Saturday, August 18, 2012

June

Berikut ini adalah ceritaku di bulan Juni, dua bulan yang lalu.  Tak banyak berbeda dengan tujuan beberapa perjalananku sebelumnya. Undangan pernikahan seorang teman. Kali ini yang beruntung adalah Indah, teman kantor. Acaranya digelar di Desa Keseneng, Sumowono, Semarang. (Sabar mba ^^v... Insyaallah akan tiba giliranmu. Amin...).

Mendengar kabar ini, yang paling bersemangat adalah Risna. Dia berpesan kalau harus dia yang diajak. Bahkan bersedia di depan pulang-pergi. Okelah, jadilah hari itu,  Ahad, 17 Juni 2012, aku dan Risna (the wedding traveler *eh?!*) touring menuju ke Semarang. Perkiraan waktu tempuhnya sekitar empat jam. 

Kami berangkat pagi-pagi lewat rute Kalibawang. Motor dilajukan santai saja, ngga ngebut  seperti biasanya.  Bahkan beberapa kali kami berhenti saat Risna bertemu dengan pemandangan yang menarik hatinya. Salahsatunya, terbitnya matahari ini. Subhanallah..


Foto: Risna (@naorriezna)

Sampai di daerah Temanggung, kami sempat bertemu kabut yang memperpendek jarak pandang, tetapi menyenangkan (lha?!). Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, sampailah kami di pertigaan masuk ke arah Bandungan menuju ke lokasi. Masuknya masih sekitar 20 kilo, dan kira-kira butuh sekitar setengah jaman. Yang itu berarti kami kepagian satu jam. Jadilah kami berhenti di SPBU dekat pertigaan arah Candi Gedongsongo untuk sarapan bekal dulu (halah!), sambil menunggu Risna berganti baju. (Kalau saya, sudah langsung pakaian lengkap dari rumah).

Dengan bantuan gepees di hape dan satu kali bertanya, akhirnya kami menemukan lokasi tujuan. Subhanallah, tempat yang sangat cantik pemandangannya. Pegunungan, sawah, langit biru, awan putih, gemericik air, sinar matahari yang hangat, dan angin yang menyapu lembut di kulit. Paradiso ...
 
Foto: Risna (@naorriezna)
Jadilah kami tamu yang hadir awal. Bahkan lebih dulu daripada ibu-ibu tetangga, hihi. Kami pun dipersilakan duduk di dalam gedung, lesehan. Lumayan nih, bisa selonjoran sebelum tamu yang lain berdatangan. Haha, gara-gara Risna excited nih, jadi kepagian. Dan acarapun dimulai, teman-teman kantor yang naik bus dan motor/mobil berdatangan dan duduk di bawah tenda di luar gedung.  Acara usai, kami dan rombongan teman-teman kantor berfoto bersama pengantin, sebelum akhirnya berpamitan.
 

Seusai sholat di sebuah masjid, kami memutuskan untuk menuju Candi Gedongsongo. Dari SPBU tempat kami mampir berangkatnya tadi masuk dan menanjak sekitar 3 km. Dengan tiket @ Rp 7.500 kami masuk ke lokasi yang pada hari itu cukup ramai dikunjungi wisatawan, dan anak-anak sekolah yang kemah di pelataran.  Candi ini terdiri dari lima lokasi. Kita bisa menyewa kuda untuk mengitari keseluruhan candi yang jaraknya terpisah-pisah tersebut. Dan jaraknya pun lumayan jauh dari satu candi ke candi yang lain. Kami memilih jalan kaki untuk menempuhnya.

Mulai dari Candi Gedong I, kemudian berjalan menyusuri hutan pinus milik Perhutani, mendaki menuju ke Candi Gedong II, diantara tanaman kobis yang siap dipanen, hingga sampai dipuncak tempat Candi Gedong III berada. Perjalanan dilanjutkan menuruni bukit melewati pemandian air panas yang mengandung belerang, kemudian kembali mendaki menuju Candi Gedong IV, bertemu seorang Nikonia Undip dan temannya yang membantu memotret kami berdua. Dan, akhirnya sampailah kami di Candi Gedong V, komplek terakhir dari rangkaian Candi yang ditemukan. Di sini kita bisa melihat pemandangan yang indah di bawah sana. Subhanallah... Cantik.


Waktu beranjak, kami pun segera turun menuju pintu keluar. Menyenangkan, berjalan kaki di udara yang sangat sejuk, segar, tanpa polusi. Meski tak mencoba naik kuda, tapi sepertinya memutuskan untuk berjalan kaki adalah pilihan yang tepat. Sedikit capek memang, tapi rasanya segaaar...
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang, sampai di jalan utama dekat pasar Ambarawa, kami lihat di timur sana, terlihat air di Rawapening seperti memanggil kami (halah!). Tapi hari sudah sore, kawan. Sampai jumpa di lain hari.

Thursday, July 5, 2012

Suatu Ketika Bersama Taksaka

Satu hari di bulan Mei, tiba-tiba saja saya diajak melakukan bisnis trip ke ibukota bersama dua partner lainnya, Mba Jum dan Pak Parlan.

