Saturday, December 17, 2011
Dua Menara
Bermula dari undangan pernikahan dua orang teman yang tidak ingin saya lewatkan momen terindahnya, saya menginjakkan kaki saya di Bandung pada minggu kedua dan Semarang pada minggu ketiga November yang mulai sering dikawal mendung.
Menara Satu... Bandung
Jumat malam diantara rinai gerimis yang ragu turun ke bumi, saya dan Risna naik motor dari rumah sekitar jam 8 malam menuju stasiun Tugu. Kereta Mutiara Selatan yang datang jam 10 malam mengantarkan perjalanan kami menuju stasiun Kiara Condong pada jam setengah enam pagi, dijemput Aji dan mas Toto (ngrepoti yang punya acara).
Sabtu pagi hingga sore kami di rumah mba Ita di Pasirkunci, sesekali membantu pekerjaan kecil yang bisa dibantu, meskipun acara H-1 nya ngga sesibuk acara nikahan di desa saya. Malam harinya diajak Aji dan Gian cari dasi, kemudian mampir makan surabi di d’Cosmo dan muter-muter kota Bandung yang-malam-itu-macet-sekali dan terakhir, melihat kerlip lampu kota Bandung dari atas bukit di sebelah atas rumah mba Ita.
Tak lama kemudian keluarga Gian dari Yogya tiba. Dan kami ikut keluarga menginap di Wisma Ponyo. Paginya setelah mandi dan sarapan, kami menghadiri acara akad nikah di masjid. Roaming saudara-saudara... Pengantarnya pake bahasa Sunda. Hehe… Setelah akad, resepsi diadakan di gedung depan masjid. Foto-foto dan makan-makan, hmm yummy. Tempatnya enak banget. Disamping gedung ada banyak saung cantik yang digunakan para tamu undangan untuk duduk setelah mengambil makanan dari prasmanan.
Setelah shalat Dhuhur, akhirnya tiba saat kami pamit pulang. Mendahului keluarga Yogya yang sebenarnya mengajak pulang bareng naek mobil mampir ke rumah mba Ita dulu, baru nanti malamnya diantar bareng-bareng ke stasiun. Ah, kami sudah terlalu banyak merepotkan, makanya kami memutuskan untuk naik angkot dari depan tempat resepsi, dengan alasan mau jalan-jalan dulu sambil menunggu jam keberangkatan kereta ke Yogya.
Kami naik angkot jurusan Cicaheum, kata si mamang, angkotnya sampe ke alun-alun. Kayaknya yang dimaksud si mamang adalah alun-alun Ujungberung, soalnya di tengah rintik hujan yang menderas (untung bawa payung) kami harus turun dari angkot dan pindah bus Damri jurusan alun-alun Bandung yang akhirnya membawa kami menuju Masjid Raya Bandung untuk beristirahat sebentar sembari menunggu azan ‘Ashar.
Selepas shalat Ashar kami bermaksud mampir ke Pasar Baru, namun sampai di bawah menara utara Masjid Raya, ternyata loketnya masih buka. Akhirnya tiket @Rp 2.000 mengantarkan kami naik lift menuju puncak menara utara Masjid Raya Bandung yang dikelilingi kaca yang membuat kami merasa mengelilingi kota Bandung dalam waktu yang singkat (hehe). Yah, karena waktu sehari ngga akan cukup untuk keliling kota Bandung.
Setelah puas, akhirnya kami turun dan melanjutkan perjalanan ke Pasar Baru. Hm, kalau menurutku seperti PGS di Solo atau Mangga Dua di Jakarta sana. Kami melihat-lihat hanya sebentar karena ternyata sudah waktunya tutup kios. Saat azan Maghrib terdengar kami pun memutuskan untuk segera ke stasiun. Bersih-bersih muka, shalat Maghrib, makan dan menunggu keberangkatan Lodaya sekitar setengah jam pada pukul delapan malam. Dan... See you again Bandung ...
