Saturday, November 23, 2013

Antara GOR Jatidiri, Kuil Sam Poo Kong dan Lawang Sewu

Misi utama perjalanan ke Semarang kali ini adalah mengantar Ima tes CPNS Kemenkes. Ini merupakan kali yang kedua aku ke Semarang, dan keempat bagi Ima. Dulu kami ke sana dengan sepeda motor. Namun kali ini kami memilih menggunakan bis, mengingat beberapa hari terakhir ini hujan mulai sering turun.

Kami menitipkan sepeda motor di terminal Jombor. Kami tiba persis ketika bis Nusantara yang akan kami naiki siap berangkat, dan menyisakan dua seat di bangku paling belakang dengan membayar tiket @40 ribu. Kami berangkat jam setengah sebelas. Di dalam bis yang cukup nyaman ini perjalanannya terasa begitu lama dan jadi terpikir kalau naik sepeda motor akan lebih cepat dengan resiko badan terasa lebih capek.

Gara-gara nonton acara ‘pejalan nekat’ di Transtv, Ima mengiyakan kebaikan hati teman kami yang sudah lama tinggal di Semarang untuk menjemput, memberi tumpangan menginap, serta meminjamkan kendaraan dan waktunya untuk mengantarkan ke tempat tes (dan lainnya). Sesuai janjian kami turun di Sukun (ADA Banyumanik). Sambil menunggu dijemput, kami yang kelaparan karena tidak sarapan segera mencari tempat makan siang yang memiliki mushola.

Sekitar jam setengah tiga, Rin dan temannya (Pandu) datang. Kami pun segera menuju ke rumah tempat kami akan menginap di seputaran Jl. Wahidin. Setelah diantar ke kamar kami pun meluruskan kaki sebentar sampai Putri (adiknya Rin) datang, dan ngobrol dengannya yang sudah lama ngga bertemu hingga tak terasa sudah jam setengah empat. Setelah shalat Ashar dan bertemu dengan bapak pemilik rumah yang sangat ramah, kami pun berencana pergi melihat tempat tes di GOR Jatidiri yang katanya hanya 5 menit saja dari sana.

Sebelum ke GOR Jatidiri, kami sepakat akan mengunjungi ke beberapa tempat di kota ini. (Haha... sebenarnya misi utamanya yang mana ya?). Pemberhentian pertama kami adalah Kuil Sam Poo Kong. Menurut cerita tempat ini adalah tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Di tempat ini terdapat beberapa bangunan kuil yang mengelilingi tanah lapang dan beberapa patung, yang terbesar adalah patung Laksamana Zheng He (begitu tertulis di plakat di bawah patung).
 
Setelah dirasa cukup, kami pun beranjak menuju ke Lawang Sewu. Tiba di sana hari mulai gelap, lampu-lampu pun sudah mulai dinyalakan. Tarif masuknya per @10 ribu, jika kami berempat menginginkan pemandu untuk memandu menyusuri lorong, maka kami harus menambah 30 ribu lagi. Tapi karena sudah menjelang Maghrib kami memutuskan untuk tidak menggunakan pemandu dan hanya berjalan di sekeling luar saja.

Kemudian kami berencana ke Gereja Blendhuk di kawasan kota lama. Tapi, kami menuju ke Masjid Agung Baiturrahman di Simpang Lima terlebih dahulu untuk shalat Maghrib, dan sekalian Isya’. Dan janjian bertemu mr. Fallah, seorang teman sekolah yang tinggal di Semarang, sembari ditraktir makan tahu gimbal di kawasan pemda semarang. Tak terasa waktu beranjak malam dan kami membatalkan rencana ke kota lama karena tentu saja Ima harus mempersiapkan untuk tes besok pagi.

Sampai di rumah, kami bertemu dan ngobrol sebentar dengan bapak pemilik rumah. Bapak bercerita kalau dulu masing-masing puteranya memiliki kamar sendiri-sendiri. Dan sekarang mereka sudah berkeluarga dan memiliki tempat tinggal sendiri di kota lain. Dan kamar yang kami tempati adalah kamar putera bungsunya yang seorang pesepakbola. Pantas saja seluruh dinding kamar dilukis yang membuat kami seolah-olah berada di tengah stadion sepakbola.

