Thursday, November 8, 2012

Mengharap PetunjukMu

Alkisah, ada sebuah desa yang dilanda banjir. Seluruh warganya mulai menyelamatkan diri dan harta bendanya. Beberapa warga naik ke loteng dan atap rumahnya.

Saat banjir tak juga surut. Relawan dan tim SAR segera bergerak menyusur desa mengevakuasi warga yang masih di tempat.

Namun ada satu orang yang menolak ketika diberi pelampung oleh tim relawan.

"Saya sudah berdoa, tinggalkan saja saya, nanti Tuhan yang akan mengabulkan doa saya", kata orang itu.

Tak lama, datanglah tim SAR dengan kapal motornya hendak mengangkut orang tadi, tetapi lagi-lagi dia menolak dengan mengatakan hal yang sama.

Lambat laun banjir semakin tinggi dan menenggelamkan seluruh desa termasuk orang tersebut.

Kemudian diceritakan, orang yang tenggelam tadi melakukan protes kepada Tuhan. Kenapa Tuhan tidak menyelamatkannya yang sudah berdoa terus menerus kepadaNya.

"Aku sudah mengirimkan tim SAR dan relawan untuk memberikan pelampung dan kapal motornya untuk membawamu keluar dari desa untuk mengungsi, tetapi engkau menolaknya", jawab Tuhan.

***

Saya lupa, saya mendengar kisah itu dari radio mana atau ustaz atau motivator siapa atau membacanya di majalah yang mana, atau tulisannya siapa. Tapi kisahnya cukup ...jleb jleb.

Seringkali kita merasa bahwa kita sudah bersungguh-sungguh berdoa namun Allah seperti tak hendak bersegera mengabulkan apa yang kita harapkan.

Padahal bisa jadi Dia telah memberikan jawaban atas doa-doa kita namun kita tidak mampu membacanya. Atau bahkan mungkin kita mengabaikannya karena tak menyadari bahwa doa kita telah dijawabNya.

Ya Allah, berilah aku petunjukMu. Dan ajarilah aku membacanya.

Thursday, October 25, 2012

Select Tangkuban Perahu From Bandung

Pada pertengahan Oktober, berpartner Riri dan mba Ira,  kami menuju ke Bandung. Berangkat naik KA Lodaya Malam, Mba Ira naik di Stasiun Tugu, sementara aku dan Riri naik di Stasiun Wates. Here we go...

Aku duduk bersama mba Ira, sementara Riri di belakang kami bersama seorang mas-mas yang sepertinya sudah tertidur pulas. Meski mengantuk, tapi... ladies ngerumpies sampai malam hampir habis. Hingga satu demi satu kami pun terlelap.  Aku terbangun ketika petugas hendak mengambil selimutku. Tidaak... masih dingin paak.

Sampai di Stasiun Bandung, kami pun turun. Riri sempat mengutarakan kecurigaannya tentang mas-mas di sampingnya yang teridentifikasi membawa koper dan tas laptop. Jangan-jangan... menuju ke tempat yang sama, terka Riri. Kami sholat di mushola stasiun lebih dulu. Baru setelahnya naik taksi Gemah Ripah menuju ke Hotel Verona Palace.

Sesampai di hotel, kami disambut Pak Mun yang langsung menebak bahwa kami peserta dari Jogja. Dan meminta maaf sebab kami harus menunggu, karena kamar untuk kami belum ada. Obrolan kami dengan Pak Mun, semakin menguatkan kecurigaan Riri bahwa mas-mas di sampingnya di kereta adalah memang peserta. Dari GK. Hahaha...

Sambil menunggu kamar kosong, kami dipersilakan makan dulu. Hmm... laper sih, tapi kok... ah... makan bubur ayam saja deh, mba Ira juga, Riri ambil roti dan scrambled egg. Setelah selesai makan, kami yang masih belum dapat kamar menunggu di lobby. Akhirnya, Pak Mun meminjamkan kamarnya untuk kami mandi dan bersiap-siap mengikuti pembukaan pada jam 09.00.