H-1, pulang kerja kami bertiga ngetem di Loket Reservasi Stasiun Tugu. Keberuntungan nampaknya sedang bersama kami, karena ada seorang Bapak dari instansi mitra mba J yang kebetulan antri lebih dahulu dan tanpa sengaja memperoleh dua nomor antrian, sehingga diberikannya satu kepada mba Jum. Lumayan, kami lompat sekitar 10 nomor antrian. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiket pun didapat. 

Hari-H. Ketika sepedamotorku masuk di parkir inap stasiun tugu, broadcaster di stasiun menyampaikan bahwa KA Taksaka sudah berada di jalurnya. Tepat waktu. Dan bersegeralah aku masuk, dan bertemu dua partnerku di dalam gerbong kereta.

Ini adalah kali pertama aku naik kereta eksekutif (haha...sebelumnya ekonomi dan bisnis).  Dan dua partner yang lain pun tak jauh berbeda. Dengan penuh percaya diri mengekspresikan kekaguman kami (hihi...).
“Waduh, kok dingin ya?” (Ya iyalah kan pake AC)
“ Kursinya  empuk, bisa ditarik ke belakang kalo tidur, piye carane? “ (Oo.. tekan tombol dan dorong)
“Ini, buat dipake ya mas?” (Saat selimut dibagikan)

Bagian paling seru adalah ketika mbak pramugari menawarkan menu makan malam
“ Makan malamnya ibu? Nasi goreng? Rawon? Bakso? Mie goreng?”, tanya mba pramugari
“ Mau bakso po dek?”, tanya mba J padaku
“ Mau dong...”, jawabku
“Bapak mau? Nasi goreng?”, tanya mba J pada pak P pura-pura tidak mengenal Pak P
“Ngga usah mba, makasih”, jawab pak P menangkap maksud mba J
“Monggo pak pesen aja ngga papa”, kata mba Jum
“Tuh pak, ditawarin mbaknya”, kata mba pramugari mendukung tawaran mba J
“Saya kan ngga kenal mbaknya mba”, kata pak P lagi
“Nanti kan jadi punya kenalan di kereta pak”, rayu mba Pramugari
“Ya sudah, nasi goreng saja mba”, kata pak P pada akhirnya

Setelah makanan tiba dan kami selesai menyantapnya, mba pramugari pun datang untuk menagih pembayarannya
“Lho, jadi makanan ini tadi harus bayar ya mba?”, kata mba J (berpura-pura) kaget
“Iya mba”, kata mba Pramugari sambil menghitung jumlah yang harus dibayarkan
“Saya tadi kan cuma ditawari mbaknya ini mba?”, kata pak P (berpura-pura) mengelak
“Lho tapi saya kan ngga kenal Bapak”, sanggah mba J
“Aduh, saya ngga tahu kalau kejadiannya kayak gini, kalau gitu biar Kapten saja yang datang ke sini”, kata mba pramugari dengan muka bingung
“Hahahahaha.... “, pecahlah tawa kami
“Tenang mba... Kami kan satu rombongan ... “, hibur mba J
“Kennaa deh ...”, kata pak P menirukan Pandji
“Ah, bapak ibu ini ... saya jadi takuuut...”, ujar mba pramugari dengan sedikit lega
Panceeen .... Mba Jum dan Pak Parlan ahlinya ngerjain orang ...

Kenyang, kedinginan, dapet selimut, mataku pun perlahan memberat dan zzzz...zzzz....

H+1, Shubuh, Kami sampai di stasiun Gambir. Kemudian dengan semangat ‘45 berjalan kaki mengabaikan tawaran semua sopir taksi, menuju ke Istiqlal untuk menunaikan sholat Shubuh dan membersihkan diri. Selesai sholat dan beristirahat sejenak, kami pun kembali berjalan untuk mencari sarapan. Awalnya kami ingin sarapan di RM. Padang Siang Malam, tempat favoritnya pak P, namun ternyata lauknya belum ada yang matang. Akhirnya kami lihat pedagang nasi rames di depan RM tersebut. Meski di pinggir jalan, tempat si ibu ini rame pembelinya.  Dan rasanya juga lumayan enak (enak apa laper?)

Selesai makan kami pun bersegera menuju ke tempat tujuan kami. IMHO, bagian paling menyenangkan setiap kali bepergian adalah perjalanannya. Bukan dimana tujuannya, tapi bagaimana cara menuju tempatnya (halah). Nice trip mba Jum, pak Parlan ... Thank you... !!!

Libur di Bulan Mei Bersama Baeti

Pas ada libur panjang di bulan Mei, aku malah ngga punya rencana pergi kemana-mana samasekali. Hm... enaknya kemana ya? Aha! Bagaimana dengan silaturahim ke rumah mba Iin, sambil kenalan sama si kecil Baeti? Dan, bukankah rumahnya dekat Pantai Ayah? *wink*. Akhirnya kuambil hapeku menanyakan agenda kosongnya diantara empat hari liburku kepada penguasa pantai ayah(^^v) yang satu itu, dan ...