*Special thanks to: Rin, Putri, Pandu, dan Bapak.

Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran

Alhamdulillah ada tanggal merah lagi. Empat Juni duaribu tigabelas, grup Ahihihi plus Kethik berencana pergi ke Nglanggeran. Menurut cerita, di sana ada Gunung Api Purba dan Embung buatan yang bagus. Berenam (karena Nafi membatalkan keikutsertaannya), kami berangkat sekitar jam setengah sepuluh dari rumah menuju ke Patuk, Gunung Kidul. Jalanan menuju ke lokasi mudah diakses kendaraan, bahkan sudah terdapat papan petunjuk arah untuk menuju ke Nglanggeran ini. Sempat bingung dan bertanya untuk memastikan bahwa kami berada di jalur yang tepat, akhirnya kami tiba di lokasi.

GUNUNG API PURBA 
 
Sampai di parkiran, langsung menuju ke loket penjualan tiket masuk dengan membayar sejumlah (Rp 5.000 x 6 orang) + (Rp 2.000 x 3 motor) = Rp 36.000. Yuk... Jalan thimik-thimik menuju puncak gunung. Hari itu lumayan ramai meski cuaca mendung. Mari berdoa semoga hujan tak turun sebelum kami kembali dari puncak. Perjalanannya mengasyikkan. Ada banyak jenis jalan yang akan kita lalui. Mulai dari jalan tanah setapak yang sepertinya akan licin jika basah oleh hujan, jalan dengan krikil kecil, jalan naik berupa tangga buatan dari semen, maupun tangga bantuan dari kayu dan bambu, akar pepohonan yang terjulur untuk berpegangan mendaki batu terjal untuk naik ke atas, hingga bantuan tali tampar yang terikat kuat di pohon, atau kalau mau kita bisa mencoba rock climbing tanpa bantuan tali apapun.
 Tiba di Pos I dengan selamat, kami dihadapkan pada pemandangan yang sangat cantik. Ketika sedang menikmatinya,tiba-tiba kabut mulai datang dan tak lama kemudian gerimis turun.

Awalnya kami mempertimbangkan untuk turun ke bawah dan tidak menuju puncak. Namun ketika gerimis berhenti merintik, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dan di perjalanan ini Kethik memisahkan diri dengan memilih jalur kanan, sementara kami berlima memilih jalur kiri menuju ke Pos 2 – Pos 3 – Pos 4 dan tiba di persimpangan tempat pertemuan jalur kiri dan kanan. Namun sebelum menuju puncak kami berbelok dulu ke tempat yang ditunjukkan papan petunjuk sebagai sumber mata air Comberan.


Di sana kami bertemu dengan sekelompok Mapala yang barusaja keluar dari mata air tersebut dan mengatakan bahwa di sana sangat bagus. Tapi... ketika kami mencoba mengintip naik, ternyata jalannya cukup mengerikan. Tidak cocok untuk kami lewati yang ketika itu memakai sandal dan tas seperti ini.
 
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kabut semakin tebal dan ketika kami tiba selangkah menuju puncak, kami menemukan Kethik telah berada di puncak. Dan saat dia turun, aku, Icha, Risna, dan Uli segera menaiki tangga menuju ke puncak gunung gede, sementara Ima memilih untuk menunggu di bawah dan tak naik (haloo... selangkah lagi dan tidak mencobanya? Hadew..).

Sayang sekali sampai di atas kabut tebal masih menyelimuti, jadi kami tak bisa melihat pemandangan di sekeliling, yang saya sangat yakin kalau hari cerah maka akan terlihat sangat bagus. Tak apalah, yang penting tiba di puncak dengan selamat. We did it!! Horay, horay, horay!