Hari pertama... Acara pun resmi di buka. Kami dapat kelas di Milan, berlima bersama dengan GK yang ternyata memang teman sebangku Riri di Lodaya (haha). Instruktur di kelas kami adalah Pak Helmi dan Pak Agus, dan juga ditemani Pak Re. Tentang isi pelatihannya, ada di tulisan yang lain ya? (baca: laporan tugas. ^^v). Hari pertama pelatihan hanya sampai jam 17.30. Pak Helmi mengajar dengan begitu jelas dan menyenangkan sampai waktu tak terasa berlalu, bahkan hampir saja kelupaan shalat Ashar. Malam hari, kami free. Sebenarnya pengen jalan-jalan ke luar, tetapi karena yang lain masih butuh istirahat, jadilah kami cuma mengintip Jalan Surya Sumantri sesaat setelah makan malam, lalu kembali ke kamar.

Hari kedua, pak Mun mendatangi kami yang sedang sarapan pagi. Menanyakan keadaan kami, kesan pesan di hari pertama, mengkhawatirkan kami kalau-kalau kami menemui kesulitan, secara, materi yg diberikan berkaitan dengan IT, sedangkan kami tidak berlatarbelakang IT, dan apa harapan kami agar di pelatihan hari selanjutnya lebih baik lagi.  What a nice person. Hari kedua ini, Pak Agus mengajar dengan lebih enak daripada di kelas hari pertamanya. Lebih nyantel pelajarannya. Sementara Pak Helmi berhalangan hadir karena sakit (padahal udah cocok dengan gaya mengajar pak Helmi. (Get well soon pak). Pak Sopian yang bertugas menggantikan Pak Helmi. Belajar bersama pak Sopian sampai jam 10 malam, lumayan ngantuk juga. Untuk mengusir kantuk, sesaat aku menengok handset ku, yang malah mengacaukan konsentrasiku. Tanpa tahu dengan pasti apa pertanyaannya, dan bahkan bukan ditujukan kepadaku, tiba-tiba saja aku menjawab, dan keliru, padahal dengan volume yang menurut teman-teman sekelas lebih keras dari biasanya (deuh... malunya... haha).

Hari ketiga,  masih bersama pak Agus dan pak Pian dari jam 9 pagi sampai 10 malam. Dan tiga hari di Bandung ngga keluar kemana-mana. Hanya sebatas room 110, tempat makan, Milan, dan lobby. Hmm... Sempat nonton beberapa film di HBO dan Starworld sambil nunggu giliran mandi sih. Salahsatu favoritnya Astronaut’s Wife, bersama Johny Depp (^^).  

Hari keempat alias terakhir. Ah, ternyata empat hari cepat sekali berlalu. Padahal, barusaja dapet feel nya (*halah). Sambil menunggu waktu, setelah sarapan, aku, Riri dan mba Ira main ke lantai 4, yang ternyata cantik. Bisa melihat kota dari atas. Hingga akhirnya tibalah acara penutupan yang dilakukan jam 10, berupa penyerahan kenang-kenangan dan ...foto-foto....

TANGKUBAN PARAHU

Ah iya, saya lupa cerita kalau view dari room 110 kami, adalah gunung Tangkuban Perahu, yang seperti memanggil-manggil kami untuk mengunjunginya. Itulah kenapa seusai penutupan, kami memutuskan untuk melihat Tangkuban Perahu dengan menyewa mobil. Riri dan Mba Ira berhasil mengajak Pak Priyo Gunung Kidul untuk ikut bersama kami, sementara Pak Reza sudah mendahului pulang ke Jakarta. Ndilalah, kepulangan kami kali ini, tidak ada satupun yang berbarengan. Aku pulang Jumat jam 8 malam, mba Ira mau ke Jakarta dulu, dan Riri mampir ke rumah mba Indra (kakaknya).

Menuju Tangkuban Perahu, jalanan relatif lancar. Belum terlalu macet. Sepanjang jalan menuju ke sana tampak teduh dan asri. Tapi saya kok agak mual dan pusing, ya? Sepertinya  memang ngga berbakat naik mobil ber-AC deh.  Bagaimanapun... sepertinya saya menyukai Bandung. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di tempat muasal kisah Legenda Sangkuriang itu. Subhanallah... Cantiknya, meski bau belerangnya menusuk, tapi tak mengurangi kecantikan ciptaanNya ini. Setelah sempat ditutup pada bulan Agustus lalu, nampaknya wisatawan mulai kembali berdatangan. 