Menara Dua ... Semarang
Sebenarnya undangan pernikahan Imam-Dinar ini pada hari Ahadnya, tetapi karena Ibu ngunduh arisan dan pengajian jamaahnya persis pada hari yang sama -dan saya tetap mengatakan pada diri saya bahwa apapun yang terjadi saya harus berangkat- maka akhirnya saya memutuskan untuk berangkat pada hari Sabtu naik motor ditemani Ima.
Rencana awalnya, kami akan berangkat sehabis subuh agar sampai sana tidak terlalu siang dan bisa santai di perjalanan. Tapi... boro-boro berangkat sehabis shubuh, Adzan Subuh pun tidak sempat terdengar, hiks... !! Kami baru bangun jam 04.15. Dan uppss... HP yang lowbat belum sempat di-charge penuh. But the show must go on. Dan kami berangkat pada jam 06.00.
Setelah isi bensin di SPBU Sentolo, kami menempuh perjalanan melewati Kalibawang – Magelang melewati jembatan darurat yang mendebarkan. Sampai di Magelang yang banyak warung makan, perut kami masih tenang dan bersahabat. Namun sesampai di daerah Rejosari yang mulai sepi warung makan, perut kami malah kompakan minta diisi. Akhirnya kami menemukan sebuah warung soto, nasi goreng dan tahu kupat. Sebuah warung sederhana tetapi bersih dan rapi sekali. Warung langganan para sopir truk kayaknya. Hihihi... Sembari makan, aku numpang ngecharge hape, sampai makanan habis... lumayan hape terisi sampai 82%. Lanjuut... terus sampai daerah Temanggung, dekat daerah rumahnya syeh Puji, kami berhenti di SPBU untuk mampir ke kamcil.
Setelah itu kami tak berhenti hingga tiba di Semarang dan kami pun mulai mencari rumah Dinar di Jalan Singosari. Setelah sempat nyasar, alhamdulillah akhirnya kami menemukan Singsong yang memasang tenda ungu (tren warna tahun ini sepertinya). Disambut (Ge-eR: on) ibunya Dinar yang kemudian memanggilkan kedua calon mempelai. Setelah ngobrol beberapa saat lamanya, makan, dan menyampaikan maksud kedatangan (halah), akhirnya kami pun pamit pulang.
Pulang?? Oh tentu tidak... kami berdua berniat untuk shalat Dhuhur di Masjid Agung Jawa Tengah. Dan ... tak lama sampailah kami di sana. Subhanallah... Masjid yang megah, pasti akan sangat indah ketika jamaahnya memenuhi serambi yang keenam payungnya dibuka.
Setelah Ima menyalurkan hasrat narsisnya, serta shalat Dhuhur dan Asar, kami berencana pulang karena di langit tampak mendung hitam menggantung. Namun, ketika melewati lantai serambi yang panas sehabis diterpa terik matahari, di depan sana menara yang berdiri megah seolah melambai-lambai, mengajak kami untuk singgah. Sehingga kami pun melangkahkan kaki kami ke sana. Apakah loketnya masih buka? Ternyata masih buka saudara-saudara. Kali ini tarifnya Rp 5.000, 00. Dan segera kami diantarkan dengan lift menuju puncak menara. Kata si mbak, kalau pagi sampai siang bisa masuk ke museumnya, tapi berhubung sudah sore, cuma bisa ke puncak atau kalau berminat bisa ke kafetaria di lantai bawahnya.
Di puncak menara pengunjungnya cukup ramai. Kalau menara Masjid Raya Bandung dikelilingi kaca dengan beberapa jendela yang tidak dibuka, maka puncak menara Masjid Agung Jawa Tengah ini dikelilingi terali besi. Beberapa kali terasa hembusan angin yang cukup kencang melewati celah-celah teralis, seolah hendak menerbangkan siapa saja yang diterpanya. Yah, sekali lagi saya (kali ini bersama Ima) mengelilingi kota Semarang dalam waktu yang singkat. Hehe ...
Setelah puas melihat kota Semarang dari langit, kami mampir ke Pandanaran sesaat sebelum akhirnya pada jam 22.00 wib kami sampai di Yogya yang penuh dengan cinta. There is just no, no place like home...