Minggu, 20 Mei 2012, sekitar jam delapan pagi aku dan adik kecilku, Icha menuju ke ‘halte’ menunggu bus jurusan Purwokerto. Alhamdulillah, kami dapat bus (lupa judul busnya) yang masih menyisakan tempat duduk untuk kami. Aah... kangen banget naik bis umum seperti ini.

Sekitar jam 11.00, kami sampai di pertigaan Ngijo, dan mba Iin, suaminya, dan baby Baeti sudah menunggu kedatangan kami dengan mobilnya. Wah ... kangennya... ngga kerasa sudah hampir empat tahun ngga bertemu. Ngga banyak berubah, tapi bertumbuh dan bertambah (dan aku masih saja sendiri *curcol*, eh ... sama Icha diink). Baeti udah setahun dan lagi unyu-unyu nya *cubit*.

Dari pertigaan Ngijo kami menuju ke rumah mba Iin, ngobrol-ngobrol melepas rindu (halah) dan ketemu bapaknya yang terlihat sepuh, tapi sangat ramah.^_^. Setelah shalat Dhuhur, saat matahari sedang panas-panasnya, kami pun menuju ke Pantai Ayah a.k.a Pantai Logending.


Sebelum turun ke pantai, kami mampir makan siang dengan menu cumi dan udang. Ah.. love it. Bahkan sampai lupa kalau Icha kan ngga boleh makan cumi. Hihi...
          Mba Iin, Baeti, and Me                Fotografer: Icha
Kalau tidak salah ingat saya pernah ke pantai ini duluuuu.... waktu study tour esde. So long time ago, dan aku hampir tidak ingat seperti apakah wajah pantai ayah waktu itu. Sekarang, di dekat tempat kami makan siang itu sedang ada proyek pembangunan dermaga. Jadi... airnya terlihat coklat dan banyak kotoran sampah di bawahnya.

Selesai makan, kami pun menuju ke sisi pantai yang masih bagus pemandangannya. Aih... kasihan Baeti... Panas ya Nak?

Puas menikmati pantai, kami melanjutkan perjalanan ke Goa Jatijajar. Tarik napas panjang, dan bersiap mendaki tangga menuju ke mulut gua. Ini adalah kali ketiga saya memasuki gua ini, dan terakhir kali adalah juga jaman esde dulu, sama om Yusac dari Cilacap. Dan, sepertinya ngga banyak perubahan, patung-patung yang mengisahkan Raden Kamandaka masih sama dan terlihat cukup terawat, hanya ada tambahan bangku-bangku untuk duduk-duduk.

Dari Goa Jatijajar, kami pun kembali ke rumah mba Iin, shalat Ashar yang kesorean, berpamitan sama Bapak, *kiss kiss* Baeti dan bersiap-siap pulang. Kali ini mba Iin dan suami (tanpa Baeti) malah mengantarkan kami sampai ke Gombong. Ah ... terimakasih banyak untuk hari yang menyenangkan ini. Jangan kapok ya mba? *ngelunjak*^__^

Perjalanan pulang kali ini cukup penuh perjuangan. Sehubungan dengan akhir dari long weekend, beberapa bis yang lewat menolak kami naik karena penuhnya penumpang. Alhamdulillah, pada akhirnya ada bus jurusan Surabaya (ga inget namanya) yang masih menyisakan ruang untukku dan Icha berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya. Dan setelah berdiri sekitar tiga jam di dalam bis, akhirnya sampailah kami di Sentolo City. There is just no no no place like home...

Friday, April 20, 2012

Dari Kubah Emas Menuju ke Istiqlal

Bagian Kedua Dari Posting Sebelumnya

Hari kedua, kami meninggalkan Bogor dengan KRL commuter line dan turun di Stasiun Depok Baru, mampir ITC untuk ke Vanqis (lagi), haha. Kemudian kami ke terminal mencari angkot menuju Masjid Kubah Emas. Ternyata angkot di Depok sama banyaknya dengan angkot di Bogor, tapi menurutku lalulintas di Bogor lebih nyaman. Tidak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan di angkot ini karena aku (dan Atut) tertidur dengan sukses di pojok belakang angkot. Tahu-tahu kubah masjid berwarna emas sudah terlihat di depan sana.

Masjid Kubah Emas

Turun dari angkot kami masih harus berjalan cukup jauh, dengan barang bawaan ala orang pulang kampung.


Masjid yang bernama Dian Al Mahri ini hari itu ramai sekali dikunjungi banyak pengunjung,bahkan dari luar Jawa, berasa seperti tempat wisata. Setelah menitipkan sandal dan ditolak oleh petugas saat ingin menitipkan barang bawaan yang segambreng, kami pun masuk ke masjid untuk shalat Dhuhur dan duduk santai sambil menikmati keindahan arsitektur masjid ini. Besar, luas, dan mewah. Terbayangkan indahnya jika setiap hari dipenuhi oleh jamaah.