Turun dari puncak gunung gede kami menuju ke pos 5 untuk beristirahat dan (ehem) foto-foto. Kemudian turun melalui jalur yang dilalui Kethik. Bagian paling serunya adalah berjalan di celah dua bebatuan yang hanya muat untuk satu orang bahkan ada satu space di mana kamu harus memiringkan badan untuk bisa berjalan.
Ternyata jalur ini dari pos satu memang lebih dekat menuju puncak, pantas saja Kethik tiba di puncak duluan. Tapi keputusannya untuk meninggalkan kami berlima tetap harus mendapatkan balasan setimpal.
Akhirnya kami sampai di bawah, hujan pun turun dengan derasnya. Alhamdulillah...

EMBUNG NGLANGGERAN
 
Setelah hujan sedikit mereda kami pun bergegas menuju tujuan kedua, yaitu embung buatan yang hanya terpaut beberapa km dari gunung api purba. Kabarnya kalau kami beruntung bisa tiba di puncak pada hari cerah tak berkabut, maka dari atas sana bisa melihat dengan cukup jelas betapa cantiknya embung ini.
Menurut cerita petugas parkir, awalnya embung ini adalah bukit yang di pangkas pucuknya, kemudian digali sedalam 3 meter kemudian didesain sedemikian rupa sehingga bisa diisi dengan air. Untuk menuju ke puncak, cukup mudah karena sudah dibangun beberapa anak tangga yang bisa kita lewati untuk sampai di embung ini.

Ke Bandung Lagi

Hari itu Kamis 21 Maret 2013, bakda shalat Maghrib perjalanan menuju ke Bandung dimulai (lagi). Kali ini bersama rombongan tempat kerja. Duduk di kursi belakang pak sopir bersama dengan mba Jum. Sampai di SPBU Ambarketawang, bus kami putar balik ke pool nya di ringrut pelemgurih, ada masalah dengan akinya (?). Setelah beres, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan diisi dengan karaoke ria. Playlistnya? Tembang kenangan, campur sari, dan sejenisnya yang saya tak familiar atau hapal bagian reffrainnya saja (haha). Penyanyinya? Pak Pram, Ibu Eni, dan Ibu Rus. Saya? Pendengar setia yang lama-lama merem dan tertidur pulas. Pagi tiba, kami berhenti untuk shalat Shubuh di Nagrek. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke hotel Yehezkiel di jalan Surapati. Mandi, sarapan, dan here we go...

GEDUNG SATE
mba J, me, mba Embay, and Alidha
 
Kabarnya jumlah sate pada atas gedung ini ada 6 yang melambangkan 6 gulden sebagai biaya pembangunan gedung ini. Sampai di sana, kami ditemuiibu Agung dan rekannya di ruang pertemuan Sangga Buana hingga kurang lebih pukul 11. Tadinya kami mau diajak melihat kota Bandung dari lantai atas gedung, tapi berhubung waktu yang sempit, sementara bapak-bapk harus shalat Jumat, kami pun terpaksa melewatkan kesempatan ini dan bersegera kembali ke bis. 


ALAS DAUN DAN SHOPPING TIME


Alas Daun dipilih sebagai tempat makan siang. Lokasinya di depan masjid PUSDAI. Jadi,sembari menunggu bapak-bapak shalat jumat, para ibu bisa memulai makan siangnya. Selesai makan ...
It’s shopping time!(hadeew.Tempat belanja pertama adalah ke Pasar Baru Trade Center. Setelah puas muter-muter shopping hours berlanjut ke FO-FO di jalan Riau.
Selesai belanja, kembali ke hotel, mandi, dan makan malam dengan hiburan nyanyi. Ngga banyak yang datang, hanya ada beberapa yang tinggal, lainnya langsung kembali ke kamar masing-masing seusai makan malam.

CIATER

Hari berikutnya kami check out dari hotel kemudian menuju ke Ciater. Sebelumnya mampir dulu ke Kartika Sari (oh! belanja terus...). Setelah beberapa saat kami pun sampai di Ciater yang dikenal sebagai pusat pemandian air panas. Anda bisa naik kuda atau kereta kuda untuk mengelilingi lokasi ini. Namun saya dan beberapa yang lain memilih untuk berjalan kaki, dan beberapa kali berhenti untuk (ehem) berfoto. Beberapa saat sebelum Dhuhur kami meninggalkan lokasi untuk menuju lokasi terakhir setelah sebelumnya berhenti sesaat untuk makan dan sholat Dhuhur.

