dan mengantarkan aku, bu Niken, bu Ony dan mba Kartini ke
stasiun Purwosari.
Sesampai di
Purwosari, perjalanan dilanjutkan dengan naik Solo Batik Trans ke PGS. Dan
turun di jalan Slamet Riyadi disambung jalan kaki ke PGS dan Beteng.
Melihat dan memilih mana yang disuka, hingga waktu berlalu tak dirasa. Ah iya,
saya sempat nyaris pingsan di PGS, gara-gara ngga sarapan nih kayaknya. Begitu
habis arem-arem satu biji dari Bu Niken dan segelas teh hangat manis, semua
terlihat menjadi lebih terang. Haha... Laper ternyata.
Selesai dari sana kami langsung menuju ke pasar Klewer dengan naik becak. Pasar
Klewer... seperti Beringharjo, tapi lorong antar los nya sempit banget. Ngga
nyaman banget berdiri di sana. Pasti langsung ditegur pedagang atau pengunjung
lainnya.
Diantar Angkot
Pada suatu
liburan sekolah, adik-adik dan sepupu-sepupuku merengek-rengek pengen nyoba naik kereta Prameks. Dan
akhirnya, kami pun berangkat bertujuh. Aku, ketiga adikku, Bulikku (yang mengajakku ke Solo di cerita pertama) dan kedua anaknya. Rute dan tujuannya sama seperti perjalananku ke Solo sebelumnya.
Kami turun
dari Prameks di Stasiun Purwosari, naik Solo Batik Trans ke PGS. Lihat –lihat
di PGS (ngga ke Beteng). Di sana adik-adik
minta beli kaos Solo. Kemudian kami berjalan kaki ke pasar Klewer, lewat
alun-alun, membeli gulali, kemudian makan di depan Pasar Klewer. Setelah itu,
shalat Dhuhur dan Ashar di Masjid Agung Surakarta, kemudian mampir ke Pasar
Klewer sebentar, dan berjalan kaki lagi ke jalan Slamet Riyadi.
Hanya begitu
saja, tapi hari sudah sore ketika kami keluar dari Pasar Klewer. Dan kami
bingung mau naik apa pulangnya. Bulikku yang dulu sempat jadi warga Solo ketika
kos jaman kuliahnya pun sudah lupa, akhirnya bertanya ke bapak sopir angkot.
Dan dengan baik hati si bapak mau mengantar kami (setelah meminta izin
penumpang lainnya) ke Stasiun Jebres (yang ternyata bukan trayeknya) dengan
tarif seperti penumpang lainnya. Haha... Terimakasih .... Dan kami menunggu
kereta Prameks terakhir membawa kami pulang ke Jogja...
Nasi Liwet Yu Sani
Jumat pagi, 13 Juli
2012, percakapan di sebelahku ...
“Gimana, Bu
Nia? Jadi apa tidak rencana nanti sore?”, tanya pak Kabid ke Bu Nia
“Lha nderek
bapak saja”, jawab bu Nia
“Mau tindak ke
mana, Pak?”, tanyaku penasaran
“Wah, ini
rahasia antara saya dan bu Nia, mba Anin jangan sampai tahu”, jawab pak Kabid bercanda,
membuat tambah penasaran.
Siang hari, pas
istirahat Jumatan, aku duduk di kubikelnya mba Jum bersama bu Rully dan bu
Ririn di seberang, tiba-tiba Pak Dodi datang.
“ Nanti sore , jadi ya ke Solo nya? Siapa saja
yang ikut? Mba Jum, Mba Nia, Mba Rully, Mba Ririn jadi to? Mba Anin mau ikut
apa tidak?”, kata Pak Dodi k pada akhirnya.
“ Lho, sudah
ngga jadi rahasia lagi, to pak? Hehe..”, jawabku
Sore hari,
sesaat setelah bel pulang berbunyi pada jam 14.30 kami langsung cabut ke Solo,
bertujuh dengan pak Jaka di belakang kemudi.
Sebenarnya
masih belum tahu dengan pasti, ke Solo mau kemana, mau ngapain. Hehe...
Dasar... Tiap diajak jalan-jalan pokoknya ikut. Setelah beberapa jam
perjalanan yang menyenangkan. Canda bersama teman-teman yang melepas penat dan
cerita Pak Dodi yang penuh nasehat, untuk tak pernah lupa pada orang-orang yang
berbuat kebaikan kepada kita, bahkan berlaku lebih baik kepada orang yang tak
menyukai kita adalah lebih utama.
Setelah
sebelumnya mampir ke toko roti Orion, akhirnya kami tiba ke tujuan utama, warung
lesehan Nasi Liwet Yu Sani yang sore itu ramai sekali. Mobil berjajar memenuhi
parkiran di pinggir jalan di Solo Baru. Dan sayang sekali ngga bisa ambil foto,
hape lowbat di jalan. Biar kudeskripsikan saja ya? Kami masuk ke tenda dan
penjual mengambil pincuk daun pisang untuk meracik nasi liwet, sayur oseng
pepaya yang pedas manis, santan kental mirip jenang putih dan lauk pilihanmu, ada tahu tempe telur putih kukus
hingga ayam. So nyummy dan gratis (hihi..). Dan Pak Dodi meminta dibungkuskan
untuk kami bawa pulang pula. Di perjalanan pulang, aku bahkan kesulitan duduk
di mobil, full, kenyang.