Sesudah puas kami pun melanjutkan perjalanan. Dengan naik angkot yang muter-muter lewat jalan tikus, kami sampai di terminal dan berjalan kaki menuju Stasiun Depok Baru, dan duduk di peron menunggu kereta ke Jakarta sembari ngemil (ada cilok, ada es potong, hingga kedele rebus).

Masjid Istiqlal

Setelah kereta datang, di tempat duduk, lagi-lagi saya tertidur dengan sukses dan terbangun ketika kereta hampir tiba di Stasiun Djuanda, stasiun tujuan kami, dan berjalan menuju ke masjid Istiqlal untuk shalat Asar.


Sebelum berjalan masuk, kami sempatkan berfoto-foto dulu di depan masjid. Dari masjid ini terlihat tugu monas yang menjulang. Langit hari itu dilukisi gumpalan awan putih, cantik sekali. Segera kami masuk ke masjid. Sambil menunggu yang lain selesai shalat Ashar, kami melihat-lihat masjid yang biasanya hanya ku lihat di tipi ini. Tanpa terasa waktu terus bergerak dan kami harus segera menuju ke stasiun terakhir kami. Kami keluar masjid sesaat sebelum azan Maghrib, hingga ditegur pak satpam, “Ngga sekalian shalat Maghrib, mba?”

Diiringi lonceng gereja Katedral yang bersiap melaksanakan misa Paskah, taksi express mengantar kami mengejar Maghrib ke Stasiun Pasar Senen. Riri yang kelaparan, sempat beradu argumen dengan sopir taksi karena tidak menurunkan tepat di tempat yang diharapkannya. Hehe.

Selepas Shalat Maghrib di mushola, datanglah Rembun yang kangen teman-temannya dan menjamu makan siang plus malam di Hokben Stasiun Pasar Senen. Selesai makan, kami pun berpisah di depan pintu masuk lintas selatan.

Aku dan Riri sampai di dalam stasiun tepat sesaat sebelum KA. Senja Utama Yogya tiba. Ah, kalian pasti tak tahu apa yang kupikirkan, karena iritnya perkataan. Tapi, jika boleh kutuliskan dalam kalimat singkat ... Long weekend ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, teman-teman baru yang menyenangkan, yang mengingatkanku kembali akan banyak hal-hal baik yang sempat terlupakan. Terimakasih Riri, Atut, Evi, Beta dan Rembun...

Wednesday, April 18, 2012

Naik Turun Angkot di Kota Hujan

Long weekend (5-7 April 2012) kemarin aku dan Riri pergi ke Bogor. Kami berangkat naik Senja Utama Yogya dari Stasiun Wates. Dapat bangku yang lumayan nyaman. Setelah lelah ngobrol ngga jelas, akhirnya aku yang semalam sebelumnya kurang tidur langsung tertidur dengan sukses di kereta. Meninggalkan Riri yang katanya ngga bisa tidur.

Sesaat sebelum azan Shubuh kami tiba di Stasiun Pasar Senen. Selesai sholat di masjid stasiun, bersih-bersih muka dan gosok gigi, kami duduk sejenak di peron stasiun sambil menunggu Evi. Setelah Evi datang perjalanan dilanjutkan dengan taxi Express ke stasiun Cikini. Berhubung KRL ke Bogor paling pagi baru jam 8, oleh pak penjaga loket tiket disarankan transit di Depok saja baru kemudian naik KRL ke Bogor.

Sampai di Stasiun Bogor kami naik angkot menuju Botani Square, dimana Atut dan Betha sudah menunggu. Baru kemudian disambung naik angkot lagi menuju rumah kost Atut di Pakuan.

Selesai mandi dan sarapan dengan menu Kailan dan Gulai Ikan Patin (bener ngga ya judulnya?) karya chef Betha dan chef Atut, kami pun segera bergegas menuju Kebun Raya Bogor dengan naik angkot nomor sekian (!).

Kebun Raya Bogor

Sepertinya waktu sehari takkan cukup untuk jalan kaki mengelilingi Kebun Raya Bogor ini (kecuali naik kendaraan wisata KRB, tapi ngga akan sepuas kalau ditempuh dengan jalan kaki). Siang itu kami hanya mengitari satu pojok saja. Itu pun sudah ada yang mulai gempor kakinya (aku sih belum, soalnya rajin senam tiap Jumat, hihi).


Masuk dari gerbang dua, kami berlima menyusuri jalan menuju beberapa tempat diantaranya adalah

1. Istana Bogor, di bagian belakang yang dibatasi dengan kolam teratai
2. Makam Belanda, dengan nisannya yang unik
3. Tugu Raffles
4. Bunga Bangkai, yang dicari-cari ngga ketemu karena tidak sedang berbunga
5. Museum Zoologi
Keluar dari Museum Zoologi, tiba-tiba rintik hujan semakin deras, kami pun berteduh sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.

Ayam Geprek
Akhirnya kami pun keluar dari KRB lewat gerbang utama, kemudian naik angkot menuju tempat makan siang yaitu Ayam Geprek Istimewa. Menu yang dipesan adalah ayam geprek yang empuk enak sekali, sop jamur, jamur goreng, ca kangkung, trancam, dan sambal yang pedasnya mak nyus pemirsa. Jangan tanya lokasinya dimana, soalnya disorientasi, dan manut saja, tapi daftar menunya persis seperti gambar di tulisan ini. Setelah sholat Asar, perjalanan pun dilanjutkan ke ...