Sunday, September 25, 2011
Sepenggal Cerita
"Tadi siang, setelah selesai menyantap makan siang yang sudah saya siapkan di meja, suami saya membawa piring kotornya ke sumur, tidak berapa lama kemudian saya seperti mendengar suara terjatuh, saya pun lari keluar dan mendapati suami saya roboh tak bergerak di dekat sumur. Saya yang panik mulai berteriak dan tetangga pun berdatangan. Suami saya pun dibawa ke Puskesmas Temon. Tapi oleh pak dokter dirujuk ke RSUD Wates. "
"Sampai sekarang saya belum tandatangan surat-surat. Ngga berani. Tadi saya sudah telpon anak saya. Tapi baru bisa pulang besok. Untungnya saya punya banyak tetangga yang baik dan perhatian."
"Stroke, diagnosis awalnya. Tapi, suami saya baru besok bisa discan di rumahsakit jogja. Padahal bapakne kemarin-kemarin sampai tadi pagi ngga apa -apa. Sehat. "
"Manusia itu tugasnya berdoa dan ikhtiar... nanti biar gusti Allah yang memberi kesembuhan buat suami saya dan simbah kakungmu ya nduk?", katanya menutup kisahnya sembari menyeka titik air di sudut matanya.
(Sepenggal percakapan pada suatu malam di ruang tunggu pasien mini unit stroke rsud wates).
Friday, July 1, 2011
Sepeda Gembira
Bersepeda, bukan hal yang baru bagiku. Sejak SD kelas 6, sepeda menjadi alat transportasi utamaku untuk pergi dan pulang ke sekolah. Tapi semenjak mengenal sepedamotor dan punya SIM, perlahan-lahan sepeda di rumah mulai beristirahat karena tak pernah disentuh.
Panjang sekali intronya, sebenarnya pengen cerita apa?
It’s started with a disposition untuk mengikuti peringatan hari lingkungan hidup yang diselenggarakan BLH Provinsi DIY yang terpusat di sepanjang jalan Mangkubumi. Dan salahsatu acaranya adalah fun bike. Dan aku yang sebenarnya sudah cukup lama ingin bersepeda mengitari kota Jogja, menerima surat tugas itu dengan senang hati *haha*. Tapi bagaimana caranya membawa sepeda dari Sentolo ke Jogja? Alhamdulillah, pak Mukti, my officemate, menawari untuk memakai sepedanya. Dan karena beliau tak hanya punya satu sepeda, Riri pun bisa meminjam dari beliau.
Pagi hari di tepi jalan aku menunggu Riri yang akan menjemput. Dan owh, dia baru datang jam setengah tujuh padahal kemaren rencana mau berangkat jam enam seperempat. Dan sekitar sejam kemudian kami sampai di rumah pak Mukti yang telah menyiapkan kedua sepedanya untuk dipinjam. Riri memilih sepeda yang lebih feminim karena dia memakai rok, sedangkan aku memakai sepeda yang satunya yang ada ’planthangan’ (duh, bahasa indonesianya apa ya?) di depannya. Dan perjalanan bersepeda pun dimulai.
Dari rumah pak Mukti di belakang TMP Kusumanegara, kami menempuh rute dari jalan di sebelah barat TMP ke arah Pasar Sentul, awalnya kami mau belok ke kanan tetapi lalulintas pagi itu sangat ramai dan kami yang tak berhasil menyeberang memutuskan untuk mengayuh terus dan berbelok kanan di eks bioskop permata dan lurus terus ke pasar lempuyangan terus berbelok ke kiri, menyeberang rel KA dan sampai di Kridosono dan belok kiri di Padmanaba melewati House of Raminten terus sampai di jalan Sudirman.