SAUNG ANGKLUNG MANG UDJO

Last but not least... Nonton show sore di Saung Udjo. Pertunjukannya seru. Diawali dengan pertunjukan singkat wayang, dilanjutkan dengan tarian, lalu sebuah acara yang biasa dilakukan ketika sunatan. Puncaknya adalah pertunjukan angklung kolosal serta mengajak penonton untuk menjadi bagian dalam pertunjukan dengan bermain angklung. Kemudian ditutup dengan bernyanyi dan berjoget bersama. Hmm... di Jogja yang menyajikan pertunjukan tradisional yang dikemas sedemikian sehingga membuat orang yang tak terbiasa menjadi tertarik ada di mana ya?
Oh iya, di sini Mas Toto (tanpa mba Ita karena sedang flu) menyempatkan diri menemuiku dan membawakan batagor yang sangat menolong kami yang merasa sedikit lapar selesai menonton pertunjukan (haturnuhun mas toto mba ita). Selepas dari Saung Mang Udjo, setelah makan malam kami pun mulai perjalanan pulang ke Jogja.

Tuesday, November 19, 2013

Jalan-Jalan

Saya selalu suka membaca kisah para traveller yang memiliki kesempatan pergi ke mana-mana dan mampu menuliskan -kisah perjalanannya, tempat yang disinggahinya, hingga tips dan triknya- dengan menarik. 

Meskipun label terbanyak di postingan blog saya ini adalah jalan-jalan, namun perjalanan yang saya lakukan masih di tempat-tempat di Jawa yang sudah sering dikunjungi banyak orang, namun baru pertama bagi saya. Karena saya belum berkesempatan pergi ke tempat yang jauh dan ... kemampuan untuk menulis sesuatu yang menarik. Maka posting berlabel perjalanan pun tulisannya terbatas pada hal-hal yang saya lakukan selama perjalanan singkat saya ke suatu tempat yang bahkan saya tak yakin orang ingin tahu apa yang saya kerjakan (haha). Meskipun begitu... biarkanlah saya tetap menuliskannya ... ^^v

Sunday, August 11, 2013

Handicraft Ramadhan 1434 H

Ternyata sudah tiga bulan ngga ada update di blog ini. Belakangan ini kegemaran menulis dan memposting nya di blog semakin menurun saja. Padahal sebenarnya ada dua perjalanan yang cukup menarik untuk ditulis pada bulan-bulan kemarin, ke Bandung (Jawa Barat) dan ke Nglanggeran (Gunung Kidul).

Kali ini, saya hanya mau posting foto saja. Dua foto kerajinan tangan yang saya kerjakan selama bulan Ramadhan tahun ini. This is it...
 

 
Yang pertama adalah renda alias crocheting dengan benang katun lokal warna kuning dan cokelat. Proyek utamanya adalah vest . Polanya saya dapatkan dari sebuah buku crocheting Jepang yang saya baca di Gramedia. Akibat mood yang datang dan pergi sesuka hati, proyek utama ini selesai setelah hampir setahun teronggok di pojokan. Dan karena berpikir akan membutuhkan benang banyak, kala itu saya membeli beberapa gulung namun ternyata menyisakan lumayan banyak benang dengan warna ini. Akhirnya dibuatlah bros cokelat sebagai pengancing vest, tas mukena (yang menurut tetangga lebih pantas dijadikan tempat botol minum karena proporsi ukurannya), dan accidentally pouch kosmetik, karena awalnya ketika membaca pola pada buku, saya pikir akan menjadi sebuah handbag yang cute, tapi ternyata setelah finishing hanya cukup untuk tempat kosmetik (poor me).