Setelah puas berkeliling, makan, dan shalat, kami pun beranjak pulang. Ah, tunggu dulu, ada kebun teh di pinggir jalan, sayang kalau dilewatkan. Foto dulu yuuk...

Perjalanan dilanjutkan menuju ke Pasar Baru. Banyak yang bagus nih... Tapi, malah bingung mau beli apa. Jadilah ngga beli apa-apa, hanya camilan oleh-oleh saja. Kemudian menuju ke stasiun, dan mampir ke Roti Bolen Mayasari. Sementara mba Ira melanjutkan perjalanan ke agen travel Cipaganti yang akan mengantarnya menuju Jakarta,  aku, Riri dan pak Priyo, shalat Maghrib, lalu menunggu jam keberangkatan kami.

Ketika kami mau makan, ternyata kereta pak Priyo sudah tiba, jadilah aku makan berdua dengan Riri di kantin stasiun, sambil menunggu mba Indra yang akan menjemput Riri, dan Amorita -temenku SMA- yang mau menitipkan sesuatu untuk yang di Jogja.

Dan jam setengah 8 aku pun masuk ke stasiun menuju Lodaya Malam yang sedang bersiap-bersiap. Bye bye Bandung... I'll be back soon...

Tuesday, October 23, 2012

Dari Waktu ke Waktu


Berikut ini adalah rekap perjalananku ke Solo, yang ternyata sudah beberapa kali.

Dimarahi Pak Sopir

Saat itu kalau tidak salah, aku masih esempe. Jadi mohon maklum kalau kisah ini menjadi tak begitu lengkap.
Bulikku yang sudah wisuda dari UNS bermaksud menghadiri wisuda bestfriend-nya, dengan mengajakku dan kedua adikku. Lupa-lupa ingat berangkatnya naik bis apa, tapi  yang kuingat kami tiba di kampus di UNS dalam keadaan kucel, kusut, dan ... terlambat. Ya, acara wisudanya sudah usai. Kampus sudah mulai sepi.

Akhirnya kami langsung meluncur ke rumah mba Kotin, dan bertemu dengan  keluarga dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Setelah berbincang cukup lama, segera kami diajak makan siang, kemudian shalat dhuhur. Setelah beberapa saat kemudian, kami segera meninggalkan rumah mba Kotin, ingin jalan-jalan dulu sebelum pulang.

Saat masih kuliah dulu, bulikku paling sering menceritakan tentang bus tingkat yang ngga ada di Jogja, maka hal yang sangat ingin kami coba adalah naik bus tingkat. Dan di sanalah kami selama beberapa saat, mengikut trayek bus tingkat. Tanpa sadar, waktu pun beranjak sore, padahal kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk tiba di rumah.

Aku tak ingat dimana kami naik bis menuju Jogja. Yang kuingat hari sudah gelap, bis sangat penuh penumpang, tidak ada lagi tempat duduk, kami dimarahi pak sopir dan disuruh duduk di atas mesin di sebelahnya. Hehe...  Alhamdulillah  kami sampai rumah dengan selamat.

Lost in Solo

Saat itu hari libur tanggal merah. Dari kost-an di Lempuyangan, aku dan Ima bersemangat melajukan sepedamotor ke Solo. Tanpa tahu arah dan tempat tujuan, hanya mengikuti petunjuk jalan, yang pada akhirnya mengantarkan kami sampai di Solo. Kami berputar-putar mengelilingi kota Solo dalam arti kata yang sebenarnya. Tidak tahu jalan,  tidak membawa peta, dan tak hendak bertanya.

Kami menyusuri jalanan melewati Stadion Manahan, Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, SGM, Alun-Alun, Kasunanan Solo, Pasar Klewer dan tempat lainnya dengan sepedamotor kami sebelum akhirnya kelelahan dan memilih beristirahat di Masjid Agung Surakarta.

Nyaris Pingsan

Bu Niken, tentor kursus jahitku, mengajak kami ke tempat beliau sering kulakan kain dan batik di Solo. Dan dengan semangat 45 kami langsung mengiyakan ajakannya.