SKI Tajur Katulampa
Sumber Karya Indah adalah tempat untuk berbelanja tas berbagai model dengan berbagai merk, sepatu, kuliner, dan tempat outbond. Saya ngga beli, soalnya saya cenderung suka tas yang simpel, muat banyak, dan ... kalau branded pengen yang asli (tapi karena mahal jadinya ngga ada yang terbeli), atau malah produksi lokal dengan merknya sendiri, atau malah tanpa merk sekalian. Hehe... Setelah puas, perjalanan pun dilanjutkan dengan angkot lagi menuju ...

Botani Square

Sebelum ke Botani Square, kami mampir ke Vanqis, toko 6000 only yang menyediakan pernak-pernik lucu seharga enamribuan. Saking asyiknya tanpa terasa hari sudah semakin gelap. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Botani Square untuk shalat Maghrib dan windows shopping. Mengantar Betha membeli lunch set idamannya, lalu ke pojok botani yang menyediakan produk-produk alami seperti mie pelangi warna-warni dengan pewarna dari daun atau buah, sabun-sabun herbal, aroma terapi, dan sebagainya. Setelah puas, ah ... lebih tepatnya kelelahan, kami pun bergegas naik angkot untuk pulang ke kost Atut.

Sampai di kostan Atut, kami beristirahat sejenak sembari menunggu giliran mandi bagi yang mandi (lirik Riri dan Beta), nonton Full House sambil makan Sate Padang yang diam-diam dibeli Atut, dan tertidur pulas hingga pagi menjelang.

Buah Mundung, Buah Mentega, dan Roti Unyil Venus

Bangun tidur, semua bertanya-tanya karena si tuan rumah menghilang tanpa jejak. Sambil menunggunya datang kamipun mulai packing, karena hari kedua ini akan meninggalkan Bogor. Tak lama kemudian Atut datang dengan membawa sarapan, buah mundung dan buah mentega yang sehari sebelumnya diincar Riri dan Evi. Dan roti unyil Venus untuk oleh-oleh kami. Buah mundung itu seperti duku dengan kulit yang lebih tebal, dan asem rasanya. Kalau buah mentega sekilas Riri mengiranya buah kesemek, tapi bedanya buah mentega tidak berbedak putih melainkan berbulu halus, dengan daging buah menyerupai apel dan berbau khas.
Seusai sarapan, mandi dan bersiap-siap, kami pun segera meninggalkan kost Atut yang homy.

Memberi Makan Rusa Istana Bogor

Dari angkot pertama kami turun di depan Hotek Salak. Sebelum naik ke angkot berikutnya Atut mengajak kami menyempatkan untuk memberi makan rusa di halaman Istana Bogor dengan wortel. Kemudian akhirnya kami berada di atas angkot menuju Stasiun Bogor untuk menuju ke Depok. See you again Bogor...

(TO BE CONTINUED)

Saturday, January 28, 2012

Tour de Pangandaran

Sebuah Catatan Perjalanan 22-23 Januari 2012

Setelah sekian lama membicarakan dan merencanakan, akhirnya long weekend kemaren, saya bersama teman-teman satu bidang di kantor bersama keluarga jadi juga outing ke Jawa Barat. Tujuannya adalah Pangandaran. Here we go ...

Setelah tidur (kurang lebih tujuh jam) di dalam bis sambil bergoyang dangdut sepanjang malam, akibat jalan yang tidak rata, sekitar jam lima pagi kami sampai di hotel Sandaan untuk transit, sholat shubuh, mandi, dan makan pagi. Selesai makan pagi, kami duduk sejenak di tepian pantai pangandaran di depan hotel, dan mulai beranjak saat bis dan tour leader kami sudah siap mengantarkan kami menuju tujuan wisata pertama kami yaitu Green Canyon.

GREEN CANYON

Sekitar satu jam perjalanan sampailah kami di Green Canyon. Sesampai disana, kami masih harus menunggu giliran naik perahu atau ketinting yang akan membawa kami menyusuri Green Canyon. Satu perahu berisi enam orang dengan tarif Rp 75.000 per perahu. Akhirnya tiba giliran nomor 244, giliran kami (saya, pak Mono dan keluarga pak Parlan) untuk naik ke perahu.

Green Canyon adalah aliran sungai Cijulang yang airnya berwarna hijau dan berujung pada terowongan menyerupai sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmit dengan air yang mengalir di sela-selanya yang menjadikannya seperti hujan alami sepanjang hari. Subhanallah... sejuk dan damai ... Sampai di tempat berhentinya perahu, kami harus menaiki bebatuan untuk melihat pemandangan di dalamnya. Cantiknyaa... Sebenarnya kami masih bisa menyeberang masuk ke dalam dengan menggunakan pelampung didampingi pemandu dengan tambahan biaya 120 ribu per rombongan. Sayang disayang, waktu itu kami tak membawa baju ganti sehingga tak menerima tawaran untuk melihat ke dalam yang katanya lebih cantik daripada pemandangan di luar.