 
Yang kedua adalah taplak meja makan yang dibuat dari kain kotak-kotak biru yang dijahit dengan pinggiran renda putih dan pita biru di sekelilingnya dan sebuah pita yang ditempelkan dengan lem tembak pada setiap ujungnya (sebenarnya akan lebih kuat kalau dijahit, tapi ambil cara simpelnya)

Wednesday, April 24, 2013

New Year 2013 Trip

(Bagian ketiga dari posting satu dan dua)

Pagi pertama di tahun 2013, kami meninggalkan Jakarta menuju ke Bandung. Setelah perjalanan yang tidak bisa diceritakan (karena... ehem... tertidur pulas), dan bertanya beberapa kali (hadeww... pak asep ini, namanya nama Sunda tetapi malah lebih hapal jalanan Jakarta), akhirnya tibalah kami di Trans Studio Mall. Yap, anda benar! Kami mau mencoba bermain ke Trans Studio Bandung

       Setelah membayar tiket yang kala itu seharga Rp 250.000 ditambah Rp 10.000 untuk Mega Card nya, kami pun segera masuk. Sampai di pintu masuk kami dicegat diberi terumpet dan diminta berfoto (ya, kamu bisa mencetak setelahnya, dengan harga yang lumayan fantastis).
 
atas, ki-ka: giant swing, dragon rider, sky pirates;
tengah, ki-ka: TSB gate, welcome pose;
bawah, ki-ka: science center, jelajah, trans broadcasting studio
Ada banyak wahana di sini. Dan anda tidak perlu membayar lagi untuk mencoba semua wahana, berapa kali pun anda ingin mencoba. Permainannya masing-masing sebentar saja, bagian terlama adalah mengantri memasukinya. Kalau ngga sabar ngantri, kita bisa memilih akses VIP dengan menambah pembayaran sebesar Rp 250.000 (ehm!). Kalau diitung-itung, sebenarnya aku kemaren merugi, karena hanya mencoba beberapa wahana saja, padahal udah bayar untuk semua wahana. Ah, sudahlah... Dan berikut ini adalah wahana/theme/show yang kami masuki:
  1. Giant Swing: ayunan raksasa yang akan mengayun kita di udara
  2. Dragon Rider: hm... naga-naga yang berjungkit naik turun dan berputar pada porosnya
  3. Sky Pirates: kapal udara yang membawa kita mengitari studio TSB dari atas
  4. Jelajah: kita akan menaiki perahu menyusuri sungai amazon dan menjelajahi hutannya dan guanya, hingga tiba di turunan yang curam yang akan membuat kita terciprat air.
  5. Show: Legenda Putera Mahkota
  6. Trans Science Center: seperti Taman Pintar di Jogja, kita bisa belajar banyak hal di sana.
  7. Trans Broadcast Museum: tempat belajar menjadi insan di balik layar transtivi.
Kalau lapar, haus atau pengen ngemil, ada banyak pilihan jajanan. Tapi... uangmu ngga laku disini. Kamu harus mengisi ulang Mega Card mu sebelum berbelanja di stand makanan pilihanmu. Oh ya, selain itu kita juga bebas berfoto dengan karakter yang ada dan bersliweran di sana mulai dari peri cantik hingga hantu bermuka seram yang tanpa ba bi bu tiba-tiba saja mengagetkanmu dengan berjalan tepat di depanmu.

Saturday, February 23, 2013

Keliling Indonesia di Malam Tahun Baru

baca posting sebelumnya

Kami mengawali pagi hari terakhir di tahun 2012 dengan sarapan di warung soto betawi pak haji di ujung gang penginapan kami. Soto daging sapi dengan santan, hmm... sarapan yang enak namun berlemak. 

Selesai makan kami menuju ke pasar mainan di seberang jalan. Ada empat badan jalan yang harus diseberangi, atau memutar jauh di depan sana untuk mencari jembatan penyeberangan. Dan... sampailah kami di surganya anak-anak. Isa, Adit dan Lana. Juga Anggra, Nisa, dan Fia. Bahkan mba J dan bu Nur. Haha. Setelah anak-anak puas memborong mainan, segera kami kembali ke mess karena sudah dinanti mobil yang siap mengantarkan kami menuju... 