Sabtu jam sembilan pagi biasanya adalah jadwal kursus kami, tapi hari itu kami berkumpul di stasiun Lempuyangan untuk menunggu kereta Prameks yang akan membawa kami ke Solo. Akhirnya kereta tiba dan mengantarkan  aku, bu Niken, bu Ony dan mba Kartini ke stasiun Purwosari.

Sesampai di Purwosari, perjalanan dilanjutkan dengan naik Solo Batik Trans ke PGS. Dan turun di jalan Slamet Riyadi disambung jalan kaki ke PGS dan Beteng. Melihat dan memilih mana yang disuka, hingga waktu berlalu tak dirasa. Ah iya, saya sempat nyaris pingsan di PGS, gara-gara ngga sarapan nih kayaknya. Begitu habis arem-arem satu biji dari Bu Niken dan segelas teh hangat manis, semua terlihat menjadi lebih terang. Haha... Laper ternyata.

Selesai dari sana kami langsung menuju ke pasar Klewer dengan naik becak. Pasar Klewer... seperti Beringharjo, tapi lorong antar los nya sempit banget. Ngga nyaman banget berdiri di sana. Pasti langsung ditegur pedagang atau pengunjung lainnya.

Diantar Angkot

Pada suatu liburan sekolah, adik-adik dan sepupu-sepupuku merengek-rengek  pengen nyoba naik kereta Prameks. Dan akhirnya, kami pun berangkat bertujuh. Aku, ketiga adikku, Bulikku (yang mengajakku ke Solo di cerita pertama) dan kedua anaknya. Rute dan tujuannya sama seperti perjalananku ke Solo sebelumnya.

Kami turun dari Prameks di Stasiun Purwosari, naik Solo Batik Trans ke PGS. Lihat –lihat di PGS (ngga ke Beteng).  Di sana adik-adik minta beli kaos Solo. Kemudian kami berjalan kaki ke pasar Klewer, lewat alun-alun, membeli gulali, kemudian makan di depan Pasar Klewer. Setelah itu, shalat Dhuhur dan Ashar di Masjid Agung Surakarta, kemudian mampir ke Pasar Klewer sebentar, dan berjalan kaki lagi ke jalan Slamet Riyadi.

Hanya begitu saja, tapi hari sudah sore ketika kami keluar dari Pasar Klewer. Dan kami bingung mau naik apa pulangnya. Bulikku yang dulu sempat jadi warga Solo ketika kos jaman kuliahnya pun sudah lupa, akhirnya bertanya ke bapak sopir angkot. Dan dengan baik hati si bapak mau mengantar kami (setelah meminta izin penumpang lainnya) ke Stasiun Jebres (yang ternyata bukan trayeknya) dengan tarif seperti penumpang lainnya. Haha... Terimakasih .... Dan kami menunggu kereta Prameks terakhir membawa kami pulang ke Jogja...

Nasi Liwet Yu Sani

Jumat pagi, 13 Juli 2012, percakapan di sebelahku ...
“Gimana, Bu Nia? Jadi apa tidak rencana nanti sore?”, tanya pak Kabid ke Bu Nia
“Lha nderek bapak saja”, jawab bu Nia
“Mau tindak ke mana, Pak?”, tanyaku penasaran
“Wah, ini rahasia antara saya dan bu Nia, mba Anin jangan sampai tahu”, jawab pak Kabid bercanda, membuat tambah penasaran.

Siang hari, pas istirahat Jumatan, aku duduk di kubikelnya mba Jum bersama bu Rully dan bu Ririn di seberang, tiba-tiba Pak Dodi datang.
 “ Nanti sore , jadi ya ke Solo nya? Siapa saja yang ikut? Mba Jum, Mba Nia, Mba Rully, Mba Ririn jadi to? Mba Anin mau ikut apa tidak?”, kata Pak Dodi k pada akhirnya.
“ Lho, sudah ngga jadi rahasia lagi, to pak? Hehe..”, jawabku
Sore hari, sesaat setelah bel pulang berbunyi pada jam 14.30 kami langsung cabut ke Solo, bertujuh dengan pak Jaka di belakang kemudi.

