Alhamdulillah ada tanggal
merah lagi. Empat Juni duaribu tigabelas, grup Ahihihi plus Kethik
berencana pergi ke Nglanggeran. Menurut cerita, di sana ada Gunung
Api Purba dan Embung buatan yang bagus. Berenam (karena Nafi
membatalkan keikutsertaannya), kami berangkat sekitar jam setengah
sepuluh dari rumah menuju ke Patuk, Gunung Kidul. Jalanan menuju ke
lokasi mudah diakses kendaraan, bahkan sudah terdapat papan petunjuk
arah untuk menuju ke Nglanggeran ini. Sempat bingung dan bertanya
untuk memastikan bahwa kami berada di jalur yang tepat, akhirnya kami
tiba di lokasi.
GUNUNG API PURBA
Sampai di parkiran,
langsung menuju ke loket penjualan tiket masuk dengan membayar
sejumlah (Rp 5.000 x 6 orang) + (Rp 2.000 x 3 motor) = Rp 36.000.
Yuk... Jalan thimik-thimik menuju puncak gunung. Hari itu lumayan
ramai meski cuaca mendung. Mari berdoa semoga hujan tak turun sebelum
kami kembali dari puncak. Perjalanannya mengasyikkan. Ada banyak
jenis jalan yang akan kita lalui. Mulai dari jalan tanah setapak yang
sepertinya akan licin jika basah oleh hujan, jalan dengan krikil
kecil, jalan naik berupa tangga buatan dari semen, maupun tangga
bantuan dari kayu dan bambu, akar pepohonan yang terjulur untuk
berpegangan mendaki batu terjal untuk naik ke atas, hingga bantuan
tali tampar yang terikat kuat di pohon, atau kalau mau kita bisa
mencoba rock climbing tanpa bantuan tali apapun.
Tiba
di Pos I dengan selamat, kami dihadapkan pada pemandangan yang sangat
cantik. Ketika sedang menikmatinya,tiba-tiba kabut mulai datang dan
tak lama kemudian gerimis turun.
Awalnya kami
mempertimbangkan untuk turun ke bawah dan tidak menuju puncak. Namun
ketika gerimis berhenti merintik, kami pun memutuskan melanjutkan
perjalanan menuju puncak. Dan di perjalanan ini Kethik memisahkan
diri dengan memilih jalur kanan, sementara kami berlima memilih jalur
kiri menuju ke Pos 2 – Pos 3 – Pos 4 dan tiba di persimpangan
tempat pertemuan jalur kiri dan kanan. Namun sebelum menuju puncak
kami berbelok dulu ke tempat yang ditunjukkan papan petunjuk sebagai
sumber mata air Comberan.
Di sana kami bertemu
dengan sekelompok Mapala yang barusaja keluar dari mata air tersebut
dan mengatakan bahwa di sana sangat bagus. Tapi... ketika kami
mencoba mengintip naik, ternyata jalannya cukup mengerikan. Tidak
cocok untuk kami lewati yang ketika itu memakai sandal dan tas
seperti ini.
Kami pun melanjutkan
perjalanan menuju puncak. Kabut semakin tebal dan ketika kami tiba
selangkah menuju puncak, kami menemukan Kethik telah berada di
puncak. Dan saat dia turun, aku, Icha, Risna, dan Uli segera menaiki
tangga menuju ke puncak gunung gede, sementara Ima memilih untuk
menunggu di bawah dan tak naik (haloo... selangkah lagi dan tidak
mencobanya? Hadew..).
Sayang sekali sampai di atas kabut
tebal masih menyelimuti, jadi kami tak bisa melihat pemandangan di
sekeliling, yang saya sangat yakin kalau hari cerah maka akan
terlihat sangat bagus. Tak apalah, yang penting tiba di puncak dengan
selamat. We did it!! Horay, horay, horay!
Turun dari puncak gunung
gede kami menuju ke pos 5 untuk beristirahat dan (ehem) foto-foto.
Kemudian turun melalui jalur yang dilalui Kethik. Bagian paling
serunya adalah berjalan di celah dua bebatuan yang hanya muat untuk
satu orang bahkan ada satu space di mana kamu harus memiringkan badan
untuk bisa berjalan.
Ternyata jalur ini dari
pos satu memang lebih dekat menuju puncak, pantas saja Kethik tiba di
puncak duluan. Tapi keputusannya untuk meninggalkan kami berlima
tetap harus mendapatkan balasan setimpal.
Akhirnya kami sampai di
bawah, hujan pun turun dengan derasnya. Alhamdulillah...
EMBUNG NGLANGGERAN
Setelah hujan sedikit
mereda kami pun bergegas menuju tujuan kedua, yaitu embung buatan
yang hanya terpaut beberapa km dari gunung api purba. Kabarnya kalau
kami beruntung bisa tiba di puncak pada hari cerah tak berkabut, maka
dari atas sana bisa melihat dengan cukup jelas betapa cantiknya
embung ini.
Menurut cerita petugas
parkir, awalnya embung ini adalah bukit yang di pangkas pucuknya,
kemudian digali sedalam 3 meter kemudian didesain sedemikian rupa
sehingga bisa diisi dengan air. Untuk menuju ke puncak, cukup mudah
karena sudah dibangun beberapa anak tangga yang bisa kita lewati
untuk sampai di embung ini.