TAMAN MINI INDONESIA INDAH (TMII)

Kami masuk melalui gerbang yang melewati Museum Purna Bhakti Pertiwi yang bangunannya menyerupai tumpeng-tumpeng sembari mengingat Ibu Tien Soeharto, yang berjasa memberikan ide kreatifnya dalam pembangunan taman wisata ini. Kemudian mobil kami diparkir di sebelah kiri Monumen Tugu Api Pancasila. Segera kami masuk ke bangunan terdekat dari tempat parkir yaitu stasiun ...

Skylift a.k.a Kereta Gantung

Setelah mba J mendapatkan tiketnya, kami pun menuju ke baris antrian. Dan tahukah anda ternyata antriannya panjaaang sekali. Hampir setengah jam lebih kami baru mendapatkan giliran. Satu kereta untuk empat orang. Pak Parmono dan keluarga, mba Jum dan keluarga, aku, Icha dan Fia. Bismillah ... Skylift pun mulai berjalan....

kiri atas: jalur skylift kami; bawah: Adit, Lana, dan Bu Nur melambaikan tangan dari dalam kabin
kanan atas: Icha (yang bisa tersenyum) dan Fia; tengah: Duo J; bawah: Anggra dan Isa
Awalnya saya pikir perjalanannya akan cukup lama dan melintasi seluruh area di TMII. Tapi ternyata hanya memakan waktu sekitar 20 menit untuk kembali ke stasiun semula. Tapi, cukup menyenangkan. 

Anjungan Daerah

Setelah turun dari skylift, awalnya kami menuju ke Museum Indonesia, namun ngga jadi masuk dan langsung berjalan menuju ke Jambi, istirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. 

Saat menuju ke Jawa, kami melewati Theater 4D, dan meski awalnya Anggra ngga mau, kami tetap mampir ke sana untuk menonton film Salamander yang ternyata hanya berdurasi limabelas menit. Hmm, jangan membayangkan studio Universal, tapi okelah buat mencoba nonton 4D.

Setelah itu kami menyusuri tepi 'lautan' yang mengelilingi miniatur pulau-pulau besar di Indonesia, dari arah Sumatra akhirnya kami menuju ke pulau Jawa, dan berhenti sejenak untuk menunaikan shalat Dhuhur di Jawa Barat  yang sedang nampak kesibukan mempersiapkan acara malam tahun baru. Dan berjalan melewati Jawa Tengah dan akhirnya tiba di DI. Yogyakarta. Kami terduduk di depan sembari melihat hiburan di pendapa, sedangkan Bu Nur menuju ke kantor di belakang untuk bertemu dengan rekannya, dan bapak kepala kantor. Bertepatan dengan makan siang, kami bahkan dijamu untuk makan siang di kantor anjungan DI. Yogyakarta. Alhamdulillah...

Kami yang telah bersepakat akan menunggu tahun 2013 di TMII akhirnya kembali ke depan, di dekat pendopo. Dan mulai beranjak ketika anak-anak ingin berenang. Rombongan pun terbagi dua, bapak-bapak dan anak-anak langsung menuju ke tempat renang, dan ibu-ibu berjalan perlahan menyusul ke tempat renang sembari mampir ke Jawa Timur, Bali, Lombok, hingga Tana Toraja. Such a great day. Keliling Indonesia dalam satu hari. Hihi...
atas kanan: kids di Jambi; kiri: boys dan karapan sapi di Madura
bawah kiri: mba Jum dan Fia di Bali, tengah: ibu-ibu di Tana Toraja, kanan: Isa dan Adit di Jatim

Istana Anak Indonesia

penampakan istana dari bawah depan (by: me, VG140)
Waktu sudah sore dan langit tampak mendung ketika kami tiba di Istana Anak Indonesia. Ketika kami menemukan ternyata anak-anak masih asyik berenang, kami pun naik kastil Istana Anak Indonesia. Meskipun kami tak bisa bisa masuk ke dalamnya, tapi dari atas sini, sudah berasa bagai Cinderella di negeri dongeng (halah). 

Azan Maghrib pun berkumandang, di sepanjang perjalanan kembali ke anjungan Jogja, mobil-mobil dan kendaraan yang diparkir oleh penumpang yang akan melewatkan malam tahun barunya di TMII, mulai memenuhi jalan.