Sebenarnya masih belum tahu dengan pasti, ke Solo mau kemana, mau ngapain. Hehe... Dasar... Tiap diajak jalan-jalan pokoknya ikut. Setelah beberapa jam perjalanan yang menyenangkan. Canda bersama teman-teman yang melepas penat dan cerita Pak Dodi yang penuh nasehat, untuk tak pernah lupa pada orang-orang yang berbuat kebaikan kepada kita, bahkan berlaku lebih baik kepada orang yang tak menyukai kita adalah lebih utama.

Setelah sebelumnya mampir ke toko roti Orion, akhirnya kami tiba ke tujuan utama, warung lesehan Nasi Liwet Yu Sani yang sore itu ramai sekali. Mobil berjajar memenuhi parkiran di pinggir jalan di Solo Baru. Dan sayang sekali ngga bisa ambil foto, hape lowbat di jalan. Biar kudeskripsikan saja ya? Kami masuk ke tenda dan penjual mengambil pincuk daun pisang untuk meracik nasi liwet, sayur oseng pepaya yang pedas manis, santan kental mirip jenang putih dan lauk pilihanmu, ada tahu tempe telur putih kukus hingga ayam. So nyummy dan gratis (hihi..). Dan Pak Dodi meminta dibungkuskan untuk kami bawa pulang pula. Di perjalanan pulang, aku bahkan kesulitan duduk di mobil, full, kenyang.  

Sunday, September 2, 2012

Ramadhan Ketigapuluh

Foto :  http://gg-justshare.blogspot.com/2012/07/hikmah-tarawih.html

Dan Ramadhan ketigapuluh pun beranjak pergi. Kali ini pun masih bukan Ramadhan terbaik yang pernah terlalui. Sebulan sudah terlewati, merangkum kenangan indah di bulan suci, yang membawa segenggam semangat untuk esok hari.

***
Kaki-kaki mungil yang melangkah dan berlari di sepanjang shaf, ketika tarawih mulai didirikan, mengingatkan perasaan seperti berjalan kaki di sepanjang jalan teduh yang ditumbuhi pepohonan yang rapat dan tinggi.

Remaja yang bersemangat karena  bertemu yang dicari.  Sahabat untuk berbagi, seorang yang menarik hati, hingga mereka mulai menemukan cinta yang hakiki.

Ibu-ibu yang berusaha keras untuk khusyuk dalam shalatnya, saat anak kecilnya yang berlarian menimbulkan kegaduhan. Namun pada akhirnya hanya bisa membisikkan nasihat karena tiba-tiba saja mereka telah duduk manis di sampingnya ketika imam hampir mengucapkan salam. Atau pada menit yang lain, menoleh pada anak yang tertidur di sampingnya, melihatnya dengan penuh cinta pada jeda tarawih berikutnya. Dan ...

Simbah-simbah renta terhuyung menahan kantuk saat ruku’, berbalut mukena dan beralas sajadah yang terlihat seumuran dengan usianya. Bukan tentang keterbatasan, tapi tentang kesederhanaan, kesetiaan, kecintaan dan keistiqomahan atas sesuatu yang dimilikinya dan diyakininya.
***

Dan pada akhirnya, terlantun doa semoga tahun depan kembali di pertemukan dengannya. Amin

Saturday, August 18, 2012

June

Berikut ini adalah ceritaku di bulan Juni, dua bulan yang lalu.  Tak banyak berbeda dengan tujuan beberapa perjalananku sebelumnya. Undangan pernikahan seorang teman. Kali ini yang beruntung adalah Indah, teman kantor. Acaranya digelar di Desa Keseneng, Sumowono, Semarang. (Sabar mba ^^v... Insyaallah akan tiba giliranmu. Amin...).

Mendengar kabar ini, yang paling bersemangat adalah Risna. Dia berpesan kalau harus dia yang diajak. Bahkan bersedia di depan pulang-pergi. Okelah, jadilah hari itu,  Ahad, 17 Juni 2012, aku dan Risna (the wedding traveler *eh?!*) touring menuju ke Semarang. Perkiraan waktu tempuhnya sekitar empat jam. 