Setelah puas berfoto dan menyisakan penasaran dengan pemandangan di dalam, kami pun kembali ke dermaga. Dilanjutkan dengan makan siang di rumah makan dekat dermaga, sebelum melanjutkan perjalanan ke obyek berikutnya. Selesai makan kami pun bersiap menuju ke Pantai Batu Karas. Perjalanan kali ini cukup lama, bukan karena jaraknya yang jauh, tetapi karena macet yang luar biasa karena banyaknya kendaraan pengunjung.

PANTAI BATU KARAS

Tiba di Pantai Batu Karas, kami menunaikan sholat Dhuhur terlebih dahulu, baru kemudian menuju ke tepian pantai. Pantai Batu Karas adalah sebuah pantai yang landai yang berada pada sebuah teluk. Pantai ini menyediakan beberapa permainan air yang dikelola oleh pemuda setempat. Menurut salah satu pengelola ada sekitar sembilan permainan diantaranya banana boat, aquaglider, ufo, flying fish, buggy, jetski, dan lainnya. Tidak semua permainan dikeluarkan setiap harinya, melainkan disesuaikan dengan musim dan permintaan dari pengunjung.

Sore itu kami berenam (aku, keluarga bu asti, dan keluarga bu danish) memilih untuk naik UFO dengan tarif 50 ribu per orang. Setelah memakai pelampung, tibalah saatnya UFO diikat pada kapal motor yang menariknya mengitari pantai menuju ke tengah beberapa kali putaran (ah... saya tidak sempat menghitungnya). Seruu... kami berteriak-teriak kegirangan (atau ketakutan hayo?). Setelah kami turun, Ibu Itje dkk (yang dari Green Canyon tadinya ingin langsung pulang ke hotel) akhirnya malah ikut mencoba permainan UFO ini. Selesai bermain, tiba-tiba rintik hujan pun turun. Dan kami sudah di dalam bis kembali menuju hotel ketika rintik itu menjadi lebih deras.

NIGHT AT THE BEACH

Tiba di hotel, saya sekamar dengan bu Ony yang sama-sama tidak mengajak keluarga. Saat makan malam Ibu Itje membagikan doorprize yang sudah disiapkan dari rumah. Setelah itu saya dan Bu Oni melihat kain pantai dan kaos-kaos di kios yang ada di sepanjang jalan depan hotel untuk buah tangan keluarga di rumah. Survey harga dari satu kios ke kios lain, melakukan negosiasi mencari harga yang paling murah. Dan setelah berputar-putar dan menemukan yang kami cari, akhirnya kami duduk dan memesan kelapa muda di tepi pantai, ditemani angin malam, rinai gerimis, dan deburan ombak. So sweet... I wish you were here...

SEPEDA TANDEM

Pagi hari kedua, saya dan bu Ony ingin mencoba bersepeda tandem. Sampai di tempat sewa sepeda kami bertemu Ibu Itje, dan Ibu Antik yang sudah terlebih dahulu menyewa masing-masing satu sepeda mini, dan juga bu Titik. Akhirnya saya dan Bu Ony tandem bertiga dengan Bu Titik. Bagian tersulitnya adalah pada saat mengayuh pertamakali dan kami tidak kompak. Rasanya seperti akan terjatuh. Tetapi semua berubah mengasyikkan ketika sudah terbiasa dan stabil.

Sampai di tengah perjalanan tiba-tiba saya dan bu Ony merasa kayuhan sepedanya semakin ringan. Saya pikir hal itu terjadi karena jalanan yang menurun. Tapi, ketika Bu Titik yang berada di paling belakang merasa semakin berat, maka ini pasti terjadi sesuatu hal dan kami menepi dan berhenti. Dan benar saja. Rantai sepeda kami loss atau lepas. Tentusaja Bu Titik merasa semakin berat karena samasaja memboncengkan dua orang (duh ibu... maafkan kami tak tahu ^^v). Setelah masalah teratasi, kami melanjutkan perjalanan mengejar ketertinggalan kami dari bu Itje dan bu Antik. Tapi pada akhirnya kami hanya bertemu bu Antik, dan kehilangan jejak bu Itje. Kami bersepeda menuju gerbang masuk pangandaran, kemudian ke pasar seni yang belum buka dan berhenti untuk membeli bubur ayam di tepi jalan sebelum kembali ke hotel untuk makan pagi. Hoho ...

BERPERAHU KE PANTAI PANANJUNG

Selesai makan pagi, kami memutuskan untuk menyeberang ke Pantai Pananjung yang berpasirputih dengan perahu. Sebagian dari kami yang awalnya bersemangat untuk menyeberang, mengurungkan niatnya karena melihat ombak yang begitu tinggi. Setelah kloter pertama (keluarga pak Pram, pak Parmono, dan pak Bandina). Akhirnya kloter kedua ini ada sebelas orang (saya, keluarga bu Asti, keluarga bu Danish, keluarga bu Nia, dan keluarga mba Jum) yang berangkat dengan dua perahu. Bagian paling mendebarkan adalah ketika pertamakali melewati ombak putih yang tinggi lalu terhempas di jeda ombak berikutnya. See? Betapa para nelayan mempertaruhkan nyawanya di lautan demi mencari nafkah untuk keluarganya dan demi seafood lezat nyummy yang terhidang di restoran favorit anda.