Menurut informasi, teman-teman kantor berkumpul di Bakesbanglinmas, tapi sesampainya di sana ternyata sudah sangat sepi. Dan kelihatannya kami datang terlambat. Dan benar saja ternyata acara sudah dimulai. Kami pun langsung masuk ke jalan Mangkubumi dan tanpa sengaja bertemu koordinator (mas Dhoby) dan mas Wachid, dan melaporkan kehadiran kami *halah*. Kami segera ke depan panggung di dekat PLN. Dan sudah banyak peserta fun bike yang sudah sampai di garis finish setelah menempuh rute Tugu ke barat – Jati Kencana ke kiri – Wirobrajan ke kiri – PKU ke kiri – Sarkem ke kanan dan nyeberang rel KA Stasiun Tugu ke jalan Mangkubumi.
Sambil menunggu teman yang belum kembali, kami duduk-duduk dan bertemu beberapa teman lainnya yang ternyata juga mengikuti acara ini. Akhirnya aku dan Riri ketemu rombongan kami, Dhoni, Ira, Etty dan mas Arfi (yang kemudian segera pergi). Kemudian kami berlima memutuskan untuk membeli soto di utara dekat tugu setelah sempat berfoto di depan spanduk car free day bersama Arum, Evy dan Indah yang sudah menyusul.
Setelah soto habis, kami pun berpisah untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tapi... perjalanan pulang kali ini masih cukup panjang saudara. Dhoni yang sedari tadi nampaknya tergoda melihat sepeda bagus pak mukti yang kupakai, ditambah, ban sepeda miliknya yang tidak proper dengan berat badannya *haha* mengajak bertukar sepeda dan ikut mengembalikannya ke rumah pak mukti.
Dari tugu, aku, Riri dan Dhoni menuju ke selatan, melewati panggung hiburan di depan PLN yang sedang mengadakan pembagian doorprize, terus berhenti sesaat di tepian rel di stasiun tugu menantikan kereta Prameks yang lewat ke arah barat. Kemudian sampailah di jalan Malioboro yang mulai macet. Kami melintasi jalur tengah, bukan jalur lambat yang di sebelah barat. Lurus ... dan Riri request muter di alun-alun utara. Yuk... Kemudian ke timur, masuk ke jalan di sebelah selatan (calon) Gondomanan Square, dan melewati jalanan kampung hingga tiba di jembatan kali Code yang sempit, trus nanjak sebentar hingga ketemu jalan Tamansiswa. Ke kiri dan masuk ke timur lagi melewati jalanan kampung yang ternyata sedikit menurun, sehingga kami tidak perlu mengayuh sepeda kami. Terus, sampailah kami di kali Mambu (yang sebenarnya udah ganti nama, tapi saya lupa apa namanya). Apakah kemudian kami sudah sampai? Belum... kami menuju jalan Kusumanegara membeli Special Pudding. Setelahnya baru kami menuju rumah bapak Mukti untuk mengembalikan sepedanya sekitar jam setengah duabelas.
Pfiuh... hari yang menyenangkan bukan? Special thanks untuk pak Mukti atas pinjaman gratis sepedanya. Riri untuk tebengannya Sentolo-Jogja pp, dan Dhoni untuk blusukan-nya. Kapan lagi?
Kumbokarno Dan Seekor Anjing
--Kumbokarna--
Alkisah, pada suatu ketika setelah Dewi Shinta diculik Rahwana, Prabu Rama mengutus Anoman untuk ‘menjemput’ Dewi Shinta. Namun, si penculik alias Rahwana murka dan berkelahi dengan Anoman. Sarpakenaka yang melihat pertempuran itu pun segera membangunkan Kumbokarno adik Rahwana, seorang raksasa buruk rupa dan memiliki hobi tidur, agar membantu sang kakak. Akan tetapi Kumbokarno tak mau dan tetap melanjutkan tidurnya karena sudah sangat mengenal tabiat Rahwana yang bengis. Kemudian Sarpakenaka yang penasaran kembali ke medan pertempuran. Dan betapa terkejutnya ketika dia mendapati Anoman telah memporakporandakan Ngalengkadiraja. Melihat hal itu, Sarpakenaka kembali membangunkan Kumbokarno, dan mengatakan bahwa Anoman telah meluluhlantakkan seluruh Ngalengkadiraja. Mendengar ada yang berusaha menghancurkan negeri yang dicintainya, Kumbokarno segera bergegas ke medan laga mempertahankan Ngalengkadiraja.