Kami berangkat pagi-pagi lewat rute Kalibawang. Motor dilajukan santai saja, ngga ngebut  seperti biasanya.  Bahkan beberapa kali kami berhenti saat Risna bertemu dengan pemandangan yang menarik hatinya. Salahsatunya, terbitnya matahari ini. Subhanallah..


Foto: Risna (@naorriezna)

Sampai di daerah Temanggung, kami sempat bertemu kabut yang memperpendek jarak pandang, tetapi menyenangkan (lha?!). Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, sampailah kami di pertigaan masuk ke arah Bandungan menuju ke lokasi. Masuknya masih sekitar 20 kilo, dan kira-kira butuh sekitar setengah jaman. Yang itu berarti kami kepagian satu jam. Jadilah kami berhenti di SPBU dekat pertigaan arah Candi Gedongsongo untuk sarapan bekal dulu (halah!), sambil menunggu Risna berganti baju. (Kalau saya, sudah langsung pakaian lengkap dari rumah).

Dengan bantuan gepees di hape dan satu kali bertanya, akhirnya kami menemukan lokasi tujuan. Subhanallah, tempat yang sangat cantik pemandangannya. Pegunungan, sawah, langit biru, awan putih, gemericik air, sinar matahari yang hangat, dan angin yang menyapu lembut di kulit. Paradiso ...
 
Foto: Risna (@naorriezna)
Jadilah kami tamu yang hadir awal. Bahkan lebih dulu daripada ibu-ibu tetangga, hihi. Kami pun dipersilakan duduk di dalam gedung, lesehan. Lumayan nih, bisa selonjoran sebelum tamu yang lain berdatangan. Haha, gara-gara Risna excited nih, jadi kepagian. Dan acarapun dimulai, teman-teman kantor yang naik bus dan motor/mobil berdatangan dan duduk di bawah tenda di luar gedung.  Acara usai, kami dan rombongan teman-teman kantor berfoto bersama pengantin, sebelum akhirnya berpamitan.
 

Seusai sholat di sebuah masjid, kami memutuskan untuk menuju Candi Gedongsongo. Dari SPBU tempat kami mampir berangkatnya tadi masuk dan menanjak sekitar 3 km. Dengan tiket @ Rp 7.500 kami masuk ke lokasi yang pada hari itu cukup ramai dikunjungi wisatawan, dan anak-anak sekolah yang kemah di pelataran.  Candi ini terdiri dari lima lokasi. Kita bisa menyewa kuda untuk mengitari keseluruhan candi yang jaraknya terpisah-pisah tersebut. Dan jaraknya pun lumayan jauh dari satu candi ke candi yang lain. Kami memilih jalan kaki untuk menempuhnya.

Mulai dari Candi Gedong I, kemudian berjalan menyusuri hutan pinus milik Perhutani, mendaki menuju ke Candi Gedong II, diantara tanaman kobis yang siap dipanen, hingga sampai dipuncak tempat Candi Gedong III berada. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit melewati pemandian air panas yang mengandung belerang, kemudian kembali mendaki menuju Candi Gedong IV, bertemu seorang Nikonia Undip dan temannya yang membantu memotret kami berdua. Dan, akhirnya sampailah kami di Candi Gedong V, komplek terakhir dari rangkaian Candi yang ditemukan. Di sini kita bisa melihat pemandangan yang indah di bawah sana. Subhanallah... Cantik.


Waktu beranjak, kami pun segera turun menuju pintu keluar. Menyenangkan, berjalan kaki di udara yang sangat sejuk, segar, tanpa polusi. Meski tak mencoba naik kuda, tapi sepertinya memutuskan untuk berjalan kaki adalah pilihan yang tepat. Sedikit capek memang, tapi rasanya segaaar...
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang, sampai di jalan utama dekat pasar Ambarawa, kami lihat di timur sana, terlihat air di Rawapening seperti memanggil kami (halah!). Tapi hari sudah sore, kawan. Sampai jumpa di lain hari.

Thursday, July 5, 2012

Suatu Ketika Bersama Taksaka

Satu hari di bulan Mei, tiba-tiba saja saya diajak melakukan bisnis trip ke ibukota bersama dua partner lainnya, Mba Jum dan Pak Parlan.