Di tengah, meski terasa bergelombang namun tidak semenakutkan ombak berbuih putih di tepian tadi. Kami dibawa perahu berhenti di atas taman laut yang biasanya terihat terumbu karang yang cantik. Namun karena saat itu air sedang pasang, maka air menjadi lebih keruh dan tidak jernih sehingga tidak terlihat dasarnya. Selanjutnya kami dibawa ke tengah menuju perbatasan antara laut jawa dengan samudera hindia yaitu laut lepas yang tidak terlihat pulau sama sekali kemanapun kita memandangnya.

Setelah itu kami pun berlabuh di pantai Pananjung yang berpasir putih dengan pepohonan rendah di dekatnya. Kami tidak masuk ke cagar alam. Hanya duduk di tepian pantai melihat laut biru, merasakan keceriaan anak-anak bermain di pasir putih, memandang iri anak-anak muda melakukan snorkeling, menikmati semilir angin, sambil sesekali menggoda monyet yang mendekat dan bergelayut manja di pepohonan di dekat kami.
Hingga perahu akhirnya menjemput kami untuk kembali ke pantai barat. Menuju hotel dan check out pada jam sebelas untuk memulai perjalanan pulang ke Jogja the lovely city.

Saturday, December 17, 2011

Dua Menara

Tahukah anda? Saat teman-teman yang lain sudah mulai break dari petualangannya karena sudah hampir semua kota (bahkan mungkin pelosok desa) di Indonesia (bahkan luar negeri) sudah disinggahi atau karena mulai disibukkan mengurus buah hati, saya malah baru menemukan alasan dan kesempatan untuk mengunjungi dua kota di luar Yogya pada bulan November ini.

Bermula dari undangan pernikahan dua orang teman yang tidak ingin saya lewatkan momen terindahnya, saya menginjakkan kaki saya di Bandung pada minggu kedua dan Semarang pada minggu ketiga November yang mulai sering dikawal mendung.

Menara Satu... Bandung

Jumat malam diantara rinai gerimis yang ragu turun ke bumi, saya dan Risna naik motor dari rumah sekitar jam 8 malam menuju stasiun Tugu. Kereta Mutiara Selatan yang datang jam 10 malam mengantarkan perjalanan kami menuju stasiun Kiara Condong pada jam setengah enam pagi, dijemput Aji dan mas Toto (ngrepoti yang punya acara).

Sabtu pagi hingga sore kami di rumah mba Ita di Pasirkunci, sesekali membantu pekerjaan kecil yang bisa dibantu, meskipun acara H-1 nya ngga sesibuk acara nikahan di desa saya. Malam harinya diajak Aji dan Gian cari dasi, kemudian mampir makan surabi di d’Cosmo dan muter-muter kota Bandung yang-malam-itu-macet-sekali dan terakhir, melihat kerlip lampu kota Bandung dari atas bukit di sebelah atas rumah mba Ita.

Tak lama kemudian keluarga Gian dari Yogya tiba. Dan kami ikut keluarga menginap di Wisma Ponyo. Paginya setelah mandi dan sarapan, kami menghadiri acara akad nikah di masjid. Roaming saudara-saudara... Pengantarnya pake bahasa Sunda. Hehe… Setelah akad, resepsi diadakan di gedung depan masjid. Foto-foto dan makan-makan, hmm yummy. Tempatnya enak banget. Disamping gedung ada banyak saung cantik yang digunakan para tamu undangan untuk duduk setelah mengambil makanan dari prasmanan.

Setelah shalat Dhuhur, akhirnya tiba saat kami pamit pulang. Mendahului keluarga Yogya yang sebenarnya mengajak pulang bareng naek mobil mampir ke rumah mba Ita dulu, baru nanti malamnya diantar bareng-bareng ke stasiun. Ah, kami sudah terlalu banyak merepotkan, makanya kami memutuskan untuk naik angkot dari depan tempat resepsi, dengan alasan mau jalan-jalan dulu sambil menunggu jam keberangkatan kereta ke Yogya.

Kami naik angkot jurusan Cicaheum, kata si mamang, angkotnya sampe ke alun-alun. Kayaknya yang dimaksud si mamang adalah alun-alun Ujungberung, soalnya di tengah rintik hujan yang menderas (untung bawa payung) kami harus turun dari angkot dan pindah bus Damri jurusan alun-alun Bandung yang akhirnya membawa kami menuju Masjid Raya Bandung untuk beristirahat sebentar sembari menunggu azan ‘Ashar.