--Seekor Anjing--
Betapa Allah menciptakan makhluk dengan segala hal yang bisa diteladani sifatnya. Bahkan dari seekor anjing, yang biasanya dijauhi karena ketakutan digigit, apalagi yang terkena rabies, dan air liurnya yang merupakan najis berat, yang jika terkena harus dibasuh tujuh kali dan salahsatunya dengan tanah. Tahukah anda, binatang apa yang dijamin masuk surga? Dialah anjingnya ashabul kahfi. Dan tiga keteladanan yang bisa kita tiru dari seekor anjing, pertama adalah ketaatan atau kesetiaannya pada tuannya. Hmm... jadi ingat kisahnya Hachiko yang mengharukan itu... Kedua, qanaah atau nerimo... seringkali anjing hanya mendapatkan makanan sisa dari tuannya, namun tak pernah mengurangi kesetiaannya pada sang tuan. Ketiga, jujur... contohnya anjing pelacak yang mengendus jejak pelaku kejahatan, jika dia telah menemukannya pasti dia tak akan melepaskannya.
Pesan moral yang ingin disampaikan pak ustadz melalui kedua cerita di atas adalah seburuk apapun rupa makhluk yang diciptakanNya selalu ada kelebihan yang bisa membuat kita berkaca dan tak selayaknya pula seseorang dibenci hanya karena penampilan luarnya atau kekurangannya. Semoga kita senantiasa diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Amin.
Tuesday, February 15, 2011
It’s So Cool
Sesaat setelah menerima undangan. Kami mengira-ira berapa SHU yang akan kami terima nanti, kemudian saling menanyakan bingkisan kejutan apa yang paling menarik hati kami. Ketika Bu Ony memilih mesin cuci karena mesin cuci di rumahnya yang sudah mulai keropos, maka saya teringat kulkas ibu di rumah yang terlihat cukup tua, dan mengatakan kalau saya mau kulkasnya saja.
Hari-H. Tampak bingkisan yang berjajar rapi di panggung menunggu saat dibagikan kepada anggota. Aku duduk di barisan kiri bersama Pak Roso, Pak Parlan, Bu Nia, dan Mba Jum.
“ Mau yang mana, mba?”, tanya Bu Nia
“ Saya mau kulkasnya aja, Bu!”, jawabku
“ Mana? Ngga ada kulkas kok?”, kata bu Nia lagi
“ Itu yang di bawah helm.”, jawabku
“ Bukan. Itu penyimpan beras yang 25 kg.”, kata bu Nia
“ Oo? Bukan kulkas, ya?”, kataku
Dan waktu berlalu, laporan pengurus, pengawas, dan tanggapan anggota telah selesai dilaksanakan, tibalah acara pembagian bingkisan. Dan ketika giliran si kulkas untuk meninggalkan panggung,,,
“ Mba, kok aku deg-degan ya?”, kataku yang tiba-tiba merasakan debaran di dada.
“ Kok ndadak deg-degan barang ngopo, je?", kata mba Jum
“ MCne nyebut kulkas kok dadi mba Anin sing deg-degan, lho?”, kata Bu Nia sambil menyentuh dadaku.
“ Dan yang berhak membawa pulang kulkas siang hari ini adalah anggota dengan nomor 1..1..4..", kata MC membacakan nomor yang mendekati nomor keanggotaanku, dan ...
" … 2… Anin Dyaningsih…"
“Hah… tenanan? Aku yang dapat? Alhamdulillah…. Yayy!!”, kataku sambil terkejut dan tak percaya
Yes, all… si peti sejuk itu jatuh ke tanganku. Dream comes true. Aku belajar satu hal, apa yang kita ucapkan (harapkan) pasti didengarkan olehNya, namun, mana yang akan dikabulkan terlebih dahulu itu adalah kuasaNya. ^_^
Aku adalah orang biasa yang sangat beruntung dan sedang belajar untuk mensyukurinya. Dan untuk keberuntungan yang diciptakan-Nya untukku hari ini, biarlah mengingatkan aku bahwa aku harus terus bersyukur dan bersyukur. Alhamdulillahirabbil’alamin.