H-1, pulang kerja kami bertiga ngetem di Loket Reservasi Stasiun Tugu. Keberuntungan nampaknya sedang bersama kami, karena ada seorang Bapak dari instansi mitra mba J yang kebetulan antri lebih dahulu dan tanpa sengaja memperoleh dua nomor antrian, sehingga diberikannya satu kepada mba Jum. Lumayan, kami lompat sekitar 10 nomor antrian. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiket pun didapat. 

Hari-H. Ketika sepedamotorku masuk di parkir inap stasiun tugu, broadcaster di stasiun menyampaikan bahwa KA Taksaka sudah berada di jalurnya. Tepat waktu. Dan bersegeralah aku masuk, dan bertemu dua partnerku di dalam gerbong kereta.

Ini adalah kali pertama aku naik kereta eksekutif (haha...sebelumnya ekonomi dan bisnis).  Dan dua partner yang lain pun tak jauh berbeda. Dengan penuh percaya diri mengekspresikan kekaguman kami (hihi...).
“Waduh, kok dingin ya?” (Ya iyalah kan pake AC)
“ Kursinya  empuk, bisa ditarik ke belakang kalo tidur, piye carane? “ (Oo.. tekan tombol dan dorong)
“Ini, buat dipake ya mas?” (Saat selimut dibagikan)

Bagian paling seru adalah ketika mbak pramugari menawarkan menu makan malam
“ Makan malamnya ibu? Nasi goreng? Rawon? Bakso? Mie goreng?”, tanya mba pramugari
“ Mau bakso po dek?”, tanya mba J padaku
“ Mau dong...”, jawabku
“Bapak mau? Nasi goreng?”, tanya mba J pada pak P pura-pura tidak mengenal Pak P
“Ngga usah mba, makasih”, jawab pak P menangkap maksud mba J
“Monggo pak pesen aja ngga papa”, kata mba Jum
“Tuh pak, ditawarin mbaknya”, kata mba pramugari mendukung tawaran mba J
“Saya kan ngga kenal mbaknya mba”, kata pak P lagi
“Nanti kan jadi punya kenalan di kereta pak”, rayu mba Pramugari
“Ya sudah, nasi goreng saja mba”, kata pak P pada akhirnya

Setelah makanan tiba dan kami selesai menyantapnya, mba pramugari pun datang untuk menagih pembayarannya
“Lho, jadi makanan ini tadi harus bayar ya mba?”, kata mba J (berpura-pura) kaget
“Iya mba”, kata mba Pramugari sambil menghitung jumlah yang harus dibayarkan
“Saya tadi kan cuma ditawari mbaknya ini mba?”, kata pak P (berpura-pura) mengelak
“Lho tapi saya kan ngga kenal Bapak”, sanggah mba J
“Aduh, saya ngga tahu kalau kejadiannya kayak gini, kalau gitu biar Kapten saja yang datang ke sini”, kata mba pramugari dengan muka bingung
“Hahahahaha.... “, pecahlah tawa kami
“Tenang mba... Kami kan satu rombongan ... “, hibur mba J
“Kennaa deh ...”, kata pak P menirukan Pandji
“Ah, bapak ibu ini ... saya jadi takuuut...”, ujar mba pramugari dengan sedikit lega
Panceeen .... Mba Jum dan Pak Parlan ahlinya ngerjain orang ...

Kenyang, kedinginan, dapet selimut, mataku pun perlahan memberat dan zzzz...zzzz....

H+1, Shubuh, Kami sampai di stasiun Gambir. Kemudian dengan semangat ‘45 berjalan kaki mengabaikan tawaran semua sopir taksi, menuju ke Istiqlal untuk menunaikan sholat Shubuh dan membersihkan diri. Selesai sholat dan beristirahat sejenak, kami pun kembali berjalan untuk mencari sarapan. Awalnya kami ingin sarapan di RM. Padang Siang Malam, tempat favoritnya pak P, namun ternyata lauknya belum ada yang matang. Akhirnya kami lihat pedagang nasi rames di depan RM tersebut. Meski di pinggir jalan, tempat si ibu ini rame pembelinya.  Dan rasanya juga lumayan enak (enak apa laper?)