New Year's Eve

Kami masih di anjungan Jogja. Ketika diajak mba Jum makan malam, Icha ngga mau dan memilih mau tiduran di mobil saja. Tapi pada akhirnya, karena bosan Icha pun mengajak berjalan-jalan. Pendopo anjungan Jogja sudah dipenuhi pengunjung yang akan menyaksikan pertunjukan kethoprak. Kami melangkah ke arah barat menuju Jawa Tengah yang juga ramai oleh pengunjung yang menyaksikan pertunjukan semacam Pangkur Jenggleng di TVRI Jogja. Lalu kami pun bergerak ke arah selatan yang jalanannya juga tak kalah macetnya. Di sana, tampak ada sebuah danau yang memantulkan lampu-lampu dari bangunan Museum Air Tawar. Cantik. Seperti berada di salah satu scene drama korea (ahaha). Aku merogoh tas untuk mengambil kamera, dan ah... ternyata tertinggal di mobil. Lalu aku ambil kantong hape ku, dan yah yah... low bat. Perfecto... 

Di persimpangan kami menemukan tempat makan ayam goreng tepung cepat saji, Icha pun mengajak berhenti. Dan ternyata lokasinya persis di belakang anjungan jogja. Di sanalah kami duduk. Sambil menunggu Icha menghabiskan makanannya, melihat banyaknya orang yang bersliweran menunggu detik pergantian tahun, aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Saya hampir ngga pernah menyengajakan diri keluar untuk menunggu datangnya tahun baru, tapi mengapa kali ini saya ada di sini? Ah, tentusaja karena ini adalah sebuah kebetulan, kesempatan untuk jalan-jalan datangnya bertepatan dengan tahun baru. Itu saja.

Selesai makan kami berjalan menuju ke Museum Air Tawar yang memantulkan lampu cantik di danau tadi. Sampai di sana tentusaja sudah tutup. Lalu kami menuju ke tepian danau di depan Museum Keprajuritan Indonesia. Dan setelah beberapa saat kami pun kembali dan berjalan mengikuti kehendak kaki kami. Kami melewati komplek tempat ibadah di TMII, mulai dari Wihara Budha Arya Dwipa Arama, Pura Hindu Dharma Penataran Agung Kertabhumi, Gereja Protestan Haleluya, Gereja Katholik Santa Catharina, Masjid Pangeran Diponegoro, Kelenteng Kong Miao (bagus banget, berasa di China), Teater Imax Keong Emas, dan tahu-tahu kami sampai di Monumen Tugu Api Pancasila yang penuh sesak pengunjung. (Ah... Sayangnya kamera tertinggal di mobil).

Kami sempat bingung arah jalan kembali ke mobil. Untung ada denah lokasi yang akhirnya membawa kami melewati jalan yang tadi siang kami lalui. Sebenarnya ingin mengambil jalan lain yang belum pernah kami lalui, tapi ... susah sekali menyeberangnya. Jalannya dipenuhi kendaraan. Akhirnya kami melewati anjungan Jawa Barat yang ramai oleh pertunjukan Jaipong. Dan segera kembali ke 'Jogja' dan menikmati pertunjukan Kethoprak di bawah rinai gerimis yang romantis.

Tak lama kemudian terdengar kembang api mulai dinyalakan. Semua orang bergegas menuju ke tepian danau miniatur pulau, tempat dinyalakannya kembang api. Semoga tahun 2013 menjadi tahun yang lebih bermakna. Amin. Kami pun kembali ke mobil dan bergabung dengan kemacetan untuk kembali ke penginapan.

Note:
Sampai di penginapan, ngecharge dan buka hape, dan baru tahu ternyata di Jogja hujan deras. Dan sekilas di tivi, Pasha Ungu dan Charlie Setia Band bernyanyi dengan baju yang basah kuyup. Ternyata di Ancol dan bundaran HI hujan turun deras. Sementara di TMII tadi hanya rintik-rintik. Seperti... pilihan yang tepat bukan?

bersambung ke posting berikutnya

Nine Years Later ...

Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...