PS.:
(Most of all, keberuntungan terbesarku adalah karena aku dikelilingi orang-orang yang peduli dan baik hati. Ketika aku masih merasa belum percaya kalau ini adalah nyata, mereka tanpa ragu membantu mengangkatkan bingkisanku, memberi masukan dan saran agar si lemari es bisa sampai di rumah barunya dengan beres. Special Thanks to: Mba Jum, Pak Roso, Pak Parlan, Mba Kus, dan Bu Kap…. and of course…. Pelita…)
Lima Hari Kerja
Suatu hari, di English Class with Miss Vivin, diskusi kami mengambil tema five workdays. Diantara lima partisipan, aku dan seorang teman saat itu disagree. Alasannya adalah pulang jam empat akan menjadi hari yang sangat panjang saat berada pada low season. Dan, sepertinya hal itu cenderung akan memberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan cara-cara yang kurang tepat. Kalau bagi saya pribadi, saat pulang jam dua siang atau maksimal jam tiga, itu berarti saya masih punya waktu yang cukup untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang ke rumah dan tidak kemalaman di jalan. Namun ketika jam pulang menjadi lebih sore, maka waktu mampir-mampir pun menjadi berkurang (hehe… alasan yang aneh).
Sementara di pihak yang setuju mengungkapkan segi positif yang diantaranya adalah menghemat listrik (terutama penggunaan AC) dan internet, memacu pegawai untuk lebih efektif dan efisien dalam bekerja karena yang biasanya bisa dikerjakan dalam 6 hari harus bisa diselesaikan dalam 5 hari saja (meskipun sebenarnya jumlah jamnya tetap yaitu 37,5 jam per minggu). Seorang teman yang lain menyatakan bahwa ketika berada pada high season, dia selalu pulang paling cepat jam lima, bahkan pada hari Sabtu sekalipun. Jadi dia berharap, dengan lima hari kerja, meskipun dia pulang jam lima atau lebih, masih akan ada satu ekstra hari libur untuknya. Bisa ditambahkan lagi, segi positifnya bagi pekerja yang menjalani long distance relationship, dengan dua libur weekend bisa dimanfaatkan untuk menambah quality time bersama keluarganya.
Dan sekarang, setelah lima hari kerja betul-betul diterapkan, jujur saja, saya berpindah ke tim affirmative. Memang benar, terkadang jam empat terasa begitu lama. Namun hal itu semoga memotivasi saya untuk tak membiarkan waktu lewat begitu saja. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah …. dua hari libur yang menunggu di akhir minggu.
Monday, January 31, 2011
First Flight

Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yang paling awal, paling pertama, paling pagi.
Eits, postingan kali ini tidak akan menceritakan perjalananku dengan penerbangan pertama yang paling pagi. Ide cerita ini persis dengan kisah perjalananku dengan KA Pasundan empat tahun lalu. Hehe, yang belum baca bisa dilihat disini. Ya, ya, ya… Kamu benar, ini tentang pengalaman pertamaku naik pesawat terbang *blushing*.
Beberapa hari yang lalu saya menemani perjalanan dinas ibu Kasi ke Jakarta, kami berangkat bertiga, saya, ibu Pur dan pak Parlan. Sehari sebelum berangkat, saya diberi wejangan dari orang-orang yang begitu perhatian kepadaku *terharu*. “Jangan lupa sarapan, dan jangan malu-malu kalau dirasa perlu minum antimo, dan kalau dah di dalam pesawat langsung tidur aja”. Jadi berasa mau pergi jauh aja. *Hehe*. Saya sarapan bubur garut dan segelas teh manis, tapi ngga minum antimo (ngga sempat beli).