Selesai makan kami pun bersegera menuju ke tempat tujuan kami. IMHO, bagian paling menyenangkan setiap kali bepergian adalah perjalanannya. Bukan dimana tujuannya, tapi bagaimana cara menuju tempatnya (halah). Nice trip mba Jum, pak Parlan ... Thank you... !!!

Libur di Bulan Mei Bersama Baeti

Pas ada libur panjang di bulan Mei, aku malah ngga punya rencana pergi kemana-mana samasekali. Hm... enaknya kemana ya? Aha! Bagaimana dengan silaturahim ke rumah mba Iin, sambil kenalan sama si kecil Baeti? Dan, bukankah rumahnya dekat Pantai Ayah? *wink*. Akhirnya kuambil hapeku menanyakan agenda kosongnya diantara empat hari liburku kepada penguasa pantai ayah(^^v) yang satu itu, dan ...

Minggu, 20 Mei 2012, sekitar jam delapan pagi aku dan adik kecilku, Icha menuju ke ‘halte’ menunggu bus jurusan Purwokerto. Alhamdulillah, kami dapat bus (lupa judul busnya) yang masih menyisakan tempat duduk untuk kami. Aah... kangen banget naik bis umum seperti ini.

Sekitar jam 11.00, kami sampai di pertigaan Ngijo, dan mba Iin, suaminya, dan baby Baeti sudah menunggu kedatangan kami dengan mobilnya. Wah ... kangennya... ngga kerasa sudah hampir empat tahun ngga bertemu. Ngga banyak berubah, tapi bertumbuh dan bertambah (dan aku masih saja sendiri *curcol*, eh ... sama Icha diink). Baeti udah setahun dan lagi unyu-unyu nya *cubit*.

Dari pertigaan Ngijo kami menuju ke rumah mba Iin, ngobrol-ngobrol melepas rindu (halah) dan ketemu bapaknya yang terlihat sepuh, tapi sangat ramah.^_^. Setelah shalat Dhuhur, saat matahari sedang panas-panasnya, kami pun menuju ke Pantai Ayah a.k.a Pantai Logending.


Sebelum turun ke pantai, kami mampir makan siang dengan menu cumi dan udang. Ah.. love it. Bahkan sampai lupa kalau Icha kan ngga boleh makan cumi. Hihi...
          Mba Iin, Baeti, and Me                Fotografer: Icha
Kalau tidak salah ingat saya pernah ke pantai ini duluuuu.... waktu study tour esde. So long time ago, dan aku hampir tidak ingat seperti apakah wajah pantai ayah waktu itu. Sekarang, di dekat tempat kami makan siang itu sedang ada proyek pembangunan dermaga. Jadi... airnya terlihat coklat dan banyak kotoran sampah di bawahnya.

Selesai makan, kami pun menuju ke sisi pantai yang masih bagus pemandangannya. Aih... kasihan Baeti... Panas ya Nak?

Puas menikmati pantai, kami melanjutkan perjalanan ke Goa Jatijajar. Tarik napas panjang, dan bersiap mendaki tangga menuju ke mulut gua. Ini adalah kali ketiga saya memasuki gua ini, dan terakhir kali adalah juga jaman esde dulu, sama om Yusac dari Cilacap. Dan, sepertinya ngga banyak perubahan, patung-patung yang mengisahkan Raden Kamandaka masih sama dan terlihat cukup terawat, hanya ada tambahan bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Dari Goa Jatijajar, kami pun kembali ke rumah mba Iin, shalat Ashar yang kesorean, berpamitan sama Bapak, *kiss kiss* Baeti dan bersiap-siap pulang. Kali ini mba Iin dan suami (tanpa Baeti) malah mengantarkan kami sampai ke Gombong. Ah ... terimakasih banyak untuk hari yang menyenangkan ini. Jangan kapok ya mba? *ngelunjak*^__^

Perjalanan pulang kali ini cukup penuh perjuangan. Sehubungan dengan akhir dari long weekend, beberapa bis yang lewat menolak kami naik karena penuhnya penumpang. Alhamdulillah, pada akhirnya ada bus jurusan Surabaya (ga inget namanya) yang masih menyisakan ruang untukku dan Icha berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya. Dan setelah berdiri sekitar tiga jam di dalam bis, akhirnya sampailah kami di Sentolo City. There is just no no no place like home...

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...