Satu hari di bulan Mei, tiba-tiba saja saya diajak melakukan
bisnis trip ke ibukota bersama dua partner lainnya, Mba Jum dan Pak Parlan.
H-1, pulang kerja kami bertiga ngetem di Loket Reservasi Stasiun
Tugu. Keberuntungan nampaknya sedang bersama kami, karena ada seorang Bapak
dari instansi mitra mba J yang kebetulan antri lebih dahulu dan tanpa sengaja
memperoleh dua nomor antrian, sehingga diberikannya satu kepada mba Jum. Lumayan,
kami lompat sekitar 10 nomor antrian. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya
tiket pun didapat.
Hari-H. Ketika sepedamotorku masuk di parkir inap stasiun
tugu, broadcaster di stasiun menyampaikan bahwa KA Taksaka sudah berada di
jalurnya. Tepat waktu. Dan bersegeralah aku masuk, dan bertemu dua partnerku di
dalam gerbong kereta.
Ini adalah kali pertama aku naik kereta eksekutif (haha...sebelumnya
ekonomi dan bisnis). Dan dua partner
yang lain pun tak jauh berbeda. Dengan penuh percaya diri mengekspresikan
kekaguman kami (hihi...).
“Waduh, kok dingin ya?” (Ya iyalah kan pake AC)
“ Kursinya empuk, bisa
ditarik ke belakang kalo tidur, piye carane? “ (Oo.. tekan tombol dan dorong)
“Ini, buat dipake ya mas?” (Saat selimut dibagikan)
Bagian paling seru adalah ketika mbak pramugari menawarkan menu
makan malam
“ Makan malamnya ibu? Nasi goreng? Rawon? Bakso?
Mie goreng?”, tanya mba pramugari

“ Mau
bakso po dek?”, tanya mba J padaku
“ Mau dong...”,
jawabku
“Bapak
mau? Nasi goreng?”, tanya mba J pada pak P pura-pura tidak mengenal Pak P
“Ngga usah
mba, makasih”, jawab pak P menangkap maksud mba J
“Monggo
pak pesen aja ngga papa”, kata mba Jum
“Tuh pak,
ditawarin mbaknya”, kata mba pramugari mendukung tawaran mba J
“Saya kan
ngga kenal mbaknya mba”, kata pak P lagi
“Nanti kan
jadi punya kenalan di kereta pak”, rayu mba Pramugari
“Ya sudah,
nasi goreng saja mba”, kata pak P pada akhirnya
Setelah makanan tiba dan kami selesai menyantapnya,
mba pramugari pun datang untuk menagih pembayarannya
“Lho, jadi
makanan ini tadi harus bayar ya mba?”, kata mba J (berpura-pura) kaget
“Iya mba”,
kata mba Pramugari sambil menghitung jumlah yang harus dibayarkan
“Saya tadi
kan cuma ditawari mbaknya ini mba?”, kata pak P (berpura-pura) mengelak
“Lho tapi
saya kan ngga kenal Bapak”, sanggah mba J
“Aduh,
saya ngga tahu kalau kejadiannya kayak gini, kalau gitu biar Kapten saja yang
datang ke sini”, kata mba pramugari dengan muka bingung
“Hahahahaha....
“, pecahlah tawa kami
“Tenang mba... Kami kan satu rombongan ... “,
hibur mba J
“Kennaa deh ...”, kata pak P menirukan Pandji
“Ah, bapak
ibu ini ... saya jadi takuuut...”, ujar mba pramugari dengan sedikit lega
Panceeen .... Mba Jum dan Pak Parlan ahlinya ngerjain
orang ...
Kenyang, kedinginan, dapet selimut, mataku pun
perlahan memberat dan zzzz...zzzz....
H+1, Shubuh, Kami sampai di stasiun Gambir.
Kemudian dengan semangat ‘45 berjalan kaki mengabaikan tawaran semua sopir
taksi, menuju ke Istiqlal untuk menunaikan sholat Shubuh dan membersihkan diri.
Selesai sholat dan beristirahat sejenak, kami pun kembali berjalan untuk
mencari sarapan. Awalnya kami ingin sarapan di RM. Padang Siang Malam, tempat
favoritnya pak P, namun ternyata lauknya belum ada yang matang. Akhirnya kami lihat
pedagang nasi rames di depan RM tersebut. Meski di pinggir jalan, tempat si ibu
ini rame pembelinya. Dan rasanya juga
lumayan enak (enak apa laper?)
Selesai makan kami pun bersegera menuju ke tempat tujuan
kami. IMHO, bagian paling menyenangkan setiap kali bepergian adalah perjalanannya.
Bukan dimana tujuannya, tapi bagaimana cara menuju tempatnya (halah). Nice trip
mba Jum, pak Parlan ... Thank you... !!!