Kami berkumpul di rumah ayahanda ibu Pur di Demangan. Kemudian bersama-sama diantar Rush-nya ke Adisucipto. Setelah menunggu kurang lebih sejam di ruang tunggu akhirnya sekitar jam 8 kami naik ke pesawat Singa Udara. Sudah di dalam pesawat… eh… delay saudara… sekitar sejam. Kata om pilot, karena lalu lintas belum sepi, nunggu perintah terbang dari bandara, kelihatannya banyak pesawatnya TNI AU lagi latihan.
Akhirnya jam 9 take off. Dan berhubung saya ditengah… saya ngga bisa melaporkan seperti apa suasana di luar sana, tapi saya sempat melihat gunung Merapi yang meski lahar dinginnya masih mengancam warga di sekitar, namun terlihat sangat cantik dari atas sini. Subhanallah… tak henti-henti aku mengagumi-Nya ketika pesawat mulai terbang di antara awan putih yang menggumpal, cantiknyaaaa… Tidak, saya tidak boleh tidur dan melewatkan pemandangan gula-gula kapas berwarna putih yang cantik ini. Saya jadi teringat dua hal, pertama… sampai hari ini belum berhasil mendapat ijin dari bapak untuk naik gunung demi melihat awan yang cantik seperti di fotonya teman-teman pecinta alam, kedua… belum mengantar Icha ke pasar malam dan membeli arum manis kesukaannya. *hoho*

Alhamdulillah, sampai di Soetta sekitar jam 10 an, dalam keadaan yang sehat, tidak mabuk, tak kurang suatu apa. Perjalanan di kota Jakarta kami tempuh naik bus dan taxi. Ya, ya, ya baiklah saya mengaku, ini kali ketiga mengitari Jakarta. Yang pertama, waktu piknik pas SMP, yang kedua numpang lewat waktu ke Tangerang. Jadi jangan salahkan kalau saya masih saja terpesona melihat patung-patung dan gedung-gedung.
Setelah menyelesaikan tugas kami di Kemenkeu dan Kemdiknas, tibalah saatnya untuk kembali ke Yogyakarta yang tetap istimewa di hati saya. Segera kami ke terminal 1A Gate A7 Bandara Soetta untuk menunggu penerbangan Singa Udara jam 6 sore. Alhamdulillah. Kali ini tanpa delay pesawat berangkat tepat waktu. Eh… yang di seat 30an tadi kayaknya kibordisnya Jikustik deh! *mulai melenceng dari topik*.
Kali ini saya duduk di dekat jendela. Dan ketika pesawat mulai lepas landas, subhanallah… maket kota Jakarta dengan lampu yang mulai kerlap-kerlip… cantikkk. Ketika sudah berada di antara awan, sepertinya perjalanan pulang ini ngga semulus berangkatnya, dan benar saja, kata om pilot, cuaca petang itu kurang begitu bagus. Sesaat sebelum tiba di Yogya, cuaca sudah membaik. Dan di bawah sana mulai tampak cahaya lampu dari rumah, jalanan dan kendaraan. Sukaaa… cantiiik… Subhanallah. Berusaha menerka-nerka yang ini jalan mana yang itu jalan apa. Tapi sepertinya meleset semua. *Hehe* Alhamdulillah, kami mendarat di Adisucipto dengan selamat. Thanks to ibu Pur dan pak Parlan for the nice trip. But, there is just no no no place like home.
Nine Years Later ...
Sembilan tahun berlalu sejak terakhir kali meng- update blog ini. Entah kenapa tiba-tiba hari ini ingin membuka kembali halaman ini. Belum a...
-
Dalam bahasa Indonesia, judul di atas diterjemahkan sebagai penerbangan pertama. Biasanya dimaksudkan untuk jadwal penerbangan pesawat yan...
-
Part 3 of 3 Kami bangun pagi-pagi, mandi, shalat subuh, dan sarapan. Setelah hari mulai terang, kami pun segera keluar dari hotel. Kami ...
-
Sejak pertengahan April 2007 kemarin aku mencoba hidup di Kebumen. Karena ‘perusahaan’ yang (akhirnya mau) mempekerjakanku menempatkanku di ...