Selepas shalat Ashar kami bermaksud mampir ke Pasar Baru, namun sampai di bawah menara utara Masjid Raya, ternyata loketnya masih buka. Akhirnya tiket @Rp 2.000 mengantarkan kami naik lift menuju puncak menara utara Masjid Raya Bandung yang dikelilingi kaca yang membuat kami merasa mengelilingi kota Bandung dalam waktu yang singkat (hehe). Yah, karena waktu sehari ngga akan cukup untuk keliling kota Bandung.

Setelah puas, akhirnya kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Pasar Baru. Hm, kalau menurutku seperti PGS di Solo atau Mangga Dua di Jakarta sana. Kami melihat-lihat hanya sebentar karena ternyata sudah waktunya tutup kios. Saat azan Maghrib terdengar kami pun memutuskan untuk segera ke stasiun. Bersih-bersih muka, shalat Maghrib, makan dan menunggu keberangkatan Lodaya sekitar setengah jam pada pukul delapan malam. Dan... See you again Bandung ...


Menara Dua ... Semarang

Sebenarnya undangan pernikahan Imam-Dinar ini pada hari Ahadnya, tetapi karena Ibu ngunduh arisan dan pengajian jamaahnya persis pada hari yang sama -dan saya tetap mengatakan pada diri saya bahwa apapun yang terjadi saya harus berangkat- maka akhirnya saya memutuskan untuk berangkat pada hari Sabtu naik motor ditemani Ima.

Rencana awalnya, kami akan berangkat sehabis subuh agar sampai sana tidak terlalu siang dan bisa santai di perjalanan. Tapi... boro-boro berangkat sehabis shubuh, Adzan Subuh pun tidak sempat terdengar, hiks... !! Kami baru bangun jam 04.15. Dan uppss... HP yang lowbat belum sempat di-charge penuh. But the show must go on. Dan kami berangkat pada jam 06.00.

Setelah isi bensin di SPBU Sentolo, kami menempuh perjalanan melewati Kalibawang – Magelang melewati jembatan darurat yang mendebarkan. Sampai di Magelang yang banyak warung makan, perut kami masih tenang dan bersahabat. Namun sesampai di daerah Rejosari yang mulai sepi warung makan, perut kami malah kompakan minta diisi. Akhirnya kami menemukan sebuah warung soto, nasi goreng dan tahu kupat. Sebuah warung sederhana tetapi bersih dan rapi sekali. Warung langganan para sopir truk kayaknya. Hihihi... Sembari makan, aku numpang ngecharge hape, sampai makanan habis... lumayan hape terisi sampai 82%. Lanjuut... terus sampai daerah Temanggung, dekat daerah rumahnya syeh Puji, kami berhenti di SPBU untuk mampir ke kamcil.

Setelah itu kami tak berhenti hingga tiba di Semarang dan kami pun mulai mencari rumah Dinar di Jalan Singosari. Setelah sempat nyasar, alhamdulillah akhirnya kami menemukan Singsong yang memasang tenda ungu (tren warna tahun ini sepertinya). Disambut (Ge-eR: on) ibunya Dinar yang kemudian memanggilkan kedua calon mempelai. Setelah ngobrol beberapa saat lamanya, makan, dan menyampaikan maksud kedatangan (halah), akhirnya kami pun pamit pulang.

Pulang?? Oh tentu tidak... kami berdua berniat untuk shalat Dhuhur di Masjid Agung Jawa Tengah. Dan ... tak lama sampailah kami di sana. Subhanallah... Masjid yang megah, pasti akan sangat indah ketika jamaahnya memenuhi serambi yang keenam payungnya dibuka.

Setelah Ima menyalurkan hasrat narsisnya, serta shalat Dhuhur dan Asar, kami berencana pulang karena di langit tampak mendung hitam menggantung. Namun, ketika melewati lantai serambi yang panas sehabis diterpa terik matahari, di depan sana menara yang berdiri megah seolah melambai-lambai, mengajak kami untuk singgah. Sehingga kami pun melangkahkan kaki kami ke sana. Apakah loketnya masih buka? Ternyata masih buka saudara-saudara. Kali ini tarifnya Rp 5.000, 00. Dan segera kami diantarkan dengan lift menuju puncak menara. Kata si mbak, kalau pagi sampai siang bisa masuk ke museumnya, tapi berhubung sudah sore, cuma bisa ke puncak atau kalau berminat bisa ke kafetaria di lantai bawahnya.

Di puncak menara pengunjungnya cukup ramai. Kalau menara Masjid Raya Bandung dikelilingi kaca dengan beberapa jendela yang tidak dibuka, maka puncak menara Masjid Agung Jawa Tengah ini dikelilingi terali besi. Beberapa kali terasa hembusan angin yang cukup kencang melewati celah-celah teralis, seolah hendak menerbangkan siapa saja yang diterpanya. Yah, sekali lagi saya (kali ini bersama Ima) mengelilingi kota Semarang dalam waktu yang singkat. Hehe ...

Setelah puas melihat kota Semarang dari langit, kami mampir ke Pandanaran sesaat sebelum akhirnya pada jam 22.00 wib kami sampai di Yogya yang penuh dengan cinta. There is just no, no place like home...

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...